
Mendengar ucapan putranya, Almira menarik nafasnya lalu membuangnya kembali. Huppp, hemmmm. Almira pun berkata.
"Baik lah, kalau itu maumu Momsky hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu. Ingat,! pulang ke negara kita, lalu kapan kamu akan menikah?. Momsky berharap kamu bisa membawa seseorang yang bisa kamu kenalkan kepada kami berdua, Momsky sangat mengharapkan itu. Agar di sini ada yang bisa mengurusmu dengan baik."
"Tentu saja, tidak lama lagi aku akan membawa seseorang untuk ku kenalkan pada kalian berdua. Momsky tenang saja aku akan segera mengajaknya ke negara kita."
Ucap Devano lamgtang.
"Baik lah, Momsky akan tunggu itu, jadi ngak sabar pengen segera bertemu dengannya?," Ucap Almira pada Devano.
"Tidak sekarang, itu akan menjadi kejutan untuk kalian berdua," Ucap Devano sambil tersenyum lebar di hadapan Almira.
Melihat wajah ceria yang di tungjukkan Devano. Almira merasa sangat bahagia. Almira pun melihat ke arah putranya sambil mengelus lembut rambutnya lalu berkata.
"Aku percaya gadis itu pasti sangat unik, karna bisa membuat putraku sebahagia ini, dia bisa membuat semua kesedihanmu di masa lalu menghilang dan di gantikan dengan keceriaan seperti ini. Siapa pun dia, aku percaya dia bisa membuatmu bahagia. Aku akan selalu mendukung pilihan kamu itu." Ucap Almira sambil mengecup lembut kenin putranya.
Mendengar ucapan Almira. Devano pun berkata.
"Momsky istirahatlah,aku akan ke dapur mengabilkan sesuatu buat Momsky."
"Tidak perlu nak, aku hanya mampir,ingin menemuimu saja, dan sekarang Momsky ingin segera ke bandara karna jadwal penerbanganku sudah hampir tiba." Berkata sambil meraih tasnya kemudian berdiri.
"Apa secepat itu?," Ucapnya sedikit kecewa.
"Maafkan,Momsky sayang, bukan maksudku ingin segera pergi. Namun setelah ini Momsky akan segera ke Paris untuk bertemu kelien lagi di sana. Maaf kan aku ya nak," Ucapnya sambil mengelus lembut wajah tampan putranya.
"Ya, sudah biar aku saja yang mengantar Momsky ke bandara," Ucap Devano sedikit lembut.
"Baik lah, kalau begitu ayo kita pergi," Ucap Almira sambil mengandeng tangan putranya Devano.
Devano pun melajukan mobilnya menuju bandara. Hingga akhirnya sampai Devano membawa koper mini Almira masuk ke dalam kamar mandi. Sesampai di dalam bandara Almira pun berkata pada putranya.
__ADS_1
"Nak, aku akan menanti ke datanganmu ke negara kita. Segarah lah bawa dia dan perkenalkan pada kami berdua," Ucap Almira sambil memeluk putranya.
Devano yang mendengar ucapan Almira,tersenyum bahagia sambil berkata.
"Tidak lama lagi,aku akan segera membawanya."
"Momsky tunggu, sekarang Momsky masuk,sebentar lagi pesawatnya akan segera berangkat," Ucapnya sambil menarik kopernya masuk.
"Daaaa, Momsky, aku menyayangimu," Ucap Devano sambil melambaikan tangannya.
Setelah selesai mengantar Momskynya. Devano kembali ke kampus untuk kembali menjadi dosen sekaligus memantau gadis yang telah membuatnya penasaran.
Kembali ke Cerita Devano dan Alina.
Setelah selesai memikirkan tentang Alina. Devano pun berjalan keluar dari kamarnya menuju luar untuk segera pergi ke kampus untuk mengajar. Namun sampai di kampus justru Devano tak konsentrasi mengajar pikirannya melayang soal Alina yang masih terbaring lemah di dalam kamar Cafenya. Hingga akhirnya Devano memutuskan untuk tidak mengambil jadwal mata kuliah untuk hari ini.
Devano pun pulang ke Cafenya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata -rata. Agar segera sampai dan melihat kondisi Alina saat ini. Di dalam hati Devano berkata pada dirinya sendiri.
Sesampai di depan Cafenya Devano turun dari mobilnya dan langsung berjalan masuk ke dalam menuju kamar Alina.
Tok, tok, tok, Suara pintu kamar di ketuk. Namun tidak ada yang menyahut atau pun menjawab. Dengan rasa sedikit panik Devano langsung mendorong dan membuka pintu kamar yang di tempati Allina. Devano melihat sekeliling namun tak menemukan gadis yang di carinya.
Devano panik karna tak menemukan gadis yang di carinya. Devano khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya hingga akhirnya di berlari ke luar dan bertanya pada salah satu pelayan yang bekerja di Cafenya.
"Apa kamu melihat Alina?." Tanyanya pada salah satu pelayannya.
"Maaf,pak saya tidak melihatnya." Jawab salah satu pelayan yang Devano tanya.
Mendengar jawaban pelayannya. Devano tambah khawatir namun beruntun salah satu pelayannya melihatnya lalu berkata.
"Apa bapak mencari Alina?," Ucap Ria salah satu pelayan di Cafenya
__ADS_1
"Iya, dia kemana?, apa kamu tau?,"
"Iya pak, saya tau. Tadi dia naik ke atap katanya sih mau berjemur diri karna merasa tak sehat," Ucap Ria menjelaskan.
Tampa menjawab pertanyaan Ria. Devano segera berlari menuju belakang dan segera menaiki tangga untuk segera sampai di atap. Di atap Cafe Devano memang sangat indah di sana kita bisa melihat tugu monas dengan sangat jelas. Selain itu di sana juga tersedia sebuah ayunan gantung dan di situlah Alina saat ini sedang duduk sambil memegan hapenya.
Devano pun sampai di atap dengan suara nafas ngos -gosan. Uha, uha, uha, Suara nafas Devano. Setelah nafasnya kembali beraturan Devano pun berjalan ke arah Alina sambil berkata.
"Sedang apa kamu di sini?, di sini sangat panas,kamu itu sedang sakit," Ucapnya sedikit datar.
"Maaf,pak,aku merasa penat tinggal di kamar jadi aku memutuskan ke sini untuk berjemur, aku merasa agak baikan setelah duduk terkena angin di sini," Ucap Alina sopan sambil menatap ke depan.
Mendengar ucapan Alina. Devano mengambil kursi yang ada di atas atap Cafenya lalu duduk di samping Alina. Alina pun melihat ke arah Devano sebentar lalu berkata.
"Bapak,tak mengajar hari ini?."
"Iya, aku pulang karna merasa sangat pusing di kampus," Jawabnya sambil melihat ke arah wajah Alina yang terlihat masih sangat pucat. Kemudian menyentuh dahi Alina untuk mengetahui suhu badan Alina apa masih panas atau tidak?."
Alina yang mendapat sentuhan itu dengan cepat nemepis tangan Devano. Devano yang mendapat perlakuan itu hanya bisa tersenyum sambil berkata.
"Maaf, aku cuman ingin memastikan kalau kamu tak lagi demam."
"Maaf,pak," Ucap Alina sambil tertunduk.
"Tidak masalah aku bisa mengerti dengan sikapmu." Ucapnya sambil tersenyum lembut melihat ke arah Alina.
Mendengar itu Alina hanya terdiam sambil melihat ke arah depan. Namun di hati Alina begitu banyak pertanyaan yang tersimpang tentang siapa Devano yang sebenarnya. Hingga akhirnay Alina mencoba untuk bertanya.
"Pak, boleh aku bertanya pada anda?," Ucap Alina sambil melihat ke arah Devano.
"Iya, katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan padaku," Ucap Devano sambil membalas tatapan Alina.
__ADS_1