
Mendengar pertanyaan Aldo, Arga tersenyum senang sambil
berjalan masuk ke arah dapurnya, untuk megambil minum karna merasa begitu
sangat kehausan.
Aldo yang melihat tingkah Arga merasa sedikit penasaran,
karna merasa penasaran dengan semua yang tengah Arga katakan, Aldo ikut
berjalan di belakannya.
“Ga, jelasin. Kamu jangan membuat aku penasaran.” Aldo
berdiri di belakang Arga ketika mengatakan itu.
Mendengar ucapan Aldo, yang begitu sangat penasaran dengan
apa yang baru saja dikatakannya tertawa.
“Hahaha.” Arga tertawa melihat ke arah wajah Aldo yang kini
nampak penasaran dengan apa yang baru saja di katakannya.
“Arga, kamu itu meman suka melihatku penasara saat ini. Kalau
kamu tak mau mengatakan semuanya ya sudah kamu tak perlu mengatakannya.” Aldo
nampak terlihat kesal, karna merasa kesal Aldo berjalan menjauh dari Arga yang
kini masih berdiri di depan kulkas sambil memegan botol air minum yang baru
saja di habiskannya.
“Aku bertemu Alina Ga, dan ternyata Alina adalah seorang
Dokter di rumah sakitku.” Arga terlihat sangat bahagia ketika mengatakan itu.
Mendengar ucapan Arga, Aldo nampak sangat terkejut. “Apa!”
berbalik melihat ke arah arga “Alina adalah seorang Dokter?” berjalan mendekat
ke arah Arga yang kini tengah tersenyum sendiri sambil menempelkan botol kosong
di wajahnya.
“Iya, Alina seorang Dokter di rumah sakitku.” Masih tersenyum
sambil menempelkan botol kosong di wajahnya.
“Arga, kamu jangan bercada. Alina itu cuman seoarang pelayan
Cafe di jakarta.” Aldo masih tidak percaya dengan apa yang tengah Arga katakan.
“Alina bukan pelayan di sana, melainkan pemilik Cafe itu,
aku juga sangat terkejut ketika Alina mengatakan itu padaku tadi, cuman aku
penasaran dengan ucapannya yang tidak sampai itu yang mengatakan kalau Cafe itu
miliknya dan juga Ca...ca, itu artinya apa ya Do?” Arga melihat ke arah Aldo
ketika mengatakan itu.
“Mana aku tau, kamu yang bertemu dengan dengan Alina, malah
bertanya denganku, sana tanya Alina lansung.”
“Hehehe, iya, ya.” Arga mengaruk kepalanya yang tidak gatal
ketika mengatakan itu “Oya, Do, sepertinya aku akan tinggal di sini deh.”melihat
ke arah Aldo yang kini tengah membulatkan matanya melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Apa!” terkejut “Kamu ingin tinggal di sini? Wah parah ni,
sepertinya kamu mulai kepentok cinta gadis bugis sulawesi.” Aldo mengelengkan
kepalanya ketika mengatakan itu.
“Mungking! Dan sepertinya Ia.” Kata-kata itu spontang keluar
dari dalam mulut Arga.
“Apa!” kembali terkejut “Kamu benar-benar jatuh cinta kepada
Alina? Yang selalu kamu bilangin gadis jelek, hahah.” Aldo tertawa mengejek
melihat ke arah “Ga, Ga, sekarang kamu baru tau rasa, makanya jangan suka
mengatai orang jatuh cinta, baru tau rasa.” Aldo tertawa melebar setelajh
mengatakan itu.
“Benar Do, jatuh cinta itu banyak rasanya, sama rasa yang
telah aku rasakan saat ini, aku merasa seperti berada di tempat yang begitu
sangat nyaman.” Arga mengatakan itu kepada Aldo seperti orang melamun.
“Benar sekali Ga, jatuh cinta itu sejuta rasa, namun jatuh
ketika cinta di tolak, akan menambah banyak rasa, rasa pengen mati.hahah” Arga
kembali tertawa melebar setelah mengatakan itu.
“Dasar kampret.” Arga melempar botol yang ada di tangannya
ke arah Aldo yang kini tengah tertawa tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Setelah pertemuannya dengan Alina hari itu, Arga memutuskan
akan tinggal di kota pare-pare untuk mengurus rumah sakitnya di sana. Begitupun
pendampin hidup orang bugis, Janda tak masalah pun bagi Aldo.
Pagi-pagi sekali Arga sudah bersiap untuk segera ke rumah
sakit, sementara Aldo kembali ke Bali karna mendapat perintah dari Ayah Arga
Hadi Wirawan untuk segera pulan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu kembali
lagi ke kota Pare-pare untuk membantu Arga membantu mengurus Rumah sakitnya
itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Arga tak berjalan ke arah
ruangannya, melainkan memilih berjalan ke arah ruangan kerja Alina. Tampa mengetuk
pintu Arga kembali membuka pintu ruangan kerja Alina.
“Alina.” Arga memanggil nama Alina, dan lagi Arga tak
menemukan Alina di dalam ruangannya karna saat ini Alina tengah melakukan
oprasi.
Dokter Nisa yang berada di dalam ruangan Alina, berbalik
karna mendengar suara teriakan pemuda tersebut.
“Dokter Alina tidak ada Pak.” Dokter Anisa terlihat begitu
sangat sopan karna mengetahui kalau pemuda tampan yang ada di hadapannya adalah
pemilik Rumah sakit yang di tempatinya bekerja saat ini, sekaligus pemuda yang
__ADS_1
pernah di oprasinya dua tahun yang lalu.
“Kemana?” Arga melihat ke arah Dokter yang kini tengah
tersenyum di hadapannya.
“Dokter Alina tengah melakukan oprasi pagi ini Pak.” Tersenyum
“Oya, maaf Pak sebelumnya, saya ingin bertanya bagaiman keadaan Jantung anda?”
Dokter Anisa menanyakan soal kesehatan jantung Arga.
Arga yang mendengar pertanyaan Dokter yang ada di hadapannya
sedikit terkejut dan juga bingun.
“Jantung! Maksud Dokter apa?” Arga menatap wajah Dokter yang
kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.
“Kesehatan jantung anda. Karna dua tahun lalu, aku yang
telah melakukan oprasi itu.” Dokter Anisa tersenyum ketika mengatakan itu.
“Benarkah Dokter?” Arga tersenyum sambil berjalan ke arah
kursi yang ada di hadapan Dokter Anisa.
“Itu benar.” Dokter Nisa kembali tersenyum.
“Jadi pasti Dokter, tau siapa pemilik jantung ini?” Arga
memegan daerah jantunganya.
“Tentu saja aku tau. Namun aku tak bisa mengatakan siapa
pemilik dari jantung yang tengah bersarang dalam tubuh kamu itu.” Dokter Nisa kembali tersenyum ketika selesai
mengatakan itu.
“Ayolah Dokter, tolong kasi tau aku. Aku hanya ingin tau,
siapa orang yang baik, yang telah melakukan itu padaku.” Arga begitu sangat
berharap agar dokter yang ada di hadapannya mau mengatakan siapa yang telah
mendonorkan jantung untuknya.
“Maaf ya, Pak. Saya tidak bisa melakukan itu. Karna jika
saya melakukannya itu berarti saya telah melanggar peraturan yang telah rumah
sakit ini buat, dan tentu anda tau konsikwensinya, sebagai seorang Dokter saya
harus mematuhi semua peraturan itu.” Dokter Anisa menjelaskan semuanya.
“Ayolah Dokter, sedikit saja.” Arga memasang wajah yang
seperti seorang anak kecil yang mengiginkan permen dari ibunya.
Melihat itu Dokter Nisa tertawa melihat tingkah lucu dari
pemilik rumah sakit yang ada di hadapannya itu. Dokter Anisa tak menyangka
kalau pemuda yang dua tahun di Oprasinya masih seperti anak kecil, itulah yang
di lihatnya saat ini.
“Hahaha.” Tertawa “Hanya satu yang harus kamu tau, jantung
pemuda yang ada di dalam tubuh kamu itu, mencintai salah satu Dokter di rumah
sakit ini, sangat mencintainya, bahkan mereka hampir saja menikah, namun Takdir
__ADS_1
Allah berkata lain.” Dokter Nisa terlihat sedih ketika selesai mengatakan itu.