
Mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya, Aran
terlihat bingun karna baru kali ini ada seorang pemuda tampan yang mencari
Alina selama kematian Devano.
“Maaf anda siapa?” Aran menatap ke arah pemuda yang kini
tengah melihat ke arahnya.
“Aku teman Alina.” Arga tersenyum melihat arah wajah Aran.
“Maaf, tadi pagi Alina pulang ke kampun halamannya.” Setelah
mengatakan itu Aran kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Arga merasa sangat pusing ketika mendengar ucapan
teman pelayan Alina yang mengatakan kalau Alina pulang kampun. Arga merasa
sangat menyesal karna tak meminta nomor telpon Alina karna beberapa hari ini
mereka berdua mulai dekat.
“Bodonya kamu Ga. Beberapa hari bersama Alina kamu tak
meminta nomor telponnya.” Arga mengatakan itu sambil berjalan keluar dari dalam
Cafe, Arga yang tadinya ingin minum kopi buatan Alina tidak jadi, karna tidak
ada Alina yang melayaninya.
Arga masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan yang tak dapat
ia artikan, Arga merasa begitu sangat sedih di tinggal oleh Alina tampa adanya
kabar. Arga merasa sebagian dari hidupnya pergi bersama Alina ke kampun
halamannya.
“Aku harus berusaha melupakannya, kenapa diriku begitu
sangat terpengaruh dengan gadis itu?” Arga berkata sendiri dalam mobilnya karna
bingun dengan perasaan yang tengah dirasakannya saat ini.
Lima belas hari telah berlalu semenjak Alina pulang ke
kampun halamannya, Arga juga tak pernah lagi datang ke Cafe selama Alina tidak
ada, semua pekerjaan Arga telah selesai di jakarta dan perjalanannya terakhirnya
kali ini Ia dan Aldo akan pergi melihat situasi di rumah sakitnya yang terletak
di kota Pare-pare.
kota kelahiran peresiden yang ke tiga yaitu ** Bacharuddin Jusup Habibie yang lebih di kenal dengan nama ** Habibie. Kota yang selalu
ingin Arga kunjungi selama beberapa tahun terakhir ini, namun baru kali ini itu akan terwujudkan
setelah melakukan perjalanan bisnis yang cukup pangjang.
Hampir dua jam empat puluh menit Arga dan Aldo berada di
dalam pesawat, kini mereka berdua tengah berjalan keluar denagn menarik koper
masing-masing. Dengan ketampanan yang Arga dan Aldo miliki, semua mata
melihatnya ketika keluar dari dalam bandara internasional Soekarno hatta, dan
mungkin orang yang melihat Arga dan Aldo keluar dari dalam bandara mengira
kalau mereka berdua adalah turis Asing yang berkunjung ke kota mereka, karna
Arga yang memiliki keperawakan kebarat-baratan dan itu membuat semua mata yang
melihatnya mengira kalau memang benar arga adalah Turis asing.
__ADS_1
Arga berdiri di tempat dimana para penumpan biasanya
menunggu kendaraan yang akan di gunakannya untuk kembali ke rumah masing
-masing. Namun berungtung Arga menemukan mobil yang bisa di Rent car, tidak
harus berganti-ganti mobil agar segera sampai di rumahnya yang tak jauh dari
rumah sakitnya.
Setelah empat jam berada di dalam mobil yang Arga Rent car. Kini
mereak berdua telah sampai di depan rumah mewahnya yang tak jauh dari Rumah
sakit.
Arga turun dari mobil di ikuti oleh Aldo di belakangnya,
mereka berdua di sambut hangat oleh Lina pelayan yang menjaga rumah mereka
selama ini.
“Tuan Arga.” Lina membuka pintu pagar rumah untuk
majikannya.
Melihat itu Arga tersenyum hangat melihat ke arah Lina,
wanita tua yang selalu memanjakannya ketika dirinya selalu berkunjung ke ke
kota Pare-pare.
“Bagaimana kabarnya Bi? Sehat?” Arga berjalan masuk ke dalam
pekarangan rumahnya ketika mengatakan itu.
Namun sebelum kakinya melangkah masuk melewati pagar
rumahnya tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang, dan itu membuatnya
tampa sengaja melihat wajah Alina yang tengah menegndarai mobil berwarna putih
lewat di hadapan rumahnya.
“Alina.” Arga menyebut pelan nama Alina dan itu membuat Aldo
berbalik melihat ke ara jalanan.
“Alina.” melihat arah jalanan “Dimana? Aku tak melihatnya.”
Aldo melihat ke arah jalanan namun tak menemukan orang yang di sebut oleh Arga
yang Aldo lihat hanya ada mobil putih yang lewat itu saja tak ada yang lain.
“Ah, sudahlah, mungkin aku hanya salah lihat. Tidak mungkin kan
Alina ada di sini?” Arga melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
Setelah berada di dalam rumahnya, Arga lansung berjalan
menuju arah kamarnya karna merasa sangat kelelahan sehariang ini melakukan
prjalanan pangjang. Arga masuk ke adalam kamarnya lalu melihat sekeliling dalam
ruangan kamarnya yang beberapa tahun ini tak ia tempati.
Setelah puas melihat dalam ruangan kamarnya, Arga berjalan
ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri setelah itu ia akan istirahat
karna merasa begitu sangat kelelahan.
Sementara Alina yang baru saja sampai di rumah sakit, mulai
sibuk kembali dengan urusannya. Pekerjaannya sedikit tertunda karna kembali ke
ruamhnya mengambil pakaian gantinya, karna malam ini Alina akan menginap di
__ADS_1
rumah sakit karna harus melakukan tindakan oprasi subuh nanti.
Alina masuk ke dalam ruangan kerjanya, dengan membawa tas
kecil dan juga bekal makanan yang telah di siapkan oleh ibunya. Alina duduk di
kursinya sambil memikirkan kenapa jantungnya berdetak seperti itu tadi, karna
tidak biasanya Alina merasakan hal seperti itu selam Devano meninggal
Sebulan ini Alina memang selalu merasa aneh dengan
perasaannya setelah pulang dari negara kelahiran calon suaminya yang telah
tiada, lalu menginap selama dua belas hari di jakarta, perasaan itu, perasaan
yang sama yang selalu Alina rasakannya
ketika Devano masih hidup.
Namun setelah kembali dari jakarta dua minggu yang lalu,
perasaan itu hilang namun menyisahkan rindu, rindu untuk siapa? Itu yang Alina
tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, karna sewaktu berada di dalam
pesawat hati Alina begitu sangat gelisa merasa kalau sesuatu yang tengah ia
tinggalkan di kota itu.
Dan selama dua minggu berada di kota kelahirannya Alina tak
merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Namun hari ini perasaan dan
jantungnya kembali berdetak tak karuan dan itu membuat Alina tak mengerti sama
sekali dengan perasaannya.
Arga terbangun dari tidurnya, lalu melihat ke arah jam
dindin yang berada tepat di hadapannya.
“Ah, aku tertidur sangat lama.” Arga bangun dari tempat
tidurnya lalu berangjak kemudian berjalan masuk ke dalamkamar mandi untuk membersikan
wajahnya.
Setelah selesai membersikan wajahnya Arga keluar dari dalam
kamarnya, lalu turun ke lantai bawah, kemudian berjalan ke arah dapur karna
merasa begitu sangat kelaparan. Setelah sampai di dapur Arga melihat Aldo
tengah makan.
“Uah.” Arga menguap sambil berjalan ke arah meja makan.
“Sudah bangun?” Aldo berbalik melihat ke arah Arga ketika
mendengar suara uapannya.
“Iya, seperti yang kamu lihat.” Arga menarik kursi di
hadapan Aldo, lalu duduk.
*
*
*
Hai, para Reader jangan lupa mampir ya di ceritaku yang
berjudul
Aku mencintaimu, ceritanya keren dan seru loh^_^.
__ADS_1