
Alina masuk ke dalam ruanganya, lalu mencari dimana letak Hapenya. Alina terlihat begitu sangat panik, setelah mendapat beberapa panggilan tak terjawab di dalam layar Hapenya. Alina pun berkata.
"Ini nomor telpon siapa?" Alina menatap layar telponnya yang terlihat nomor yang tak Ia kenal.
Setelah beberapa saat Hapenya kembali berdering, dan panggilan itu dari nomor yang tak Ia kenal. Dengan segera Alina menekan tombol hijau, lalu berkata.
"Iya. Halo, ini dengan siapa ya?" tanya Alina pelan.
"Maaf, Nona menggangu. saya hanya ingin mengatakan kalau orang yang anda kirimi pesan saat ini tengah mengalami kecelakaan. Saya tak bisa membuka Hapenya, saya hanya tau nomor telpon anda, karna ada pesan anda yang masuk."
Mendengar kata dari penelpon. Alina mulai tetlihat panik, Dengan segera Alina berkata. "Maaf, pak, kecelakan ini ada dimana?" tanya Alina yang mulai berkeringat dingin.
"Kecelakaannya di daerah Palanro, dan sekarang mobil Ambulance telah membawa korban. Dan kemungkinan besar, akan segara di rujuk lansung ke Rumah sakit TPC Pare-pare." Orang itu menjelaskan dengan logat bahas Bugis.
Dengan tangan gemetar Alina mengusap wajahnya dengan tangannya. Alian merasa tidak tenang dengan kabar yang baru saja Ia dengar.
Dengan kaki gemetar, tangan berkeringat dingin. Alina berjalan keluar dari ruangannya, menuju arah luar rumah sakit. Ia menunggu mobil Ambulance yang tengah membawa korban kecelakaan di daerah Palanro.
Setelah menunggu selama dua puluh menit. Mobil Ambulance itu memasuki area rumah sakit.
Dengan segera Alina menyuruh perawat rumah sakit menyiapkan berangka.
"Suster, siapkan berangka." Alina tersenyum tipis meliahat ke arah perawat tersebut.
"Baik Dokter." Setelah mengatakan itu Suster tersebut berlalri mengamb berangka, lalu mendorongnya keluar.
Mobil Ambulance telah terparkir di depan pintu masuk rumah sakit.
Jangtung Alina kembali berdetak tak karuan ketika Ia berjalan mendekat ke arah pintu mobil Ambulance.
Pintu mobil Ambulance terbuka, dan di dalam terlihat pemuda yang tengah terbaring tak sadarkan diri, bersimbah dengan darah.
Melihat wajah Devano yang tengah terbaring tak sadarkan diri di dalam mobil Ambulance Alina melompat masuk ke dalam mobil.
"Devan." menangis "Devan." menepuk pelan wajah Devano. Namun Devano tak ada reaksi untuk sadar.
Alina tak bisa menahan tangisannya. Melihat keadaan orang yang sangat Ia cintai, membuatnya tak ada tenaga untuk berangjak dari duduknya.
__ADS_1
Namun setelah mendengar kata salah satu perawat. Dengan segera Alina berdiri, lalu membantu perawat itu untuk memindahkan Devano ke berangka rumah sakit.
"Dokter, kita harus segera memindahkan pasien. Agar kita segera menanganinya." itulah kata yang keluar dari mulut salah satu perawat yang ada di luar mobil Ambulance.
Dengan deraian air mata Alina mendorong berangka yang Devano tempati terbaring saat ini, masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Setelah sampai di dalam ruangan pemeriksaan. Dengan segera Alina menbuaka jas dan kemeja putih yang Devano kenakan.
Alina kembali, tak bisa menahan tangisannya, ketika melihat luka robekan di bagian perut Devano.
"Ya, Allah " Alina mundur setelah melihat luka robekan yang begitu sangat dalam, yang ada di bagian perut Devano.
Dengan tangan gemetar, Alina melangkah kembali melihat luka itu. Namun Ia tak kuasa melihatnya. Hingga akhirnya Ia menyerahkan tanggun jawab ini pada dokter yang lain.
"Maaf, Dokter. Aku tak bisa melakukan ini." Alina melihat ke arah Dokter yang tengah menjahit luka di bagian leher Devano.
"Ada apa Dokter? kenapa anda terlihat seperti ini? apa anda memiliki hubungan dekat dengan pasien ini?" Melihat ke arah Devano.
Iya, memang Dokter Anisa tak tau, kalau pasien yang tengah terbaring di hadapannya itu, adalah calon suami Alina. Karna Ia adalah dokter baru di rumah sakit tersebut.
"Dia, adalah calon suamiku Dokter." meneteskan air mata "Aku tak sanggup melihat keadaannya yang seperti ini." mengelengkan kepala "Maafkan aku Dokter aku tak bisa." Setelah mengatakan itu Alina berlari keluar dari ruangan perawat tersebut, menuju arah ruangannya.
Di dalam ruangan kerjanya. Tangisan Alina pecah.
Hiks, Hiks, Hiks.
"Devan." menangis "Aku tak bisa melihatmu menderita seperti ini." menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku sangat mencintaimu, hiks, hiks." kembali menangis.
Dengan tangan gemetar, Alina mengeluarkan, Hapenya dari saku kanton baju yang Ia kenakan, lalu mencari nomor telpon Selli, lalu menghubunginy. Setelah sambungan telponnya tersambung dengan segera Alina berkata.
"Selli." menangis "Ajak Momsky dan juga Ibuku ke Rumah sakit dimana tempat aku bekerja."
Setelah mengatakan itu Alina memutuskan sambungan telponnya secara sepihat. Dan itu membuat Selli merasa bingun.
"Alina kenapa? sepertinya Ia sangat sedih. Aku bisa mendengar jelas suaranya, kalau saat ini Ia tengah menangis."
Setelah mengatakan itu Selli berjalan mencari keberadaan Momskynya dan juga Ibu Alina.
__ADS_1
Setelah memberitahukan semuanya kepada orangtua yang tengah berdiri melihatnya, kalau Alina menyuruh mereka datang ke rumah sakit.
Setelah itu mereka bertiga berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan taxi. Dengan langkah cepat Arisa berjalan ke arah ruangan Alina. Arisa tau, karna Ia sering datang ke Rumah sakit, hanya untuk membawakan Alina makan siang.
Dengan pelan Arisa mengetuk pintu, lalu masuk.
"Alina, kamu kenapa nak?" Arisa sangat terkejut melihat keadaan putrinya yang kini terlihat lebih kacau.
Rambut Alina yang bisanya rapi, kini terlihat berantakan. Matanya juga terlihat sangat merah karna terlalu lama menangis.
Momsky dan Selli ikut masuk, dan melihat Alina dalam keadaan tak biasa.
"Alina kamu kenapa sayang?" tanya Momsky.
Alina beranjak dari dudukny, lalu berlari memeluk Arisa Ibunya.
Dengan nada suara sesegukan Alina berkata. "Ibu, Devan." memeluk erat "Devan Bu." Alina kembali menangis ketika mengatakan itu.
"Devano kenapa sayang?" mengelus lembut kepala Alina.
"Iya, sayang Devano kenapa?" tanya Momsky mendekat, lalu mengelus pelan belakan Alina.
"Devano kecelakaan." Setelah mengatakan itu tangisan Alina pecah.
Momsky yang mendengarkan itu, merasa sangat syok, tak percaya dengan apa yang tengah Ia dengar. Hingga akhirnya Ia berkata.
"Siapa yang mengatakan itu?" menatap Alina yang kini tengah menangis dalam pelukan Ibunya.
Pelan-pelan Alina melepas pelukannya dari Ibunya, lalu melihat ke arah Momsky.
Alina pun berkata. "Saat ini Devano tengah berada di dalam UGD, keadaannya sangat keritis. Dan aku tak sanggup melihat semua luka yang ada di tubuhny." Setelah mengatakan itu Alina kembali menangis.
Momsky yang mendengar itu, melangkah mundur, Ia sangat terkejur. Pelan-pelan Momsky memegan kepalanya yang mulai terasa pusing. Hingga akhirnya Ia kehilangan kesadarannya.
"Momsky." Selli berteriak ketika Momsky pingsan dengan menimpa dirinya.
Alina yang melihat itu sangat terkejut....
__ADS_1