Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 19


__ADS_3

Devano pun menarik Alina msuk dalam pelukannya. Lalu berkata.


"Alin, aku sangat senang mendengar itu keluar dari mulutmu, aku janji tak akan pernah mengecewakanmu,apalagi sampai menyakitimu. Itu janji aku padamu Alina."


Alina pun mendongakkan kepalanya. Lalu melihat Wajah Devano sambil tersenyum kemudian berkata.


"Aku percaya padamu Devan, dan untuk saat ini tolong lepaskan aku karna aku mau ke kampus, pagi ini aku ada kelas."


"Baik lah, Namun aku akan mengantarmu pergi ke kampus."


"Tapi, Van?."


"Aku tak menerima penolakan."


"Baik lah, sekarang kamu lepaskan aku, karan aku mau kembali ke kamar ku."


"Baik lah," ucap Devano melepaskan pelukannya dari tubuh Alina.


Alina pun beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan ke arah pintu kamar lalu ke luar. Setelah itu Alina berjalan menuju arah kamarnya lalu masuk kemudian mandi. Seteleh selesai dengan ritual mandinya Alina pun keluar dari kamar menuju arah dapur. Sesampai di dapur Alina bertemu dengan Aran.


"Pagi Alina." Sapa Aran sambil tersenyum.


"Pagi, Aran."


Alina pun berjalan menuju arah lemari es untuk mengambil bahan makanan yang akan di masaknya. Namun Aran berkata.


"Kamu mau ngapain Alin?."


"Masak," ucap Alina singkat.


"Kamu ingin masak atau makan makanan itu?." tungjuk Aran ke meja makan.


Alina pun melihat arah meja makan di mana ada sepirin nasi goren yang masi terlihat panas. Alina pun berjalang menhampiri nasi goren yang ada di atas meja lalu berkata.


"Ini, buat aku?," tunjuk Alina pada dirinya sendiri.


"Ya, siapa lagi, tadi pak. bos yang masak buat kamu."

__ADS_1


"Apa!, Devan masak buat aku? so sweet banget sih," ucap Alina sambil tersenyum.


"Kenapa makanannya cuman di lihat saja? kalau kamu tak mau memakannya. sini biar aku yang memakannya," ucap Aran sambil mendekat ke arah meja makan.


"Enak saja, aku juga lapar tau," ucap Alina duduk lalu memakan makanan yang telah di siapkan oleh Devano. Sambil memakan Alina tak berenti menatap Cincin yang melingkar di jari manisnya. yang itu membuat Aran menejeknya.


"Cie, cie, yang semalam habis di lamar sama pak. bos. Kelihatan bahagia banget ni."


Mendengar ejekan Aran. Alina merasa malu. Di tambah Devano datang menhampirinya dan langsung mengecup lembut dahi Alina.


"Kamu dah sarapan sayang?," tanya Devano.


Alina pun melihat ke arah Aran. yang kini sedang asyik melihat kemesraannya bersama Devano. Melihat tatapan Alina. Devano pun melihat ke arah Aran lalu berkata.


"Aran, apa yang sedang kamu perhatikan?," ucap Devano sedikit datar. Aran pun melihat ke arah Devano lalu berkata.


"Em, tidak pak, saya tak memperhatikan apa -apa," Ucap Aran berlalu meninggalkan ke duanya di dapur.


Setelah kepergian Aran. Devano pun duduk di sampin Alina sambil berkata.


"Abisin makanan kamu, setelah itu kita ke kampus bersama."


"Tidak, aku tak akan kembali mengajar di sana lagi. Aku hanya ingin ke sana untuk meminta isin libur untukmu," ucap Devano sambil memegan rambut Alina lalu menyelipkannya di telinganya.


Mendengar itu. Alina berenti makan lalu melihat ke arah Devano yang masih setia menatapnya sambil tersenyum.


"Apa!, isin libur, untuk apa?."


"Aku akan membawamu ke malaysia. aku ingin mengenalkanmu pada semua anggota keluargaku."


"Apa!, secepat itu? tapi Van, bagaimana mungking aku bisa ikut bersamamu?. aku tak memiliki perlenkapan seperti paspor dan juga Visa."


"Iya, kalau soal itu kamu tenan saja, semuanya biar aku yang urus. Kamu hanya tau beresnya saja. Setelah kita dari negaraku, kita akan pergi ke kotamu untuk memberitahukan orang tuamu tengtang hubungan kita."


"Baik lah, semunya aku percayakan padamu," ucap Alina sambil melanjutkan kembali makannya. Setelah selesai makan. Alina pun membereskan piring bekas makannya lalu berangkat ke kampus.


Setelah sampai di halaman parkir Sekola. Alina dan Devano keluar dari mobil bersamaan. Membuat para mahasiswi melihat iri pada mereka berdua. Bahkan di antara mereka ada yang berkata.

__ADS_1


"Gadis selatan itu, kenapa dia bisa bersama dengan dosen tampan kita?," ucap Salah satu mahasiswi. Sementara Lucia langsung mengandeng tangan Devano.


"Bapak, dah kembali?, aku kangen sama bapak," ucap Lucia centil.


Devano pun berusaha melepas gandengan tangan Lucia lalu berkata.


"Lucia, tolong kamu lepaskan tangan saya. Aku tak ingin membuat istriku marah dengan cara kamu seperti ini"


Mendengar kata istri ke luar dari mulut Devano, dengan segera Lucia melepas gandengan tangannya lalu menatap ke arah Alina. Sementara para mahasiswi yang lainya, mendengar ucapan Devano meteka semua merasa sangat kecewa.


"Benar pak, kalau bapak telah menikah dengan gadis ini?." tunjuk Lucia pada Alina.


"Benar," ucap Devano sambil mengambil tangan Alina yang memakai cincin pemberiannya lalu memperlihatkan pada Lucia. Sementara Alina hanya tersenyum manis melihat ke arah Lucia yang kini sedang terkejut mendengar apa yang di ucapkan Devano.


Tampa berkata apapun. Lucia pergi meninggalkan Devano dan Alina. Sementara Alina tak berenti tersenyum bahagia sambil menatap wajah Devano.


"Kamu kenapa tersenyum kaya gitu melihatku?, apa ada sesuatu di wajahku?," tanya Devano.


"Tidak ada apapun di wajah suamiku," ucap Alina mengandeng tangan Devano lalu berjalan menujuh arah kelasnya.


Mendengar ucapan Alina. Devano berhenti berjalan lalu berbalik melihat ke arah Alina.


"Apa!, kamu bilang barusan?, suami kamu?," ucap Devan sambil menatap wajah Alina. Alina yang mendapat tatapan seperti itu dari Devano pun merasa malu. Alina ingin berlari namun dengan cepat Devano memegan tangan Alina lalu berkata.


"Jawab dulu, pertanyaanku."


"Pertanyaan yang mana?," ucap Alina pura -pura tak tau sambil menundukkan wajahnya.


Namun belum sempat Devano melanjutkan ucapannya Bel jam kelas Alina telah berbunyi dan itu membuat Devano melepas pegangan tangan Alina. Sementara Alina tersenyum melihat ke arah Devano.


"Aku masuk dulu ya Van. Daa, sampai ke temu di Cafe nanti," ucap Alina berlalu meninggalkan Devano.


"Alina kamu utan pejelasan sama aku, dan aku akan menagihnya setelah kamu pulang dari kampus," ucap Devano sambil berteriak pada Alina dan itu membuat para mahasiswi dan juga mahasiswa melihat ke arah mereka berdua. Secil yang mendengar itu dengan segera menhampiri Alina lalu bertanya.


"Alin, apa benar kamu telah menikah dengan dosen tampan kita?."


Mendengar pertanyaan Secil. Alina pun mengajak Secil masuk ke dalam kelas lalu menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Sebenarnya kami belum menikah, Namun semalam Devano melamar aku."


"Apa!," bagaimana caranya kalian jadian?, setau aku pak Devan kembali ke negaranya beberapa bulan yang lalu." tanya Cecil serius sambil menatap wajah Alina.


__ADS_2