Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 22


__ADS_3

Setelah beberapa jam berada di atas pesawat kini ke duanya telah sampai di bandara yang bernama. Bandar Udara Sultan Ismail petra. Devano tak pernah melepaskan pengamannya dari tangan Alina. Setelah keluar dari bandara, mobil jemputan Devano sedari tadi telah menanti kedatangan mereka di area parkiran bandara.


"Selamat sore Tuan." ujar sopir pribadi keluarga Devano sambil membukakan pintu mobil.


"Sore," ucap Devano setelah masuk ke dalam mobil.


Setelah ke duanya masuk ke dalam mobil. Sopir keluarga Devano pun masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju kediaman keluarga besar Devano. Jelan sore Devano dan Alina sampai di rumah mega Devano. Setelah sampai Devano mengajak Alina turun dari mobil.


"Alin, ayo kita masuk."


Mendengar ucapan Devano, Alina pun tersenyum lalu keluar dari dalam mobil. Alina melihat rumah mewah yang kini berdiri di hadapannya. Melihat itu Alina merasa minder karna merasa tak pantas untuk Devano.


"Devan, apa kamu yakin dengan semuai?," tanya Alina sambil menatap wajah Devano. Devano pun tersenyum ke arah Alina lalu berjalan menhampirinya kemudian memegan tangan Alina lalu berkata.


"Ayo kita masuk, kita sudah sejauh ini kenapa baru sekarang kamu menanyakannya. Percayalah Alin, aku sangat mencintaimu." Setelah itu Devano pun berjalan ke arah pintu utama rumahnya. Pintu pun rumah Devano pun terbuka karna pelayan Rumah Devano langsung menhampiri ketika mendengar suara mobil berhenti di depan pintu utama.

__ADS_1


"Sore, Tuan," ucap pelayan rumah Devano bernama Uci.


"Sore, Uci, Momsky mana Ci?," Tanya Devano berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Ada, Tuan, Nyonya besar lagi tak enak badan."


"Apa!, Momsky tak enak badan?, lalu siapa yang merawatnya?," ucap Devano berlari menuju arah kamar Momskynya sambil menarik tangan Alina dan di ikuti oleh Uci di belakangnya.


Setelah sampai di depan kamar Momskynya. Devano pun langsung mendorong knop pintu kamar lalu masuk.


Mendengar panggilan Devano. Momsky pun membuka matanya lalu melihat ke arah Devano.


"Devan, kamu tlah sampai nak?." ucap Momsky sambil berusaha bangun. Melihat itu Devan pun membantu Momskynya bangun. Setelah selesai membantu Devano pun memegan dahi Momskynya.


"Sudah tak terlalu panas."

__ADS_1


"Sudahlah, Devan, aku tak apa, aku hanya kelelahan saja, lagian Selli juga telah memberiku vitamin. katanya aku hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup," ucap Momsky menjelaskan.


Mendengar penjelasan Momskynya Devano merasa sedikit lega.


"Baik lah, Moms, oya sekarang Selli ke mana?."


"Tadi, Non Selli ke rumah sakit, karna ada pasien yang ingin melahirkan. Nyonya besar tak tau, karna tadi sedang tertidur sewaktu Non Selli mendapat telpon. Hingga akhirnya Non Selli meminta padaku untuk memberitahukan ketika Nyonya besar telah terbangun," ucap Uci menjelaskan.


"Baik lah, kalau begitu Uci, terimah kasih telah menjaga Momsky ku."


"Sama -sama tuan." Setelah selesai. menjelaskan semuanya Uci pun berjalan keluar dari kamar Nyonya besarnya menuju arah dapur.


Sementara Devano masih sibuk mengurus Momskynya sampai melupakan Alina yang masih berdiri di sampin sofa yang ada di dalam kamar Momsky nya. Namun Momsky menyadari keberadaan Alina.


"Devan, gadis itu siapa?." tunjuk Momsky ke arah Alina. Alina pun tersenyum. Sambil mengingat wajah Momsky Devano.

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah melihat nya,tapi dimana." ucap Alina dalam hati.


__ADS_2