Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.41


__ADS_3

Mendengar ucapan pemuda yang memanggilnya Mba pelayan, Alina


pun tersenyum lalu berkata.


“Benar aku boleh ikut di kamu?” tersenyum hangat kepada


pemuda yang ada di hadapannya.


“Tentu saja dengan senang hati. Dan, kalau boleh aku tau


nama Mba pelayan siapa? Soalnya ngak enak selalu manggil Mba pelayan.” Aldo mengaruk


kepalanya yang tidak gatal karna merasa tidak enak.


Alina yang melihat tinggkah pemuda yang ada di hadapannya,


tersenyum hangat sambil mengulurkan tangannya.


“Alina biasa di panggil Alin.” Tersenyum melihat ke arah


pemuda yang ada di hadapannya.


“Aldo.” Membalas uluran tangan Alina.


Setelah keduanya berkenalan Aldo mengajak Alina masuk ke


dalam mobil. Alina yang tadinya selalu tersenyum, kini bermuka masam ketika


masuk ke dalam mobil dan melihat pemuda yang selalu memanggilnya jelek kini


tengah duduk di bagian kemudi.


Kenapa dia ada di sini?’ Alina membatin.


Setelah pemuda itu melihat Alina duduk di dalam mobilnya,


dengan segera pemuda itu melajukan mobilnya.


Sementara Aldo mulai bertanya soaltempat tinggal Alina


hingga menanyakan kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit tersebut.


“Oya, Alin kamu nagpain di Rumah sakit itu?” Aldo berbalik


melihat ke arah Alina karna saat ini dirinya tengah duduk di depan disampin


bagian kemudi.


“Em, aku mengunjungi ibu teman aku yang lagi sakit. Dan tampa


aku sadari waktu ternyata sudah sangat larut.” Alina tersenyum ketika selesai


mengatakan itu.


Dan tampa Alina sadari pemuda yang tengah menytir mobil tak


pernah berhenti melihat wajahnya melalui kaca spion yang ada tepat di sampin


kepalanya.


Mendengar ucapan Alina, Aldo pun berkata. “Memang kota


jakarta memang seperti itu, waktu terasa berjalan begitu sangat cepat. Sama halnya


dengan tempat tinggal kami di Bali. Waktu juga berjalan begitu sangat cepat.”


Aldo tak berhenti berbicara hingga akhirnya Arga ikut bicara.


“Justru di kota kelahiran kita itu sangat indah karna


semakin larut, semakin ramai dan semakin banyak pengunjung yang berdatangan ke


tempat-tempat seperti pantai dan juga Cafe-cafe,iya kan Do?” Arga berbalik


melihat ke arah Aldo. Lalu melihat ke arah kaca spion dan tampa sengaja mata


mereka mereka berdua saling menatap melalui kaca spion itu.

__ADS_1


Namun dengan segera Alina melihat ke arah lain, karna merasa


ada sesuatu yang aneh pada dirinya setelah saling menatap di dalam kaca spion


mobil. Dan begitupun yang tengah Arga rasakan jantungnya terasa berdetek begitu


sangat kencang ketika melihat tatapan mata Alina.


Malam semakin larut, Alina mulai merasa sangat mengantuk,


mungkin karna merasa begitu sangat kelelahan habis melakukan oprasi sehingga


matanya begitu terasa sangat berat hingga akhirnya matany pelan-pelan mulai


tertutup dan tertidur.


Kini mobil Arga telah sampai di depan Cafe yang Alina


tempati bekerja. Arga menhentikan mobilnya lalu melihat ke arah belakang dan


diikuti oleh Aldo.


Namun yang di lihat saat ini, kini tengah terlelap dengan


sangat nyenyak. Melihat itu Arga dan Aldo saling menatap. Arga pun berkata.


“Bagaimana ini Do?” Arga berkata pelan melihat ke arah Aldo.


“Tau.” Aldo menaikkan bahunya tak tau apa yang harus di


lakukannya.


“Bagunin gadis itu Do.” Arga kembali melihat ke arah Aldo.


“Aku takut Ga, nanti aku di kiranya mau kurang ajar.” Aldo


berbalik melihat ke arah Alina.


“Terus kita biarin saja gadis itu tertidur sampai pagi di


dalam mobilku ini?”


silahkan saja, kalau aku takut Ga.”


Mendengar nama Alina keluar dari dalammulut Aldo, Arga pun


berkata.


“Eh, tunggu, tunggu dulu, tadi kamu sebut nama Alina. Alina itu


siapa?” Arga kembali melihat ke arah wajah Aldo.


“Ya, ampun.” Menepuk jidat “Nama gadis yang sedang tertidur


di dalam mobil kamu ini Arga.”


“Oh, jadi nama gadis jelek ini namanya Alina.” Arga tersenyum


ketika selesai mengatakan itu.


Nama yang selalu terlintas dalam hatiku. Ucap Arga dala


hati.


Mendengar kata gadis jelek keluar dari dalam mulut Arga,


Aldo pun berkata. “Alina itu cantik Arga, udah gitu senyumannya membuat hati


dan jantungku terasa adem.” Arga memegan dadanya ketika mengatakan itu.


Pagi pun tiba, sinar mata hari mulai menampakkan sinarnya,


mulai masuk menembus kaca mobil yang di tempati ketiga anak manusia yang kini


tengah terlelap di dalam mobil. Arga dan Aldo memilih menginap di dalam mobilnya


karna takut membangunkan Alina yang kini tengah tertidur pulas di dalam

__ADS_1


mobilnya.


Pelan-pelan Alina mulai membuka matanya, ketika sinar cahaya


matahari mulai menerpa wajahnya, alina terbangun dan melihat sekelilingnya.


“Astaga, semalam aku menginap di sini? Dan kedua pemuda itu


juga ikut terlelap di sini.” Alina tersenyum ketika melihat kedua kaki pemuda


yang ada di hadapnnya saling menyilan kaki Aldo ke arah sahabatnya sementara


kaki sahabatnya kini tengah berada di ats perutnya.


Dengan senyuman Alina keluar dari dalam mobil, merasa mobil


terguncang karna pintu yang Alina tutup Arga ikut terbangun, lalu keluar dari


mobil.


Alina yang melihat sahabat Aldo keluar dari mobil berjalan


mendekat ke arahbya, meskipun merasa kesal dengan pemuda itu, namun Alina


mencoba bersikap baik, karna pemuda itu telah menolongnya.


“Hei, kamu sudah bangun?” sapa Alina lembut.


“Hem.” Pemuda itu hanya menjawab dengan deheman saja.


“Terimakasih karna telah mengantarku.” Tersenyum hangat


melihat ke arah pemuda yang begitu cuek di terhadapannya.


“Hem, boleh aku tau di mana kamar mandinya?” Arga melihat ke


arah wajah Alina.


Dengan senyuman Alina berkata. “Di sana.” Menunjuk arah


toilet yang berada tepat di sampin Cafe.


Setelah tau di mana letak arah kamar mandi Arga berjalan ke


arah sana, sementara Alina berjalan masuk ke dalam Cafe untuk membersikan


mukanya dan juga mengogok giginya.


Setelah selesai membersikan wajahnya, Alina kembali berjalan


keluar dari Cafe dan mendapati Arga tengah duduk di kursi yang ada di depan


Cafe.


Alina pun berjalan menghampiri pemuda itu lalu berkata pelan


dan ramah. “Mau makan atau minum sesuatu? Biar nanti aku buatka.” Alina kembali


tersenyum hangat melihat wajah pemuda yang kini tengah duduk di hadapannya.


Mendengar kata ramah keluar dari mulut wanita yang selalu ia


panggil jelek, Arga pun berkata. “Boleh aku meminta kopi seperti yang kemarin


malam aku minum?” Arga menatap wajah Alina tampa adanya riasan sedikitpun wajah


Alina terlihat begitu sangat mulus dan palin utama Alina terlihat begitu sangat


cantik tampa adanya polesan sedikitpun di wajahnya.


Mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya, Alina pun


berkata. “Tidak boleh minum kopi sebelum ada makanan lain di dalam perut kita


di pagi hari. Karna itu akan membuat cairan asam lambung kita naik dan akan


membuat perut terasa kembung dan begah.” Alina menjelaskan, karna sebagai

__ADS_1


seorang dokter Alina tau tentang semua itu.


__ADS_2