
Mendengar ucapan pemuda yang memanggilnya Mba pelayan, Alina
pun tersenyum lalu berkata.
“Benar aku boleh ikut di kamu?” tersenyum hangat kepada
pemuda yang ada di hadapannya.
“Tentu saja dengan senang hati. Dan, kalau boleh aku tau
nama Mba pelayan siapa? Soalnya ngak enak selalu manggil Mba pelayan.” Aldo mengaruk
kepalanya yang tidak gatal karna merasa tidak enak.
Alina yang melihat tinggkah pemuda yang ada di hadapannya,
tersenyum hangat sambil mengulurkan tangannya.
“Alina biasa di panggil Alin.” Tersenyum melihat ke arah
pemuda yang ada di hadapannya.
“Aldo.” Membalas uluran tangan Alina.
Setelah keduanya berkenalan Aldo mengajak Alina masuk ke
dalam mobil. Alina yang tadinya selalu tersenyum, kini bermuka masam ketika
masuk ke dalam mobil dan melihat pemuda yang selalu memanggilnya jelek kini
tengah duduk di bagian kemudi.
Kenapa dia ada di sini?’ Alina membatin.
Setelah pemuda itu melihat Alina duduk di dalam mobilnya,
dengan segera pemuda itu melajukan mobilnya.
Sementara Aldo mulai bertanya soaltempat tinggal Alina
hingga menanyakan kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit tersebut.
“Oya, Alin kamu nagpain di Rumah sakit itu?” Aldo berbalik
melihat ke arah Alina karna saat ini dirinya tengah duduk di depan disampin
bagian kemudi.
“Em, aku mengunjungi ibu teman aku yang lagi sakit. Dan tampa
aku sadari waktu ternyata sudah sangat larut.” Alina tersenyum ketika selesai
mengatakan itu.
Dan tampa Alina sadari pemuda yang tengah menytir mobil tak
pernah berhenti melihat wajahnya melalui kaca spion yang ada tepat di sampin
kepalanya.
Mendengar ucapan Alina, Aldo pun berkata. “Memang kota
jakarta memang seperti itu, waktu terasa berjalan begitu sangat cepat. Sama halnya
dengan tempat tinggal kami di Bali. Waktu juga berjalan begitu sangat cepat.”
Aldo tak berhenti berbicara hingga akhirnya Arga ikut bicara.
“Justru di kota kelahiran kita itu sangat indah karna
semakin larut, semakin ramai dan semakin banyak pengunjung yang berdatangan ke
tempat-tempat seperti pantai dan juga Cafe-cafe,iya kan Do?” Arga berbalik
melihat ke arah Aldo. Lalu melihat ke arah kaca spion dan tampa sengaja mata
mereka mereka berdua saling menatap melalui kaca spion itu.
__ADS_1
Namun dengan segera Alina melihat ke arah lain, karna merasa
ada sesuatu yang aneh pada dirinya setelah saling menatap di dalam kaca spion
mobil. Dan begitupun yang tengah Arga rasakan jantungnya terasa berdetek begitu
sangat kencang ketika melihat tatapan mata Alina.
Malam semakin larut, Alina mulai merasa sangat mengantuk,
mungkin karna merasa begitu sangat kelelahan habis melakukan oprasi sehingga
matanya begitu terasa sangat berat hingga akhirnya matany pelan-pelan mulai
tertutup dan tertidur.
Kini mobil Arga telah sampai di depan Cafe yang Alina
tempati bekerja. Arga menhentikan mobilnya lalu melihat ke arah belakang dan
diikuti oleh Aldo.
Namun yang di lihat saat ini, kini tengah terlelap dengan
sangat nyenyak. Melihat itu Arga dan Aldo saling menatap. Arga pun berkata.
“Bagaimana ini Do?” Arga berkata pelan melihat ke arah Aldo.
“Tau.” Aldo menaikkan bahunya tak tau apa yang harus di
lakukannya.
“Bagunin gadis itu Do.” Arga kembali melihat ke arah Aldo.
“Aku takut Ga, nanti aku di kiranya mau kurang ajar.” Aldo
berbalik melihat ke arah Alina.
“Terus kita biarin saja gadis itu tertidur sampai pagi di
dalam mobilku ini?”
silahkan saja, kalau aku takut Ga.”
Mendengar nama Alina keluar dari dalammulut Aldo, Arga pun
berkata.
“Eh, tunggu, tunggu dulu, tadi kamu sebut nama Alina. Alina itu
siapa?” Arga kembali melihat ke arah wajah Aldo.
“Ya, ampun.” Menepuk jidat “Nama gadis yang sedang tertidur
di dalam mobil kamu ini Arga.”
“Oh, jadi nama gadis jelek ini namanya Alina.” Arga tersenyum
ketika selesai mengatakan itu.
Nama yang selalu terlintas dalam hatiku. Ucap Arga dala
hati.
Mendengar kata gadis jelek keluar dari dalam mulut Arga,
Aldo pun berkata. “Alina itu cantik Arga, udah gitu senyumannya membuat hati
dan jantungku terasa adem.” Arga memegan dadanya ketika mengatakan itu.
Pagi pun tiba, sinar mata hari mulai menampakkan sinarnya,
mulai masuk menembus kaca mobil yang di tempati ketiga anak manusia yang kini
tengah terlelap di dalam mobil. Arga dan Aldo memilih menginap di dalam mobilnya
karna takut membangunkan Alina yang kini tengah tertidur pulas di dalam
__ADS_1
mobilnya.
Pelan-pelan Alina mulai membuka matanya, ketika sinar cahaya
matahari mulai menerpa wajahnya, alina terbangun dan melihat sekelilingnya.
“Astaga, semalam aku menginap di sini? Dan kedua pemuda itu
juga ikut terlelap di sini.” Alina tersenyum ketika melihat kedua kaki pemuda
yang ada di hadapnnya saling menyilan kaki Aldo ke arah sahabatnya sementara
kaki sahabatnya kini tengah berada di ats perutnya.
Dengan senyuman Alina keluar dari dalam mobil, merasa mobil
terguncang karna pintu yang Alina tutup Arga ikut terbangun, lalu keluar dari
mobil.
Alina yang melihat sahabat Aldo keluar dari mobil berjalan
mendekat ke arahbya, meskipun merasa kesal dengan pemuda itu, namun Alina
mencoba bersikap baik, karna pemuda itu telah menolongnya.
“Hei, kamu sudah bangun?” sapa Alina lembut.
“Hem.” Pemuda itu hanya menjawab dengan deheman saja.
“Terimakasih karna telah mengantarku.” Tersenyum hangat
melihat ke arah pemuda yang begitu cuek di terhadapannya.
“Hem, boleh aku tau di mana kamar mandinya?” Arga melihat ke
arah wajah Alina.
Dengan senyuman Alina berkata. “Di sana.” Menunjuk arah
toilet yang berada tepat di sampin Cafe.
Setelah tau di mana letak arah kamar mandi Arga berjalan ke
arah sana, sementara Alina berjalan masuk ke dalam Cafe untuk membersikan
mukanya dan juga mengogok giginya.
Setelah selesai membersikan wajahnya, Alina kembali berjalan
keluar dari Cafe dan mendapati Arga tengah duduk di kursi yang ada di depan
Cafe.
Alina pun berjalan menghampiri pemuda itu lalu berkata pelan
dan ramah. “Mau makan atau minum sesuatu? Biar nanti aku buatka.” Alina kembali
tersenyum hangat melihat wajah pemuda yang kini tengah duduk di hadapannya.
Mendengar kata ramah keluar dari mulut wanita yang selalu ia
panggil jelek, Arga pun berkata. “Boleh aku meminta kopi seperti yang kemarin
malam aku minum?” Arga menatap wajah Alina tampa adanya riasan sedikitpun wajah
Alina terlihat begitu sangat mulus dan palin utama Alina terlihat begitu sangat
cantik tampa adanya polesan sedikitpun di wajahnya.
Mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya, Alina pun
berkata. “Tidak boleh minum kopi sebelum ada makanan lain di dalam perut kita
di pagi hari. Karna itu akan membuat cairan asam lambung kita naik dan akan
membuat perut terasa kembung dan begah.” Alina menjelaskan, karna sebagai
__ADS_1
seorang dokter Alina tau tentang semua itu.