
Mendengar penjelasan yang keluar dari dalam mulut Alina,
arga pun berkata dalamhati.
“Gadis ini seperti dokter saja, tau kalau minum kopi tampa
adanya makanan lain dalam perut akan membuat perut kita terasa begah.” Arga
membatin.
“Baiklah kalau begitu akan lebih baik kalau kita makan nasi
goreng misalnya.” Arga melihat ke arah wajah Alina ketika mengatakan itu.
Mendengar ucapan Arga yang ingin makan nasi goreng Alina pun
berkata. “Apa kamu mau?” tersenyum manis “Maksud aku apa kamu mau makan nasi
goreng?” Alina kembali menatap ke arah wajah pemuda yang ada di hadapannya.
“Iya, aku mau.” Arga mengangukkan kepalanya ketika
mengatakan itu.
“Baiklah, sekarang kamu tunggu aku di sini.” Alina berdiri
dari duduknya namun sebelu ia melangkah Alina kembali melihat ke arah pemuda yang masih duduk santai di
hadapannya “Maaf kalau boleh aku tau, nama kamu siapa?” Alina kembali tersenyum
manis ketika mengatakan itu.
“Arga” Arga berdiri dari duduknya lalu mengulurkan
tangannya.
Alina pun tersenyum sambil membalas uluran tangan Arga.
Alinapun berkata “Kamu pasti sudah tau namaku kan? Jadi aku tak perlu
mengatakannya lagi. Baiklah sekarang aku masuk ke dalam sebentar ya.” Alina
ingin berjalan namun masih melihat tangannya di pegan oleh Araga.
Hingga akhirnya Alina kemabli berkata. “Apa aku boleh masuk?”
Alina tersenyum melihat ke arah tangan Arga yang masih setia memegan tangannya.
Dengan santainya Arga berkata, “Iya, silahkan saja.” Tak menyadari
kalau tangannya masih memegan tangan Alina.
“Baiklah, kalau begitu tolong lepaskan tanganku.” Alina tak
berhenti tersenyum ketika mengatakan itu.
Mendengar ucapan Alina, dengan segera Arga melepaskan tangan
Alina sambil berkata, “Maaf, maaf aku tak sengaja.” Arga merasa tidak enak
dengan apa yang tengah ia lakukan.
Setelah tangannya terlepas dari tangan Arga, dengan senyuman
Alina berjalan masuk ke dalam Cafe untuk menyiapakan nasi goreng untuk Arga dan
juga Aldo temannya dan tentunya untuk dirinya juga jelasnya.
Namun dalam benaknya Arga merasa sangat nyaman memegan
tangan Alina, bahkan jantungnya berdetak normal ketika menatap wajah Alina
sewaktu duduk di hapannya. Melihat Alina berjalan masuk ke dalam Cafe Arga pun
__ADS_1
berkata.
“Apa yang terjadi dengan jantungku.” Mengusap daerah
jantungnya “Kenapa wajahnya terlihat begitu tak asing untukku.”
Arga terkejut ketika sebuah tangan menepuk pelan bahunya,
Arga pun berbalik melihat ke arah Aldo yang kini baru saja terbangun.
“Kamu membuatku terkejut.” Arga berbalik melihat ke arah
Aldo yang kini tengah menggosok-gosok ke dua matanya.
Aldo yang mendengar kata yang keluar dari mulut Arga hanya
cuek dan sambil menarik kursi lalu duduk di sampin Arga.
“Lapar Ga.” Aldo mengelus perutnya yang minta di isi.
“Cuci muka dulu sana! Baru bahas makanan, sana cuci muka
nanti Alina melihat wajah kamu yang belekan itu.” Arga terkekeh ketika selesai
mengatakan itu.
Aldo yang mendengar ucapan Arga, mengatai wajahnya penuh
dengan belekan segera berangjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah Toilet,
karna pasti akan sangat memalukan jika Alina melihat wajahnya seperti itu itulah
yang terlintas dalam pikiran Aldo saat ini. Setelah selesai membersikan
wajahnya, Aldo keluar dari dalam toilet lalu berjalan ke arah meja yang di
tempati Arga saat ini.
Aldo begitu sangat senang ketika melihat nasi goreng yang
mengambil nasi goreng itu mendekat ke arahnya.
Aldo mencium wangi nasi goreng tersebut sambil berkata. “Ini
pasti sangat lezat, terasa dari bau wanginya.” Aldo mulai menyendok nasi goreng
ingin memasukkan ke dalam mulutnya.
Namun tiba-tiba Arga berkata “Tunggu Alina dulu. Kita akan makan
bersama dengannya.” Arga terlihat santai
ketika mengatakan itu.
“Apa!” terkejut “Alina akan makan bersama kita?” Aldo nampak
sangat terkejut ketika mendengar ucapan sahabatnya itu yang ingin makan dengan
gadis yang selalu ia katai jelek.
“Apa jangan-jangan kamu mulai menyukai Alina ya?” Aldo
menatap wajah Arga dengan pandangan seperti detektip yang ingin mencari tau
yang sebenarnya.
“Gila kamu ya! Masa makan bersama di bilang menyukai atau
apalah.” Arga menampakkan wajah kesalnya ketika mengatakan itu pada Aldo.
Namun sebenarnya Arga mulai merasa nyaman, tapi kalau
membahas soal suka menyukai Arga belum merasakan hal itu, masih sebatas merasa nyaman.
__ADS_1
Alina berjalan keluar dari dalam Cafe sambil membawa nampan
yang berisi tiga gelas air putih dan dua gelas kopi dan juga segelas teh, karna
Alina lebih menyukai menikmati teh di pagi hari. Terkecuali kalau berada di
rumah sakit dan banyak oprasi yang harus ia lakukan Alina baru akan meminum
kopi.
Dengan senyuman hangat yang selalu tersungging di bibir
Alina, dan itu membuat jantung Arga terasa menghangat bahkan jantungnya
berdetak tak karuan ketika melihat itu semua.
Alina duduk pas di hadapan Arga dan itu membuat Arga tak
berhenti mencuri pandangan melihat ke arah wajah Alina.
Seiring berjalannya waktu hubungan Arga dan Alina mulai
sedikit ada perubahan, Arga yang biasanya selalu memanggil Alina dengan sebutan
gadis jelek, Mba pelayang yang jelek kini berubah.
Arga lebih sopan memanggil nama Alina, dan itu membuat
jantungnya selalu merasa tenang, dan tak berdetak tak karuan lagi.
Tiga hari lagi masa cuti Alina akan segera berakhir, dan
kini tiba saatnya ia harus kembali ke kota tempat tinggalnya yaitu kota pare-pare.
Alina mulai mengemas seluruh pakaiannya di bantu oleh Aran sahabatnya.
Ibu Aran juga telah pulih, dan kini sehat seperti
sebelumnya, namun masih harus tetap melakukan cek kontrol, dan semua itu karna
bantuan Alina yang membantunya membayar semua biaya rumah sakit dan yang palig
membuat Aran bangga kalau sahabatnya sendiri yang te;ah mengoprasi ibunya.
Aran memeluk erat Alina ketika tengah sampai di bandara. “Alin,
sering-sering datang kemari ya.” Aran mengeluarkan air mata ketika mengatakan
itu.
Melihat sahabatnya menangis Alina pun berkata. “Tentu saja,
aku akan selalu berkunjung ke Cafe kita.” Tersenyum sambil mengusap air mata
Aran yang ada di wajahnya “Ingat jangan lupa bawa ibu ke rumah sakit tiap bulan
untuk mengkontrol bekas oprasinya ya.” Alina memperingati.
Waktu terus berlalu tak terasa Alina kini telah sampai di
bandara Soekarno Hatta, Alina menarik kopernya berjalan keluar dari bandara dan
menunggu Mobil angkutan yang akan membawanya ke kota Pare-pare.
Sementara di Cafe, seorang pemuda duduk sendiri tak berhenti
mencari keberadaan. “Kemana Alina pergi? Kenapa seharian ini aku tak melihatnya?
Apa dia sedang istirahat atau bagaimana?”
Karna merasa penasan Pemuda itu memanggil salah satu
pelayang lalu berkata. “Kemana Alina? Kenapa seharian ini aku tak melihatnya.”
__ADS_1
Arga bertanya kepada salah satu pelayan yang tak lain adalah Aran sahabat dekat
Alina.