Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 34


__ADS_3

Alina mengelus lembut batu nisan yang terukir nama orang


yang sangat ia cintai, dam tampa Alina sadari sepasang bolah kristas menetes di


wajahnya. Aina membuka kecamata yang Ia kenakan, lalu melihat sekeliling makam


Devano. Alina mengbungkuk di samping makam Devano, lalu berkata.


“Apa sekarang kamu bahagia di atas sana?” mengelus nama yang


terukir di batu Nisam makam Devano. “Selama kamu meninggalkanku, hatiku terasa begitu


sangat hampa, aku selalu merasa kehidupan yang aku jalani, tampa dirimu terasa


begitu sangat berat. Apa kamu tau, hem?” tersenyum sambil melihat ke arah makam


“Sampai sekarang aku masih mengharapkanmu kembali, untuk menemuiku dan


memelukku sangat erat.” Setelah mengatakan itu Alina menarik napasnya, lalu


mengbuangnya perlahan “Baiklah sayang.” Mengecup lembut, batu nisam Devano “Aku


akan pulang, dan aku akan selalu menyempatkan waktu untuk datang menemuimu.


Kekasihku, cintaku selamanya hanya untukku.”


Setelah mengatakan itu, Alina berangjak, lalu berjalan ke


arah jalanan. Karna di sana taxi yang Ia tumpaginya tengah menunggunya. Setelah


mengunjungi kediaman keluarga besar Devano, Alina pergi ke makam. Karna itu yang


selalu Alina lakukan setiap tahun semenjak kematian Devano. Dan rencana Alina


setelah ini, Ia akan ke jakarta, untuk melihat suasana di cafe yang pernah Ia


tempati bekerja yang tak lain adalah Cafe Devano.


Setelah berada di dalam taxi, Alina menatap cincin yang


tengah melingkar sempurna di jari manisnya, yang di berikan Dokter Anisa,


setelah sebulang kematian Devano. Alina kembali menarik nafasnya, ketika


menyadari kalau saat ini Devano benar-benar telah meninggalkannya untuk


selamanya.


Setelah sampai di bandara, tampa sengaja Alina merasa sangat


aneh, jantungnya berdetak sangat kencang, jantungnya berdetak sama yang Ia,


rasakan untuk Devano.


“Aku kenapa?” memegan dadanya “perasaan ini, perasaan yang


sama untuk? Ah, sudahlah munking itu hanya perasaanku saja.” Setelah mengatakan


itu, Alina melanjutkan langkahnya yang terhenti.


Sementara di tempat lain seorang pemuda, yang sangat tampan,


mengenakan jas tuksedo tengah berdiri menunggu salah satu temannya, pemuda itu


berasal dari Bali.


Alina naik ke atas pesawat, dan pemuda beserta dengan


temannya ikut naik. Alina tak berhenti memegan jantungnya yang tak berhenti


berdetak sejak tadi, dan begitupun yang di rasakan pemuda tersebut.

__ADS_1


“Aku kenapa?” pemuda itu memegan bagian jantungnya ketika


mengatakan itu “Apa yang terjadi denganku? Kenapa jantungku tak berhenti


berdetak?” setelah mengatakan itu pemuda itu berdiri dari tempat duduknya, lalu


melihat sekeliling ruangan yang ada di dalam pesawat yang tengah Ia tempati.


Dan tampa Ia sengaja matanya tertuju dengan Alina yang


tengah menyandarkan kepalanya, dengan mengenakan micropon di telinganya di


kursi tempat duduknya. Setelah melihat Alina pemuda itu kembali duduk. Jantung yang


tadinya berdetak tak karuan kini berdetak normal seperti biasanya.


“Aneh, benar-benar aneh dengan jantungku ini.” Mengelus bagian


dadanya.


Mendengar ucapan temannya yang tak berenti merasa gelisa


sejak tadi. Aldo pun berkata. “Santai kawan, kamu tak perlu merasa segelisah


itu.” Menepuk pelan bahu pemuda yang ada di sampingnya.


Aldo adalah nama sahabat pemuda tampan itu, mulai dari kecil


hingga saat ini semuanya ia tau soal sahabatnya itu. Karna dimana ada Aldo di situ


ada pemuda tampan tersebut.


Alina membuka pelan, micropon yang terpasang di telinganya, lalu


melihat sekeliling dalam pesawat yang tengah ia tempati saat ini,. Alina merasa


ada seseorang yang tengah memanggil namanya. Alina kembali mengenakan


“Ah, mungkin hanya perasaanku saja.” Setelah mengatakan itu,


alina kembali menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduk yang tengah Ia


tempati saat ini.


Setelah sampai di bandara, Alina turun dari pesawat. Namun tampa


Ia sengaja, tangannya menyentuh bahu pemuda yang ada di hadapannya, karna di


saat Alina mengankat kopernya, Sepatu yang Alina kenakan tak sengaja menginjak


batu yang lumayan besar.


 Itulah Alina meskipun


telah menjadi Dokter ahli bedah, dia masih berpakaian sama seperti waktu Ia


masih kuliah, yang hanya mengenakan kemeja kotak-kotak yang berwarna hitam,


dipadukan dengan celana jeans dan juga sepatu Sneakers. Namun kesan stylish tak


pernah hilang dari caranya berpakaian, kecamata yang Ia kenakan Ia simpan di


atas kepala dan itu membuat kecantikan alaminya terpancar.


Pemuda itu berbalik melihat ke arah Alina yang tengah


memegan bahunya, sementara Alina dengan segera berkata. “Maaf, aku tak sengaja


menyentuh bahu anda.” Menarik tangan dari bahu pemuda tersebut.


Pemuda yang mendengar permintaan maaf Aliana, berkata. “Lain

__ADS_1


kali kalau jalan hati-hati.” Dengan nada suara datar.


“Iya, maaf, aku tak sengaja.” Alina mengulang kata-katanya.


Setelah mengatakan itu, Alina berlalu sambil menarik


kopernya. Alina tak berhenti manatap tangannya yang telah menyentuh bahu pemuda


itu. Ada perasaan aneh yang tengah Alina rasakan dan jantungnya juga tak


berhenti berdetak.


Setelah kepergian Alina, pemuda itu dengan kesalnya berkata.


“Dasar gadis aneh.” Menatap ke arah Alina yang kini tengah berjalan


mendahuluinya.


Aldo yang baru saja sampai di sampin sahabatnya itu berkata.


“Kamu kenapa?” menatap wajah sahabatnya “Apa kamu bertemu seseorang? Yang telah


membuatmu kesal lagi?” tersenyum melihat ke arah wajah sahabatnya, karna Aldo


tau sahabatnya itu sangat gampang marah dan juga kesal.


Mendengar ucapan Aldo pemuda itu berkata. “Iya.” Nada edikit


kesal “Gadis itu memegan bahuku. Ah sudahlah ayok kita keluar.” Setelah mengatakan


itu pemuda itu berjalan keluar dari bandara.


Mendengar ucapan sahabatnya, Aldo hanya terdiam mengikuti


arah langka kaki sahabatnya.


Setelah sampai di luar bandara. Alina memanggil taxi, karna


Ia ingin mengunakannya untuk segera sampai ke cafe Devano yang terletak di


pusat kota jakarta. Setelah taxi sampai di hadapannya, Alina ingin masuk ke


dalam. Namun pemuda yang Alina pegan bahunya sewaktu berda di dalam bandara,


dengan segera mendahuluinya masuk ke dalam Taxi tersebut, dan parahnya lagi


pemuda itu mengatainya.


Pemuda itu masuk ke dalam Taxi yang Alina panggil. Setelah berada


di dalam Taxi pemuda itu menyuruh supir untuk segera mlajukan mobilnya.


“Jalan pak.” Lalu melihat ke arah Alina yang kini terlihat


sangat kesal melihat ke arahnya “Sampai jumpa gadis jelek.” Setelah mengatakan


itu pemuda itu menutup kaca pintu Taxi.


Mendengar ucapan pemuda itu, Alina sangatlah kesal, sumpah


serapah mulai keluar dari dalam mulut Alina. “Dasar berengsek, nagak punya


sopan santun.” Menarik nafas “Memang dia fikir dirinya itu siapa? Berani mengatai


aku jelek.” Alina terlihat begitu sangat kesal, namun semua itu tidak Ia


perlihatkan kepada orang yang tengah lewat di sampinnya. Karna Ia tau, sebagai


seorang Dokter Alina harus menjaga sikap.


Setelah sampai di depan cafe Devano, Alina melihat sekelilin

__ADS_1


cafe...


__ADS_2