
Alina mengelus lembut batu nisan yang terukir nama orang
yang sangat ia cintai, dam tampa Alina sadari sepasang bolah kristas menetes di
wajahnya. Aina membuka kecamata yang Ia kenakan, lalu melihat sekeliling makam
Devano. Alina mengbungkuk di samping makam Devano, lalu berkata.
“Apa sekarang kamu bahagia di atas sana?” mengelus nama yang
terukir di batu Nisam makam Devano. “Selama kamu meninggalkanku, hatiku terasa begitu
sangat hampa, aku selalu merasa kehidupan yang aku jalani, tampa dirimu terasa
begitu sangat berat. Apa kamu tau, hem?” tersenyum sambil melihat ke arah makam
“Sampai sekarang aku masih mengharapkanmu kembali, untuk menemuiku dan
memelukku sangat erat.” Setelah mengatakan itu Alina menarik napasnya, lalu
mengbuangnya perlahan “Baiklah sayang.” Mengecup lembut, batu nisam Devano “Aku
akan pulang, dan aku akan selalu menyempatkan waktu untuk datang menemuimu.
Kekasihku, cintaku selamanya hanya untukku.”
Setelah mengatakan itu, Alina berangjak, lalu berjalan ke
arah jalanan. Karna di sana taxi yang Ia tumpaginya tengah menunggunya. Setelah
mengunjungi kediaman keluarga besar Devano, Alina pergi ke makam. Karna itu yang
selalu Alina lakukan setiap tahun semenjak kematian Devano. Dan rencana Alina
setelah ini, Ia akan ke jakarta, untuk melihat suasana di cafe yang pernah Ia
tempati bekerja yang tak lain adalah Cafe Devano.
Setelah berada di dalam taxi, Alina menatap cincin yang
tengah melingkar sempurna di jari manisnya, yang di berikan Dokter Anisa,
setelah sebulang kematian Devano. Alina kembali menarik nafasnya, ketika
menyadari kalau saat ini Devano benar-benar telah meninggalkannya untuk
selamanya.
Setelah sampai di bandara, tampa sengaja Alina merasa sangat
aneh, jantungnya berdetak sangat kencang, jantungnya berdetak sama yang Ia,
rasakan untuk Devano.
“Aku kenapa?” memegan dadanya “perasaan ini, perasaan yang
sama untuk? Ah, sudahlah munking itu hanya perasaanku saja.” Setelah mengatakan
itu, Alina melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Sementara di tempat lain seorang pemuda, yang sangat tampan,
mengenakan jas tuksedo tengah berdiri menunggu salah satu temannya, pemuda itu
berasal dari Bali.
Alina naik ke atas pesawat, dan pemuda beserta dengan
temannya ikut naik. Alina tak berhenti memegan jantungnya yang tak berhenti
berdetak sejak tadi, dan begitupun yang di rasakan pemuda tersebut.
__ADS_1
“Aku kenapa?” pemuda itu memegan bagian jantungnya ketika
mengatakan itu “Apa yang terjadi denganku? Kenapa jantungku tak berhenti
berdetak?” setelah mengatakan itu pemuda itu berdiri dari tempat duduknya, lalu
melihat sekeliling ruangan yang ada di dalam pesawat yang tengah Ia tempati.
Dan tampa Ia sengaja matanya tertuju dengan Alina yang
tengah menyandarkan kepalanya, dengan mengenakan micropon di telinganya di
kursi tempat duduknya. Setelah melihat Alina pemuda itu kembali duduk. Jantung yang
tadinya berdetak tak karuan kini berdetak normal seperti biasanya.
“Aneh, benar-benar aneh dengan jantungku ini.” Mengelus bagian
dadanya.
Mendengar ucapan temannya yang tak berenti merasa gelisa
sejak tadi. Aldo pun berkata. “Santai kawan, kamu tak perlu merasa segelisah
itu.” Menepuk pelan bahu pemuda yang ada di sampingnya.
Aldo adalah nama sahabat pemuda tampan itu, mulai dari kecil
hingga saat ini semuanya ia tau soal sahabatnya itu. Karna dimana ada Aldo di situ
ada pemuda tampan tersebut.
Alina membuka pelan, micropon yang terpasang di telinganya, lalu
melihat sekeliling dalam pesawat yang tengah ia tempati saat ini,. Alina merasa
ada seseorang yang tengah memanggil namanya. Alina kembali mengenakan
“Ah, mungkin hanya perasaanku saja.” Setelah mengatakan itu,
alina kembali menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduk yang tengah Ia
tempati saat ini.
Setelah sampai di bandara, Alina turun dari pesawat. Namun tampa
Ia sengaja, tangannya menyentuh bahu pemuda yang ada di hadapannya, karna di
saat Alina mengankat kopernya, Sepatu yang Alina kenakan tak sengaja menginjak
batu yang lumayan besar.
Itulah Alina meskipun
telah menjadi Dokter ahli bedah, dia masih berpakaian sama seperti waktu Ia
masih kuliah, yang hanya mengenakan kemeja kotak-kotak yang berwarna hitam,
dipadukan dengan celana jeans dan juga sepatu Sneakers. Namun kesan stylish tak
pernah hilang dari caranya berpakaian, kecamata yang Ia kenakan Ia simpan di
atas kepala dan itu membuat kecantikan alaminya terpancar.
Pemuda itu berbalik melihat ke arah Alina yang tengah
memegan bahunya, sementara Alina dengan segera berkata. “Maaf, aku tak sengaja
menyentuh bahu anda.” Menarik tangan dari bahu pemuda tersebut.
Pemuda yang mendengar permintaan maaf Aliana, berkata. “Lain
__ADS_1
kali kalau jalan hati-hati.” Dengan nada suara datar.
“Iya, maaf, aku tak sengaja.” Alina mengulang kata-katanya.
Setelah mengatakan itu, Alina berlalu sambil menarik
kopernya. Alina tak berhenti manatap tangannya yang telah menyentuh bahu pemuda
itu. Ada perasaan aneh yang tengah Alina rasakan dan jantungnya juga tak
berhenti berdetak.
Setelah kepergian Alina, pemuda itu dengan kesalnya berkata.
“Dasar gadis aneh.” Menatap ke arah Alina yang kini tengah berjalan
mendahuluinya.
Aldo yang baru saja sampai di sampin sahabatnya itu berkata.
“Kamu kenapa?” menatap wajah sahabatnya “Apa kamu bertemu seseorang? Yang telah
membuatmu kesal lagi?” tersenyum melihat ke arah wajah sahabatnya, karna Aldo
tau sahabatnya itu sangat gampang marah dan juga kesal.
Mendengar ucapan Aldo pemuda itu berkata. “Iya.” Nada edikit
kesal “Gadis itu memegan bahuku. Ah sudahlah ayok kita keluar.” Setelah mengatakan
itu pemuda itu berjalan keluar dari bandara.
Mendengar ucapan sahabatnya, Aldo hanya terdiam mengikuti
arah langka kaki sahabatnya.
Setelah sampai di luar bandara. Alina memanggil taxi, karna
Ia ingin mengunakannya untuk segera sampai ke cafe Devano yang terletak di
pusat kota jakarta. Setelah taxi sampai di hadapannya, Alina ingin masuk ke
dalam. Namun pemuda yang Alina pegan bahunya sewaktu berda di dalam bandara,
dengan segera mendahuluinya masuk ke dalam Taxi tersebut, dan parahnya lagi
pemuda itu mengatainya.
Pemuda itu masuk ke dalam Taxi yang Alina panggil. Setelah berada
di dalam Taxi pemuda itu menyuruh supir untuk segera mlajukan mobilnya.
“Jalan pak.” Lalu melihat ke arah Alina yang kini terlihat
sangat kesal melihat ke arahnya “Sampai jumpa gadis jelek.” Setelah mengatakan
itu pemuda itu menutup kaca pintu Taxi.
Mendengar ucapan pemuda itu, Alina sangatlah kesal, sumpah
serapah mulai keluar dari dalam mulut Alina. “Dasar berengsek, nagak punya
sopan santun.” Menarik nafas “Memang dia fikir dirinya itu siapa? Berani mengatai
aku jelek.” Alina terlihat begitu sangat kesal, namun semua itu tidak Ia
perlihatkan kepada orang yang tengah lewat di sampinnya. Karna Ia tau, sebagai
seorang Dokter Alina harus menjaga sikap.
Setelah sampai di depan cafe Devano, Alina melihat sekelilin
__ADS_1
cafe...