
Alina yang mendengar suara seseorang tengah memanggilnya,
berbalik dan melihat Arga berjalan ke arahnya sambil membawa bunga.
“Iya, Ga. Ada apa?” Alina menatap bunga yang tengah Arga
pengan “Dan bungan ini untuk siapa?” menunjuk bungan yang tengah Arga pegan.
Arga yang mendengar semua yang Alina katakan tersenyum,
sambil mengulurkan bungan yang di pegannya, bersimpuh di hadapan Alina, semua
para suster dan parah Dokter bahkan keamanan rumah sakit ikut menyaksikan apa yang
tengan Arga lakukan.
“Apa yang kamu lakukan?” Alina terkejut melihat Arga
bersimpuh di hadapannya.
Mendengar pertanyaan Alina, Arga pun berkata. “Alina mungkin
aku bukanlah pemuda yang baik untukmu, dan juga bukan yang terbaik, namun satu
yang harus kamu tau, dari awal aku mengenalmu perasaan, rasa ini tumbuh begitu
saja untukmu. Alina aku Mencintaimu, sangat mencintaimu bahkan jantunku ini
hanya bisa bergetar ketika aku melihatmu. Maukah kamu menarima cintaku dan juga
lamaranku ini?” Arga menatap wajah Alina dengan penuh harap agar Alina segera
menjawab pertanyaannya.
Alina yang mendengar ungkapan cinta Arga begitu sangat
terkejut dan juga merasa senag, namun di saat Alina ingin mengambil bunga yang
ada di tangana, matanya tiba-tiba melihat ke arah cincin yang tengah melingkar
di jari manisnya. Dan itu membuat Alina menarik kembali tangannya.
“Maaf, Ga, aku tidak bisa menerima ini semua, karna aku
sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai, lihatlah cincin ini masih
tersemat sempurna di jari manisku.” Alina mengatakan sambil meneteskan air mata
“Maaf Arga aku tidak bisa menerimanya.” Setelah mengatakan itu Alina masuk ke
dalam mobil dan melajukannya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Arga yang mendengar pengakuan Alina yang telah memiliki
seseorang yang sangat di cintainya, begitu sangat kecewa, dan juga sakit hati, karna
merasa begitu sangat kecewa dan sakit hati mendengar semua pengakuan Alina, dan
itu membuat jantungnya kembali berdetak lebih kencan dari pada sebelumnya,
bahkan saat ini jangtung Arga kembali tidak berdetak dengan baik. Arga mulai
terbatuk, sesak napas sambil memegan dadanya, hingga akhirnya tidak sadarkan
diri. Arga pinsan sambil memegan daerah jantungnya.
Para Dokter yang melihat pemilik Rumah sakit terjatuh tidak
sadarkan diri di atas aspal tepatnya parkiran mobil yang di tempati mobil Alina
barusan. Berlari ke arah Arga yang kini tidak sadarkan diri. Para Dokter mulai
__ADS_1
panik melihat ketika melihat pemilik rumah sakit tidak sadarkan diri.
“Ambilkan berangka rumah sakit, cepatt!!” Teriak salah satu Dokter
yang memegan kepala Arga kepada salah satu perawatnya.
Mobil Dokter Nisa yang baru saja memasuki area parkiran
rumah sakit heran melihat para Dokter berkeruman di sekitar area parkiran.
“Ini ada apa?” Dokter Nisa keluar dari mobilnya, lalu
berjalan ke arah para Dokter dan para Suster berkerumun.
Dokter Nisa begitu sangat terkejut ketika melihat Arga tidak
sadarkan diri dan melihat bungan yang tergeletak di aspal “Ini ada apa?” tanya
Dokter Nisa kepada salah satu perawat yang tengah mendorong berangka yang di
temapati Arga tidak sadarkan diri masuk ke dalam rumah sakit.
“Saya tidak tau Dokter, saya hanya melihat Pak Arga membawa
bunga kepada Dokter Alina, dan entah apa yang mereka berdua bicarakan, bahkan
Pak Arga sampai berlutut di hadapan Dokter Alina, dan setelah beberapa saat
Dokter Alina pergi, Pak Arga jatuh dan pinsang.” Suster menjelaskan dengan baik
kepada Dokter Nisa.
“Alina, Alina, apa yang telah kamu lakukan?” Dokter Nisa
mengusap wajanya ketika mengatakan itu “Aku sangat takut, jika sampai tubuh
Arga tidak mau merespon baik jantungnya dan itu akan membuat nyawanya dalam
Dokter Nisa mulai menghubungi nomor Alina, namun Alina tidak mengaktipkan
hapenya.
“Ah! Alina apa yang telah kamu lakukan?” Dokter Nisa nampak
begitu sangat cemas di tambah Alina mengaktipkan hapenya.
Alina melajukan mobilnya pulang, namun tidak kerumah ibunya,
Alina memilih melajukan mobilnya ke arah pantai, sambil menatap jari tangannya
yang berada di stir mobilnya.
“Devan, aku sangat merindukanmu, Hiks, hiks, hiks.” Alina
menangis sambil menciun cincin yang melingkar sempurna di jari manisnya.
Alina mengusap air matanya lalu keluar dari dalam mobilnya,
Alina berjalan ke arah dimana dirinya selalu menghabiskan waktu bersama Devano,
ketika Devano datang menemunya di kampun halamannya. Alina duduk sambil melihat
ke arah lautan lepas sambil mengingat kata yang di ucapkan Arga ketika masih
berada di parkiran rumah sakit.
“Maafkan aku Ga, bukannya aku tidak menyukaimu, namun nama
dalam hatiku tidak bisa aku gantikan menjadi namamu, aku sangat mencintai calon
suamiku” menarik napas “Namun jujur saat ini jantungku mulai berdetak untukmu,
__ADS_1
tapi aku berpikir sejenak, dan ternyata aku sangat mencintai calon suamiku yang
telah lama pergi meninggalkanku, karna sampai saat ini aku masih berharap orang
yangku cintai akan kembali menemuiku lagi.” Alina kembali meneteskan air mata
ketika selesai mengatakan itu.
Harapan demi harapan yang Alina selalu inginkan, berharap
Devano akan kembali menemuinya meskipun dalam rupa yang berbeda, itulah arpan
yang selalu Alina inginkan.
Alina akan selalu merasa begitu sangat sedih ketika
mengenang hari-hari indah dimana dirinya bersama Devano, hari dimna dirinya
menanti hari bahagia bersama Devano yang tidak pernah kunjung tiba.
Setelah merasa cukup berada di pinggir pantai, Alina
berjalan ke arah mobilnya karna hari juga mulai terlihat gelap, dengan langkah
pelan Alina berjalan ke arah mobilnya. Alina membuka pintu lalu masuk kemudian
duduk. Namun sebelum dia menyalakan mesin mobilnya Alina melihat ke arah
Hapenya yang tergeletak di sampinnya.
“Yah, hapeku mati.” Memencet tombol untuk menhidupkan “Aduh
ternyata lowbet” Alina mulai memasangkan kabel charjer di hapenya sambil
menghidupkannya.
Alina begitu sangat terkejut ketika melihat beberapa pesan
Dokter Nisa.
Alina kamu dimana?
Di Rumah sakit sedang ada masalah.
Alina cepat kembali ke Rumah sakit.
Sebelum nantinya kamu akan menyesali semuanya.
Itulah semua pesan yang Dokter Nisa kirim, Alina yang merasa
begitu sangat penasaran tampa berpikir panjang mulai melajukan mobilnya menuju
arah rumah sakit. Dengan kecepatan di atas rata-rata, menbaca semua pesan
Dokter Nisa membuat jantung Alina berdetak tidak karuan.
“Sebenarnya apa yang terjadi di rumah sakit? Kenapa Dokter
Nisa sampai mengirim pesan seperti itu? Ini tidak seperti biasanya Dokter Nisa
mengirim pesan seperti itu jika ada pasien yang harus segera di oprasi.” Alina
berkata sendiri sambil melajukan mobilnya masuk ke daerah parkiran dan memarkir
mobilnya di tempatnya semula.
Alina membuka pintu mobilnya lalu keluar, dan tampa sengaja
Alina melihat bunga yang sempat di bawa Arga untuknya, Alina berjalan ke arah
bunga tersebut lalu mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1