Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 15


__ADS_3

"Alina,kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap salah satu pelayan yang bekerja di dalam Cafe Devano.


"Ah, biasa saja," ucap Alina merendah.


Alina pun mulai melayani para -para tamu -tamu yang mulai berdatangan. Alina bekerja sambil mencari -cari keberatan Aran.


"Aran kemana? ini sudah waktunya masuk jam kerja," ucap Alina celingak -celinguk mencari keberadaan Aran.


Waktu telah menunjukkan pukul 7.00 malam. Namun Aran tak kungjung datang.


"Kemana Aran? apa dia tak sehat? atau pulang ke rumah orang tuanya? lalu kenapa tak menhubungiku kalau mungkin demikian? mungking sebaiknya aku memeriksanya di dalam kamarnya.


Alina pun berjalan masuk, namun pas dari dekat lorong kamar mereka Aran datan sambil berkata.


"Mau kemana Alin?."


"Aku ingin mencarimu, kamu darimana saja? kamu sudah sangat telat masuk kerjanya."


"Anu, em, anu, tadi aku mendapat telpon dari ibuku, jadi karna itu aku lupa waktu," ucap Aran menjelaskan. Namun terlihat gugup.


"Kenapa dengan wajah kamu? apa sesuatu yang terjadi dengan ibu kamu?," tanya Alina sambil memegan bahu Aran.


"Tidak, ada masalah, aku hanya merasa takut. Aku terlambat sudah hampir dua jam, aku takut pak Rahmat, akan memarahiku."


Setelah menjelaskan semuanya pada Alina. Mereka berdua pun mulai kembali bekerja seperti sebelumnya. Aran mulai melayani tamu -tamu yang berada di dalan Cafe Devano begitu pun dengan Alina. Waktu terus berjalan tak terasa jam menunjukkan pukul 11.30. Yang berarti waktu kerja Alina telah selesai, sementara pelayan yang lain akan selesai pada jam 1.00 dini hari.


Alina pun berjalan menghampiri Aran. lalu berkata.


"Aku masuk dulu ya. Jam kerjaku dah selesai. Besok aku akan bangun pagi untuk pergi ke kampus."


"Ok, namun sebelum kamu masuk, aku boleh meminta tolong tidak?."


"Apa!, kalau aku bisa pasti aku akan menolongmu," ucap Alina sambil tersenyum melihat ke arah Aran.


"Tolong kamu naik ke atap, hapeku ada di meja dekat ayunan gantung."

__ADS_1


"Baik lah, aku akan segera naik ke atap."


Alina pun berjalan ke belakang, dan mulai menaiki anak tangga satu persatu. Aran yang melihat itu dengan segera mengeluarkan hapenya dari dalam kantong celanya lalu mengirimkan pesan singkat.


"Alina sudah berjalan menuju atap."


Itualah pesan chat yang Aran kirim. Setelah selesai. mengirim pesan. Aran kembali memasukkan hapenya ke dalam kanton celananya sambil tersenyum.


Setelah sampai di atap Alina sedikit ketakutan. karna lampu di atap mati,hanya lampu kota jakarta yang menerangi bagian atap itu. Alina pun berjalan mendekat ke arah ayunan gantung yang berada di atas atap. Namun Alina begitu sangat terkejut ketika sebuah tangan kekar memeluk pinggannya.


"Auuu, siapa kamu?." Teriak Alina sambil memberontak berusah melepaskan pelukan yang sedang melingkar di perutnya.


"Aku merindukanmu Alin."


Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut orang yang sedang memeluk Alina dari belakang saat ini. Perlahan Alina mulai tak memberontak karna merasa mengenal suara orang yang memeluknya saat ini.


"Devan, apa itu kamu?."


Tidak ada suara yang menyahut ucapan Alina. Hingga akhirnya Alina kembali memberontak mencoba melepas pelukan pemuda itu. Perlahan pelukan itu terlepas dengan cepat Alina berbalik badan melihat orang yang telah memeluknya.


"Devan, apa benar itu kamu?," ucap Alina berhambur memeluk Devano dengan sangat erat.


"Maaf, Devan, karna aku telah berani memelukmu," ucap Alina sambil menundukkan wajahnya.


Mendengar ucapan Alina. Devano kembali memeluk Alina dengan sangat erat. lalu membisikkan sesuatu di telinga Alina.


"Biarkan aku memelukmu Alina, aku sangat merindukanmu."


Hanya kata itu yang selalu keluar dari mulut Devano. Alina hanya terdiam mendengar ucapan Devano karna sesunggunya Alina merasakan hal yang sama, seperti yang di rasakan Devano. perlahan Alina menaikkan tangannya untuk membalas pelukan Devano. Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Alina berkata.


"Aoo, Devan kakiku sangat sakit, aku merasa sangat lelah berdiri terus."


Perlahan Devano mulai melepas pelukannya lalu mengajak Alina duduk di atas ayunan gantung. Namun kali ini Devano ikuf duduk di atas ayunan bersama Alina. Melihat itu Alina hanya terdiam. Devano pun menyandarkan kepalanya di punggun Alina. Sementara Alina mulai bertanya soal kedatangan Devano.


"Van, Devan."

__ADS_1


"Hem, apa?."


"Kapan kamu sampai di sini?."


"Tadi siang."


"Kenapa tak mengabariku kalau kamu ingin kembali?."


"Aku sengaja,karna ingin memberi kejutan padamu."


Alina pun melihat ke arah wajah Devano yang terlihat begitu sangat lelah. Meskipun di atap terlihat sedikit gelap. Namun Alina bisa melihat wajah Devano dengan sangat jelas.


"Van, sebaiknya kita turun, di sini sangat gelap."


Setelah mendengar ucapan Alina. Devano beranjak dari duduknya. Lalu berkata pada Alina.


"Kamu jangan kemana -mana, tunggu aku di sini, aku akan menyalahkan lampu," ucap Devano berlalu meninggalkan Alina sendiri di atap.


Alina kembali duduk di ayunan gantun sambil menunggu Devano datang menemuinya. Lampu pun menyala, Alina terkejut sambil melompat dari ayunan melihat apa yang telah di siapkan Devano untuknya. Alina menutup mulutnya dengan ke dua tangannya karna merasa terkejut. Alina pun berbalik dan melihat Devano telah bersimpuh di hadapnnya sambil memegan bunga dan juga sebuah kotak.


"Alina, aku bukanlah pemuda yang pantas untuk mendampingimu, namun satu hal yang pasti, dari pertama kita bertemu aku merasa kalau kamulah gadis yang selama ini aku cari. Maukah kamu menjadi pendampin hidupku, dan juga ibu dari anak -anakku kelak?."


Mendenagar itu semua dengan polosnya Alina berkata.


"Kamu melamar aku Van?," ucap Alina sambil tersenyum melihat ke arah Devano yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Kamu mau tidak,jadi istriku?." Tanya Devano lagi.


Setelah berfikir Alina pun mengiyakan lamaran Devano.


"Iya, aku mau Van," ucap Alina sambil tersenyum bahagia melihat ke arah Devano.


Devano pun berdiri, lalu membuka kotak cincin yang telah di siapkanya oleh Momsky ya. Kemudian memakaikan di jari manis Alina.


"Alin, kamu jaga cincin ini dengan baik. Karna cincin ini, cincin dari mendian ibu dari ayahku, dan di berikan pada Momsky ku, dan sekarang cincin ini akan menjadi milikmu begitu pun denganmu. Sebentar lagi aku akan menjadikanmu sebagai milikku."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua perasaannya pada Alina. Devano pun berdiri lalu mengecup lembut kening Alina. Lalu mengajaknya kembali duduk di ayunan gantung. Setelah duduk Devan pun mulai bercerita.


"Alin, apa kamu tau siapa yang telah membantuku membuat ini semua?."


__ADS_2