Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 50


__ADS_3

Untuk membuktikan semua ucapan Dokter Nisa, Alina mulai


memegan gagan pintu dan pelan-pelan mulai mendoronnya.


Alina nampak begitu sangat terkejut, ketika melihat Arga


tengah terbaring di atas berangka rumah sakit dan melihat beberapa kabel yang


menempel pada bagian dada Arga.


“Arga!” terkejut “Kamu sakit, dan tidak memberitahukanku?”


Alina berjalan mendekat ke arah Arga yang kini tengah terbaring di atas


berangka rumah sakit.


Arga yang mendengar suara orang yang begitu sangat


dirindukannya dengan segera melihat ke arah Alina yang kini berjalan mendekat


ke arahnya.


“Aku tidak memberitahukanmu, karna aku tidak mau membuatmu


khwatir.” Arga tersenyum hangat ketika selesai mengatakan itu.


Sementara Alina mampak begitu sangat sedih melihat keadaan


Arga yang seperti ini. Alina pun berkata “Apa kamu sakit jantung? Kenapa banyak


kabel yang menempel di bagian dada kamu?” Alina memeriksa bagian dada Arga dan


tampa sengaja matanya tertuju dengan bekas jahitan Arga di bagian dadanya “Apa


kamu pernah menjalani oprasi jantung?” Alina melihat ke arah wajah Arga yang


kini tidak berhenti tersenyum melihat ke arahnya.


Karna terlalu pokus melihat ke arah wajah Alina, Arga sampai


tidak mendengarkan semua yang Alina katakan, dan itu membuat Alina melihat ke


arahnya.


“Arga! apa kamu mendengarkan semua yang aku katakan?” Alina


menatap ke arah wajah Arga.


 Arga yang mendengar


panggilan Alina, segera melihat ke arah wajah Alina dan tampa sengaja mata


mereka kembali bertemu dan bersi tatap. Dan itu membuat jantung keduanya


berdetak kencan, cukup lama mereka saling tatap menatap, hingga akhirnya Alina


membuang pandangannya ke arah lain dan matanya kembali melihat ke arah bekas


jahitan oprasi jantung Arga.


Dan tampa Alina sengaja, dan entah apa yang membuatnya ingin


mengusap bekas jahitan yang ada di jantung Arga, dan itu membuat Arga merasa


begitu sangat nyaman ketika Alina menyentuh dan mengusap bagian jantungnya.


Namun untuk menghilangkan rasa nyamannya itu Arga berkata. “Iya,


Alin, aku pernah menjalani pencakokan jantung dua tahun yang lalu, dan yang mengoprasiku


adalah Dokter Nisa. Aku mengetahuinya karna dia sendiri yang mengatakannya

__ADS_1


padaku. Oya Alin apa kamu mengetahui siapa pemilik  jantung ini?” menatap wajah Alina yang kini


terus melihat ke arahnya “Aku begitu sangat penasaran ingin tahu siapa orang


itu. Namun Dokter Nisa tidak mau mengatakannya padaku, dia cuman mengatakan


kalau pemilik jantung ini mencintai salah satu Dokter yang bekerja di rumah


sakit ini dan katanya mereka hampir saja menikah.” Arga mengatakan semua yang


di katakan Dokter Nisa padanya.


Alina yang mendengar perkataan Arga begitu sangat terkejut,


karna semua yang di ucapkan Arga hampir mirip dengan kisahnya dengan calon


suaminya Devano, berhubung Devano juga meninggal di rumah sakit ini, dan yang


mengoprasinya adalah Dokter Nisa, karna Alina tidak bisa melakukannya, melihat


orang yang sangat di cintainya terbaring di atas meja oprasi dengan penuh luka


di sekujur tubuhnya membuat Alina menyerahkan tanggun jawabnya kepada Dokter


Nisa.


Kisah yang membuat Alina tidak ingin memiliki hubungan


dengan pemuda lain karna begitu sangat trauma dengan kisah cinta pertamanya


yang begitu sangat teragis baginya.


Alina melihat ke arah wajah Arga lalu berkata. “ Apa benar


Dokter Nisa mengatakan seperti itu?” Alina mulai merasa tidak nyaman dengan apa


yang baru saja di dengarnya, hingga akhirnya tampa mengatakan apapun kepada


dan berjalan menuju arah ruangan kerja Dokter Anisa.


Alina ingin meminta penjelasan, dari Dokter Nisa, tentang


apa yang di katakan Arga dan juga tentang yang di katakannya tadi, yang


mengatakan kalau ingin menemui keberadaan Arga, ia harus menggunakan hatinya. Itulah


yang membuat Alina berjalan terburu-buru ke arah ruangan Dokter Nisa, karna


Alina juga tau kalu Dokter Nisa Hari ini ingin cuti dan pergi selama beberapa


hari untuk pergi di kampun halaman suaminya yang berada di Surabaya.


Arga yang melihat Alina keluar dari dalam ruangannya tampa


mengatakan apapun, merasa sangat bingun. Dan juga merasa sangat senang karna  mendapat perhatian dari Alina, dan bahkan


Alina juga terlihat sedih ketika melihatnya terbaring di atas berangka rumah


sakit, Alina terlihat begitu sangat peduli itulah yang membuat Arga merasa


begitu sangat senang.


Alina membuka pintu ruangan kerja Dokter Nisa, namun tidak


menemukan Dokter Nisa yang sudah keluar dari rumah sakit.


“Ah, sebelum Dokter Nisa pergi aku harus meminta penjelasan


darinya.” Alina mengatakan itu sambil berlari keluar dari dalam rumah sakit,


karna masih berharap bisa menemukan Dokter Nisa di parkiran. Namun Alina nampak

__ADS_1


begitu sangat kecewa ketika telah sampai di parkiran dan tidak menemukan


keberadaan Dokter Nisa.


Alina mengeluarkan hapenya dari dalam saku baju yang di


kenakannya, lalu mencoba menghubungi nomor Dokter Nisa, namun Alina kembali


merasa kecewa karna nomor yang di hubunginya tidak aktip.


“Ya, Allah kenapa di saat seperti ini, nomor Dokter tidak


aktip.” Dengan hati yang begitu sangat kecewa Alina melankahkan kakinya masuk ke


dalam rumah sakit, namun tidak melangkah ke arah ruangannya melainkan ke


ruangan perawatan Arga.


Seminggu telah berlalu, Alina masih gelisa menunggu


kedatangan Dokter Nisa, sementara Arga telah sembuh, karna selama beberapa hari


ini Alinalah yang telah merawatnya.


Arga merasa begitu sangat senang, karna beberapa hari ini,


Alina menemaninya dan bahkann menyuapinya untuk makan. Dan semua itu membuatnya


merasa sangat bahagia. Hingga akhirnya Arga memilih untuk mengunkapkan isi


hatinya yang sebenarnya, lebih cepat akan lebih baik itulah yang terlintas


dalam pikiran Arga saat ini.


Seperti yang telah Arga rencanakan, sore ini dia akan


mengunkapkan isi hatinya di depan rumah sakitnya, sekaligus menjadi lamaran


untuk Alina. Seharian ini Arga mulai mempersiapkan segala sesuatunya.


Arga pergi ke kota Pare-pare untuk mencari cincin yang tepat


untuk Alina kenakan ketika lamarannya telah di terima. Namun tampa sengaja Arga


menemukan tukan Tato nama di pinggir jalan. Tampa berpikir panjang Arga mentato


pergelangan tangannya dan menuliskan nama Alina di sana.


Meskipun merasa kesakitan sewaktu tukan Tato itu menulis


nama Alina di pergelangan tangannya. Namun Arga merasa senang ketika melihat


nama Alina terukir dalam lukisan berbentuk hati di pergelangan tangannya itu.


Setelah semuanya sudah selesai di siapkan Arga melajukan


mobilnya kembali menuju arah rumah sakit, karna sebentar lagi jam kerja Alina akan


segera selesai.


Dengan senyuman ceria yang tidak lepas dari bibirnya, Arga


melajukan mobilnya masuk di area parkiran rumah sakit, dan melihat Alina


berjalan ke arah mobilnya.


“Alina.” Arga membuka pintu mobilnya ketika melihat Alina


mulai membuka pintu mobilnya.


Alina yang mendengar seseorang tengah memanggilnya, berbalik

__ADS_1


dan melihat Arga berjalan ke arahnya.


__ADS_2