
Untuk membuktikan semua ucapan Dokter Nisa, Alina mulai
memegan gagan pintu dan pelan-pelan mulai mendoronnya.
Alina nampak begitu sangat terkejut, ketika melihat Arga
tengah terbaring di atas berangka rumah sakit dan melihat beberapa kabel yang
menempel pada bagian dada Arga.
“Arga!” terkejut “Kamu sakit, dan tidak memberitahukanku?”
Alina berjalan mendekat ke arah Arga yang kini tengah terbaring di atas
berangka rumah sakit.
Arga yang mendengar suara orang yang begitu sangat
dirindukannya dengan segera melihat ke arah Alina yang kini berjalan mendekat
ke arahnya.
“Aku tidak memberitahukanmu, karna aku tidak mau membuatmu
khwatir.” Arga tersenyum hangat ketika selesai mengatakan itu.
Sementara Alina mampak begitu sangat sedih melihat keadaan
Arga yang seperti ini. Alina pun berkata “Apa kamu sakit jantung? Kenapa banyak
kabel yang menempel di bagian dada kamu?” Alina memeriksa bagian dada Arga dan
tampa sengaja matanya tertuju dengan bekas jahitan Arga di bagian dadanya “Apa
kamu pernah menjalani oprasi jantung?” Alina melihat ke arah wajah Arga yang
kini tidak berhenti tersenyum melihat ke arahnya.
Karna terlalu pokus melihat ke arah wajah Alina, Arga sampai
tidak mendengarkan semua yang Alina katakan, dan itu membuat Alina melihat ke
arahnya.
“Arga! apa kamu mendengarkan semua yang aku katakan?” Alina
menatap ke arah wajah Arga.
Arga yang mendengar
panggilan Alina, segera melihat ke arah wajah Alina dan tampa sengaja mata
mereka kembali bertemu dan bersi tatap. Dan itu membuat jantung keduanya
berdetak kencan, cukup lama mereka saling tatap menatap, hingga akhirnya Alina
membuang pandangannya ke arah lain dan matanya kembali melihat ke arah bekas
jahitan oprasi jantung Arga.
Dan tampa Alina sengaja, dan entah apa yang membuatnya ingin
mengusap bekas jahitan yang ada di jantung Arga, dan itu membuat Arga merasa
begitu sangat nyaman ketika Alina menyentuh dan mengusap bagian jantungnya.
Namun untuk menghilangkan rasa nyamannya itu Arga berkata. “Iya,
Alin, aku pernah menjalani pencakokan jantung dua tahun yang lalu, dan yang mengoprasiku
adalah Dokter Nisa. Aku mengetahuinya karna dia sendiri yang mengatakannya
__ADS_1
padaku. Oya Alin apa kamu mengetahui siapa pemilik jantung ini?” menatap wajah Alina yang kini
terus melihat ke arahnya “Aku begitu sangat penasaran ingin tahu siapa orang
itu. Namun Dokter Nisa tidak mau mengatakannya padaku, dia cuman mengatakan
kalau pemilik jantung ini mencintai salah satu Dokter yang bekerja di rumah
sakit ini dan katanya mereka hampir saja menikah.” Arga mengatakan semua yang
di katakan Dokter Nisa padanya.
Alina yang mendengar perkataan Arga begitu sangat terkejut,
karna semua yang di ucapkan Arga hampir mirip dengan kisahnya dengan calon
suaminya Devano, berhubung Devano juga meninggal di rumah sakit ini, dan yang
mengoprasinya adalah Dokter Nisa, karna Alina tidak bisa melakukannya, melihat
orang yang sangat di cintainya terbaring di atas meja oprasi dengan penuh luka
di sekujur tubuhnya membuat Alina menyerahkan tanggun jawabnya kepada Dokter
Nisa.
Kisah yang membuat Alina tidak ingin memiliki hubungan
dengan pemuda lain karna begitu sangat trauma dengan kisah cinta pertamanya
yang begitu sangat teragis baginya.
Alina melihat ke arah wajah Arga lalu berkata. “ Apa benar
Dokter Nisa mengatakan seperti itu?” Alina mulai merasa tidak nyaman dengan apa
yang baru saja di dengarnya, hingga akhirnya tampa mengatakan apapun kepada
dan berjalan menuju arah ruangan kerja Dokter Anisa.
Alina ingin meminta penjelasan, dari Dokter Nisa, tentang
apa yang di katakan Arga dan juga tentang yang di katakannya tadi, yang
mengatakan kalau ingin menemui keberadaan Arga, ia harus menggunakan hatinya. Itulah
yang membuat Alina berjalan terburu-buru ke arah ruangan Dokter Nisa, karna
Alina juga tau kalu Dokter Nisa Hari ini ingin cuti dan pergi selama beberapa
hari untuk pergi di kampun halaman suaminya yang berada di Surabaya.
Arga yang melihat Alina keluar dari dalam ruangannya tampa
mengatakan apapun, merasa sangat bingun. Dan juga merasa sangat senang karna mendapat perhatian dari Alina, dan bahkan
Alina juga terlihat sedih ketika melihatnya terbaring di atas berangka rumah
sakit, Alina terlihat begitu sangat peduli itulah yang membuat Arga merasa
begitu sangat senang.
Alina membuka pintu ruangan kerja Dokter Nisa, namun tidak
menemukan Dokter Nisa yang sudah keluar dari rumah sakit.
“Ah, sebelum Dokter Nisa pergi aku harus meminta penjelasan
darinya.” Alina mengatakan itu sambil berlari keluar dari dalam rumah sakit,
karna masih berharap bisa menemukan Dokter Nisa di parkiran. Namun Alina nampak
__ADS_1
begitu sangat kecewa ketika telah sampai di parkiran dan tidak menemukan
keberadaan Dokter Nisa.
Alina mengeluarkan hapenya dari dalam saku baju yang di
kenakannya, lalu mencoba menghubungi nomor Dokter Nisa, namun Alina kembali
merasa kecewa karna nomor yang di hubunginya tidak aktip.
“Ya, Allah kenapa di saat seperti ini, nomor Dokter tidak
aktip.” Dengan hati yang begitu sangat kecewa Alina melankahkan kakinya masuk ke
dalam rumah sakit, namun tidak melangkah ke arah ruangannya melainkan ke
ruangan perawatan Arga.
Seminggu telah berlalu, Alina masih gelisa menunggu
kedatangan Dokter Nisa, sementara Arga telah sembuh, karna selama beberapa hari
ini Alinalah yang telah merawatnya.
Arga merasa begitu sangat senang, karna beberapa hari ini,
Alina menemaninya dan bahkann menyuapinya untuk makan. Dan semua itu membuatnya
merasa sangat bahagia. Hingga akhirnya Arga memilih untuk mengunkapkan isi
hatinya yang sebenarnya, lebih cepat akan lebih baik itulah yang terlintas
dalam pikiran Arga saat ini.
Seperti yang telah Arga rencanakan, sore ini dia akan
mengunkapkan isi hatinya di depan rumah sakitnya, sekaligus menjadi lamaran
untuk Alina. Seharian ini Arga mulai mempersiapkan segala sesuatunya.
Arga pergi ke kota Pare-pare untuk mencari cincin yang tepat
untuk Alina kenakan ketika lamarannya telah di terima. Namun tampa sengaja Arga
menemukan tukan Tato nama di pinggir jalan. Tampa berpikir panjang Arga mentato
pergelangan tangannya dan menuliskan nama Alina di sana.
Meskipun merasa kesakitan sewaktu tukan Tato itu menulis
nama Alina di pergelangan tangannya. Namun Arga merasa senang ketika melihat
nama Alina terukir dalam lukisan berbentuk hati di pergelangan tangannya itu.
Setelah semuanya sudah selesai di siapkan Arga melajukan
mobilnya kembali menuju arah rumah sakit, karna sebentar lagi jam kerja Alina akan
segera selesai.
Dengan senyuman ceria yang tidak lepas dari bibirnya, Arga
melajukan mobilnya masuk di area parkiran rumah sakit, dan melihat Alina
berjalan ke arah mobilnya.
“Alina.” Arga membuka pintu mobilnya ketika melihat Alina
mulai membuka pintu mobilnya.
Alina yang mendengar seseorang tengah memanggilnya, berbalik
__ADS_1
dan melihat Arga berjalan ke arahnya.