
"Sebenarnya anda siapa?, kenapa anda bebas ke luar, masuk dari Cafe ini?," Tanya Alina sambil melihat ke arah Devano.
Mendengar pertanyaan Alina. Devano pun menarik nafasnya lalu membuangnya pelan. Hufffhemmm. Setelah itu dia berkata pada Alina.
"Aku pemilik Cafe ini," Ucap Devano santai sambil melihat ke arah depan.
Alina pun berbalik melihat ke arah Devano dengan pandangan tak percaya.
"Apa!, bapak pemilik Cafe ini?, aku tak percaya. Lalu pak Rahmat itu siapa?." Tanya Alina.
"Pak Rahmat, itu menejer di Cafe ini. Beliau sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri," Ucap Devano menjelaskan.
"Maaf pak, karna tak percaya pada anda." Berkata sambil menundukkan kepala.
Melihat Alina bersikap seperti itu. Devano pun berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Alina sambil mengulurkan tangannya.
"Alina kenalkan, namaku Devano Miller."
Alina pun mengdongakkan kepalanya melihat ke arah wajah tampang yang kini berdiri tepat di hadapannya. Melihat Alina mendongakkan kepalanya Devano pun tersenyum sambil berkata.
"Alina,tangan aku pegel."
"Maaf pak, namun untuk apa kita berkenalan. Bapakkan sudah mengetahui nama aku. Begitu pun dengan bapak. Lalu untuk apa lagi?."
"Mau menyambut tangan aku atau tidak?, kalau tidak, semua nilai kamu akan aku bikin mines." Ancam Devano pada Alina.
Mendengar soal nilai. dengan cepat Alina berdiri dan langsung menyambut tangan Devano.
"Alina pak."
Melihat tingkah lucu Alina. Devano pun tertawa lepas. Hahaha, tawa Devano. Melihat itu Alina pun tersenyum sendiri karna melihat dosennya tertawa selepas itu beda dengan saat menjadi seorang dosen. Devano terlihat begitu sangat tegas.
"Alina, Alina kamu lucu banget sih, kalau kamu bersikap kaya tadi," Ucap Devano sambil melepas tangan Alina.
"Bapak, ada -ada saja," Ucap Alina santai sambil kembali duduk di kursi yang semula yang iya dudukki.
__ADS_1
"Eitss, tunggu dulu, mulai hari ini kalau kita sedang di luar kampus kamu tak usah memanggilku bapak, cukup panggil aku, Devan atau Vano dan nama ini berlaku juga di sini ok."
"Tapi,pak."
"Eitttt, Devan, Vano," Ucap Devano sambil menaikkan angka satu di jarinya.
"Maaf,Devan apa itu tak akan membuat para pelayan yang lain jadi berfikiran aneh tentangku,jika di hadapan mereka aku memanngil dengan sebutan nama."
"Baik lah,terserah kamu saja, yang jelasnya kalau saat seperti ini jangan memanggilku bapak, memang aku setua itu." Berkata sambil tersenyum lebar.
"Memang umur bapak berapa?, Maaf Devan aku salah bicara."
"Tidak masalah, biasakan mulai dari sekarang, Hemm, kamu bertanya soal umurku?,kira -kira menurut kamu, umur aku berapa?, kalau kamu bisa menebak berapa umurku aku akan memberikanmu hadiah yang special."
"Benar,mau ngasih hadiah?, kalau aku sampai menebak berapa umur anda."
"Tentu saja, aku itu orangnya tidak suka berbohong atau pun di bohongi, aku benci ke duanya," Ucap Devano sambil melihat ke arah depan.
Mendengar ucapan Devano barusan. Alina tersenyum melihat ke arahnya. Lalu Alina mulai menebak berapa Umur Devano saat ini.
"Kamu, kalau tersenyum, jangan semanis itu, nanti aku diabetes melihatnya," Ucap Devano pelan. Namun ucapannya itu masih terdengar jelas di telinga Alina.
"Apa!, kamu bilang apa barusan?," Ucap Alina sambil menatap ke arah wajah Devano.
"Ah, tidak, aku tak mengatakan apapun, mungking kamu cuman salah dengar." Sangkal Devano.
"Bagaiman?,apa kamu bisa menebak berapa umurku?," Tanya Devano.
"Hem, kalau ngak salah umur kamu 25-26 deh," Ucap Alina sambil memainkang telungjuknya di wajahnya.
"Tepatnya berapa?."
"Bismillah semoga tak salah. Umur kamu 25 kan," Ucap Alina tersenyum sambil menungjuk ke arah Devano.
Mendengar ucapan Alina. Devano tertawa lepas. Hahaha, tawa Devano. dan itu membuat wajah Alina terlihat sedikit kecewa. Devano yang melihat espresi wajah Alina berubah pun berkata.
__ADS_1
"Kamu memiliki indra ke 6 ya?, kenapa kamu bisa sampai tau kalau umur aku 25," Ucap Devano sambil melihat ke arah Alina.
"Jadi benar umur kamu 25?, aku asal nebak saja. padahal sebenarnya aku berfikir kalau umur kamu itu 28-29-30."
"Apa!, apa aku terlihat setua itu?," Ucap Devano sambil menatap serius ke arah Alina.
Mendengar pertanyaan dan tatapan itu, Alina tertawa lepas sambil menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Ha, ha, hah, ha, tawa Alina sambil melihat ke arah Devano yang sedang menatapnya. Sementara Devano berkata dalam hati ketika melihat Alina tertawa lepas.
"Benar -benar cantik, ciptaanmu ya Allah, sungguh aku tak bisa berbohong dengan ciptaanmu yang satu ini,jagalah dia untukku."
"Devan, hadiahnya mana?," Ucap Alina membuyarkan lamunan Devano sambil mengulurkan tangannya.
Devano pun menaruh tangannya di atas tangan Alina lalu berkata.
"Besok, aku akan memberikan hadiahmu, untuk saat ini biar tanganku yang mengisi ke kosongan tanganmu."
Mendengar ucapan Devano. Alina kembali tertawa lepas. Ha,ha,ha,suara tawa Alina.
"Devan, Devan, kamu ada -ada saja," Ucap Alina sambil menepuk pelan bahu Devano. Devano hanya tersenyum senang melihat tingkah lucu Alina.
Cukup lama, Alina dan Devano berada di atas atap Cafe. Mereka berdua bercanda ria, tertawa bersama sesekali Alina memukul pelan bahunya bahkan mencubitnya di saat Devano menjahilinya. hingga menjelang sore Devano mengajak Alina turun.
"Alin turun yu, ini hampir magrib." Ajak Devano.
"Astaga,! sudah sesore ini, aku belum mandi," Ucap Alina sambil mencium kerah bajunya.
"Oo, pantes,dari tadi aku mencium sesuatu yang berbau aneh, ternyata itu bau kamu?, Astaga!, Alina,baru kali ini aku bertemu gadis yang malas mandi seperti dirimu," Ucap Devano sambil tersenyum. Sementara Alina sudah memasang wajah masam karna merasa sangat malu mendengar ucapan Devano. Di dalam hati Alina berkata.
"Apa iya, aku sebauk itu?, perasaan wangi badanku biasa aja?, ngak ada yang berbauk aneh. Apa hidungnya kali ya yang bermasalanh,namun aku beneran belum mandi?."
"Alina, Alina." Panggil Devano membuyarkan lamunan Alina.
Tampa menjawab panggilan Devano. Alina berjalan menuju arah tangga untuk segera turun ke lantai bawah di mana letak arah kamarnya. Melihat tingkah Alina yang diam bahkan mengacuhkan panggilannya. Devano pun berfikir.
"Alina kenapa?, apa dia marah soal apa yang ku katakan padanya tadi?. Arrrr, baru juga dekat,masa iya sudah marah. Apa yang harus ku lakukan kalau dia sampai menjahuiku?,sebaiknya aku turun menyusulnya," Ucap Devano berlari menurungi tangga lalu segera berjalan ke arah kamar Alina. Sesampai di depan kamar Alina Devano mengetuk pintu. Tok, tok, to,Suara pintu kamar Alina di ketuk.
__ADS_1