Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 13


__ADS_3

"Is, kamu, apaan sih Devan," ucap Alina sambil memanyumkan bibirnya. Melihat itu Devano tertawa lepas sambil melihat ke arah Alina.


"Ha, ha, ha, Alina, Alina, kamu terlihat lucu kalau kamu seperti itu."


Mendengar ledekan Devano. Alina pun berkata.


"Ayo, kita pulang, aku akan membantumu mengepas semua pakaian kamu," ucap Alina sambil melihat ke arah Devano sambil tersenyum.


Mendengar itu dengan segera Devano menyalakan mesin mobilnya. kemudian melajukannya dengan santai menuju Cafenya. Setelah sampai di depan Cafe Devano turun dari mobilnya di susul oleh Alina. Mereka berdua pun masuk ke dalam Cafe bersamaan dan dilihat oleh beberapa pelayan Cafe yang sedang sibuk melayani para pelanggan Cafenya. Di antara mereka ada yang berkata.


"Alina memiliki hubungan apa dengan bos kita?."


Aran yang mendengar ucapan salah satu pelayan itu pun berkata.


"Mereka berdua itu sahabat yang sangat dekat selain itu, Alina dan pak Devano adalah guru dan Murid. Jadi kalian jangan bergosip yang tidak -tidak ya." ucap Aran sambil melihat ke arah pelayan yang kini sedang sibuk melihat ke arah Alina dan Devano.


Alina yang mendengar itu tak menangapi, karna Alina mulai sedikit terbiasa mendengar ucapan para pelayan yang bekerja di dalam Cafe Devano. Alina pun melangkah di samping Devano dengan santai lalu ikut berjalan masuk ke dalam kamar Devano. Sesampai di dalam kamar Devano. Alina mulai mencari koper yang akan di gunakan Devano untuk menempati pakaiannya.


"Devan, koper kamu mana?."


"Itu, di atas lemari," ucap Devano sambil menungjuk koper yang ada di atas lemari.


Melihat koper itu, Alina pun mengambil kursi untuk mengambiln koper tersebut. Setelah mengambil koper lalu meletakkan di depan lemari. Alina pun menaiki kursi tersebut lalu mulai meraih koper yang ada di atas lemari. Namun belum sempat Alina menurunkang koper itu Alina sudah hampir terjatuh. Namun dengan Cepat Devano menangkap Alina.


"Auccc, suara Alina ketika hampir jatuh.


Dan lagi -lagi Alina terjatuh dalam pelukan Devano. Namun kali ini Alina merasa ada yang lebih aneh pada dirinya ketika mata mereka bertemu satu sama lain. Cukup lama Alina berada dalam pelukan Devano, karna Alina merasa begitu sangat nyaman berada dalam pelukan Devano.


"Terimah kasih," ucap Alina ketika sudah tersadar lalu berusaha melepas pelukan Devano.


"Tak, masalah," ucap Devano sambil meraih koper yang ada di atas lemari, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Sementara Alina mulai membuka lemari pakaian Devano lalu memasukkan satu persatu pakaian Devano ke dalam koper. Setelah selesai Alina pun bertanya.


"Devan, apa masih ada yang ingin kamu bawa?,"


"Iya, nanti, aku sendiri yang akan memasukkannya ke dalam koper,lagian itu adalah pakaian pribadiku. "


"Kenapa?, sini biar aku saja yang memasukkannya," ucap Alina polos tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Devano. Mendengar ucapan Alina. Devano hanya tersenyum sambil berjalan ke arah Alina lalu mengusap lembut rambut Alina yang ada di wajahnya.


"Biar aku yang melakukan itu. Nanti setelah kamu menjadi pendampingku, kamu boleh melakukannya untukku."


Alina nampak bingun dengan apa yang di ucapkan Devano barusan. Alina pun berkata dalam hati.


"Maksud Devan berbicara seperti itu apa?, aku tak mengerti dengan ucapannya," ucap Alina sambil melihat ke arah Devano yang masih sedikit sibuk.


Melihat Alina hanya terdiam. Devano mendekati Alina lalu berkata di telinga Alina.


"Sudah selesai melamunnya?."


Mendengar bisikan itu dengan cepat Alina berkata.


"Alin, kamu ikut aku ke bandara."


"Tapi, Van, aku tak tau jalan pulang ke Cafe ini."


"Tidak masalah, pak Rahmat akan ikut bersama kita."


"Baik, lah aku akan ikut," ucap Alina sambil tersenyum ke arah Devano.


Setelah selesai membantu mengepas semua pakaian Devano. Alina pamit untuk pergi ke kamarnya.


"Van, aku kekamar aku dulu."

__ADS_1


"Untuk apa?, kamu di sini saja menemaniku, ini adalah hari terakhirku ada di sini," ucap Devano dengan wajah sedikit sedih. Mendengar ucapan Devano barusan Alina berjalan mendekat ke arah Devano sambil berkata.


"Pak, Devano, aku hanya ingin kembali ke kamarku untuk membersikan diri, setelah itu aku akan kembali lagi ke sini, menemanimu hingga keberangkatanmu ke bandara.


"Ya, sudah, namun sebelum kamu kembali ke kamar kamu,apa aku boleh meminta sesuatu darimu?."


"Apa?,katakan saja, jika aku bisa, kenapa tidak," ucap Alina sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Alina. Devano langsung memeluk tubuh Alina dengan sangat erat. Mendapat pelukan tiba -tiba dari Devano, Alina hanya terdiam, membiarkan Devano memeluknya. Cukup lama Devano memeluknya hingga akhirnya Devano melepas pelukannya lalu berkata.


"Maaf, Alina, ku harap kamu tak marah dengan apa yang baru saja aku lakukan padamu."


"Tak, masalah, Van, aku juga mengerti dengan itu," ucap Alina sambil berjalan ke luar dari kamar Devano menuju kamarnya.


Sebenarnya Alina merasa sangat terkejut ketika Devano memeluknya dengan sangat erat. Alina juga tak sengaja mendengar bisikan lembut yang di bisikkan Devano di telinganya.


"Tetaplah seperti ini, Alina kamu jangan pernah berubah, dan nantikan aku pulang kembali."


Alina bingun dengan bisikan itu. hingga akhirnya Alina memilih langsung keluar dari kamar Devano setelah pelukannya terlepas. Alina merasa sangat malu. bahkan wajahnya sudah terlihat sangat merah. Sesampai di dalam kamar Alina memegan dadanya yang tak berenti berdetak dengan sangat cepat. Hingga akhirnya Alina dengan sangat cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya. Alina pun mulai bersiap untuk mengantar Devano ke bandara.


Kini Alina berjalan ke kamar Devano. Jangtungnya kembali berdetak tak karuan seperti sebelumnya. Hingga akhirnya Alina lebih memilih berjalan ke arah dapur khusus pelayan untuk menormalkan detak jantungnya. Sesampai di dapur Alina langsung mengambil sebotol air mineral kemudian meminumnya sampai tandas.


"Ah, leganya, semoga setelah ini, jantungku tak berdetak seperti itu lagi," ucap Alina sambil memegan dadanya.


Setelah selesai dengan urusan di dapur. Alina kembali berjalan ke arah kamar Devano dan langsung membuka pintu kamar Devano.


"Aaaa," teriak Alina ketika membuka pintu kamar dan melihat Devano yang baru saja selesai mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggannya saja.


"Maaf, Devan," ucap Alina berlalu ke luar dari kamar Devano.


Melihat tingkah lucu Alina. Devano tesenyum tipis sambil berkata.

__ADS_1


"Kamu benar -benar sangat lucu Alina, aku benar -benar menyukai semua tentang dirimu."


Berkata sambil memakai pakaiannya satu persatu hingga selasai.


__ADS_2