
Setelah selesai mengenakan pakainnya. Devano berjalan ke arah pintu kamarnya lalu membukanya.
"Masuk,Alina,aku dah selesai berpakaian."
Alina pun berbalik badan melihat ke arah Devano yang kini telah berpakaian rapi. kemudian ikut berjalan masuk ke dalam kamar Devano. Di dalam kamar Devano semuanya terlihat rapi.
"Ayo, kita berangkat Alin," Ajak Devano sambil meraih kopernya yang ada di atas tempat tudur.
Alina pun berjalan mengikuti Devano di belakangnya hingga sampai di depan Cafe. Devano memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.
"Alin, masuk ke mobil," ucap Devano sambil membuka pintu mobil untuk Alina. Melihat tingka bosnya Rahmat hanya tersenyum di bagian depan stir mobil sambil berkata dalam hati.
"Devano, Devano, aku tau, kalau kamu mulai menyukai gadis ini."
Setelah Devano dan Alina telah berada di dalam mobil. Rahmat pun mulai melajukan mobilnya membelah kota jakarta yang cukup macet. Setelah sampai di bandara Rahmat menurungkan koper Devano.
Alina dan Devano mulai turun dari mobil kemudian berjalan masuk ke area bandara.
"25 menit lagi, aku akan berangkat," ucap Devano sambil melihat ke arah Alina yang kini sedang duduk.
Alina pun tak menyahut dengan apa yang di ucapkan Devano. Alina hanya tersenyum manis sambil melihat ke arah Devano. Namun sebenarnya di hati Alina begitu sangat sedih. Bahkan Alina saat ini ingin menangis di dada Devano sambil memeluknya.
Melihat Alina terdiam tak mengeluarkan sepata kata pun. Devano duduk di samping Alina sambil mengambil tangan Alina lalu mengengamnya.
"Alina, selama aku tak ada, kamu jaga diri dan juga jaga kesehatan jangan sampai sakit. kalau kamu mau kamu bisa tinggal di kamarku, aku sudah memberitahukan ini pada pak Rahmat jadi kamu bebas masuk ke dalam kamarku, kamu juga dah tau kata sandinya kan."
Alina pun melihat ke arah Devano sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya akan masuk ke kamar kamu jika aku merindukan mu, namun kalau tidak aku tak akan datang ke kamar kamu," Canda Alina sambil melihat ke arah Devano.
"Alina, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, ini sudah sangat lama aku menyimpannya dalam hati. Namun aku takut menyatakannya padamu."
"Apa? katakan saja."
Namun belum sempat Devano menyatakan perasaannya pada Alina. jadwal keberangkatannya telah di sebutkan,hingga akhirnya Devano berkata.
"Alina, sudah waktunya aku masuk."
Alina pun berdiri dari duduknya. Namun dengan cepat Devano memeluk tubuh Alina dengan sangat erat. Alina yang mendapat pelukan dari Devano pun merasa sangat senang. Devano melepas pelukannya sambil mengecup lembut dahi Alina.
"Aku pergi Alin, kamu jaga diri kamu baik -baik," ucap Devano berjalan masuk sambil menarik kopernya. Sementara Alina melambaikan tangan kepada Devano. Namun tampa Alina sadari sebuah cairan bening membasahi wajahnya.
Rahmat bisa melihat air mata Alina. Namun pura -pura tak melihatnya. Rahmat pun berjalan mendekat ke arah Alina.
"Ayo kita pulang Alina," ucap Rahmat dari belakang. dia sengaja memutar arah agar tak membuat Alina merasa malu padanya.
"Ayo," ucap Alina sambil tersenyum ke pada Rahmant.
Setelah sampai di depan Cafe. Alina pun berkata pada Rahmat.
"Saya, masuk duluan ya pak, aku sangat lelah." sambil membuka pintu mobil, lalu keluar, kemudian berjalan masuk ke dalam Cafe.
Sesampai di dalam Cafe. Alina di sambut oleh Aran.
"Alina, bagaimana? apa pak Devano sudah berangkat?."
__ADS_1
"Iya," ucap Alina pelan, sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Setelah sampai di dalam kamarnya Alina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk bantal guling.
"Cepat kembali Devan, aku tak tau apa aku bisa menjalani hariku tampa melihatmu,karna aku mulai terbiasa melihatmu setiap hari," ucap Alina di dalam kamarnya.
Setelah itu Alina berangjak dari tempat tidurnya lalu menganti pakaiannya dengan serangan pelayan. Kemudian keluar dari kamarnya untuk mulai bekerja kembali seperti sebelumnya.
Alina pun mulai bekerja. Namun rasa semangat dalam dirinya tidak sama sewaktu Devano masih berada di dalam Cafenya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan kini tak terasa kepergian Devano sudah berjalan selama lima bulan. Alina juga telah menyelesaikan semester pertamanya. Hari yang di lalui Alina begitu sedikit berat. Namun Alina mencoba menjalaninya dengan perasaan sedikit bahagia demi cita -citanya ingin menjadi seorang dokter.
Hari ini Alina pulang dari kampus. Namun tiba -tiba jantung Alina berdetak begitu sangat kencang ketika melewati pintu kamar Devano.
"Ada apa ini?, apa aku terlalu merindukannya? sehingga jantungku berdetak tak karuan seperti ini."
Perlahan Alina berjalan menuju arah dapur. Namun tiba -tiba Alina melihat sosok banyangan yang mirip dengan Devano.
"Ada apa dengan diriku?k ketika aku melewati kamar Devano jangtungku berdetak sangat kencang dan sekarang aku melihatnya. Apa aku terlalu merindukannya? ah sudahlah mungking itu hanya imajinasiku saja," Ucap Alina sambil menepuk dahinya lalu melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam dapur.
Setelah selesai, Alina kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat karna sebentar sore Alina akan mulai bekerja seperti biasanya. Alina mulai merebahkan tubuhnya namun tak dapat membuat dirinya terlelap. Hingga akhirnya Alina lebih memilih membuka aplikasi WA yang ada di layar hapenya. Alina mulai membaca pesan chat yang di kirim Devano selama dia pergi. Alina sengaja tak menghapus semua pesan chat Devano karna setiap selesai membaca Alina seperti mendapat semangat baru. Namun pesan chat yang di kirim Alina dua hari yang lalu belum terbaca oleh Devano.
"Apa! Devan begitu sangat sibuk? sehingga tak membalas pesan chatku."
Alina merasa sedikit khawatir karna selama kepergian Devano, ini pertama kalinya pesannya tak di balas. Setelah merasa bosan melihat ke layar hapenya Alina pun berangjak dari tempat tidurnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri. Setelah selesai dengan ritual mandinya. Alina pun mulai bersiap. Namun kali ini, Alina terlihat lebih sangat cantik karna mengenakan sedikit mec'ap dan itu membuat aura kecantikan semakin terlihat.
Alina pun berjalan keluar dari kamarnya dan lagi -lagi melihat bayangan Devano melintas di hadapannya.
"Ada apa lagi ini?, kenapa banyangannya terlihat lagi," ucap Alina sambil memegan dadanya yang kini berdetak tak karuan.
__ADS_1
Perlahan Alina mulai melangkah keluar bergabun dengan pelayan lainnya. Dan itu membuat para pelayang terkejut takjud melihat ke cantikan Alina yang sesungguhnya. Mereka tak pernah melihat Alina mengenakan mec'ap seperti itu sebelumya.
"Alina,kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap salah satu pelayan.