Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 11


__ADS_3

Melihat Devano menarik kursi lalu duduk. Alina dan Aran terdiam melihatnya. terlebih Aran dia begitu sangat terkejut melihat sikap terbuka bosnya. kalau Alina dia sudah tau sedikit tentang sifat dan sikap Devano.


"Ayo,! kalian berdua duduk,apa kalian mau aku menghabisi masakan ini semua?," Ucap Devano sambil mengambil makanan ke piringnya.


Alina dan Aran pun duduk lalu mengambil makanan ke piring masing -masinga. Alina dan Aran saling tatap ketika melihat Devano makan dengan sangat lahapnya sampai seluruh wajahnya mengeluarkan keringat.


"Masakan ini sangat lezat, siapa yang memasak ini semua?." Tanya Devano.


Mendengar pertanyaan dari Devano. Alina dan Aran saling tatap lalu saling menungjuk.


"Alina yang masak pak." Tungjuk Aran.


"Bukan pak, Aran yang masak." Tungjuk Alina.


Melihat ke dua wanita yang ada di depan Devano. Saling menunjuk satu sama lain. Devano pun berkata.


"Sebenarnya ini masakan siapa?,jawab yang jujur kalau tidak, gaji kalian saya potong bulan ini,apa kalian berdua mau gaji kalian saya potong sebanyak 50%," Tanya Devano sambil mengancap ke dua gadis yang ada di hadapannya.


Mendengar ancaman itu. Alina menaikkan tangannya lalu berkata.


"Maaf, pak, ini semua masakan saya. Namun Aran juga ikut membantu saya masak. Jadi ini semua adalah masakan kami berdua," Ucap Alina sambil tersenyum manis ke arah Devano.


"Benar pak, yang di ucapkan Alina."


Timpal Aran.


"Nah, begitu dong, jangan saling tungjuk menungjuk, sekarang ayo kita lanjutkan makan," Ucap Devano sambil menambah makanannya ke pirinnya.


Selesai makan Devano bersandar di sandaran kursi makan yang iya tempati duduk. Devano tak berenti menatap ke arah Alina yang kini sedang sibuk membereskan sisa makanan yang ada di atas meja makan. Dan itu di perhatikan oleh Aran. Aran pun berkata dalam hati.


"Sepertinya pak Devano ada hati sama Alina. Terlihat jelas dari caranya menatap ke arah Alina."


Setelah selesai memberekan semuanya Alina dan Aran pun berjalan ke luar dari dapur namun langkahnya terhenti di saat Devano memanggilnya.


"Alina." Panggil Devano.


"Iya, pak, ada apa," Ucap Alina sambil berbalik arah melihat ke arah Devano yang masih setia duduk di kursi meja makan. Sementara Aran hanya terdiam melihat ke duanya.


"Kesini sebentar,dan kamu Aran kamu bisa kembali ke kamar kamu untuk istirahat karna sebentar malam kamu akan tertidur tengah malam lagi." Berkata sedikit tegas pada Aran.


"Baik, pak, kalau begitu saya permisi," Ucap Aran sambil melangkah keluar dari dapur.

__ADS_1


Aran pun melangkah keluar sambil berkata dalam hati.


"Apa ku bilang, pak Devano pasti ada hati sama Alina, aku bisa melihatnya dengan jelas. cuman Alina tak menyadari itu.


Sementara di dapur. Devano mengajak Alina ke atap. karna di situ tempat paling aman dan juga bagus di tempati untuk bersantai.


"Alina, ikuti aku ke atap," Ajak Devano sambil berjalan keluar dari dapur.


Alina yang mendengar ajakan Devano pun cuman terdian dan tak melangkah dari tempatnya bersiri. Devano pun kembali memanggilnya.


"Alina."


"I, iya, aku ikut," Ucap Elina pelan sambil berjalan mengikuti arah langkah Devano.


Sesampai di atap Alina berjalan ke arah ayunan gantung yang selalu di tempati kalau sedang berada di atas atap. Lalu Devano pun kembali mengambil kursi lalu duduk di samping Alina.


"Devan,kenapa kamu ajakin aku ke sini?." Tanya Alina.


Mendengar pertanyaan Alina. Devano pun menarika nafasnya lalu membuangnya kembali. Hupppp, hemm. Lalu berkata.


"Aku cuman ingin kasi kamu ini," Ucap Devano sambil menyerahkan sebuah kota berwarna biru pada Alina.


"Itu apa, Devan?."


Alina pun mengambil kotak itu. Lalu membukanya. Alina tampak terkejut ketika melihat isi kotak yang di berikan Devan.


"Devan, ini apa?," Tanya Alina.


"Itu hadiah yang aku janjikan kemarin padamu. aku kan ada hutan hadia ke kamu." Jawab Devano pelan.


"Apa ini tak terlalu berlebihan?,ini pasti sangat mahal?, maaf aku tak bisa menerimanya karna aku tak terbiasa memakai barang yang mahal seperti ini."


"Tidak, itu juga bukan barang asli," Bohong Devano. Padahal sebenarnya Devano membeli hadia itu setara dengan harga mobil.


"Jadi ini bukan barang asli," Ucap Alina sambil tersenyum.


"Bukan jawab Devano singkat.


Alina pun mulai mengeluarkan hadiah yang di berikan Devano padanya. Alina mulai meletakkannya di lehernya sambil berkata pada Devano.


"Apa aku terlihat cantik memakai ini?," Tanya Alina pada Devano sambil tersenyum.

__ADS_1


Devano pun tersenyum tipis mendengar ucapan Alina yang kini sedang sibuk membolak -balik kalung yang di berikan oleh Devano. Lalu berkata dalam hati.


"Apapun yang kamu kenakan pasti akan terlihat sangat cantik, sangat cantik."


Devano kemudian meraih kalung itu dari tangan Alina. Lalu memakaikannya.


"Sini aku bantu," Ucap Devano sambil memakaikan kalung di leher alina. Selesai memakaikan kalung di leher Alina. Devano pun mengeluarkan hapenya dan langsung mengambil gambarnya bersama Alina.


Cekret.


Alina pun berbalik ke arah Devano yang kini sedang sibuk berpoto dengan Alina dari belakan.


"Apa yang kamu lakukan," Tanya Alina pada Devano yang masih sibuk mengambil gambarnya dengan Alina.Hingga akhirnya Devano merangkul lengan Alina lalu berkata.


"Senyum."


Alina pun langsung tersenyum manis dan itu membuat hasil gambar mereka berdua terlihat sangat sempurna.


"Sempurna, gambar kita terlihat sangat indah dan sempurna," Ucap Devano sambil mengeser layar hapenya.


"Berikan hapenya padaku, aku juga ingin melihatnya," Ucap Alina dengan suara sediktit manja.


"Ini, namun awas kalau kamu. sampai menghapusnya. Aku akan memotong semua gaji kamu bulan ini." Ancam Devano pada Alina.


Mendengar ancaman itu Alina berdecak kesal sambil berkata.


"Iya, iya, dikit -dikit ancam potong gaji. kalau bapak Devano sampai melakukan itu, aku juga berjanji akan segera keluar dari Cafe bapak ini." Ancam balik Alina pada Devano.


Mendengar ancaman Alina. Devano merasa sedikit takut. karna Devano merasa tak rela jika Alina sampai keluar dari Cafenya.


"Jangan sampai itu terjadi," Ucap Devano dalam hati.


Alina pun kembali duduk begitu pun dengan Devano. Melihat Alina tak berenti melihat ke arah kalung yang kini sedang melingkar di lehernya. Devano pun berkata.


"Apa kamu menyukai kalung itu?."


"Iya, ini sangat indah dan cantik, lihatlah permata warna biru ini?, terlihat seperti batu safir yang asli."


Mendengar ucapan Alina. Devano pun berkata dalam hati.


"Itu memang batu safir yang asli Alina. Aku tak mungking memberikanmu barang yang palsu. kamu orang yang special untuku."

__ADS_1


Setelah merasa lelah berada di atas atap. Alina mengajak Devano untuk segera turun.


"Devan, ayo kita turun."


__ADS_2