Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.55


__ADS_3

Dengan napas yang gos-gosan Arga masuk ke dalam ruangan


Dokter Nisa, dan lansung berkata “Dokter Nisa” memanggil “Alina kemana Dokter?”


Arga melihat ke arah Dokter Nisa yang tengah melihat ke arahnya.


Arga merasa begitu sangat sedih, tidak tau apa yang tengah


di rasakannya saat ini. Arga tidak pernah menduga kalau perlakuannya kepada


Alina dua minggu yang lalu akan, akan berdampak seperti ini, Alina mengundurkan


diri dari rumah sakitnya tampa memberi kabar terlebih dahulu kepadanya.


Dokter Nisa yang terkejut melihat Arga yang tiba-tiba masuk


ke dalam ruangannya berkata. “Iya Pak, Ada apa?” tersenyum ramah.


Tampa duduk Arga lansung berkata. “Dokter cepat katakan!


Dimana Alina sekarang?” Arga menatap ke arah Dokter Nisa yang kini tenga


melihat ke arahnya.


“Maaf, Pak, Arga saya juga tidak tau! Karna di saat Alina


mengundurkan diri saya tengah sibuk mengurus anda.” Dokter Nisa menjelaskan.


“Tidak mungkin! Dokter, Alina tidak akan melakukan hal itu,


Alina tidak akan pergi meninggalkan aku.” Arga mengatakan semua itu dengan rasa


sedih yang begitu sangat terlihat di wajahnya.


“Maaf, Pak, tapi itulah yang terjadi. Dan satu lagi anda


harus mengjaga kesehatan jantung anda, sangan sampai memikirkan hal yang tidak


bisa di terima oleh jantung anda.” Dokter Nisa memperingati Arga agar tidak


terlalu bersedih dengan kepergian Alina, karna itu semua akan berdampak buruk


dengan jantungnya.


Dokter Nisa mengatakan yang sebanarnya, karna dirinya juga


sangat terkejut ketika mengetahui Alina telah mengundurkan diri dari rumah


sakit yang di tempatinya bekerja. Dan karna kesibukan mengurus pemilik rumah


sakit Dokter Nisa juga tidak mengetahi kalau Alina tengah mengundurkan diri.


Dengan wajah kecewa Arga keluar dari dalam ruangan Dokter


Nisa, tidak tau apa yang harus di lakukannya saat ini, karna gadis yang di


cintainya kini telah pergi darinya itulah yang ada di dalam pikiran Arga saat


ini.


Arga mengacak rambutnya berjalan ke arah ruangannya, hatinya


terasa begitu sangat sedih, jantungnya tidak berhenti berdetak dengan begitu


sangat kencang, setelah sampai di dalam ruangannya, Arga duduk termenung di


atas kursi kebesarannya sambil memikirkan semua yang telah di lakukannya kepada


Alina.


“Apa aku sudah terlalu menyakiti hati Alina?” menjambak

__ADS_1


rambut sendiri “Sehingga memilih untuk mengundurkan diri dan pergi dari rumah


sakit ini? Ah, Alina kenapa kamu melakukan ini? Kamu tidak seharusnya melakukan


ini padaku. Aku memang kecewa setelah mengetaui kalau jantung ini.” Memegan area


jantunngnya “Adalah milik orang yang sangat kamu cintai, tapi aku sangat


bahagia ketika kamu mengatakan kalau kamu sangat mencintaiku bahkan takut


kehilanganku. Dan juga menjelaskan soal kesalapahaman itu. Ah, Alina kamu ada


di mana sekarang?” Arga merasa begitu sangat pusing, kepalanya terasa ingin


pecah karna memikirkan Alina yang telah pergi dari rumah sakitnya tampa memberi


kabar darinya.


Tampa berpikir panjang, Arga kembali berangjak dari tempat


duduknya, lalu keluar dari dalam ruangannya dan berjalan kembali ke arah


ruangan Dokter Nisa. Arga kembali menemui Dokter Nisa karna ingin mengetahui


alamat rumah Alina.


Setelah mendapatkan alamat rumah Alina dari Dokte Nisa,


dengan bantuan Gps, Arga bisa menemukan rumah Alina yang tidak jauh dari rumah


mewahnya.


“Oh, astaga ternyata rumah Alina tidaklah jauh dari rumahku.”


Arga mengatakan itu ketika telah berada di depan rumah Alina.


Rumah panggun yang terbuat dari kayu hitam, rumahnya


menatap sekeliling rumah Alina dan matanya tertuju dengan mobil Alina yang


berada di bawah rumahnya.


Dengan senyuman Arga berjalan ke arah mobil Alina, karna


yang ada dalam pikiran Arga saat ini, Alina ada di rumahnya karna mobilnya


masih terparkir rapi di bawah rumahnya.


Setelah itu Arga menaiki tangga rumah Alina dan berjalan


menuju arah pintu kemudian membunyikan bel yang berada tepat di atas pintu


rumah Alina, karna saat ini pintu rumah Alina tengah tertutup.


Ting-nong, Ting-nong.


Suara bel rumah Alina, dengan senyuman mengambang di


bibirnya Arga terus tersenyum sambil melihat ke arah pintu rumah Alina.


Setelah beberapa menit, pintu rumah Alina terbuka dan


keluarlah seorag wanita dan itu adalah ibu Alina itulah yang ada di dalam pikiran


Arga saat ini.


“Iya, anda cari siapa?” wanita itu menatap Arga mulai dari


ujung kaki hingga ujung rambut.


Dengan senyuman ceria Arga berkata. “Saya mencari Alina Bu. Apa

__ADS_1


Alinanya ada?” tersenyum hangat melihat ke arah Ibu yang ada di hadapan.


Arisa yang mendengar nama putrinya di sebut oleh pemuda yang


ada di hadapannya mempersilahkan Arga masuk ke dalam rumahnya.


“Mari, silahkan masuk, dan duduk.” Arisa kembali masuk di


ikuti oleh Arga di belakannya.


Arga yang mengikuti langkah Ibu yang ada di hadapannya masuk


ke dalam rumahnya tersenyum, sambil melihat sekeliling dalam ruangan tamu


Alina, Ruangan tamu yang penuh dengan poto-poto Alina, mulai dari Sd, Smp,


hingga poto Wisuda kedokteran Alina semua terpajang di dalam ruangan tamu


tersebut, dan tampa sengaja mata Arga melihat poto Alina bersama dengan seorang


pemuda yang begitu sangat tampan. Pemuda itu tengah mencium pipi Alina sambil


memegan tangan Alina, dan Alina terlihat begitu sangat bahagia di dalam poto


itu. Dan mungkin itu adalah pemilik jantung yang ada di dalam tubuhku. Itulah yang


terlintas dalam pikiran Arga saat ini.


Arisa yang melihat tamunya tengah melihat seluruh poto dalam


ruangan tamunya berkata. “Itu semua adalah poto kenangan Alina. Ia sengaja


memajang semua poto itu, karna melihat semua itu Alina bisa tersenyum senang


dan Ibu juga ikut senang melihatnya.” Arisa mengatakan yang selalu di lihatnya.


Arga yang mendengar ucapan wanita yang ada di hadapannya,


tersenyum sambil berkata. “Semua poto ini akan selalu menjadi kenangan terindah  untuk Alina. Benar kan Bu?” Arga kembali


tersenyum hangat melihat ke arah wanita yang tengah duduk di hadapannya.


“Benar sekali. Oya Nak, nama kamu siapa? Dan kenapa kamu


mencari Alina.” Tanya Arisa pelan.


“Kenalkan Bu.” Mengulurkan tangan “Namaku Arga. aku atasan


Alina pemilik rumah sakit Tpc.” Arga mengatakn semuanya dengan jujur, meskipun


merasa tidak enak, namun berkata jujur itu akan jauh lebih baik dari pada


berkata bohong.


Arisa yang mendengar nama pemuda yang tengah duduk di


hadapannya merasa sangat terkejut, terkejut karna pemuda yang berada di


hadapannya adalah penerima donor jantung dari Devano, orang yang begitu sangat


Alina cintai.


Arisa mengetahui semuanya,karna Alina telah menceritakan


semuanya kepada Ibunya, Alina yang tidak pernah menyembunyikan masalah apapun


dari Ibunya, karna Ibunya adalah teman sekaligus iBu yang sangat baik dan bisa


mengerti dengan semua yang Alina katakan dan bisa di katakan Arisa adalah teman


curhat Alina yang begitu sangat pengertian.

__ADS_1


__ADS_2