
Doter Anisa yang mendengar, ucapan pemuda yang ada di hadapannya
begitu sangat terkejut. Namun tidak beraksi, Karna Dokter Nisa terlihat begitku
santai-santai saja, ketika mendengar kata yang diucapkan Arga.
“Sebaiknya anda banyak istirahat dulu ya pak. Kontrol jantung
anda agar tidak terlalu berdetak seperti tadi yang membuat anda susah bernapas.”
Setelah mengatakan itu Dokter Nisa keluar dari kamar yang di tempagi Arga di
rawat.
Dengan langkah pelan Dokter Nisa berjalan ke arah ruangannya
yang tidak terlalu jauh dari ruangan rawat Arga. Nisa mulai memikirkan semua
ynag telah terjadi dengan Arga sore ini.
“Apa, Arga begitu sangat sakit ketika Alina menolak
ajakannya? Dan itu membuat jantungnya terasa sakit seperti itu? Dan bahkan
harus menjalani perawatan seperti ini. Aku takut jika ini terus berlanjut,
jantung yang ada dalam tubuh Arga bisa-bisa tidak akan bekerja dengan baik.”Anisa
menarik napasnya ketika selesai mengatakan itu.
Sementara Alina yang melajukan mobilnya pulang ke rumah
orang tuanya merasa begitu tidak nyaman, jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan,
dan perasaanya tiba-tiba merasa begitu sangat gelisah.
“Apa yang terjadi denganku?” Memegan dada “Kenapa perasaanku
menjadi seperti ini? Apa yang aku lakukan ini benar apa salah? Menolak ajakan
Arga adalah hal paling baik menurutku, namun kenapa hatiku begitu sangat gelisa
seperti ini?” Alina merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Dengan perasaan gelisa Alina berjalan masuk ke dalam
kamarnya, dan untuk menghilangkan semua rasa gelisahnya Alina memilih untuk berendam
sejanak di dalam bak mandi yang ada di dalam kamarnya. Namun tampa Alina
sadari, mungkin karna merasa begitu sangat kelelahan hingga akhirnya Alina
tertidur di dalam bak mandinya.
Di dalam tidurnya Alina kembali berminpi bertemu dengan
Devano, Devano tersenyum hangat melihat ke arahnya yang kini tengah melakukan
pemeriksaan.
“Alina. Aku mencintaimu.” Devano tersenyum sambil berjalan
ke arah Alina, lalu melingkarkan tangannya di perut Alina.
“Aku juga mencintaimu Devan, sangat mencintaimu.” Alina
berbalik melihat ke arah wajah Deveno yang kini tengah memeluknya dari
belakang, namun bukan wajah Devano yang tengah ia lihat melainkan wajah Arga
yang kini tersenyum hangat melihat ke arahnya.
“Ahhh.” Alina terbangun dari tidurnya karna melihat wajah
Arga di dalam mimpinya yang telah memeluknya dari belakan. “Ah, apa yang
__ADS_1
terjadi denganku? Kenapa aku sampai memimpikannya, wajah yang aku lihat sebelumnya
adalah wajah Devano, namun kenapa berubah menjadi wajah Arga? Oh,Tuhan apa yang
telah terjadi denganku? Kenapa aku sampai memimpikannya?” Alina menutup
wajahnya dengan kedua tangannya ketika selesai mengatakan itu.
Tiga hari telah berlalu, semenjak hari dimana Alina menolak
ajaka Arka. Alina tidak pernah menemukan Arka lagi di rumah sakit. Dan itu
membuat Alina merasa begitu sangat kehilangan, kehilangan sosok yang selalu
membuatnya tersenyum dan juga selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Alina juga tidak mengetahui, kalau saat ini Arga telah
melakukan perawatan di rumah sakitnya. Dokter Nisa sengaja tidak memberitahukan
Alina karna tidak mau membuat keduanya khwatir.
Dokter Nisa tau jika sampai Alina tau soal keadaan Arga saat
ini, pasti Alina akan merasa begitu sangat bersalah dan itu pasti membuat
jantung Arga kembali berdetak tidak normal. Karna mereka berdua memiliki ikatan
hati yang sama. Namun untuk saat ini Alina belum menyadari perasaannya yang
sebenarnya.
Dengan langkah pelan Alina berjalan menuju arah ruangan
Dokter Nisa, namun ketika melewati pintu ruangan yang di tempati Arga di rawar
tiba-tiba saja jantung Alina kenbali berdetak tidak karuan sama yang di rasakannya
ketika Arga bersamanya.
berdetak tidak karuan, bejalan masuk ke dalam ruangan Dokter Nisa.
Dokter Nisa yang melihat Alina mengelus dada, bertanya.
“Anda kenapa Dokter? Kenapa dengan dada Anda.” Dokter Nisa
tersenyum melihat ke arah Alina yang kini tengah berjalan mendekat ke arahnya.
“Aku juga tidak tau?” Alina duduk di kursi yang ada di depan
Dokter Anisa “Kenapa jantungku berdetak seperti ini, setelah melewati kamar ViV
itu.” Alina menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan setelah selesai
mengatakan itu.
Dokter Anisa yang mendengar kata yang keluar dari mulut
Alina tersenyum, membenarkan semua yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Alina yang melihat
Dokter Nisa tersenyum, bingun melihatnya, karna menurut Alina tidak ada yam perlu
di senyumkan, karna Alina tidak mengatakan apapun.
Namun Alina kembali mengingat tujuannya datang ke ruangan
Dokter Nisa yang ingin menanyakan soal pemilik rumah sakit ini yang beberapa
hari ini tidak menunjukkan batang hidungnya.
“Dokter. Aku ingin bertanya.” Alina menatap wajah Dokter
Nisa ketika mengatakan itu.
__ADS_1
“Tanya Apa Dokter?” Dokter Nisa membalas melihat ke arah Alina
yang kini tengah menatapnya.
“Apa, Dokter tau! Dimana Arga? maksud aku pemilik rumah
sakit ini, siapa tau Dokter mengetahuinya, karna sudah beberapa hari aku tidak
melihatnya. Apa dia pulang ke kampun halamannya? Atau kemana gitu?”Alina
tersenyum tipis ketika mengatakanitu.
“Kenapa mencarinya? Apa kamu merindukannya.” Nisa tersenyum
melihat ke arah wajah Alina yang kini tengah bersemu merah.
“Ah, Dokter apaan sih.” Alina tersenyum malu ketika
mengatakan itu “Tidak, Dok, aku tidak merindukannya. Aaa, aku hanya heran saja
karna setiap hari aku bertemu dengannya dan ini sudah tiga hari aku tidak
menemukannya.” Alina terlihat gugup ketika menjawab pertanyaan dari Dokter
Nisa.
Mendengar Alina berkata gugup seperti itu, Dokter Nisa
menatap Alina dengan begitu seriusnya, lalu berkata.
“Apa kamu mau menemui pemilik rumah sakit ini?” berkata
tampa tersenyum.
“Iya Dokter. Aku ingin menemuinya.” Alina nampak heran
melihat tatapan Dokter Nisa.
“Kalau begitu gunakan hatimu untuk mencarinya. Kamu pasti
akan menemukannya.”
“Apa maksud Dokter? Menggunakan hati! Apa hubungannya?
dengan hati dan menemukan Arga.” Alina begitu sangat bingun mendengar kata yang
keluar dari dalam mulut Dokter Nisa.
“Coba saja, kamu pasti akan menemukannya, dimana pun dirinya
berada saat ini.” Dokter Nisa kembali tersenyum ketika selesai mengatakan itu.
Dengan perasaan bingun Alina keluar dari dalam ruangan Dokter
Nisa, dan mulai mengikuti apa yang dikatakan Dokter Nisa. Alina memejamkan
matanya, sambil memegan dadanya.
Alina membuka matanya, dan matanya tertuju ke pintu ruangan
yang tidak jauh dari ruangan Dokter Nisa. Ruangan yang di lewatinya tadi yang
menbuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Dengan langkah pelan Alina berjalan ke arah pintu ruangan
tersebut, setelah sampai di depan pintu ruangan tersebut, jantung Alina kembali
berdetak tidak karuan, namun masih ragu untuk membuka pintu. Setelah mengingat
kata yang keluar dari mulut Dokter Nisa yang mengatakan kalau ingin bertemu
dengan Arga harus menggunakan hati dan itu pasti akan membuatnya menemukan
keberadaan Arga saa ini.
__ADS_1