Ikatan Hati

Ikatan Hati
Eps. 49


__ADS_3

Doter Anisa yang mendengar, ucapan pemuda yang ada di hadapannya


begitu sangat terkejut. Namun tidak beraksi, Karna Dokter Nisa terlihat begitku


santai-santai saja, ketika mendengar kata yang diucapkan Arga.


“Sebaiknya anda banyak istirahat dulu ya pak. Kontrol jantung


anda agar tidak terlalu  berdetak  seperti tadi yang membuat anda susah bernapas.”


Setelah mengatakan itu Dokter Nisa keluar dari kamar yang di tempagi Arga di


rawat.


Dengan langkah pelan Dokter Nisa berjalan ke arah ruangannya


yang tidak terlalu jauh dari ruangan rawat Arga. Nisa mulai memikirkan semua


ynag telah terjadi dengan Arga sore ini.


“Apa, Arga begitu sangat sakit ketika Alina menolak


ajakannya? Dan itu membuat jantungnya terasa sakit seperti itu? Dan bahkan


harus menjalani perawatan seperti ini. Aku takut jika ini terus berlanjut,


jantung yang ada dalam tubuh Arga bisa-bisa tidak akan bekerja dengan baik.”Anisa


menarik napasnya ketika selesai mengatakan itu.


Sementara Alina yang melajukan mobilnya pulang ke rumah


orang tuanya merasa begitu tidak nyaman, jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan,


dan perasaanya tiba-tiba merasa begitu sangat gelisah.


“Apa yang terjadi denganku?” Memegan dada “Kenapa perasaanku


menjadi seperti ini? Apa yang aku lakukan ini benar apa salah? Menolak ajakan


Arga adalah hal paling baik menurutku, namun kenapa hatiku begitu sangat gelisa


seperti ini?” Alina merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.


Dengan perasaan gelisa Alina berjalan masuk ke dalam


kamarnya, dan untuk menghilangkan semua rasa gelisahnya Alina memilih untuk berendam


sejanak di dalam bak mandi yang ada di dalam kamarnya. Namun tampa Alina


sadari, mungkin karna merasa begitu sangat kelelahan hingga akhirnya Alina


tertidur di dalam bak mandinya.


Di dalam tidurnya Alina kembali berminpi bertemu dengan


Devano, Devano tersenyum hangat melihat ke arahnya yang kini tengah melakukan


pemeriksaan.


“Alina. Aku mencintaimu.” Devano tersenyum sambil berjalan


ke arah Alina, lalu melingkarkan tangannya di perut Alina.


“Aku juga mencintaimu Devan, sangat mencintaimu.” Alina


berbalik melihat ke arah wajah Deveno yang kini tengah memeluknya dari


belakang, namun bukan wajah Devano yang tengah ia lihat melainkan wajah Arga


yang kini tersenyum hangat melihat ke arahnya.


“Ahhh.” Alina terbangun dari tidurnya karna melihat wajah


Arga di dalam mimpinya yang telah memeluknya dari belakan. “Ah, apa yang

__ADS_1


terjadi denganku? Kenapa aku sampai memimpikannya, wajah yang aku lihat sebelumnya


adalah wajah Devano, namun kenapa berubah menjadi wajah Arga? Oh,Tuhan apa yang


telah terjadi denganku? Kenapa aku sampai memimpikannya?” Alina menutup


wajahnya dengan kedua tangannya ketika selesai mengatakan itu.


Tiga hari telah berlalu, semenjak hari dimana Alina menolak


ajaka Arka. Alina tidak pernah menemukan Arka lagi di rumah sakit. Dan itu


membuat Alina merasa begitu sangat kehilangan, kehilangan sosok yang selalu


membuatnya tersenyum dan juga selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


Alina juga tidak mengetahui, kalau saat ini Arga telah


melakukan perawatan di rumah sakitnya. Dokter Nisa sengaja tidak memberitahukan


Alina karna tidak mau membuat keduanya khwatir.


Dokter Nisa tau jika sampai Alina tau soal keadaan Arga saat


ini, pasti Alina akan merasa begitu sangat bersalah dan itu pasti membuat


jantung Arga kembali berdetak tidak normal. Karna mereka berdua memiliki ikatan


hati yang sama. Namun untuk saat ini Alina belum menyadari perasaannya yang


sebenarnya.


Dengan langkah pelan Alina berjalan menuju arah ruangan


Dokter Nisa, namun ketika melewati pintu ruangan yang di tempati Arga di rawar


tiba-tiba saja jantung Alina kenbali berdetak tidak karuan sama yang di rasakannya


ketika Arga bersamanya.


berdetak tidak karuan, bejalan masuk ke dalam ruangan Dokter Nisa.


Dokter Nisa yang melihat Alina mengelus dada, bertanya.


“Anda kenapa Dokter? Kenapa dengan dada Anda.” Dokter Nisa


tersenyum melihat ke arah Alina yang kini tengah berjalan mendekat ke arahnya.


“Aku juga tidak tau?” Alina duduk di kursi yang ada di depan


Dokter Anisa “Kenapa jantungku berdetak seperti ini, setelah melewati kamar ViV


itu.” Alina menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan setelah selesai


mengatakan itu.


Dokter Anisa yang mendengar kata yang keluar dari mulut


Alina tersenyum, membenarkan semua yang ada di dalam pikirannya saat ini.


 Alina yang melihat


Dokter Nisa tersenyum, bingun melihatnya, karna menurut Alina tidak ada yam perlu


di senyumkan, karna Alina tidak mengatakan apapun.


Namun Alina kembali mengingat tujuannya datang ke ruangan


Dokter Nisa yang ingin menanyakan soal pemilik rumah sakit ini yang beberapa


hari ini tidak menunjukkan batang hidungnya.


“Dokter. Aku ingin bertanya.” Alina menatap wajah Dokter


Nisa ketika mengatakan itu.

__ADS_1


“Tanya Apa Dokter?” Dokter Nisa membalas melihat ke arah Alina


yang kini tengah menatapnya.


“Apa, Dokter tau! Dimana Arga? maksud aku pemilik rumah


sakit ini, siapa tau Dokter mengetahuinya, karna sudah beberapa hari aku tidak


melihatnya. Apa dia pulang ke kampun halamannya? Atau kemana gitu?”Alina


tersenyum tipis ketika mengatakanitu.


“Kenapa mencarinya? Apa kamu merindukannya.” Nisa tersenyum


melihat ke arah wajah Alina yang kini tengah bersemu merah.


“Ah, Dokter apaan sih.” Alina tersenyum malu ketika


mengatakan itu “Tidak, Dok, aku tidak merindukannya. Aaa, aku hanya heran saja


karna setiap hari aku bertemu dengannya dan ini sudah tiga hari aku tidak


menemukannya.” Alina terlihat gugup ketika menjawab pertanyaan dari Dokter


Nisa.


Mendengar Alina berkata gugup seperti itu, Dokter Nisa


menatap Alina dengan begitu seriusnya, lalu berkata.


“Apa kamu mau menemui pemilik rumah sakit ini?” berkata


tampa tersenyum.


“Iya Dokter. Aku ingin menemuinya.” Alina nampak heran


melihat tatapan Dokter Nisa.


“Kalau begitu gunakan hatimu untuk mencarinya. Kamu pasti


akan menemukannya.”


“Apa maksud Dokter? Menggunakan hati! Apa hubungannya?


dengan hati dan menemukan Arga.” Alina begitu sangat bingun mendengar kata yang


keluar dari dalam mulut Dokter Nisa.


“Coba saja, kamu pasti akan menemukannya, dimana pun dirinya


berada saat ini.” Dokter Nisa kembali tersenyum ketika selesai mengatakan itu.


Dengan perasaan bingun Alina keluar dari dalam ruangan Dokter


Nisa, dan mulai mengikuti apa yang dikatakan Dokter Nisa. Alina memejamkan


matanya, sambil memegan dadanya.


Alina membuka matanya, dan matanya tertuju ke pintu ruangan


yang tidak jauh dari ruangan Dokter Nisa. Ruangan yang di lewatinya tadi yang


menbuat jantungnya berdetak tidak karuan.


Dengan langkah pelan Alina berjalan ke arah pintu ruangan


tersebut, setelah sampai di depan pintu ruangan tersebut, jantung Alina kembali


berdetak tidak karuan, namun masih ragu untuk membuka pintu. Setelah mengingat


kata yang keluar dari mulut Dokter Nisa yang mengatakan kalau ingin bertemu


dengan Arga harus menggunakan hati dan itu pasti akan membuatnya menemukan


keberadaan Arga saa ini.

__ADS_1


__ADS_2