
Arga kembali terkejut ketika mendengar kata yang keluar dari
dalam mulut Alina, tampa bertanya lagi, Arga mulai memesan makanan dan makan
siang bersama Alina di kantin rumah sakit. Makan siang pertama bersama dengan
Alina di kota tempat tinggalnya itu adalah hal yang paling luar biasa bagi
Arga.
Begitu banyak kejutan yang Arga dapat setelah berada di kota
Pare-pare, bertemu dengan Alina itu adalah sesuatu yang membuat Arga merasa
begitu sangat senang jantung hatinya yang selalu merasa gelisa kini merasa
senang.
Setelah jam kerja Alina selesai, Alina segera bergeges untuk
pulang, karna sudah semalam dia menginap di rumah sakit. Alina mulai merapikan
semua pakaian dan juga barang-barangnya untuk Ia bawa pulang ke rumahnya.
Sementara Arga yang tau kalau jam pulang Alina telah selsai,
segera keluar dari dalam ruangan dan berlari untuk segera pergi menuju ruangan
Alina, karna Arga memiliki rencana akan mengjak Alina jalan-jalan.
Namun sebelum Arga sampai di depan pintu ruangan kerja
Alina, dia mendapat panggilan telpon dari ayahnya Wirawan, mendengar hapenya
berbunyi di dalam saku jasnya, dengan segera Arga mengelurkan hapenya, lalu
melihat nama pemanggil
Papa calling...
Melihat nama yang tertera di dalam layar telponnya dengan
segera Arga mengankat telpon tersebut, lalu mengjawabnya.
“Iya, Pa. Ada apa?” tanya Arga dari balik telpon.
“Kapan kamu kembali Nak? Ini sudah sangat lama kamu
melakukan perjalanan bisnis ini. Seharusnya dua minggu yang lalu, semua
pekerjaan kamu sudah selesai. Ini sudah lebih dari sebulan kamu melakukannya.”
Benar kata Wirawan seharusnya semua pekerjaan Arga sudah
selesai dua minggu yang lalu, namun waktunya ia pakai untuk bersantai dan juga mencari keberadaan Alina sewaktu
masih berada di jakarta.
“Ah, Papa, anak Papa ini masih muda. Masih butuh waktu untu ksedikit
bersantaipan , jadi Papa ngka perlu mengkwatirkan aku. Oya Pa, sekarang aku
berada di Sulawesi, di kota Pare-pare. Dan sepertinya aku akan tinggal di sini
Pa. Aku sangat menyukai kota ini.” Arga menjelaskan dengan apa yang tengah di
rasakannya.
Mendengar ucapan putranya, Wirawan hanya tersenyu sambil
berkata. “Hem, jangan bilang kalau kamu sudah kepentok Janda di Sulawesi, karna
di sana sangat banyak Janda Muda yang cantik.” Wirawan sedikit bercanda dengan
putranya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Papanya Arga tertawa melebar, lupa kalau
saat ini dirinya tengah berada di rumah sakit, karna mendengar ucapan Papanya
terdengar begitu sangat lucu di telinganya.
Hahaha.
Arga tertawa melebar. Menyadari dirinya di perhatikan oleh
semua orang yang lewat di sampingnya, dengan segera Arga memelankan suaranya.
“Papa, ada-ada saja kalau bicara sukanya berbicara benar.”
Arga kembali terkekeh setelah mengatakan itu.
“Jadi benar ni? Kamu telah kepentok oleh Janda di sulawesi? Hem”
“Engak lah Pa, aku memnemukan sesuatu yang berharga di sini.
Doain aku yan Pa semoga aku berhasil mendapatkannya, dan pilihanku yang ini tak
akan membuat Papa dan Mama kecewa.” Arga berterus terang dengan apa yang di
inginkannya.
“Papa dan Mama akan selau berdoa yang terbaik untukmu Nak,
karna kamu adalah peutra kebanggaan dan kesayangn kami. Kalau boleh Papa tau
siapa nama yang telah membuat anak Papa seperti ini?”
“Ih, Papa kevo ni. Pengen tau, siapa calon menantunya. Nanti
aku akan mengirim potonya buat Papa. Ok. Sekarang suda dulu ya Pa. Namti orangnya
keburu pulang karna jam kerjanya sudah selesai dari setengah jam tadi.”
“Oke. Sukses ya Ga. Semoga cepat mendapatkan cinta gadis
Setelah sambungan telponnya terputus dari Papanya. Arga kembali
berjalan menuju ruangan kerja Alina, tampa mengetuk pintu Arga membuka pintu
ruangan Alina.
“Alina.” Arga memanggil sambil membuka pintu.
“Iya.” Dokter Anisa menjawab panggilan Arga kerna terkejut
pintu ruangan Alina tiba-tiba terbuka “Maaf, Dokter Alina sudah keluar lima
menit yang lalu.”dokter Anisa memberitahukan sambil memperhatikan wajah pemuda
yang kini tengah mencari keberadaan Alina.
Mendengar ucapan Dokter yang mengatakan kalau Alina sudah
keluar lima menit yang lalu, tampa permisi Arga ansung berlari keluar menuju
Arah parkiran, namun belum sempat dirinya sampai mobil Alina sudah keburu
keluar dari area parkiran rumah sakit.
“Ah,bodohnya kamu Ga.” Mengacak rambut “Kenapa kamu tak
meminta nomor Hape Alina.” Setelah mengatakan itu Arga berjalan ke arah
mobilnya, lalu melajukannya menuju rumahnya
Dokter Anisa yang melihat wajah pemuda yang tengah mencari
Alina merasa begitu sangat terkejut, tak menyangka karna pemuda yang dua tahun
lalu yang di oprasinya kini telah mencari Alina, pemuda yang mendapatkan donor
__ADS_1
jantung dari Devano calon suami Alina.
“Apakah ini Takdir Alina?” Dokter Nisa duduk di kursi keja
Alina “Semoga jantung dalam diri pemuda itu berdetak untuk Alina, karna Devano
sangat mencintai Alina.” Itulah yang Dokter Anisa katakan.
Karna Dokter Anisa ingin melihat Alina bahagia, bersama
dengan orang yang di cintainy, karna sejak kematian Devano Alina telah menutup
hati untuk pemuda lain, bahkan Alina pernah berkata kalau dia tak akan pernah
mendapatkan pemuda seperti Devano yang begitu sangat mencintainya, dan
menyanginya.
Setelah sampai di rumahnya dengan rasa bahagia, Arga keluar
dari dalam mobilnya, lalu berlari masuk ke dalam rumahnya dan mencari
keberadaan Aldo.
“Aldo. Kamu dimana?” Arga memanggil.
Aldo yang memanggil teriakan sahabatnya berlari keluar dari
dalam kamarnya, karna begitu sangat khwatir terjadi sesuatu yang buruk dengan
sahabatnya itu.
“Iya, ada apa Ga? Kamu kenapa?” Aldo berjalan mendekat ke
arah Arga yang kini berlari ke arahnya.
Tampa menjawab pertayaan Aldo mungkin karna begitu sangat
bahagia bertemu dengan Alina, Arga lansung memeluk dan mencium wajah Aldo dan
itu membuat Aldo begitu sangat terkejut.
“Kamu kenapa?” berusah melepas pelukan Arga “Kamu kesambet
Apa?” Aldo menatap wajah Arga yang terlihat begitu sangat bahagia “Ga, kamu
kanapa?” Aldo kembali bertanya karna begitu sangat penasaran dengan apa yang
tengah membuat Arga terlihat sangat bahagia.
“Apa kamu tau Do? Gadis yang aku cari selama dua minggu ini
ternyata berada di sini di kota ini. Bahkan kota ini adalah kota kelahirannya.”
Arga kembali ingin memeluk Aldo namun tangan Aldo menahan tubuhnya.
“Maksud kamu apa? Kalau berbicara yang jelas dong.” Arga
nampak sedikit kesal karna dari tadi Arga hanya ingin memeluknya saja.
“Aku bertemu Alina Do.” Arga tersenyum senang ketika
menyebut nama Alina.
“Alina, Alina Pelayan Cafe itu?” Aldo mencoba mengingat.
“Iya, Alina, aku bertemu dengannya di rumah sakit.”
“Benarkah? Ngapain Alina di rumah sakit? Apa dia sakit?”
Aldo melihat ke arah Arga menanti jawaban.
“Tidak! Alina tidak sakit.”
“Trus, ngapain Alina di rumah sakit?” Aldo nampak bingun
__ADS_1
melihat ke arah wajah Arga yang tak berhenti tersenyum di hadapannya.