Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.46


__ADS_3

Arga kembali terkejut ketika mendengar kata yang keluar dari


dalam mulut Alina, tampa bertanya lagi, Arga mulai memesan makanan dan makan


siang bersama Alina di kantin rumah sakit. Makan siang pertama bersama dengan


Alina di kota tempat tinggalnya itu adalah hal yang paling luar biasa bagi


Arga.


Begitu banyak kejutan yang Arga dapat setelah berada di kota


Pare-pare, bertemu dengan Alina itu adalah sesuatu yang membuat Arga merasa


begitu sangat senang jantung hatinya yang selalu merasa gelisa kini merasa


senang.


Setelah jam kerja Alina selesai, Alina segera bergeges untuk


pulang, karna sudah semalam dia menginap di rumah sakit. Alina mulai merapikan


semua pakaian dan juga barang-barangnya untuk Ia bawa pulang ke rumahnya.


Sementara Arga yang tau kalau jam pulang Alina telah selsai,


segera keluar dari dalam ruangan dan berlari untuk segera pergi menuju ruangan


Alina, karna Arga memiliki rencana akan mengjak Alina jalan-jalan.


Namun sebelum Arga sampai di depan pintu ruangan kerja


Alina, dia mendapat panggilan telpon dari ayahnya Wirawan, mendengar hapenya


berbunyi di dalam saku jasnya, dengan segera Arga mengelurkan hapenya, lalu


melihat nama pemanggil


Papa calling...


Melihat nama yang tertera di dalam layar telponnya dengan


segera Arga mengankat telpon tersebut, lalu mengjawabnya.


“Iya, Pa. Ada apa?” tanya Arga dari balik telpon.


“Kapan kamu kembali Nak? Ini sudah sangat lama kamu


melakukan perjalanan bisnis ini. Seharusnya dua minggu yang lalu, semua


pekerjaan kamu sudah selesai. Ini sudah lebih dari sebulan kamu melakukannya.”


Benar kata Wirawan seharusnya semua pekerjaan Arga sudah


selesai dua minggu yang lalu, namun waktunya ia pakai untuk bersantai  dan juga mencari keberadaan Alina sewaktu


masih berada di jakarta.


“Ah, Papa, anak Papa ini masih muda. Masih butuh waktu untu ksedikit


bersantaipan , jadi Papa ngka perlu mengkwatirkan aku. Oya Pa, sekarang aku


berada di Sulawesi, di kota Pare-pare. Dan sepertinya aku akan tinggal di sini


Pa. Aku sangat menyukai kota ini.” Arga menjelaskan dengan apa yang tengah di


rasakannya.


Mendengar ucapan putranya, Wirawan hanya tersenyu sambil


berkata. “Hem, jangan bilang kalau kamu sudah kepentok Janda di Sulawesi, karna


di sana sangat banyak Janda Muda yang cantik.” Wirawan sedikit bercanda dengan


putranya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Papanya Arga tertawa melebar, lupa kalau


saat ini dirinya tengah berada di rumah sakit, karna mendengar ucapan Papanya


terdengar begitu sangat lucu di telinganya.


Hahaha.


Arga tertawa melebar. Menyadari dirinya di perhatikan oleh


semua orang yang lewat di sampingnya, dengan segera Arga memelankan suaranya.


“Papa, ada-ada saja kalau bicara sukanya berbicara benar.”


Arga kembali terkekeh setelah mengatakan itu.


“Jadi benar ni? Kamu telah kepentok oleh Janda di sulawesi? Hem”


“Engak lah Pa, aku memnemukan sesuatu yang berharga di sini.


Doain aku yan Pa semoga aku berhasil mendapatkannya, dan pilihanku yang ini tak


akan membuat Papa dan Mama kecewa.” Arga berterus terang dengan apa yang di


inginkannya.


“Papa dan Mama akan selau berdoa yang terbaik untukmu Nak,


karna kamu adalah peutra kebanggaan dan kesayangn kami. Kalau boleh Papa tau


siapa nama yang telah membuat anak Papa seperti ini?”


“Ih, Papa kevo ni. Pengen tau, siapa calon menantunya. Nanti


aku akan mengirim potonya buat Papa. Ok. Sekarang suda dulu ya Pa. Namti orangnya


keburu pulang karna jam kerjanya sudah selesai dari setengah jam tadi.”


“Oke. Sukses ya Ga. Semoga cepat mendapatkan cinta gadis


Setelah sambungan telponnya terputus dari Papanya. Arga kembali


berjalan menuju ruangan kerja Alina, tampa mengetuk pintu Arga membuka pintu


ruangan Alina.


“Alina.” Arga memanggil sambil membuka pintu.


“Iya.” Dokter Anisa menjawab panggilan Arga kerna terkejut


pintu ruangan Alina tiba-tiba terbuka “Maaf, Dokter Alina sudah keluar lima


menit yang lalu.”dokter Anisa memberitahukan sambil memperhatikan wajah pemuda


yang kini tengah mencari keberadaan Alina.


Mendengar ucapan Dokter yang mengatakan kalau Alina sudah


keluar lima menit yang lalu, tampa permisi Arga ansung berlari keluar menuju


Arah parkiran, namun belum sempat dirinya sampai mobil Alina sudah keburu


keluar dari area parkiran rumah sakit.


“Ah,bodohnya kamu Ga.” Mengacak rambut “Kenapa kamu tak


meminta nomor Hape Alina.” Setelah mengatakan itu Arga berjalan ke arah


mobilnya, lalu melajukannya menuju rumahnya


Dokter Anisa yang melihat wajah pemuda yang tengah mencari


Alina merasa begitu sangat terkejut, tak menyangka karna pemuda yang dua tahun


lalu yang di oprasinya kini telah mencari Alina, pemuda yang mendapatkan donor

__ADS_1


jantung dari Devano calon suami Alina.


“Apakah ini Takdir Alina?” Dokter Nisa duduk di kursi keja


Alina “Semoga jantung dalam diri pemuda itu berdetak untuk Alina, karna Devano


sangat mencintai Alina.” Itulah yang Dokter Anisa katakan.


Karna Dokter Anisa ingin melihat Alina bahagia, bersama


dengan orang yang di cintainy, karna sejak kematian Devano Alina telah menutup


hati untuk pemuda lain, bahkan Alina pernah berkata kalau dia tak akan pernah


mendapatkan pemuda seperti Devano yang begitu sangat mencintainya, dan


menyanginya.


Setelah sampai di rumahnya dengan rasa bahagia, Arga keluar


dari dalam mobilnya, lalu berlari masuk ke dalam rumahnya dan mencari


keberadaan Aldo.


“Aldo. Kamu dimana?” Arga memanggil.


Aldo yang memanggil teriakan sahabatnya berlari keluar dari


dalam kamarnya, karna begitu sangat khwatir terjadi sesuatu yang buruk dengan


sahabatnya itu.


“Iya, ada apa Ga? Kamu kenapa?” Aldo berjalan mendekat ke


arah Arga yang kini berlari ke arahnya.


Tampa menjawab pertayaan Aldo mungkin karna begitu sangat


bahagia bertemu dengan Alina, Arga lansung memeluk dan mencium wajah Aldo dan


itu membuat Aldo begitu sangat terkejut.


“Kamu kenapa?” berusah melepas pelukan Arga “Kamu kesambet


Apa?” Aldo menatap wajah Arga yang terlihat begitu sangat bahagia “Ga, kamu


kanapa?” Aldo kembali bertanya karna begitu sangat penasaran dengan apa yang


tengah membuat Arga terlihat sangat bahagia.


“Apa kamu tau Do? Gadis yang aku cari selama dua minggu ini


ternyata berada di sini di kota ini. Bahkan kota ini adalah kota kelahirannya.”


Arga kembali ingin memeluk Aldo namun tangan Aldo menahan tubuhnya.


“Maksud kamu apa? Kalau berbicara yang jelas dong.” Arga


nampak sedikit kesal karna dari tadi Arga hanya ingin memeluknya saja.


“Aku bertemu Alina Do.” Arga tersenyum senang ketika


menyebut nama Alina.


“Alina, Alina Pelayan Cafe itu?” Aldo mencoba mengingat.


“Iya, Alina, aku bertemu dengannya di rumah sakit.”


“Benarkah? Ngapain Alina di rumah sakit? Apa dia sakit?”


Aldo melihat ke arah Arga menanti jawaban.


“Tidak! Alina tidak sakit.”


“Trus, ngapain Alina di rumah sakit?” Aldo nampak bingun

__ADS_1


melihat ke arah wajah Arga yang tak berhenti tersenyum di hadapannya.


__ADS_2