
Alina turun dari Taxi, lalu mulai melihat sekeliling rumah
yang ada di hadapannya. Pelan-pelan Alina melangkah masuk ke dalam pekarangan
rumah Aran, lalu berjalan ke arah pintu.
Toktoktok.
Alina mengetuk pintu rumah Aran, sambil berkata. “Semoga ini
rumah Aran. Karna kalau bukan? Berarti aku harus mencari rumahnya.”
Merasa tidak dapat jawaban, dari pemilik rumah. Alina kembali
mengetuk pintu sambil berkata. “Assalamualaikum. Ada orang?” teriak pelan
Alina.
Mendengar suara ketukan dan juga suara seseorang memberi
salam. Aran yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, berjalan ke arah
pintu, sambil berkata. “Waalaikimsalam.” Aran membuka pintu. Tampa melihat
wajah tamu yang datang ke rumahnya, Aran pun berkata “Maaf anda mencari siapa?”
lalu melihat ke arah wajah Alina yang kini tengah tersenyum senang melihat ke
arahnya.
Melihat wajah seseorang yang sangat familiar baginya, kini
tengah tersenyum senang melihat ke arahnya, Aran pun berkata. “Alina!” dengan
nada suara sedikit tinggi “Alina ini
benar kamu?” tampa berkata lagi Aran lansun berhambur memeluk erat Alina. Dan Alina
pun membalas pelukn erat sahabatnya.
Seteiah merasa cukup berpelukan, Aran mempersilahkan Alina
masuk ke dalam rumahnya. Dengan senyuman hangat melihat ke arah Alina. Aran pun
berkata. “Maaf ya, Alin rumahku cuman seperti ini kecil dan juga sangat
berantakan.” Duduk di sampin Alina dengan secangkir teh.
Mendengar ucapan Aran yang merendahkan dirinya, dengan
segera Alina berkata. “Rumahmu dan juga rumahku tidaklah jauh berbeda.”
Setelah mengatakan itu Alina melihat sekelilin rumah Aran,
mencari-cari dimana keberadaan Ibu Aran. Setelah cukup lama Alina melihat
sekeliling dan menanti kedatangan Ibu Aran keluar menemuinya, yang tak kunjung
datang. Alina pun berkata. “Aran Ibu mana?” menatap wajah Aran “Aku dengar Ibu
sakit ya?” tanya Alina pelan Itulah Alina selama berteman dengan Aran, Alina
mengangap ibu Aran sebagai ibunya juga.
Mendengar pertanyaan Alina, Aran menudukkan wajahnya, lalu
berkata. “Ibu sakit Alin. Dan sekarang ibu di rawat di rumah sakit.” Dengan wajah
sedih Aran mengatakan itu.
Mendengar ucapan Aran, dengan segera Alin berkata. “Ibu
__ADS_1
sakit apa?” menatap wajah sedih Aran.
“Kata dokter ibu terkena penyakit usus buntu dan harus
segera di oprasi. Namun aku bingun Alin, untuk mendapatkan biaya untuk oprasi
ibu. Aku tidak tau harus mendapatkannya dari mana?” memegan wajahnya ketika
mengatakan itu.
Mendengar ucapan Aran, Alina tersenyum melihat wajah Aran
yang terlihat khawatir dengan kondisi ibunya. Aliana pun berkata. “Aran, kamu
tak perlu khawatir.” Tersenyum hangat “Ibu pasti akan sembuh dan baik-baik
saja. Dan untuk sekarang ayo kita ke rumah sakit, untuk menemui Ibu.” Beranjak dari
duduknya kemudian duduk di sampin Aran.
Mendengar ucapan Alina, Aran pun berkata. “Baiklah, ayo kita
ke rumah sakit. Tapi tunggu ya, aku ambil pakaian ganti untuk Ibu.” Aran beranjak
dri duduknya, lalu masuk ke dalam kamar, kemudian keluar dengan membawa tas
kecil yang berisi pakaian ibunya. Setelah itu mereka berdua pergi ke rumah
sakit dimana ibu Aran tengah di rawat.
Setelah sampai di dalam rumah sakit. Aran berjalan ke arah
kamar di mana ibunya tengah di rawat, diikuti oleh Alina di belakannya. Aran
membuka pintu kamar dimana ibunya tengah di rawat, lalu masuk. Aran meletakkan
tas kecil yang dia bawa dari rumahnya di dalam lemari yang telah di siapkan
Sementara Alina berdiri di sampin ibu Aran yang kini tengah
terbaring di atas berangka ruamah sakit sambil menutup kedua matanya. Aran pun
memegan tangan ibunya lalu berkata. “Ibu, Ibu, coba lihat deh, siapa yang
tengah berdiri di sampin ibu?” tersenyum hangat melihat wajah pucat ibunya.
Mendengar ucapan putrinya Hera ibu Aran membuka matanya
secara pelan-pelan melihat ke arah wajah putrinya, lalu melihat ke arah wajah
gadis yang kini tengah brdiri sampin kirinya, karna Aran berada di sampin kanan
ibunya.
Hera melihat dengan seksama wajah yang tengah berdiri di
sampinnya,lalu berkata “Alina, apa itu kamu Nak?” dengan nada suara serak.
Mendengar ucapan Hera ibu Aran. Alina tersenyum hangat, lalu
berkata. “Iya, Bu, ini aku Alina.” Tersenyum hangat melihat ke arah wajah Hera “Oya,
bagaimana keadaan Ibu? Apa ibu merasa baikan?” menatap wajah Hera.
Mendengar pertanyaan Alina, Hera hanya tersenyum tak
menjawab. melihat kediaman Ibu Aran, Alina tau Hera merasakan sakit. Sebagai seorang
Dokter ahli bedah Alina tau semua tentang penyakit-penyakit dalam yang tengah
di derita oleh para pasien.
__ADS_1
Dengan senyuman hangat. Alina berkata pada ibu Aran. “Maaf
Bu, boleh aku memeriksa keadaan Ibu? Aku ingin tau Ibu sering merasa sakit di
bagian mana?”
Setelah meminta izin, dan mendapata izin dari ibu Aran. Alina
mulai memeriksa bagian perut Ibu Aran. Setelah selesai memeriksa Alina menarik
napasnya, lalu membuangnya secara perlahan melihat ke arah wajah Aran.
Alina pun berkata pada Aran. “Aran bisa ikut aku keluar
sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu” Alina berjalan keluar
dari ruangan perawatan Hera setelah mengatakan itu pada Aran.
Aran yang mendengar ucapan Alina, ikut berjalan di
belakannya,namun sebelum Aran keluar, Aran pamit pada ibunya. “Ibu aku keluar
sebentar ya.” Menatap wajah ibunya dengan senyuman hangat yang selalu ia
perlihatkan di mata ibunya, karna Aran tak mau ibunya tambah terbebani dengan
melihat wajah sedihnya, dan untuk itu Aran tetap selalu berusaha untuk tetap
tersenyum di hadapan ibunya.
Setelah sampai di luar kamar. Dengan segera Alina berkata. “Apa
kamu melihat ruangan Dokter yang selalu menangani kondisi ibu? Kalau kamu
melihatnya, sekarang antar aku ke sana.”
Mendengar ucapan serius Alina, dengan segera Aran berkata. “Ada
apa Alin? Apa ada sesuatu yang serius dengan kondisi ibuku?” menatap wajah
Alina dan menanti jawaban atas pertanyaannya.
“Iya, Ibu harus segera menjalani oprasi, karna usus ibu
sudah mulai membusuk, kalau kita tak melakukan oprasi, maka keselamatan nyawa
ibu menjadi taruhannya.”
Aran yang mendengar ucapan Alina begitu sangat syok dan juga
terkejut, tak menyangka ibunya akan menderita penyakit seperti itu. Dan tampa
Aran sadari sepasang bola kristal keluar di pelupuk matanya dan mulai membasahi
wajah cantiknya.
Melihat kesedihan Aran, Alina memeluk tubuh Aran sambil
berkata. “Tenan Aran! Semuanya pasti akan baik-baik saja.” menepuk pelan bahu Aran.
“Iya, Alin semoga keadaan ibu baik-baik saja.” Terisak dalam
pelukan Alina. “Cuman aku bingun? darimana aku harus mendapatkan uang untuk
membayar biaya oprasi ibu. Aku sangat bingun Alin.”
Mendengar ucapan Aran, Alina pun barkata. “Kamu tenang saja”
melepas pelukan “Ada aku bersamamu, kamu percayakan padaku? Aku tak akan
membiarkan ibu kenapa-napa.”...
__ADS_1