Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 39


__ADS_3

Alina turun dari Taxi, lalu mulai melihat sekeliling rumah


yang ada di hadapannya. Pelan-pelan Alina melangkah masuk ke dalam pekarangan


rumah Aran, lalu berjalan ke arah pintu.


Toktoktok.


Alina mengetuk pintu rumah Aran, sambil berkata. “Semoga ini


rumah Aran. Karna kalau bukan? Berarti aku harus mencari rumahnya.”


Merasa tidak dapat jawaban, dari pemilik rumah. Alina kembali


mengetuk pintu sambil berkata. “Assalamualaikum. Ada orang?” teriak pelan


Alina.


Mendengar suara ketukan dan juga suara seseorang memberi


salam. Aran yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, berjalan ke arah


pintu, sambil berkata. “Waalaikimsalam.” Aran membuka pintu. Tampa melihat


wajah tamu yang datang ke rumahnya, Aran pun berkata “Maaf anda mencari siapa?”


lalu melihat ke arah wajah Alina yang kini tengah tersenyum senang melihat ke


arahnya.


Melihat wajah seseorang yang sangat familiar baginya, kini


tengah tersenyum senang melihat ke arahnya, Aran pun berkata. “Alina!” dengan


nada suara sedikit tinggi  “Alina ini


benar kamu?” tampa berkata lagi Aran lansun berhambur memeluk erat Alina. Dan Alina


pun membalas pelukn erat sahabatnya.


Seteiah merasa cukup berpelukan, Aran mempersilahkan Alina


masuk ke dalam rumahnya. Dengan senyuman hangat melihat ke arah Alina. Aran pun


berkata. “Maaf ya, Alin rumahku cuman seperti ini kecil dan juga sangat


berantakan.” Duduk di sampin Alina dengan secangkir teh.


Mendengar ucapan Aran yang merendahkan dirinya, dengan


segera Alina berkata. “Rumahmu dan juga rumahku tidaklah jauh berbeda.”


Setelah mengatakan itu Alina melihat sekelilin rumah Aran,


mencari-cari dimana keberadaan Ibu Aran. Setelah cukup lama Alina melihat


sekeliling dan menanti kedatangan Ibu Aran keluar menemuinya, yang tak kunjung


datang. Alina pun berkata. “Aran Ibu mana?” menatap wajah Aran “Aku dengar Ibu


sakit ya?” tanya Alina pelan Itulah Alina selama berteman dengan Aran, Alina


mengangap ibu Aran sebagai ibunya juga.


Mendengar pertanyaan Alina, Aran menudukkan wajahnya, lalu


berkata. “Ibu sakit Alin. Dan sekarang ibu di rawat di rumah sakit.” Dengan wajah


sedih Aran mengatakan itu.


Mendengar ucapan Aran, dengan segera Alin berkata. “Ibu

__ADS_1


sakit apa?” menatap wajah sedih Aran.


“Kata dokter ibu terkena penyakit usus buntu dan harus


segera di oprasi. Namun aku bingun Alin, untuk mendapatkan biaya untuk oprasi


ibu. Aku tidak tau harus mendapatkannya dari mana?” memegan wajahnya ketika


mengatakan itu.


Mendengar ucapan Aran, Alina tersenyum melihat wajah Aran


yang terlihat khawatir dengan kondisi ibunya. Aliana pun berkata. “Aran, kamu


tak perlu khawatir.” Tersenyum hangat “Ibu pasti akan sembuh dan baik-baik


saja. Dan untuk sekarang ayo kita ke rumah sakit, untuk menemui Ibu.” Beranjak dari


duduknya kemudian duduk di sampin Aran.


Mendengar ucapan Alina, Aran pun berkata. “Baiklah, ayo kita


ke rumah sakit. Tapi tunggu ya, aku ambil pakaian ganti untuk Ibu.” Aran beranjak


dri duduknya, lalu masuk ke dalam kamar, kemudian keluar dengan membawa tas


kecil yang berisi pakaian ibunya. Setelah itu mereka berdua pergi ke rumah


sakit dimana ibu Aran tengah di rawat.


Setelah sampai di dalam rumah sakit. Aran berjalan ke arah


kamar di mana ibunya tengah di rawat, diikuti oleh Alina di belakannya. Aran


membuka pintu kamar dimana ibunya tengah di rawat, lalu masuk. Aran meletakkan


tas kecil yang dia bawa dari rumahnya di dalam lemari yang telah di siapkan


Sementara Alina berdiri di sampin ibu Aran yang kini tengah


terbaring di atas berangka ruamah sakit sambil menutup kedua matanya. Aran pun


memegan tangan ibunya lalu berkata. “Ibu, Ibu, coba lihat deh, siapa yang


tengah berdiri di sampin ibu?” tersenyum hangat melihat wajah pucat ibunya.


Mendengar ucapan putrinya Hera ibu Aran membuka matanya


secara pelan-pelan melihat ke arah wajah putrinya, lalu melihat ke arah wajah


gadis yang kini tengah brdiri sampin kirinya, karna Aran berada di sampin kanan


ibunya.


Hera melihat dengan seksama wajah yang tengah berdiri di


sampinnya,lalu berkata “Alina, apa itu kamu Nak?” dengan nada suara serak.


Mendengar ucapan Hera ibu Aran. Alina tersenyum hangat, lalu


berkata. “Iya, Bu, ini aku Alina.” Tersenyum hangat melihat ke arah wajah Hera “Oya,


bagaimana keadaan Ibu? Apa ibu merasa baikan?” menatap wajah Hera.


Mendengar pertanyaan Alina, Hera hanya tersenyum tak


menjawab. melihat kediaman Ibu Aran, Alina tau Hera merasakan sakit. Sebagai seorang


Dokter ahli bedah Alina tau semua tentang penyakit-penyakit dalam yang tengah


di derita oleh para pasien.

__ADS_1


Dengan senyuman hangat. Alina berkata pada ibu Aran. “Maaf


Bu, boleh aku memeriksa keadaan Ibu? Aku ingin tau Ibu sering merasa sakit di


bagian mana?”


Setelah meminta izin, dan mendapata izin dari ibu Aran. Alina


mulai memeriksa bagian perut Ibu Aran. Setelah selesai memeriksa Alina menarik


napasnya, lalu membuangnya secara perlahan melihat ke arah wajah Aran.


Alina pun berkata pada Aran. “Aran bisa ikut aku keluar


sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu” Alina berjalan keluar


dari ruangan perawatan Hera setelah mengatakan itu pada Aran.


Aran yang mendengar ucapan Alina, ikut berjalan di


belakannya,namun sebelum Aran keluar, Aran pamit pada ibunya. “Ibu aku keluar


sebentar ya.” Menatap wajah ibunya dengan senyuman hangat yang selalu ia


perlihatkan di mata ibunya, karna Aran tak mau ibunya tambah terbebani dengan


melihat wajah sedihnya, dan untuk itu Aran tetap selalu berusaha untuk tetap


tersenyum di hadapan ibunya.


Setelah sampai di luar kamar. Dengan segera Alina berkata. “Apa


kamu melihat ruangan Dokter yang selalu menangani kondisi ibu? Kalau kamu


melihatnya, sekarang antar aku ke sana.”


Mendengar ucapan serius Alina, dengan segera Aran berkata. “Ada


apa Alin? Apa ada sesuatu yang serius dengan kondisi ibuku?” menatap wajah


Alina dan menanti jawaban atas pertanyaannya.


“Iya, Ibu harus segera menjalani oprasi, karna usus ibu


sudah mulai membusuk, kalau kita tak melakukan oprasi, maka keselamatan nyawa


ibu menjadi taruhannya.”


Aran yang mendengar ucapan Alina begitu sangat syok dan juga


terkejut, tak menyangka ibunya akan menderita penyakit seperti itu. Dan tampa


Aran sadari sepasang bola kristal keluar di pelupuk matanya dan mulai membasahi


wajah cantiknya.


Melihat kesedihan Aran, Alina memeluk tubuh Aran sambil


berkata. “Tenan Aran! Semuanya pasti akan baik-baik saja.” menepuk pelan bahu Aran.


“Iya, Alin semoga keadaan ibu baik-baik saja.” Terisak dalam


pelukan Alina. “Cuman aku bingun? darimana aku harus mendapatkan uang untuk


membayar biaya oprasi ibu. Aku sangat bingun Alin.”


Mendengar ucapan Aran, Alina pun barkata. “Kamu tenang saja”


melepas pelukan “Ada aku bersamamu, kamu percayakan padaku? Aku tak akan


membiarkan ibu kenapa-napa.”...

__ADS_1


__ADS_2