Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.17


__ADS_3

"Apa,kalian saling mengenal sebelumnya?, kalian terlihat begitu akrab." Tanya Selli pada ke dua pemuda yang ada di hadapannya.


Mendengar pertanyaan Selli. Devan pun tersenyum lalu berkata.


"Aku tak mengenalnya, namun sekarang aku mengenalnya, benar tidak dr. Hasan?," ucap Devano sambil melihat ke arah Hasan yang duduk di sampinnya.


"Itu benar sekali."


Setelah selesai berkenalan. Mereka pun mulai makan makan siangnya sambil bercerita pengalaman sendiri. Sementara Devan mulai bertanya soal tempat tinggalnya di sulawesi.


"Oya, dr. Hasan, anda tinggal di sulawesi bagian mana?, Em, maksud saya tempat tinggal anda tepatnya?"


Mendengar pertanyaan Devano. Hasan pun melihat ke arah Devan sambil tersenyum.


"Aku tinggal di kota pare -pare. Di sana aku di lahirkan, di besarkan dan di sekolahkan. Namun ketika aku mengejar cita -cita ku ingin menjadi seorang dokter ahli bedah. Aku meninggalkan tanah kelahiranku dan Alhamdulillah, sesuai dengan impianku sekarang aku berada di sini menjalani prapesiku sebagai seorang dokter ahli bedah."


Mendengar penjelasan Hasan Devano pun berkata pelan.


"Kenapa jadi kebetulan begini," ucap Devano pelan. Namun masih terdengar jelas di telinga Hasan.


"Ada apa Devan?, apa kamu memiliki kenalan di sana?," Tanya Hasan menyelidiki.


Devan pun melihat ke arah Momsky nya dan juga Selli yang dari tadi melihatnya dengan penuh tanya? lalu menjawab pertanyaan Hasan.


"Iya, aku memiliki seseorang yang aku kenal di sana. Dia juga tinggal di kota pare -pare. Namun alamat tepatnya aku tak tau yang ku tau hanyalah rumahnya tak jauh dari tugu cinta sejati Habibie Ainun. Cuman itu yang aku tau selebihnya aku tak tau."


"Benarkah, rumahku juga tak jauh dari situ. Siapa nama kenalan kamu itu? sempat aku mengenalnya. Karna beberapa bulan. lagi aku akan pindah di kotaku menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit yang ada di kota pare -pare," tanya Hasan serius menjawab ucapan Devano. Mendengar itu Devano kembali melihat ke arah Momsky nya dan juga Selli.


"Nanti saja, aku akan memberitahukamu. Dan sekarang yang aku perlukan darimu adalah nomor telponmu."


"Baik lah," ucap Hasan, mengeluarkan dompetnya dari dalam kanton celananya, lalu mengeluarkan kartu namanya kemudian memberinya pada Devano.


"Ini, alamat rumah orang tuaku juga ada di kartu nama itu."


"Terimah kasih banyak. Nanti jika ada waktu aku akan menelponmu."


Setelah selesai berbicara Devano dan Hasan pun mulai melanjutkan makannya sementara Momsky dan Selli sudah selesai dari tadi. Setelah menghabiskan makanannya. Hasan pamit pada keluarga Selli untuk segera kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


"Momsky, Devan, aku permisi mau kembali lagi ke rumah sakit." ucap Hasan sopan.


Begitu juga dengan Selli. Dia juga pamit untuk kembali ke rumah sakit untuk kembali bekerja menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter kandungan.


"Momsky, kak, aku juga ingin kembali ke rumah sakit bersama dr. Hasan," ucap Selli pada ke duanya.


"Baik lah, kalian hati -hati," ucap Momsky sambil melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Selli dan Hasan. Devano pun mengajak Momskynya pulang ke rumah.


"Momsky, ayo kita pulang."


"Kita ke rumah sakit dulu, melihat ke adaan daddymu. Apakah dia sudah membaik."


"Tapi, Mom, pasti istri Daddy juga ada di sana?, apa Mom tak merasa risih dengan ke hadiran wanita itu?."


"Tidak sama sekali, Mom telah melupakan semuanya. biarkan dadymu memilih jalan hidupnya dengan wanita lain. aku tak keberatan dengan itu. Asal tak mengangu kehidupan putra dan putriku dan juga perusahaan keluargaku. Biarkan daddhmu melakukan semua yang dia inginkan.Momsky sudah merelakannya."


Mendengar ucapan Momskynya. Devano pun melihat ke arah wanita yang kini tak muda lagi tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


"Aku menyayangimu Mom, aku akan selalu menjagamu dan juga Selli. Kalian berdua adalah segalanya untukku."


Mendengar ucapan Momskynya.Devano mengaruk kepalanya yang tak gatal, sambil tersenyum melihat ke arah Momskynya.


Setelah selesai menjenguk Daddynya. Devano pun melajukan mobilnya menuju kediaman ke luarganya. sesampai di dalam rumah mewahnya. Devano berjalan masuk ke dalam kamarnya begitu juga dengan Momsky. Setelah sampai di dalam kamar Devano merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap layar hapenya.


"Aku, sangat, sangat merindukanmu Alin," ucap Devano sambil melihat ke arah layar hapenya.


Setelah beberapa waktu pintu kamar Devano di ketuk. Tok, tok, to, suara pintu kamar Devano di ketuk.


"Devan, apa boleh Momsky masuk?."


"Masuk saja, Mom, pintunya tak terkunci." Sahut Devano dari dalam.


Momsky memutar kenop pintu kamar Devano lalu masuk. berjalan mendekat ke arah tempat tidur karna di sanalah Devano merebahkan tubuhnya.


"Devan, ada sesuatu yang ingin Momsky berikan padamu."

__ADS_1


"Apa!? Moms," Ucap Devan bangun dari tempat tidur.


"Ini, berikan ini pada calon mantu Momsky," ucapnya sambil memberikan sebuah kotak pada Devano.


"Ini, apa Moms?," ucap Devano sambil membuka kotak itu.


"Itu, cincin turun -temurun keluarga kita. Aku ingin kamu memberikan cincin ini pada calon menantu di keluarga kita nanti."


"Kenapa harus aku yang memilkinya?, kenapa bukan Selli Moms?."


"Karna kamu adalah putra satu -satunya dalam keluarga ini, kamu adalah pewaris dari semua harta yang kami punya. Jadi cincin itu juga menjadi hak kamu sepenuhnya. Berikan cincin ini pada gadis yang benar -benar tulus mencintaimu dan juga kamu cintai. Siapapun gadis itu aku akan selalu merestuimu."


"Baik, Moms, aku akan menyimpannya. dan memberikan kepada gadis yang sangat aku cintai.


Beberapa bulan telah berlalu. Hari ini Devano berencana akan kembali ke jakarta. Devano sangat merindukan hawa sejuk di atas Cafenya. dan juga sangat merindukan Alina tentunya.


Siang ini Devano sampai di Cafenya dengan hati yang sangat bahagia. Dan di sambut ramah oleh Aran.


"Siang, pak, bapak dah kembali?."


"Iya," ucap Devano berlalu masuk ke dalam kamarnya. Lalu kembali berbalik melihat ke arah Aran.


"Aran, apa Alina sudah pulang kampus?."


"Sepertinya belum pak."


"Bagus lah, apa kamu ingin membantuku?, aku ingin menyiapkan sesuatu buat Alina."


"Apa,pak," ucap Aran sambil mengaruk kepalanya. karna tak mengerti dengan apa maksud bosnya.


"Aku tunggu kamu di dalam dapur,di sana aku akan menjelaskan semuanya."


"Baik, pak," ucap Aran berangjak dari duduknya kemudian berjalan masuk ke arah dapur.


Setelah sampai di dapur Aran pun duduk menanti ke datangan Devano.


Setelah beberapa menit Devano datan menhampiri Aran. Devano pun menjelaskan semuanya pada Aran.

__ADS_1


"Begini, Aran, aku ingin membuat kejutan buat Alina di atap Cafe ini. jadi aku meminta bantuan kamu."


__ADS_2