
Alina yang mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya,
memicingkan matanya lalu sedikit mendekat ke arah pemuda yang tengah
mengejeknya, Alina pun berkata. “Apa yang barusan kamu katakan?” bertolak
pinggan di hadapan pemuda yang ada di hadapannya.
Mendengar ucapan Alina, pemuda itu kembali tersenyum, lalu
berkata. “Ya, gadis jelek ini pintar juga marah.” Tertawa “Hei, Mba pelayan. Aku
ini tamu di Cafe ini, jadi Mba pelayan harus berbuat sopan terhadapku. Apa Mba
pelayan tidak takut dengan bosnya?” bertopang dagu di hadapan Alina “Jika aku
membuat pengaduan tentang Mba pelayan ini, maka otomatis kamu akan di pecat
dari Cafe ini.”
Setelah mengatakan itu, pemuda itu kembali tertawa, sambil
bersandar di sandaran kursi yang tengah ia tempati duduk. Mendengar ucapan
pemuda itu, Alina memutar bola matanya, lalu berjalan meninggalkan meja pemuda
yang ada di hadapan.
Namun belum sempat Alina memutar badan, pemuda itu kembali
memanggilnya. “Hei, Mba pelayan, layani kami berdua.” Sedikit berteriak.
Alina yang mendengar teriakan pelan pemuda yang ada di
belakangnya, memutar balik melihat ke arah pemuda yang tengah meneriakinya. Alina
memakai kembali topinya, lalu mulai mengeluarkan buku kecil dri dalam kanton
celananya untuk mencatat semua pesanan pemuda yang ada di hadapannya. Meskipun merasa
sangat kesal dengan pemuda yang ada di hadapannya, namun Alina tetap mencoba
bersikap baik.
Alina pun berkata. “Maaf, anda ingin memesan apa Tuan?”
sedikit tersenyum dan itu membuat Aldo tak berhenti melihat ke arah wajah
Alina.
Dengan segera pemuda itu berkata. “Aku ingin meminum kopi
terbaik di dalam Cafe ini.” Setelah mengatakan itu, pemuda itu melihat ke arah
sahabatnya Aldo, lalu berkata. “Kawan kamu mau minum apa?” menepuk bahu Aldo.
Dengan segera Aldo berkata. “Sama seperti yang kamu pesan.”
Mendengar ucapan dua pemuda yang ada di hadapannya, Alina pun
barkata. “Baiklah, kami akan segera membawakannya.”
Setelah mengatakan itu Alina berjalan menjauh dari meja
pemuda yang tengah membuatnya merasa sangat kesal. Dengan wajah kesal Alina berjalan
ke arah meja, untuk menyuruh pelayan yang lainnya, untuk membuat pesanan pemuda
yang tengah mengatainya gadis jelek.
Melihat wajah kesal Alina salah satu pelayan bertanya. “Dokter
__ADS_1
kenapa wajahnya terlihat seperti itu? Apa ada sesuatu?” menatap wajah Alina.
Dengan segera Alina berkata. “A,
aku tidak apa-apa. Oya tolong bawakan kopi ini ke meja nomor tujuh.” Alina menyuruh
salah satu pelayan membawa pesanan pemuda itu.
*****
Setelah kepergian Alina dari meja yang mereka tempati, Aldo
melihat ke arah sahabatnya yang tengah sibuk melihat ke layar Hapenya.
Aldo pun berkata. “Gadis itu manis juga ternyata.” Tersenyum
melihat ke arah Alina yang mulai berjalan menjauh dari mejnya.
Mendengar ucapan sahabatnya pemuda itu melihat ke arah Aldo,
dengan segera pemuda itu berkata. “Gadis yang mana?” melihat sekeliling dalam
Cafe yang tengah Ia tempati. Lalu melihat ke arah Aldo.
Pemuda itu nampak
sedikit bingun mendengar ucapan sahbat yang ada di hadapannya, karna melihat
seluru isi dalam Cafe, cuman ada bebarap wanita, itupun mereka semua bersama
dengan pasangannya masing-masing. Lalu pemuda itu melihat ke semua pelayan Cafe.
Hanya satu yang menurutnya sangat cantik dialah wanita yang dia sebut gadis
jelek.
Pemuda itu pun mengulang kata-katanya. “Gadis yang mana?”
“Gadis yang kamu panggil jelek.” Melihat ke arah Alina yang
kini tengah tertawa lepas bersama para pelayan lainnya.
Pemuda itu melihat ke arah Alina yang kini tengah tertawa
lepas. Dia pun ikut berkata. “Iya, gadis itu ternyata sangat manis.” Menyadari dengan
apa yang baru saja di ucapkan, pemuda itu pun berkata. “Cantik apanya? Gadis jelek
begitu di bilang cantik. Wah parah ni,” mengeleng-gelengkan kepala “Sepertinya
kamu harus segera memeriksakan matamu ke Dokter. Gadis jelek begitu di bilangin
cantik. Hem, hem.”
Mendengar ucapan sahabatnya, Aldo pun berkata. “Perasaan
barusan aku mendengar kata, kalau gadis itu sangat cantik? Apa aku salah dengar
ya? Atau aku hanya berilustrasi mendengar kata itu keluar dari mulutmu?”
menatap wajah sahabatnya yang kini tengah menatap tajam ke arahnya.
Mendengar ucapan Aldo dengan segera pemuda itu berkata. “Wah,
parah ni! Sepertinya bukan hanya matamu yang bermasalah, tetapi telingamu juga.”
Setelah mengatakan itu pemuda itu melihat ke arah pelayan yang tengah membawa
pesanannya.
Melihat wajah pelayan yang membawa pesanannya, dan bukanlah
__ADS_1
pelayan yang sebelumnya. Pemuda itu pun berkata. “Mana gadis jelek itu?”
menatap ke arah pelayan yang tengah meletakkan kopi pesanannya di atas meja.
Mendengar pertanyaan pelanggan yang ada di hadapannya. Pelayan
itu menyengitkan dahi, bingun dengan pertanyaan pemuda tampan yang tengah duduk
dihadapannya. Melihat kebingungan yang di perlihatkan oleh pelayan yang ada di
hadapannya.
Dengan segera pemuda tampan itu berkata. “Pelayan yang
mengenakan baju warna putih itu?” tersenyum tipis.
Mendengar pertanyaan pemuda yang ada di hadapannya, pelayan
itu pun berkata. “Oh, Dok...?” belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimat
yang ingin di ucapkannya, dengan segera pemuda itu berkata.
“Ah, sudahlah.” Mengibaskan tangan “Tidak penting, juga aku
tau soal gadis jelek itu!”
Setelah kepergian pelayan dari mejanya pemuda itu mulai
menikmati kopinya. “Hem, rasanya sangat lezat, dan rasanya membuatku terasa
nyaman, dan harumnya, hemm.” Mencium wangi kopi yang berada di dalm cankir,
lalu kembali meminumnya.
Iya itulah menu baru, kopi spcial, yang Alina racik sendiri
dan ternyata rasanya sangatlah lezat. Nama
racikan kopi baru Alina Tyfel coffee. Kopi hangat yang rasanya bikin nyaman, Almond Brulle dari Tyfel Coffee cocok
banget di nikmati oleh semua usia tua maupun muda yang mengalami kegalauan dan
tak dapat muv on dari masa lalunya. Sama yang tengah Alina rasakan yang tidak
dapat muv on dari calon suaminya yang telah tiada.
Selain rasa, Tyfel Coffee juga memiliki rasa pahit yang
khas, campuran kopi Cappuccino yang agak pahit berpadu dengan taburan gula
merah yang Cryspi dan kacang Amond sehingga membuat rasa kopinya manis, agak
crunchy dan warm banget.
Aldo yang penasaran dengan rasakopi yang tengah ahabatnya
nikmati, penasaran, dengan segera ikut menyeruput kopi yag ada di hadapannya. “Ah,
ini sangat pas untukmu yang selalu mengatai gadis manis itu.” Tertawa mengejek
melihat ke arah sahabatnya.
“Apa kamu bilang barusan? Kamu mengataiku? Awas kamu!”
gajimu bulan ini aku potong!” tertawa setelah mengatakan itu pada sahabatnya.
Mendengar kata potong gaji keluar dari mulut sahabatnya,
dengan segera Aldo berkata. “Sekalian juga pecat aku. Agar aku tak perlu ikut
bersamamu, kemana pun kamu pergi.” Terawa lepas melihat ke arah wajah pemuda
__ADS_1
yang ada di hadapannya.