Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 36


__ADS_3

Alina yang mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya,


memicingkan matanya lalu sedikit mendekat ke arah pemuda yang tengah


mengejeknya, Alina pun berkata. “Apa yang barusan kamu katakan?” bertolak


pinggan di hadapan pemuda yang ada di hadapannya.


Mendengar ucapan Alina, pemuda itu kembali tersenyum, lalu


berkata. “Ya, gadis jelek ini pintar juga marah.” Tertawa “Hei, Mba pelayan. Aku


ini tamu di Cafe ini, jadi Mba pelayan harus berbuat sopan terhadapku. Apa Mba


pelayan tidak takut dengan bosnya?” bertopang dagu di hadapan Alina “Jika aku


membuat pengaduan tentang Mba pelayan ini, maka otomatis kamu akan di pecat


dari Cafe ini.”


Setelah mengatakan itu, pemuda itu kembali tertawa, sambil


bersandar di sandaran kursi yang tengah ia tempati duduk. Mendengar ucapan


pemuda itu, Alina memutar bola matanya, lalu berjalan meninggalkan meja pemuda


yang ada di hadapan.


Namun belum sempat Alina memutar badan, pemuda itu kembali


memanggilnya. “Hei, Mba pelayan, layani kami berdua.” Sedikit berteriak.


Alina yang mendengar teriakan pelan pemuda yang ada di


belakangnya, memutar balik melihat ke arah pemuda yang tengah meneriakinya. Alina


memakai kembali topinya, lalu mulai mengeluarkan buku kecil dri dalam kanton


celananya untuk mencatat semua pesanan pemuda yang ada di hadapannya. Meskipun merasa


sangat kesal dengan pemuda yang ada di hadapannya, namun Alina tetap mencoba


bersikap baik.


Alina pun berkata. “Maaf, anda ingin memesan apa Tuan?”


sedikit tersenyum dan itu membuat Aldo tak berhenti melihat ke arah wajah


Alina.


Dengan segera pemuda itu berkata. “Aku ingin meminum kopi


terbaik di dalam Cafe ini.” Setelah mengatakan itu, pemuda itu melihat ke arah


sahabatnya Aldo, lalu berkata. “Kawan kamu mau minum apa?” menepuk bahu Aldo.


Dengan segera Aldo berkata. “Sama seperti yang kamu pesan.”


Mendengar ucapan dua pemuda yang ada di hadapannya, Alina pun


barkata. “Baiklah, kami akan segera membawakannya.”


Setelah mengatakan itu Alina berjalan menjauh dari meja


pemuda yang tengah membuatnya merasa sangat kesal. Dengan wajah kesal Alina berjalan


ke arah meja, untuk menyuruh pelayan yang lainnya, untuk membuat pesanan pemuda


yang tengah mengatainya gadis jelek.


Melihat wajah kesal Alina salah satu pelayan bertanya. “Dokter

__ADS_1


kenapa wajahnya terlihat seperti itu? Apa ada sesuatu?” menatap wajah Alina.


Dengan segera Alina berkata. “A,


aku tidak apa-apa. Oya tolong bawakan kopi ini ke meja nomor tujuh.” Alina menyuruh


salah satu pelayan membawa pesanan pemuda itu.


 *****


Setelah kepergian Alina dari meja yang mereka tempati, Aldo


melihat ke arah sahabatnya yang tengah sibuk melihat ke layar Hapenya.


Aldo pun berkata. “Gadis itu manis juga ternyata.” Tersenyum


melihat ke arah Alina yang mulai berjalan menjauh dari mejnya.


Mendengar ucapan sahabatnya pemuda itu melihat ke arah Aldo,


dengan segera pemuda itu berkata. “Gadis yang mana?” melihat sekeliling dalam


Cafe yang tengah Ia tempati. Lalu melihat ke arah Aldo.


 Pemuda itu nampak


sedikit bingun mendengar ucapan sahbat yang ada di hadapannya, karna melihat


seluru isi dalam Cafe, cuman ada bebarap wanita, itupun mereka semua bersama


dengan pasangannya masing-masing. Lalu pemuda itu melihat ke semua pelayan Cafe.


Hanya satu yang menurutnya sangat cantik dialah wanita yang dia sebut gadis


jelek.


Pemuda itu pun mengulang kata-katanya. “Gadis yang mana?”


“Gadis yang kamu panggil jelek.” Melihat ke arah Alina yang


kini tengah tertawa lepas bersama para pelayan lainnya.


Pemuda itu melihat ke arah Alina yang kini tengah tertawa


lepas. Dia pun ikut berkata. “Iya, gadis itu ternyata sangat manis.” Menyadari dengan


apa yang baru saja di ucapkan, pemuda itu pun berkata. “Cantik apanya? Gadis jelek


begitu di bilang cantik. Wah parah ni,” mengeleng-gelengkan kepala “Sepertinya


kamu harus segera memeriksakan matamu ke Dokter. Gadis jelek begitu di bilangin


cantik. Hem, hem.”


Mendengar ucapan sahabatnya, Aldo pun berkata. “Perasaan


barusan aku mendengar kata, kalau gadis itu sangat cantik? Apa aku salah dengar


ya? Atau aku hanya berilustrasi mendengar kata itu keluar dari mulutmu?”


menatap wajah sahabatnya yang kini tengah menatap tajam ke arahnya.


Mendengar ucapan Aldo dengan segera pemuda itu berkata. “Wah,


parah ni! Sepertinya bukan hanya matamu yang bermasalah, tetapi telingamu juga.”


Setelah mengatakan itu pemuda itu melihat ke arah pelayan yang tengah membawa


pesanannya.


Melihat wajah pelayan yang membawa pesanannya, dan bukanlah

__ADS_1


pelayan yang sebelumnya. Pemuda itu pun berkata. “Mana gadis jelek itu?”


menatap ke arah pelayan yang tengah meletakkan kopi pesanannya di atas meja.


Mendengar pertanyaan pelanggan yang ada di hadapannya. Pelayan


itu menyengitkan dahi, bingun dengan pertanyaan pemuda tampan yang tengah duduk


dihadapannya. Melihat kebingungan yang di perlihatkan oleh pelayan yang ada di


hadapannya.


Dengan segera pemuda tampan itu berkata. “Pelayan yang


mengenakan baju warna putih itu?” tersenyum tipis.


Mendengar pertanyaan pemuda yang ada di hadapannya, pelayan


itu pun berkata. “Oh, Dok...?” belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimat


yang ingin di ucapkannya, dengan segera pemuda itu berkata.


“Ah, sudahlah.” Mengibaskan tangan “Tidak penting, juga aku


tau soal gadis jelek itu!”


Setelah kepergian pelayan dari mejanya pemuda itu mulai


menikmati kopinya. “Hem, rasanya sangat lezat, dan rasanya membuatku terasa


nyaman, dan harumnya, hemm.” Mencium wangi kopi yang berada di dalm cankir,


lalu kembali meminumnya.


Iya itulah menu baru, kopi spcial, yang Alina racik sendiri


dan ternyata  rasanya sangatlah lezat. Nama


racikan kopi baru Alina Tyfel coffee. Kopi hangat yang rasanya bikin nyaman, Almond Brulle dari Tyfel Coffee cocok


banget di nikmati oleh semua usia tua maupun muda yang mengalami kegalauan dan


tak dapat muv on dari masa lalunya. Sama yang tengah Alina rasakan yang tidak


dapat muv on dari calon suaminya yang telah tiada.


Selain rasa, Tyfel Coffee juga memiliki rasa pahit yang


khas, campuran kopi Cappuccino yang agak pahit berpadu dengan taburan gula


merah yang Cryspi dan kacang Amond sehingga membuat rasa kopinya manis, agak


crunchy dan warm banget.


Aldo yang penasaran dengan rasakopi yang tengah ahabatnya


nikmati, penasaran, dengan segera ikut menyeruput kopi yag ada di hadapannya. “Ah,


ini sangat pas untukmu yang selalu mengatai gadis manis itu.” Tertawa mengejek


melihat ke arah sahabatnya.


“Apa kamu bilang barusan? Kamu mengataiku? Awas kamu!”


gajimu bulan ini aku potong!” tertawa setelah mengatakan itu pada sahabatnya.


Mendengar kata potong gaji keluar dari mulut sahabatnya,


dengan segera Aldo berkata. “Sekalian juga pecat aku. Agar aku tak perlu ikut


bersamamu, kemana pun kamu pergi.” Terawa lepas melihat ke arah wajah pemuda

__ADS_1


yang ada di hadapannya.


__ADS_2