Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
keturunan Arkana


__ADS_3

ustadz Haris pun terpaksa menerima tak bisa menolak permintaan Nino, kini mereka menuju ke Rumah sakit tempat semua mayat yang mati secara tak normal di kumpulkan.


polisi belum boleh membawa mereka pulang karena harus di lakukan otopsi terlebih dahulu.


tapi ustadz Haris tau aura ini karena dulu dia sering mengikuti ayahnya.


"tolong keluarkan mayat bocah sepuluh tahun dan korban mutilasi," perintah Nino.


"baik komandan," jawab dokter forensik.


saat melihat dua mayat itu ustadz Haris tersenyum, "yang bocah ini adalah korban tumbal, sedang untuk wanita ini, boleh aku menyentuhnya?"


"tidak boleh, kamu bisa meninggalkan sidik jari di tubuh mayat, itu akan membawa masalah, sedang untuk bocah ini tumbal maksudnya?"tanya Nino.


"iya, aku tidak melihat mayat, melainkan hanya batang pisang, dan sudah terlambat karena bocah ini sudah di bawa ke alam ghaib, sedang untuk kasus mutilasi, aku butuh menyentuh sesuatu agar bisa melihat apa yang terjadi, karena arwah wanita itu sangat menganggu ku," kesal ustadz Haris yang harus melihat sosok wanita itu menyeret tubuhnya.


"maaf kalau begitu," jawab Nino.


dokter memotong sedikit rambut korban dan memberikannya pada ustadz Haris.


tiba-tiba saat mengenggam rambut itu, ustadz Haris terseret ke sebuah jalanan sepi yang sedang gerimis.


dia mengenal jalanan itu, seorang gadis berjalan dengan ketakutan, karena seseorang sedang mengikutinya.


ustadz Haris tak bisa melihat wajah pria itu, tapi dia mendengar suara siulan di sana.


gadis itu terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, hingga tersungkur.


pria itu berlari menembus tubuh ustadz Haris, dan langsung menusuk punggung gadis itu, suara teriakan keras itu menyayat hati.


setelah itu, dia melihat kapak keluar dari tangan kirinya, "kamu menolak ku, maka kamu harus mati sialan, dasar wanita busuk, kamu sok cantik, setelah ini aku akan bunuh diri setelah menyelesaikan semuanya," kata pria itu yang tertawa senang setelah mencincang tubuh wanita itu.


ternyata pria itu melompat ke sebuah rel kereta api untuk bunuh diri.

__ADS_1


saat akan pergi, tanpa sengaja dia melihat ada sosok kuntilanak merah yang menghisap rasa dendam dari mayat pria itu.


dan wajah kuntilanak merah itu nampak begitu menyeramkan, tapi ada perasaan aneh dari ustadz Haris.


setelah menghisap dendam itu hingga habis, kuntilanak itu pergi sambil tertawa menyeramkan.


ustadz Haris terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, "sampai kapan pun om tak akan bisa menemukan penjahat itu, karena pria itu sudah bunuh diri melompat ke depan kereta api," kata ustadz Haris.


"ah jangan-jangan mayat tanpa identitas yang di temukan kemarin lalu," kata Nino.


"terus dengan mayat para bocah ini bagaimana?"


"ya tak bisa di lakukan apapun lagi, sudah jadi tumbal jadi tak ada gunanya juga, minta orang tua mereka mengirimkan doa saja," jawab ustadz Haris.


pria itu masih penasaran, bagaimana bisa ada kuntilanak yang bisa melakukan hal semengerikan itu.


di pondok pesantren, sedang di adakan pengajian rutin. tapi tiba-tiba sebuah ledakan terdengar di luar pondok.


"ya Allah, siapa yang berani menantang ku, hanya karena aku terus diam, dia berani mulai menunjukkan dirinya, baiklah aku akan membuatnya menjadi keinginannya, aku akan melawan," kata ustadz sepuh yang sudah tak bisa sabar lagi.


"tunggu Abi, sepertinya ini adalah pancingan untuk anda turun tangan, sebab anda terus mengirim semua murid ke beberapa desa yang tak pernah mau mengenal agama," kata putri ustadz sepuh.


"kamu benar nduk, tapi ini sudah keterlaluan, jadi aku akan melayani dukun santet ini," kata ustadz sepuh.


pria itu mulai melakukan ngrogo Sukmo untuk tau siapa yang berani menganggu pondok pesantren miliknya.


Sukmo ustadz sepuh sudah mencari bekas dadi ilmu santet itu, ternyata datang dari sebuah rumah yang terlihat cukup reot.


dukun itu keluar sambil mengisap rokok di tangannya, "akhirnya ustadz sepuh dan menjadi satu-satunya orang berilmu putih, setelah keluarga Arkana pergi datang karena undangan ku," kata pria itu.


ustadz sepuh turun dan melihat pria itu, "mau apa kamu mengusik pondok pesantren milik ku, aku sudah tak berurusan dengan kalian dari lama, jadi jangan memantik pertarungan lagi," kata ustadz sepuh memperingatkan.


"aku hanya ingin bilang, jika aku ingin mengatakan jika padepokan itu sudah kembali, dengan pimpinan yang lebih kuat dari yang terdahulu, dan kini tak ada dukun yang bisa melawannya, karena pria itu baru saja membunuh salah satu dukun terbaik di angkatan ku, dan aku ingin kamu menyingkirkan padepokan itu,"

__ADS_1


"ha-ha-ha siapa yang berani memerintahkan aku, siapa dirimu, asal kamu tau ya, yang bisa melakukan hal itu, dia sudah pergi entah kenapa, aku juga sudah tak bisa menghubunginya lagi, jadi itu masalah kalian, sekali lagi berani mengusik ku dan pondok ku, kamu akan merasakan siapa yang kamu tau yang, ingat itu," kata ustadz sepuh yang melempar pria itu dengan bacaan alfatihah hingga terpental dan muntah darah.


ustadz sepuh sudah kembali ke tubuhnya, dan kaget melihat ustadz Haris yang berada di depannya.


"Alhamdulillah ya Allah, kenapa pakde begitu lama, bahkan sempat nafas pakde hilang," kata ustadz Haris.


"maaf sepertinya tadi terlalu bersemangat," kata ustadz sepuh.


sedang di padepokan Hadikusumo Ki Cakra sedang heran melihat jelas, wanita itu sedang tersenyum.


"kamu kenapa?" tanya pria itu sambil melepas pakaiannya.


"entahlah, aku merasakan sesuatu berlebihan dalam diriku, jadi aku sedikit hiperaktif ya," kata Mela terus tertawa.


Ki Cakra tertawa melihat Mela, dia pun menyentuh pundak wanita itu dan perlahan Mela mulai tenang.


kemudian dia jatuh ke pelukan Ki Cakra, "kamu ingin melakukannya lagi?"


"kamu tak pernah lelah ya, padahal aku saja yang menikmati lelah loh," kata mrla tersenyum.


"aku tak punya kata lelah untuk melakukan itu," bisik Ki Cakra yang mengendong Mela dan membaringkannya di ranjang.


mereka pun menikmati malam mereka, untuk keamanan dari padepokan tim jaga di bagi Hadi dua shift.


sekarang giliran Wawan, Sukri dan Edi, mereka sedang menikmati singkong rebus,kopi dan rokok yang di sediakan.


"ah geblek lah, mereka pasti sedang enak-enak sedang kita kedinginan begini," kata Wawan kesal.


"tutup mulutmu, kan tadi Ki Cakra sudah menjaga karena tadi kita pecah telur goblok, jadi berhenti mengatakan omong kosong," kesal Edi.


saat mereka bertiga berjaga, tiba-tiba ada banaspati uang lewat, tapi ada sosok hitam yang menendang bola api itu.


"tak akan boleh ada yang mengganggu Ki Cakra dan Nyai tercintanya," kata Buto itu yang berdiri di atas pagar padepokan.

__ADS_1


__ADS_2