Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
membereskan


__ADS_3

Shafa berlari keluar rumah, dia melihat suaminya akan masuk kedalam mobil Jeep itu.


"mas tunggu..." kata wanita itu yang berhasil memeluk tubuh suaminya.


"aduh aku ketahuan oleh mu, sudah sayang peluknya, mas harus pergi sebentar," pamit Cakra tersenyum.


"baiklah, tapi cepat pulang, karena aku dan calon anak kita menunggu mu," kata Shafa tersenyum di balik cadarnya.


"apa, kamu hamil?"


"iya mas, aku juga baru memastikannya dengan tes kehamilan lagi, jadi aku akan menunggu mu pulang untuk memeriksakan kondisi anak kita," kata shafa.


"Baiklah sayang, kalau begitu tunggu kedatangan ku ya, dan setelah malam ini kita akan terus bersama tanpa ada yang menganggu lagi," kata Cakra.


"aku pegang janji mu mas," kata Shafa


mobil Jeep itu pun pergi, dan hari ini adalah pekerjaan kotor terakhir yang akan mereka lakukan.


terlebih dia dan semua anak buahnya akan fokus pada keluarga mereka.


Shafa berdoa semoga suaminya itu bisa pulang dengan selamat, saat akan masuk kedalam rumah.


Shafa melihat sosok Ki Dwisa yang sedang berdiri di depan rumah, "kenapa Ki Dwisa di sini, bukannya ikut dengan suamiku, bukankah Anda khodam miliknya," kata shafa.


"tapi aku tak di butuhkan lagi oleh suamimu,"


"kalau begitu tolong bantu aku untuk memastikan jika dia tidak kenapa-kenapa, ingat anda punya janji padaku dan sekarang aku minta janji itu," kata Shafa.


"baiklah, karena dulu kamu sudah mau mendengarkan aku, sekarang aku akan menjadi pelindung keluarga ini, terlebih bayi istimewa milik kalian," kata Ki Dwisa yang menghilang.


Shafa menghela nafas dan menyentuh perutnya, "kamu belum keluar, tapi sudah begitu banyak orang yang mengincar mu," gumamnya.


pasalnya Shafa mengerti dengan ucapan dari sosok Ki Dwisa, yang mengatakan bayi spesial.


dua mobil Jeep itu sampai di sebuah hutan, di sana mobil tak berhenti, melainkan teru menerobos jalur sempit itu.


Wawan dan Edi sangat pintar menerjang jalur off-road seperti itu.

__ADS_1


mereka sedang mencari rumah di tengah hutan yang menjadi tempat persembunyian dari pria yang berani mengusik keluarga besarnya.


mereka sampai di sebuah rumah yang cukup buruk di tengah hutan itu.


Cakra memberi kode untuk semua anak buahnya masuk, dan menyergap pria itu.


ternyata di dalam rumah itu sangat bagus, dan pria yang sedang melakukan kegiatan panas pun kaget melihat para pria bertopeng memakai baju serba hitam itu.


"siapa kalian?" tanya pria itu.


"tak usah banyak bacot, tunjukkan di mana harta milik mu, jika tak ingin mati begitupun dengan selingkuhan mu itu," kata Wahyu


"aku tak punya harta, kalian salah orang," kata pria itu ketakutan.


"banyak cincong," kata Gopur yang langsung menonjok pria itu hingga berdarah.


"ah tolong mas, mereka ingin melecehkan ku..." teriak kekasih pria itu.


"baiklah aku akan menunjukkan dimana hartanya, tapi jangan menyakiti kekasihku," kata pria itu memohon.


sedang yang terjadi nyatanya, wanita itu hanya di ikat, dan di sumpal mulutnya, wanita itu pun tak bisa bergerak.


"kalian nanti akan menikmati sajian di dalam, puaskanlah main dengan wanita di dalam sana, dan pria itu kemungkinan akan di bunuh oleh anak buah ku, tapi ingat jika kalian berani menghianati ku, maka aku akan membinasakan seluruh klab kalian, ingat itu," kata Cakra.


"baik Ki Cakra," jawab para makhluk yang dulu mengabdi pada Cakra.


Asep, Gopur dan Sukri keluar dengan membawa dua tas berisi semua barang rampasan.


sedang di dalam Wawan menyuntikkan obat para wanita itu, "silahkan nikmati hari-hari mu, jika ingin menyalahkan, salahkan pria busuk itu," katanya sebelum pergi.


pria itu meregang nyawa di tangan Wahyu, dan tubuh pria itu di gantung di depan rumah gubuk itu.


"ini karena kamu berani mengusik keluargaku," kata Cakra yang langsung pergi meninggalkan rumah itu.


para sosok makhluk pun menghapus jejak dari dua kendaraan itu.


kemudia tiga sosok makhluk tinggi besar itu masuk kedalam rumah yang selama ini di Pagari ghaib.

__ADS_1


tapi kali ini semuanya sudah di hancurkan oleh Cakra, dan sekarang mereka sedang menikmati sajian yang di maksud oleh Cakra.


para makhluk itu sangat menikmati sajian itu, bahkan wanita itu tak bisa berteriak karena obat yang di berikan oleh Wawan.


kedua mobil Jeep itu keluar dari hutan yang sangat rimbun itu, mereka pun meninggalkan tempat itu.


tiga tas setidaknya bernilai ratusan juta dan belum lagi perhiasan dan emas batangan itu.


mereka menuju ke sebuah basecamp lama milik geng rampok itu.


Cakra mengumpulkan semua uang itu dan kemudian membagikannya pada keenam orang anak buahnya dengan adil.


"bos tapi ini harta milik keluarga bos,"


"ambil saja, karena ini bagian kalian, dan aku sudah mengambil yang menjadi hak ku, dan sekarang kita harus berubah,"


"baik kami mengerti, lagi pula semua uang yang bos berikan tak akan habis sampai anak cucu kami," kata Wahyu.


"baiklah kalau begitu, sekarang kita akan menyelesaikan semua disini," kata Cakra yang memilih keenam anak buahnya membakar semua topeng yang tadi mereka gunakan


akhirnya sekarang dia ingin hidup normal bersama istrinya, terlebih sebentar lagi akan ada anggota keluarga batu yang akan datang.


pukul dua dini hari, mereka semua kembali ke rumah, terlihat suasana rumah sangat sepi.


setelah mandi, dia melihat sosok Ki Dwisa, "ada apa kamu menunjukkan dirimu padaku, bukankah kamu sudah tak ingin menjadi khodam ku, jadi pergilah," usir Cakra.


"aku tak bisa kau usir begitu saja, karena sekarang aku memiliki tugas melindungi bayi itu,"


mendengar ucapan Ki Dwisa Cakra menoleh, "kamu gila, hingga memikirkan hal itu. aku tak akan mengizinkan anakku menjadi abdi dari makhluk seperti mu, cukup kau menjeratku dan keluarga ku sebelum ini, tidak dengan bayi milikku,"


"tapi dia tak bisa menolaknya, bagaimana pun dia keturunan darah Hadi kusomo, dan ini adalah takdirnya, jadi kamu juga tak bisa melakukan apapun, Hadi ingat itu baik-baik, dan untuk masalah tadi, aku sudah membereskan semua untuk mu, dan membawa dua wanita tambahan untuk para penunggu tempat itu," kata Ki Dwisa tertawa dan kemudian pergi.


Cakra menonjok dinding ruangan itu, "kenapa aku harus di lahirkan dengan darah Hadikusomo, jadi sekarang anakku harus menanggung dosa para leluhur kami," marahnya.


Shafa yang mendengar keributan, bangun dan melihat Cakra sedang menangis di sana dan tangan suaminya itu terluka.


"mas Cakra kenapa?" panik Shafa yang datang mengenakan daster tanpa lengan.

__ADS_1


bahkan rambut hitam itu tergerai indah, dia pun panik mengambil kotak pertolongan pertama dan segera mengobati luka suaminya itu.


__ADS_2