
"kamu berani menantang ku, dasar dukun jahanam," marah ustad Rasyid.
"kamu jangan keterlaluan, ingat ilmu itu di gunakan untuk kebaikan, bukan keburukan, sesampainya di pondok, renungkan Semuanya, kamu di hukum mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak dua puluh kali," kata ustadz sepuh.
"iya ustadz sepuh," jawab pria itu pasrah.
sedang dari jauh, Mela melihat rombongan para santri itu pergi, Ki Cakra melepaskan topeng miliknya.
"sepertinya pondok pesantren itu sudah kehilangan kejayaannya," gumamnya.
"terus kita harus bagaimana Ki sekarang?" tanya pak Bowo.
"kita hanya perlu mengawasi saja, jika mereka berani melakukan hal lain yang membahayakan, baru bereskan," jawab Ki Cakra.
"kami mengerti Ki," jawab tiga pengawal itu.
ustadz Haris dan ustadz sepuh benar-benar tak mengira jika ustad Rasyid bisa bersikap searogan ini.
"sepertinya kita harus mencari ustadz lain untuk menanggani desa itu, karena tak bisa sembarangan, karena pria itu bukan lawan yang mudah," kata ustadz sepuh.
"tapi apa pakde tak penasaran, bukankah keturunan terakhir dari keluarga itu adalah..." kata ustadz Haris terdiam.
"mungkin itu keturunan yang lain le, jika memang itu dia, kenapa dia tak mengatakan apapun apa dia benar-benar lupa, atau semua kesedihan itu sudah mengurungnya dalam kegelapan hidup,"
"entahlah pakde, aku juga tak tau, keluarga kami hancur saat kehilangan sumber kebahagiaan," kata ustadz Haris.
"sudah jangan di ingat, doakan saja mbak mu agar tenang di sana," jawab ustadz sepuh.
mobil itu masuk kedalam pondok pesantren, terlihat beberapa wanita bercadar datang mendekati mobil itu.
mereka merasa lega karena tak terjadi apa-apa, tapi ustadz Haris langsung membawa ustad Rasyid menuju ke ruang hukuman.
sedang di desa tempat Ki Cakra, seorang warga sedang mencuci tangan dan arit di pinggir sungai.
saat tiba-tiba ada sebuah tikar pandan yang melintas di depannya.
tiba-tiba tikar itu menggulung pria itu dan membawa pria itu masuk ke dasar sungai.
"tolong!!" pria itu sudah hilang dalam riak sungai yang cukup deras.
Ki Cakra merasakan ada sesuatu yang janggal, "sepertinya akan ada kejadian buruk di desa ini," gumamnya.
"ada apa Ki, kamu merasakan sesuatu yang yang salah?" tanya Mela yang sedang menguncir rambut Ki cakra.
"kamu sedang melakukan apa, kamu ingin membuatku jadi tertawaan sayang, kenapa menguncir rambutku?"
__ADS_1
"tentu saja tidak, aku sedang bosan, karena dari tadi kamu terus merapal mantra dan membuatku menunggu, bahkan kamu tak terganggu sedikit pun dengan apa yang aku lakukan," kata wanita itu dengan manja
"kamu ini begitu manja, sudah lebih baik sekarang ikut aku pergi untuk menjual emas yang kita ambil," ajak Ki Cakra.
"aku harus berubah jadi Miss Kun atau tidak? kalau tidak kamu bisa cemburu saat pria tergoda melihatku,"
"tidak usah, karena aku sudah membuat mu tak terlihat cantik oleh orang asing," kata Ki Cakra.
"wah keterlaluan sekali anda Ki, hi-hi-hi-hi,"
mereka pergi menuju ke kota, mereka sampai di sebuah pembuatan perhiasan emas.
Ki Cakra menjual emas itu dengan menunjukkan surat yang membuat pemilik tempat itu yakin.
setelah semua, Ki Cakra mengajak Mela jalan-jalan, tapi saat mereka sampai di mall tersebut.
tanpa sengaja Ki Cakra menabrak seorang pria, "ah maaf..."
"dasar menjijikkan, orang kampung..." hina pria itu saat melihat penampilan Ki Cakra yang sederhana.
Ki Cakra menoleh dan melemparkan sesuatu, sedang Mela hanya tersenyum melihatnya.
"wah anda pendendam sekali Ki,"
tapi saat melihat salah satu SPG di area penjualan baju, pria itu diam dan mukanya berubah merah padam.
"ada apa Ki?"
"tidak ada sayang, kamu pilih baju yang kamu inginkan, biar aku ke toilet sebentar ya," kata pamit pria itu.
Mela hanya mengangguk dan masuk kedalam toko baju itu, tiba-tiba di luar terdengar teriakan.
karena penasaran Mela berlari keluar,dia mencium aroma dendam yang kuat.
"ah... makanan ku," lirihnya menyerat aura itu.
di sebuah ruang ganti pakaian, Ki Cakra sudah membuat wanita itu tersiksa.
pasalnya tadi dia harus mengunci wanita yang ingin di kirimkan santet, dengan begitu santetnya tepat sasaran.
hanya dengan merapal mantra, dia membuat semua tulang wanita itu terlepas dari engselnya.
Ki Cakra berjalan dengan santai keluar dari distro itu, dan melihat Mela.
dia menarik wanita itu, dan Mela tau jika aura gelap dari pria yang menariknya itu.
__ADS_1
"apa dia juga musuh mu, karena kamu melempar ilmu hitam pembalasan dendam, hingga membuat wanita itu mati mengerikan tanpa darah dan luka, tapi tiba-tiba tulangnya terdengar patah," kata Mela tersenyum
"memang apa yang akan kamu lakukan, jika aku memang melakukannya?"
"tentu saja aku suka, aku telah menghirup semua dendam itu, dan wanita itu juga tak akan berumur panjang juga," gumam Mela
"sudah, lebih baik sekarang kita pulang yuk sayang," ajak Ki Cakra
keduanya pun masuk kedalam mobil dan langsung memutuskan untuk pulang.
kejadian itu menjadi topik hangat pembicara, karena ada orang mati tiba-tiba tapi semua tulang.
"boleh berhenti sebentar, aku ingin membeli es nong dulu," mohon Mela.
Ki Cakra menghentikan mobilnya di jalan yang cukup lapang, saat menunggu Mela membeli es.
Ki Cakra merasakan aura gelap dendam yang sangat pekat, bahkan tanpa sadar dia tertarik ke tepi sungai itu.
sepertinya ada yang berani membuang tikar mayit sembarangan.
saat ku Cakra sedang menyentuh air sungai itu dan membuat riak kecil untuk memancing tikar mayit itu.
perlahan tikar itu datang, Ki Cakra bisa merasa kekuatan dendam yang besar.
dia melihat ada sesosok pria yang duduk di atas tikar itu, "kamu salah tempat, kamu bukan warga asli desa ini, dan kenapa kamu mencari korban di desa ku,"
tapi tikar itu ingin lari, tapi tanpa di duga, Ki Cakra berhasil membuat tikar itu tak bisa pergi, dan kemudian dia melipat tikar itu dengan mudah.
pria itu mengirim kembali tikar itu ke desa yang seharusnya dia berada, karena di desa Ki Cakra tak boleh ada yang melakukan hal salah.
"sayang, kenapa di sana, cepat kita pulang," panggil Mela
"baiklah," jawab Ki Cakra yang membuat pagar.
mereka berdua pulang, dan ternyata sudah ada beberapa tamu yang datang di padepokan, bahkan penampilan mereka tak terlihat biasa.
dengan semua barang bermerk yang di kenakan oleh para tamu itu, "wah ada apa ini? sepertinya ada yang ingin minta penglaris hingga mengirim santet, apa benar?"
mereka semua saling pandang, Ki Cakra tersenyum saja, "pak Bowo sudah kamu atur sesuai antrian."
"sudah Ki, panjenengan bisa langsung bisa melakukan konsultasi," jawab pak Bowo.
"tunggu sebentar, karena aku harus mandi dulu karena dari luar, dan sayang ku tolong siapkan sesajennya secara lengkap dan darah itu juga,"
"baik Ki," jawab Mela tersenyum
__ADS_1