Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
gadis bercadar itu


__ADS_3

ustad Rasyid dan keempat orang murid yang tadi di ajak ke desa Sukarame terpaksa kembali


itu membuat ustadz sepuh terkejut, "ada apa kalian kembali? bukankah kalian harusnya masih di desa Sukarame?"


"maaf ustadz sepuh, kami mendapatkan serangan yang terpaksa membuat kami mundur karena terlalu bahaya," jawab ustad Rasyid.


"kalian tak percaya akan perlindungan Allah SWT," kata seorang pria tersenyum melihat kelima orang itu.


"wah lihatlah siapa yang berani bicara sombong jika bukan Linga," kata ustadz Rasyid.


pria itu pun hanya tertawa saja, "setelah bertahun-tahun, kenapa memanggil namaku seperti itu, aku sudah mengubah namaku, kamu lupa itu?" kata pemuda tampan itu.


"maaf teman, aku tak bermaksud begitu, bagaimana kabarmu ustadz Haris Maulana?"


"jangan panggil aku ustadz, cukup Haris, memangnya apa yang membuat kalian bisa mundur, padahal sudah sampai tempat itu?"


"aku tak mengerti, seminggu yang lalu kami kesana untuk menyebarkan agama Allah, semua berjalan baik, tapi setelah seminggu kami meninggalkan tempat itu, malah kami mendapati bahwa tempat itu berubah begitu mengerikan," jawab Alif.


"benarkah, besok ajak aku kesana untuk melihatnya, tapi sekarang lebih baik kalian istirahat dulu," kata ustad Haris.


"baiklah kami permisi dulu,"


"bukannya kamu harus segera kembali le, kenapa malah ingin membantu?" tanya ustadz sepuh.


"tidak masalah pakde, karena aku juga punya kewajiban bukan, jadi tak usah merasa tak enak," jawab ustad Haris.


"baiklah terserah kamu," jawab ustadz sepuh.


sore hari, Cakra sudah pergi tanpa mengatakan apapun pada semua orang.


dia naik motor menuju ke suatu tempat, motor itu berhenti di sana, bukannya turun dia menyuruh pengemudi motor itu pergi dari tempat itu.


"kita mau kemana mas?" tanya tukang ojek itu bingung karena Cakra terus mengajaknya berkeliling.


"kita mampir ke supermarket saja karena aku ingin membeli rokok," jawab Cakra

__ADS_1


saat akan masuk kedalam supermarket, tanpa sengaja dia menghalangi jalan seorang wanita bercadar.


"maaf..."


gadis itu mengenali wajah itu, "mas Adit..." lirihnya.


tapi pria itu tak menggubrisnya, "sepertinya aku sudah gila, bagaimana bisa pria itu mas Adit, bahkan dia begitu arogan, Ya Allah maafkan aku, kenapa mulut ini ..."


wanita itu pergi, tapi suara lonceng mengusik pikiran Cakra, dia yang awalnya ingin membayar menoleh ke arah gadis bercadar itu.


"lonceng apa itu?" gumamnya merasa familiar.


setelah membeli rokok yang dia inginkan, dia memberikan satu bungkus pada tukang ojek itu.


bukan pulang, Cakra menuju ke sebuah hutan, dia membayar tukang ojek itu dan meminta pria itu pergi dari tempat itu.


sedang Cakra berjalan menerobos masuk ke dalam hutan, bahkan suasana sudah mulai gelap.


tapi Adit menjentikkan jarinya dan muncullah api yang di gunakan untuk menerangi jalan.


dia melihat sebuah kolam di tengah-tengah goa itu, Cakra langsung menanggalkan pakaian atasnya dan turun ke dalam air.


dia mulai melakukan hal gila dengan menahan nafas di bawah air selama dia bisa.


anak buah dari Cakra awalnya panik,


saat tau jika pria itu hilang, tapi semua berubah saat membaca sebuah pesan.


sebuah mobil memasuki kawasan pondok pesantren Miftahul Jannah, tiga gadis bercadar turun dari mobil membawa beberapa barang yang cukup banyak.


ustadz Haris ingin membantu, tapi ustadz sepuh mengeleng pelan, "hentikan le,"


"apa sih pakde, saya cuma mau mengajak dia berbincang, karena kapan lagi aku bisa di pulang lagi, toga tahun saja belum pasti jika dalam tiga tahun lagi aku bisa pulang, karena aku harus mengambil kuliah Pascasarjana,", kata pria itu.


"tapi ini sudah peraturan, dan tak boleh ada yang melanggar meski itu putraku, atau kamu sekalipun, ingat tempat ini tak bisa kamu bertingkah seenaknya," terang ustadz sepuh

__ADS_1


"baiklah pakde, sekarang mari kita pergi menuju ke tempat lain," jawab ustadz Haris.


"baiklah," jawab ustadz sepuh.


Cakra duduk bersila,bahkan cobaan dalam bersemedi, dia bahkan tak peduli dengan hewan yang mulai merayap ke tubuhnya.


bahkan godaan ini kali cukup banyak,karena penghuni goa itu ada Ki Adjisaka.


"Ki Ageng hentikan tapa mu, karena aku tak bisa mengabulkan permohonan mu, kamu harus berusaha sendiri, dan itu adalah karma mu,"


Cakra membuka matanya, "sudah aku duga, kalau begitu aku kembali ke kediaman ku,"


tiba-tiba Cakra sudah berada di padepokan, dan membuat kaget keenam pria yang sedang santai menikmati kopi.


"selamat datang Ki Ageng?" spa mereka semua.


"sudah lanjutkan saja, sebisa mungkin jangan ganggu aku sampai lusa, karena aku ingin menenangkan diri,"


"baik Ki Ageng," jawab mereka.


keesokan harinya, Asep, dan Wahyu serta Edi sedang berlatih saat suara ketukan pintu mengejutkan mereka.


"siapa itu?" tanya Wahyu yang langsung membuka pintu dan kaget melihat seorang pria muda yang mengenakan pakaian serba putih.


"mencari siapa mas?"


"siapa kalian di padepokan Hadikusumo yang sudah runtuh ini?"


"itu bukan urusan mu, dan kami tak ingin mendengar ceramah mu dan memberi sumbangan, dasar sial," kata Wahyu yang langsung membanting pintu pagar yang terbuat dari kayu jati itu.


sedang ustadz Haris tak mengira jika akan melihat padepokan yang sudah hancur kini mulai bangkit lagi.


dia melihat ke arah pohon mangga di dalam padepokan yang memang berukuran besar.


tapi dia tak bisa melihat apa yang ingin dia lihat,jadi dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2