Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
menebar teror


__ADS_3

seorang pria sedang melakukan ritual, dia ingin berubah menjadi sosok yang bisa mencari pesugihan.


padahal kemarin kasus seorang pria yang menjadi korban dari pesugihan saja belum selesai, kini malah ada yang lain lagi.


Cakra sedang duduk di ruang tamu rumahnya, dia tadi sudah mandi besar sebelum keluar.


dan dia memastikan jika istrinya itu sudah tidur dengan lelap saat dia pergi.


dia pergi keluar rumah, baru juga di depan rumah, dia melihat begitu ramai dengan mahluk ghaib.


"ah sepertinya ada pasar ghaib juga malam ini," gumam Cakra.


dia keluar dari rumah, ternyata Sukri dan Edi juga sudah keluar dengan mengenakan ikat kepala yang sudah di doakan.


keduanya membawa kentongan, dan saat mereka berjalan setiap tiga langkah kaki mereka akan memukul kentongan.


Cakra berhenti di sebuah perempatan desa, Sukri dan Edi meski tak bisa melihat sosok arwah itu, tapi mereka bisa mendengar sebuah suara gemerincing rantai yang saling bertabrakan.


"mulai pukul kentongan sesuai dengan saat kalian mendengar suara rantai bertabrakan itu," perintah Cakra.


"baik pak bos," jawab mereka berdua.


saat suara kentongan mulai begitu intens, Cakra terlihat seperti diam sambil membaca doa.


"assalamualaikum...."


"waalaikum salam Mbah, mau mengambil orang lagi, kalau boleh tau siapa itu orangnya,"


"le le, kamu tak usah ikut campur, cukup bantu mereka dalam pemakamannya," kata sosok pria berantai itu.


"baik Mbah, kalau begitu kami akan pergi dan pulang," kata Cakra.


"muleh..."


Cakra pun berjalan pergi, "ayo pulang dan jangan menoleh jika kalian tak ingin mati," perintah Cakra


mereka langsung menuju ke rumah, "ada apa bos? kenapa kita harus pulang, bukankah kita harus mengingatkan semua orang?"


"tidak, karena Mbah rante tak mengizinkan, dia hanya meminta kita untuk memakamkan orang yang mati dengan layak," kata Cakra

__ADS_1


"baiklah kalau begitu kami pamit dulu bos,"


"iya,"


Cakra kembali ke dalam rumah dan memilih untuk beristirahat bersama istrinya.


di jalanan desa, ada seekor anjing yang sedang berkeliling, dan anehnya anjing itu tak menggonggong atau mengeluarkan bunyi.


belum lagi bentuk hewan itu sedikit aneh karena ukurannya terlalu besar untuk anjing kampung.


anjing itu mencari rumah yang bisa menjadi sasarannya malam ini, dia menuju ke sebuah rumah yang terlihat begitu sepi.


itu adalah rumah Cakra, dia tak tau saja sekali dia berani menggesekkan tubuhnya ke rumah Cakra, di jamin pasti akan habis.


tapi hewan itu tak tau, jadi dia mulai mencoba mengambil harta dari rumah Cakra.


tapi yang ada dua malah terbakar dan berlari dari rumah, istri pria itu yang tau kondisi suaminya yan baik kebingungan.


karena lilin bergerak ingin mati, padahal tak ada angin yang meniupnya.


akhirnya dia memilih memanggil suaminya dan saat di depan rumah, pria itu sudah kembali ke dalam wujudnya.


"aku juga sudah berhati-hati, tapi naasnya aku salah pilih rumah, sepertinya rumah orang kaya itu sudah dipagar ghaib," kata pria itu kesakitan.


pukul delapan pagi, Cakra dan Shafa baru keluar, pasalnya tadi setelah sholat subuh mereka berolahraga.


"mas mau makan siang apa?"


"kita jalan-jalan di desa saja yuk dek," ajak Cakra.


keduanya pun berjalan santai di desa, semua warga menyapa mereka berdua.


Shafa pun mengangguk untuk menjawab salam para warga, sedang Cakra juga menyapa dengan lembut.


saat mereka melewati persawahan beberapa orang sedang duduk dengan sedikit khawatir.


keduanya pun berhenti dan melihat, "ada apa pak, kenapa kalian kok nampak sedih seperti itu," tanya Cakra.


"mas Cakra dan istri, ini loh mas, jagung masih muda tapi sepertinya akan gagal panen karena tiba-tiba ada hama yang menyerang," kata pria itu sedih.

__ADS_1


"boleh saya beli jagungnya dua puluh ribu untuk di buat dadar jagung, kebetulan Abi dan mas Cakra sangat menyukai dadar jagung," kata Shafa tersenyum.


"tentu neng, saya ambilkan dulu ya," kata pria itu nampak begitu senang.


Cakra melihat istrinya, dia menyentuh tanah di sawah itu kemudian menancapkan sebuah bambu kuning di tengah sawah itu, "semoga itu bisa membantu bapak ini, karena keluarganya sedang sangat membutuhkan uang," kata Shafa.


"iya dek," jawab Cakra.


pria sepuh tadi keluar dari ladang miliknya dengan membawa satu kresek jagung muda.


"ini neng, semoga keberkahan juga bisa menular nanti ya neng," kata pria itu.


cakra menyalami uang untuk pria itu, "tolong jangan di tolak, ini sedikit rezeki dari Allah, kalau begitu kami pamit,"


keduanya melanjutkan untuk berjalan, di pinggir sungai ada tumbuhan simbukan yang tumbuh liar.


Shafa mengambil tumbuhan itu secukupnya, dan kemudian berjalan pulang bersama suaminya.


sesampainya di rumah, Shafa membuat botok simbukan, dadar jagung dan sayur bening.


setelah itu mereka datang ke pondok untuk mengantarkan makanan itu.


sesampainya di pondok ternyata ustadz sepuh masih mengajar, jadi mereka duduk sambil menunggu kedatangan ustadz sepuh.


Cakra melihat ke sekeliling pondok, takutnya masih ada beberapa fasilitas yang di butuhkan, atau yang butuh di renovasi dia bisa membantu.


di sebuah rumah, ada seorang pria yang sakit parah karena kegagalannya tadi malam dalam melakukan ngepet.


"pak kenapa bisa seperti ini, kamu seakan mati tak bisa, hidup juga tak mau, terus aku tak bisa bertahan jika harus terus seperti ini, siapapun yang bisa bisa membantu menyembuhkan pria itu.


Cakra melihat kolam terbengkalai yang di tutupi begitu saja di pondok pesantren itu.


"le, kenspa disitu,"panggil ustadz sepuh pada menantunya itu.


"kenapa ada kolam tak terpakai yang di biarkan begitu saja, lebih baik di perbaiki dan di gunakan untuk ternak beberapa ikan Abi, lumayan untuk menekan biaya dari makan anak-anak," kata Cakra.


"kamu mau membantu mendanainya?"


" tentu Abi, aku akan membiayai semuanya, mulai dari perbaikan hingga mengisinya dengan ikan, setelah itu ya urusan Abi," kata Cakra tertawa.

__ADS_1


__ADS_2