
"mas Nino," panggil Husna.
pria itu langsung sadar dan bangkit dan mencari sumber suara, Nino melihat ada Husna di sebrang jalan.
tapi di belakang istrinya ada seorang pria yang menunjukkan sosok lima tahun lalu yang pernah dia tangkap.
pria itu tersenyum ramah, Mela yang berada di belakang tubuh Nino menyentuh bahu pria itu.
tiba-tiba Nino melihat ingatan istrinya yang berada di dalam mobil.
mobil itu terbang dari tangkis sungai dan tercebur ke sungai dalam itu, bahkan wanita itu sudah tak bisa bergerak.
Nino merasakan sesak nafas yang di rasakan oleh istrinya itu, tiba-tiba dia terjatuh.
Mela melepaskan pegangannya dan pergi, sedang Ki Cakra mengantarkan Husna ke depan Nino.
"mas Nino," panggil Husna yang menyadarkan suaminya itu.
"sayang,"
Nino langsung memeluk istrinya itu, dan semua orang kaget bagaimana bisa wanita itu selamat tanpa luka sedikit pun.
"jaga dia om, dan juga bayi kalian, semoga tetap bahagia," kata pria itu yang kemudian pergi.
"Adit... Adit!!" teriak Nino.
Husna kaget dan melihat ke arah suaminya, tapi dia tak melihat sosok pria yang sudah hilang itu.
"mana mas, aku tak melihatnya, aku di tolong oleh seorang dukun dan istrinya, dan istri dukun itu mirip dengan Lily..."
"apa? bagaimana bisa, tapi syukurlah ya Allah kamu selamat sayang, maafkan mas dek," kata Nino memeluk istrinya.
akhirnya Husna menceritakan tentang apa yang dia alami, awalnya tak ada yang percaya, tapi semua anggota kepolisian sedikit percaya saat salah satu polisi yang indigo mengakui itu.
dan saat mereka ingin pergi, tiba-tiba sesosok mayat terapung dengan kondisi sudah bengkak.
Husna kaget karena itu adalah wanita yang tadi di lempar oleh Mela.
polisi pun kaget saat melihat siapa mayat wanita itu, dan tak ada penjelasan logis karena wanita itu tengelam hanya beberapa jam.
tapi seperti sudah mati tengelam seminggu, percaya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan alami.
Mela sudah berada di dalam mobil, dan tiba-tiba pria itu hilang di antara kerumunan orang.
__ADS_1
"yey, akhirnya aku boleh keluar!!" teriak Mela seperti anak kecil.
"dasar aneh, sekarang mau keluar atau mau jajan?" tanya Ki Cakra.
"jajan dong, mau sate dua ratus tusuk bang, sama soto sepanci," kata Mela.
"hei kamu itu kuntilanak bukan sundel bolong," kata Ki Cakra tertawa
"aku disini!!" kata sundel bolong yang tiba-tiba nongol.
"ya elah gak di panggil nongol lu, tau aja mau beli jajanan enak," kata Mela tertawa.
"yo pasti dong, tolong jangan lupakan teman mu ini lah nda, ya kan Ki?"
"ya sudah kalau begitu beli kambingnya saja kita sate sendiri di rumah, aku tak mau buat orang bangkrut karena kalian," kata Ki Cakra.
"ya bukan bangkrut, kita itu ngeramein tau," kata sundel bolong di kursi belakang.
"Halah bisa saja," jawab Ki Cakra.
sundel bolong itu pun berubah menjadi sosok wanita cantik, "sudah gak kelihatan buluk kan Ki, gak kalah cantik sama Mela," kata sundel bolong itu.
"tetap cantik aku dong, karena goyangan ku yang terbaik ya Ki," kata Mela yang tak mau kalah.
Ki Cakra terbatuk-batuk mendengarnya, beruntung warung sate itu sudah tak jauh dan mereka pun masuk ketempat itu.
"Alhamdulillah, arep pesen nopo mas," tanya pria itu.
"pak pesen sate tiga ratus tusuk seratus lima puluh ayam, dan seratus lima puluh kambing ya," kata Mela yang memesannya.
"makan disini atau bungkus mbak e?" tanya pria itu tak percaya.
"makan di sini tak usah nasi, lontong saja," kata si Siti alias sundel bolong.
"ini yakin tiga ratus?" tanya pria itu memastikan.
"iya pak, tolong buatkan, dan jika punya air cucian beras boleh minta," kata Ki Cakra.
"ada den, buat apa?" tanya ibu pemilik warung yang bingung.
"saya yang mau mengerjakannya," kata Siti.
"baiklah, tolong berikan Bu," kata Ki Cakra yang di angguki wanita itu.
__ADS_1
ternyata benar, "sekarang kita mandikan mereka," gumam Siti iseng.
Ki Cakra memberikan garam yang sudah di mantrai, setelah itu siri menguyur air itu seperti sedang menyiram karena debu jadi tak ada yang curiga.
tapi kedua pocong hitam itu langsung terbakar dan pergi, seorang wanita yang tau datang ingin melabrak pemilik warung.
tapi dengan iseng Siti menguyur wanita itu hingga basah kuyup. "ah maaf!!" panik Siti pura-pura.
"dasar wanita gila, bagaimana bisa kamu melakukan ini, aku akan membuatmu tau rasa," kata wanita itu mulai merasa gatal di sekujur tubuhnya.
"hei apa yang kamu gunakan untuk menyiram ku!!" panik wanita itu yang terus menarik tubuh dan wajahnya.
"hanya air cucian beras, dari pada di buang begitu saja kan sayang, jadi di buat siram tanah biar tak debu," jawab Siti dengan centil.
"tidak!!! dasar wanita sialan!!!" wanita itu berlari tanpa tujuan.
Ki Cakra dan Mela tertawa melihat itu, pasalnya wanita itu pasti kebakaran jenggot karena susuknya hancur.
tak lama sate datang tapi hanya lima puluh tusuk karena sedang di bakar.
"oh kok yang ayam, aku mau kambing loh," kata Mela yang memasang wajah kesal.
"aduh ya gimana dong, sabar sayang," kata Ki Cakra.
Siti makan dengan lahap, saat sate kambing datang Mela dan Ki Cakra berbagi makan itu.
Siti benar-benar sangat lahap, ternyata dia berbagi dengan sosok genderuwo.
setelah habis, para orang di warung itu di buat kaget, "pak jadi semuanya berapa?" tanya Ki Cakra.
"tujuh juta mas," kata pemilik warung sedikit takut.
"ini pak, untuk bapak, dan jika bisa setiap pagi siram air cucian beras sambil membaca ayat kursi ya Bu, semoga warungnya laris, ayo pulang, kalian ini wanita apa Monster," kata Ki Cakra.
"baiklah kami permisi," pamit mereka bertiga.
setelah meninggalkan warung itu, tak lama para pengunjung berdatangan.
"aduh bapak kok gak pernah jualan, padahal saya udah kesini sampai berkali-kali," kata seorang pembeli.
"apa sih neng, saya itu tak pernah libur, tapi untuk hari ini saya libur karena sudah habis," kata bapak penjual.
"baiklah, besok saya kesini, kalau tutup saya ketok bener deh," kata pembeli itu.
__ADS_1
"iya mbak, saya tunggu besok," jawab penjual itu.
anak penjual sate itu menghampiri ayahnya, "pak sepertinya tiga orang tadi sudah membuka orang yang menutup usaha kita, percaya gak percaya tapi dari ucapan pembeli tadi semua praduga kita benar pak," kata gadis itu.