
Mela sampai di padepokan, semua orang tak berani menegurnya karena wanita itu adalah orang penting meski terlihat sangat sedih.
wanita itu langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya, entahlah dia sangat sedih.
sedang Ki Cakra masih di tahan warga untuk mengucapkan terima kasih.
padahal dia sudah harus membujuk Mela atau Semuanya bisa terlambat. dia tak ingin mela makin membencinya.
"terima kasih Ki, terima kasih... saya mewakili semua warga mengucapkan terima kasih," kata pria itu yang terus menjabat tangan Ki Cakra.
"baiklah tapi tolong lepaskan, saya harus pulang, permisi dan penuhi saja janji kalian semua," kata Ki Cakra.
"tentu Ki, tapi sebelum itu tolong tinggallah di sini untuk beberapa menit saja, kita ngopi dulu," kata seorang warga.
"jangan menahan ku, kalian tau jika kondisiku tak baik sekarang, minggir!!" bentaknya.
pak Bowo yang tau pun tak suka hal itu, "sudahlah Ki, itu hanya seorang wanita, kita bisa mencarikan seratus untuk Ki Cakra,"
"kamu mau mati Bowo? berani-beraninya kamu mengatakan hal itu, aku akan membuatmu menyesal," ancam pria itu.
"tunggu Ki, lebih baik Ki Cakra pulang bersama saya, biarkan pak Bowo dan Sukri yang di sini," ajak Wawan.
keduanya pulang dengan mobil, dan sesampainya di rumah sudah cukup larut.
Ki Cakra tau benar apa yang akan di lakukan oleh wanita itu, dia pun bergegas kedalam rumah dan segera mengambil tindakan.
dia menendang pintu dan berhasil menggagalkan rencana Mela yang ingin mencabut paku di kepalanya.
"jangan Mela, aku bisa gila jika kamu melakukan itu, kamu harus di sisiku mengerti," kata Ki Cakra yang menahan wanita itu.
"lepas Ki, kenapa kamu ingin menahan ku, kamu mau mati ya mati saja, aku tak ingin merasakan kesedihan lagi, melihatmu seperti tadi membuatku gila!!" teriak Mela.
"maaf Mel, aku tak menyangka jika pria itu sangat kuat, dan ternyata dia itu mantan dukun sakti juga," kata Ki Cakra memohon.
"tapi aku tak ingin melihat kematian lagi," kata Mela.
"baiklah ini yang terakhir," jawab Ki Cakra.
__ADS_1
Mela pun sedikit tenang, Ki Cakra pun menemani wanita itu untuk istirahat, susah sejak tadi mereka terus melakukan hal yang menyita banyak tenaga.
keesokan harinya, sudah ada dua kambing yang di antar ke rumah itu,Ki Cakra keluar dan melihatnya.
Mela juga sudah merasa baikan dan tak menyalahkan Ki Cakra lagi,pagi ini saja mereka sudah bersama lagi.
"ada apa ini?"
"ini Ki, kambing yang di janjikan oleh para warga desa kunyit, mereka mengirimnya tadi pagi," kata Gopur.
"sayang itu kambing milik mu bebas mau di buat apa, jadi tak usah malu-malu," kata Ki Cakra yang mengejutkan semua orang.
pak Bowo ingin mengatakan sesuatu dan protes, tapi Ki Cakra menghentikan pria itu dengan gerakan tangannya.
"jangan bicara, aku sedang tak ingin mendengar bantahan, jika kalian tak suka dengan caraku, silahkan pergi karena pintu pendopo ada di sana," kata Ki Cakra dengan dingin.
mereka semua diam,sedang pak Bowo merasa jika itu sangatlah mengelikan karena Ki Cakra itu lemah terhadap seorang wanita.
"dan ingat ini, sekali saja kalian berani menganggu Mela, maka hidup kalian selesai saat itu juga," kata Ki Cakra.
"baik Ki," jawab semua orang.
sedang kambing yang lain di masak untuk makan besar nanti malah, dan kambing itu menjadi kambing guling setelah bulu di bersihkan.
sedang kepala, kaki dan kulit akan jadi gule kambing yang manteb, serta ada jeroan goreng juga.
seharian itu padepokan sangat sibuk untuk memasak, sedang Ki Cakra tetap melayani beberapa orang yang datang untuk berobat dan konsultasi.
sedang di rumah Husna dan Nino, keduanya sangat bahagia karena kandungan Husna baik-baik saja.
"sayang sepertinya kita harus berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan mu,"
"kamu benar mas, jika bukan karena dia, mungkin aku tak bisa berkumpul lagi dengan mu," kata wanita itu.
"iya sayang, kita ke padepokan itu ya, tapi kita harus bawa apa, dia itu dukun," bingung Nino.
"bawa sembako saja, toh dia pasti butuh makan minum, dan lebih penting kopi biji mas,"
__ADS_1
"ah kebetulan aku punya, mau kapan ke rumah pria itu?" tanya Nino pada Husna.
"sekarang juga boleh, mumpung mas libur," jawab wanita itu.
"baiklah ayo kita berangkat," jawab Nino.
mereka pun berangkat menuju ke padepokan, mereka tak kesulitan karena jalan menuju padepokan Hadikusumo sangat gamblang bahkan ada papan penunjuk jalan.
sesampainya di tempat yang mereka tuju, mereka melihat ada jajaran mobil yang berbaris rapi.
mereka pun tak mengira jika masih banyak orang yang percaya dengan ilmu hitam seperti ini.
mereka pun harus antri seperti pasien yang lain saat ingin menemui Ki Cakra.
bahkan Husna juga ingin bertemu Mela dan mengajaknya berfoto, ya dia ingin menunjukkan foto itu pada seseorang yang jauh disana.
setelah menunggu setidaknya dua jam, akhirnya giliran mereka yang ternyata pasien terakhir.
tanpa di duga Ki Cakra malah keluar dan menghampiri kedua tamu, "selamat sore, ada apa dan ada yang bisa di bantu?"sapa pria itu dengan sopan.
"ah kami ingin berterima kasih, karena kemarin Ki Cakra sudah membantu istri saya dan menyelamatkannya, bahkan bayi kami juga sehat tanpa kurang apapun," kata Nino dengan senang.
"baguslah, mungkin itu cara Tuhan mu memberikan pertolongan lewat diriku," jawab Ki Cakra.
"tapi Ki, setahuku nama Hadikusumo hanya tinggal satu orang dan pria itu sudah pergi entah kemana, sebenarnya kalau boleh tau, anda ini siapa?" tanya Nino yang penasaran.
bagaimana pun dia juga aneh, jika tiba-tiba muncul keturunan lain, "saya sepupu jauh, dan sekarang mengoperasikan semua ini,"
"owh begitu, kalau anda bisa melihat dimana pria bernama Aditama Cakra Hadikusumo bisa tolong kasih tau,kami semua sangat ingin bertemu dengannya, karena banyak yang ingin kami katakan," kata Nino yang memancing pria itu.
"dia sudah mati, dan dia menyusul istrinya yang sudah mati beberapa tahun lalu," jawab pria itu dingin.
"ah begitu rupanya," jawab Nino mengangguk saja.
sedang Husna mencari sosok Mela, "maafkan saya Ki, tapi mana istri anda, saya tak melihatnya?"
"dia sedang sibuk, dan jika kalian sudah menyampaikan apa yang ingin di sampaikan, silahkan pergi karena di rumah ini akan ada acara ruwatan, dan tak mungkin jika kalian ingin ikut kan?" kata Ki Cakra.
__ADS_1
"tentu saja tidak, kalau begitu kami permisi," jawab Nino yang mengajak istrinya pergi.