Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
bukan dukun


__ADS_3

Ki Cakra sedang mentransfer ilmu pelet untuk keenam anak buahnya, karena pak Bowo tak ingin mengambilnya.


tapi dia akan mengajak istrinya datang ke tempat itu akan menjadi kepala para wanita dari keenam pria itu.


"kami boleh jalan Ki?" Sukri yang tak sabar mencoba ilmunya.


"tentu saja silahkan, aku akan menunggu kalian, silahkan pergi,"


keenam pria itu mulai berburu wanita, sedang Ki Cakra duduk menunggu pak Bowo yang menjemput istrinya.


seorang wanita cantik berambut panjang datang mendekati Ki Cakra, pria yang sedang meditasi itu pun membuka matanya.


"kenapa keluar Mela?"


"karena aku kesepian di dalam rumah, terlebih dua makhluk itu begitu cerewet Ki," kata Mela duduk di depan ki Cakra.


"Ki Bahurekso dan Ki Adjisaka, kenapa menganggu Mela, apa kalian sudah bosan karena aku belum pernah membuat kalian kena hukuman?" kata Ki Cakra.


"tentu tidak Ki Ageng, kami hanya tak mengira jika kuntilanak ini bisa menjadi wanita anda, bahkan sudah melayani anda," kata Ki Adjisaka tak percaya.


"sudah tak perlu heran, ini pilihan ku, karena aku merasa tubuhnya istimewa, kalian bisa pergi bertapa dan aku akan memanggil kalian saat butuh bantuan,"


"baik Ki Ageng," jawab kedua makhluk itu pergi.


sedang Mela sudah terlihat cantik dengan daster modern yang di belikan oleh Ki Cakra.


"kemarilah, sebentar lagi kamu akan punya teman, dan ingat kamu nyonya di rumah ini,"


"baik Ki," jawab Mela.


pak Bowo datang bersama seorang wanita yang terlihat masih muda, "Ki Cakra, perkenalkan Susi istri ku, dan akan jadi orang yang akan membantu Nyai,"


"tentu, Mela sekarang kamu bisa bersama Susi ya," kata Ki Cakra membenarkan rambut wanita itu.


"baik Ki, kalau begitu aku tunggu di dalam, karena aku lelah dan masih harus mulai berlatih dulu," jawab Mela yang langsung pergi sekolah memberikan ciuman di bibir pria itu


pak Bowo membawa istrinya ke kamar lamanya, Susi terlihat begitu menurut pada pria itu


"sekarang kamu harus menjadi pelayan Nyai mengerti, jangan membuatku susah,"


"tentu suamiku, aku akan selalu melakukan semua perkataan mu," jawab Susi.


sedang keenam pria itu sedang berburu, dan satu persatu mulai mendapatkan apa yang mereka inginkan.


bahkan wanita yang mereka pelet tak main-main, semuanya adalah wanita cantik dan begitu menggoda.

__ADS_1


saat sampai di padepokan, pak Bowo memberikan minuman yang harus di minumkan pada para wanita itu.


setelah itu baru mereka membawa para wanita itu untuk menyempurnakan Semuanya.


Ki Cakra masih duduk bersila, saat tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup kuat.


pak Bowo yang berjaga langsung membuka gerbang kecil untuk melihat tamu yang datang.


"ada apa datang kesini?"


"tolong kami pak Bowo, anak saya tiba-tiba seperti ini, tadi dia memakan makanan yang di bagikan orang luar desa," kata para orang tua anak itu yang sedang kejang dan terus mengeluarkan darah hitam.


"bawa masuk pak Bowo,"


kedua orang itu sangat panik, karena putranya sudah mulai membiru, "sepertinya ada yang berani mencari tumbal di desa ku,"


"tolong putra tunggal kami Ki..." tangis kedua orang tua itu.


"baringkan dia, pak Bowo ambilkan aku perlengkapan dan sesajen lengkap," perintah Ki Cakra.


"baik Ki Ageng," jawab pria itu pergi.


Ki Cakra langsung menarik makhluk yang sedang menjilati bocah itu, dan membantingnya ke tiang pendopo rumah itu.


pak Bowo datang dengan semua yang di minta, Ki Cakra langsung membakar kemenyan.


Ki Cakra langsung menaburkan bunga ke tubuh bocah itu dan mulai membaca mantra, "kembalilah pada pengirim mu," kata Ki Cakra menekan titik di antara alis membuat bocah itu berteriak kesakitan.


kemudian bocah itu pingsan, sedang Ki Cakra bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah taman padepokan.


ada makhluk yang sedang berteriak kesakitan, makhluk itu terbakar karena Ki Cakra yang menghadapinya.


"siapa yang menyuruh mu?"


"aku tidak tau, aku hanya mengambil jiwa anak yang makan nasi yang sudah di tandai," jawab makhluk itu.


"kalau begitu aku akan menunjukkan siapa penjaga desa ini," kata Ki Cakra menekan makhluk itu ke dalam tanah.


dia membuat ledakan saat mengembalikan semua makhluk yang ingin tumbal itu.


seorang pria berteriak ketakutan, karena dia sedang di serang oleh banyak makhluk yang selama ini membuatnya Kaya.


karena ketakutan pria itu berteriak dan berlari seperti orang gila, hingga ke tengah jalan raya.


sebuah truk tronton menabraknya dan membuat tubuh pria itu hancur, Ki Cakra hanya tersenyum melihat hal itu.

__ADS_1


"tak ada yang boleh menganggu desa ku," kata Ki Cakra yang hilang di tengah kegelapan malam.


bocah itu sudah kembali normal, kemudian sadar setelah hampir mati.


"ibu... bapak..." lirih bocah itu.


"Cahyo..." kata kedua orang tua itu memeluk putra mereka.


Ki Cakra tersenyum melihat keluarga itu kembali, "Ki Ageng saya hanya memiliki sedikit ini, saya bisa memberikan lebih saat panen nantinya,"


"tidak usah, membantu kalian itu tugas ku, lain kali jangan sembarangan menerima hadiah dan makanan dari orang luar desa, ini gunakan untuk pertanian mu, semoga panen mu menjadi lebih banyak," kata Ki Cakra memberikan bungkusan kain merah


"terima kasih Ki Ageng, tidak hanya menyelamatkan nyawa putraku, tapi Ki Ageng juga sangat baik, terima kasih," kata pria itu mencium tangan Ki Cakra.


begitupun istri dan anaknya, dan mereka akan menyebarkan semua yang di katakan oleh Ki Cakra.


mereka pulang, para pengawal Ki Cakra sudah datang dengan wajah yang terlihat cerah.


"ingat ini, kalian tidak di izinkan memiliki wanita lain, karena ilmu kalian tak akan berguna saat kalian punya dua atau lebih banyak wanita, mengerti,"


"baik Ki Ageng," jawab mereka semua.


Wahyu, Sukri, Asep, Gopur, Edi dan Wawan, mereka berenam adalah anak buah yang di buat Ki Cakra tak bisa di bunuh.


sedang di kantor polisi, mendadak menerima banyak kasus kecelakaan dan kematian secara mendadak.


Nino sudah mau pensiun rasanya, jika kasus seperti ini tak ada hentinya.


ustadz Haris datang untuk menemui omnya itu sekalian mau pamitan karena harus segera pulang karena maminya sudah meminta pria itu kembali.


"assalamualaikum... apa pak Nino ada?"


"ada di kantor, anda siapa dan ada keperluan apa?" tanya pria itu.


"saya Haris Maulana Arkana, keponakan pak Nino," jawab pria itu.


mendengar suara Haris, Nino buru-buru berlari keluar, "terima kasih ya Allah, ada bala bantuan datang," kata pria itu langsung memeluk Haris.


"perasaan ku sudah tak enak kalau seperti ini," gumam pemuda itu.


"tolong bantu kami, karena sekarang banyak sekali kasus pembunuhan, tapi kami mengalami kasus buntu, tolong sekali ini saja, setidaknya aku tak menjadi pusing seperti ini," kata Nino memohon.


"kalau begitu tolong belikan hadiah untuk ku saat kasus ini selesai,"


"apapun yang kamu inginkan," jawab pria itu frustasi.

__ADS_1


__ADS_2