
setelah pemakaman, Aryan dan Riya datang ke rumah sakit, mereka datang untuk menjenguk Cakra dan Shafa.
Aryan masuk dan melihat sosok Cakra yang sedang beristirahat, sedang Shafa masih bangun untuk membaca buku.
"assalamualaikum, apa ayah menganggu," kata pria itu yang masuk kedalam ruangan rawat.
"waalaikum salam ayah, ah tidak tapi mas Cakra memang sepertinya masih sangat lelah," kata Shafa.
"ah sepertinya waktunya kurang tepat, ayah hanya ingin datang dan mengucapkan terima kasih sudah menolong putra ku," kata Aryan
tapi ada yang aneh dengan sosok Riya, bahkan Shafa bisa melihat hal itu, "ibu kecil baik-baik saja," tanya Shafa.
"ah iya, aku baik-baik saja kok nduk, hanya tak percaya bisa melihat kalian bersama, dan aku dengar kalian juga sudah menikah siri," kata Riya.
"iya ibu kecil, karena kemarin kami sangat buru-buru jadi tak bisa mengurus surat, apa itu masalah ibu kecil? karena Abi bilang akan segera mengurus semuanya segera mungkin," tanya Shafa bingung.
"itu tak salah dek, hanya dia tak percaya dengan yang dia dengar, begitu kan Riya," kata Cakra yang membuka matanya.
pria itu langsung duduk dan menatap kedua orang yang datang, sedang Shafa melemparkan sebuah ikat rambut pada pria itu.
"terima kasih dek," jawab Cakra tersenyum.
"apa maksudmu dengan terkejut, apa kamu mau menjelaskan," tanya Aryan pada Cakra.
"tak usah nanti banyak orang yang terluka, dan seharusnya ayah harus lebih baik pada ibu kecil, dan untuk ibu kecil tak semua yang kamu lihat itu adalah keluarga yang sempurna, cobalah bersyukur dengan yang kamu miliki," kata Cakra dingin.
"kamu jangan membuat orang bingung seperti itu mas," kata Shafa.
"apa sih dek, aku hanya mengatakan yang seharusnya," kata Cakra menyahut.
"berarti mas bisa bicara seperti itu, mas bisa melakukannya, kalau begitu minta semua anak buah mas Cakra melepas foto pernikahan mu dengan mbak Lily, karena bagaimanapun aku tak mau tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan dari masa lalu, apa bisa?" kata Shafa.
deg...
Aryan terdiam, begitu pula dengan Cakra, kedua pria itu seperti tertampar dengan sangat keras.
"kalian masih berkubang dengan masa lalu, bahkan kadang lupa jika mereka sudah tiada. bahkan tak memikirkan orang yang sekarang jadi pasangan mu, aku tau jika cinta pertama itu tak terlupakan, tapi cinta itu memiliki batas, jangan sampai kalian menyesal telah menyia-nyiakan orang yang sudah bersama dengan mu,"
Cakra melihat ke arah Shafa, dia tau apa yang di maksud oleh gadis itu, mengenang orang itu boleh tapi kalau melukai orang yang bersama kita adalah kejahatan besar.
__ADS_1
"aku bukan tak ingin melepaskannya, aku hanya ingin aku dan kamu sendiri yang melepasnya dan mengantikan dengan foto baru," kata Cakra pada Shafa.
Aryan melihat Riya, tiba-tiba dia ingat bagaimana dia memperlakukan istrinya itu.
"aduh ternyata kalian berdua semanis ini ya," kata Riya dengan senyum mengembang indah.
mereka berbincang dengan hangat, setelah merasa semakin malam, akhirnya mereka pamit pulang.
pernikahan Shafa dan Cakra sudah terdengar hingga ke telinga keluarga Arkan.
reaksi mereka bukan marah tapi bersyukur karena akhirnya yang seharusnya terjadi tetap terjadi.
dan ustadz Haris menerima semuanya, bagaimana pun dia harus ikhlas toh tak baik jika mereka menikah karena masih saudara dekat.
mereka belum bisa pulang karena kondisi dari Arkan yang masih belum stabil, tapi mereka berjanji akan segera datang memberikan restu.
di tempat lain, ada ustadz Harun yang tersenyum mendengar berita tentang pernikahan itu.
meski awalnya dia tak menerima, tapi dia tak bisa memaksakan diri pada gadis yang tak pernah mencintainya.
keesokan harinya, Cakra dan Shafa di izinkan pulang karena kondisi mereka membaik dengan cepat.
bagaimana pun, dulu pria itu adalah salah satu orang sangat penting di pondok pesantren dengan membantu ustadz sepuh untuk menyembuhkan orang.
setelah sholat magrib, Cakra di minta ikut kajian bersama para santri.
tapi bukan jadi murid, karena guru yang mengajar dapat pertanyaan sulit di jawab oleh mereka.
akhirnya pilihan terakhir adalah ustadz sepuh memanggil semua guru yang sudah mengajar lebih dari lima tahun di pondok pesantren untuk mengetes pria itu.
alhasil semuanya terdiam, bagaimana bisa orang yang bisa memahami agama sebagus ini bisa baru memeluk Islam.
"Abi harap kamu tak akan membangkang dan melakukan hal bodoh lagi,"
"baik Abi," jawab Cakra.
"ustadz sepuh, jika dia di tarik ke yayasan aku yakin yayasan akan mendapatkan kejayaannya lagi."
"terlebih kami jadi ingat bagaimana dulu pondok ini bisa berkembang, bersama sekolah milik yayasan keluarga Noviant," kata seorang penanggung jawab di yayasan.
__ADS_1
"bagaimana menurutmu le, karena aku tak mau memaksa dirimu," terang ustadz sepuh.
"boleh saja Abi, tapi keinginan ku hanya menjadi warga biasa, dan menjalankan tugasku, terlebih lagi aku ingin hidup seperti orang normal," kata pria itu
"baiklah apapun pilihan mu,Abi akan mendukungnya," kata ustadz sepuh.
"terima kasih, tapi untuk sementara aku akan tinggal di sini untuk mendalami agama lagi, terlebih tak baik jika aku membawa Shafa saat belum menikah secara resmi,"
"lagi pula aku tak akan mengizinkan hal itu, jadi aku sudah meminta seseorang mengurus semuanya dan segera kalian harus menikah,"
"baiklah aku mengerti Abi," jawab Cakra.
dia pun mengambil ponselnya, dia mencari beberapa nomor lama yang seharusnya sekarang mereka mengembalikan hutang mereka.
benar saja lima orang yang dapat telpon dari Cakra mengalami ketakutan dan langsung berjanji akan mengembalikan semua uang yang sudah di pinjam.
"dek kamu punya nomor rekening bank tidak, boleh aku minta," kata Cakra.
"untuk apa mas?"
"sudah kemarikan istriku," kata Cakra lembut di kamar istrinya itu.
Shafa kaget melihat sikap dari Cakra yang begitu manis, sekarang dia tau kenapa dulu Lily begitu mencintai pria itu.
"ini...", kata Shafa yang berlari keluar dari kamar itu.
sedang Cakra merasa heran melihat gadis itu, dia pun hanya bisa tersenyum saja melihatnya.
akhirnya uang sebesar delapan milyar rupiah masuk ke rekening milik istrinya itu.
mendapatkan transferan dari beberapa orang dengan nominal besar membuat Shafa kaget.
dia pun berbalik dan ingin bertanya pada Cakra, tapi saat masuk kedalam kamar, dia malah melihat pria itu sedang bertelanjang dada.
"ada apa dek?" tanya Cakra datar.
"aduh kenapa telanjang dada, nyebelin ... sudah nanti saja," kata Shafa yang berlari pergi dan menutup pintu.
Cakra melihat dirinya di cermin, "apa dia jijik melihat tubuhku yang penuh luka ini," gumamnya.
__ADS_1