Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
bukan dia


__ADS_3

Mela merajut dengan sepenuh hati, dia ingin membiarkan sesuatu untuk pria yang sekarang jadi tuannya itu.


Ki Cakra sedang berjalan di malam hari, dia pergi bersama Wawan dan pak Bowo.


"aduh Ki, apa anda tak lelah? padahal tadi pagi habis jala cukup jauh?" tanya pak Bowo.


"anda bisa pulang pak, dan minta ganti Sukri atau Wawan, dan minta mereka membawa dua sembako," kata Ki Cakra


"baik Ki, saya mengerti," jawab pria itu


sedang Wawan merasa aneh, "kenapa anda memintanya untuk kembali Ki? bukannya tugas pak Bowo terus mengawal anda," tanya pria itu


"sudah kamu itu sebrang pria tua?" kata Cakra yang kini di temani Ki Bahurekso yang berjalan di belakang Ki Cakra


Mela kaget melihat sosok pak Bowo yang pulang dan berbincang dengan Sukri, sekarang pria itu yang pergi dengan dua tas besar di tangannya.


"loh pak Bowo kenapa anda pulang, bukankah seharusnya kamu terus bersama Ki Cakra?" tanya Mela heran.


"saya tak kuat kalau harus berjalan kaki cukup jauh, karena sudah tua," jawab pak Bowo.


Mela pun diam, sebenarnya dia bisa mengetahui apa niatan dari pria itu tapi dia tak ingin mengungkapkan saja.


"bagaimana ini, aku sudah membuat syal, tapi sepertinya tak akan berguna, bagaimana jika besok ada yang mengajariku untuk merawat diri saja," kata Mela yang bingung mau melakukan apa.


"boleh saja," jawab Ika.


mereka semua pun memutuskan untuk istirahat di dalam rumah, pak Bowo menemani Edi berjaga di padepokan.


meski ada makhluk yang juga menjaga tempat itu, tapu lebih baik jika ada orang yang akan ikut menjaga.


Mela sudah mengganti baju miliknya, dia duduk di depan kaca meja rias dan mengusap wajahnya.


"sebenarnya wajah ini siapa, karena aku tak bisa ingat dengan masa hidup ku, jadi aku tak memusingkannya, tapi ki Cakra sangat menyukai wajah ini, bahkan dia selalu berusaha terus berdekatan dengan ku,"


setelah memakai krim yang di berikan Ki Cakra, saat ingin tidur, Mela melihat bunga melati di piring yang beralas daun pisang.

__ADS_1


"wah camilan," gumam Mela yang langsung memakannya dengan lahap.


Ki Cakra sedang berjalan bersama Wawan dan tak lama Sukri lari dari rumah secepatnya.


"ya tunggu dulu, Ki Cakra, ya Gusti saya lelah," kata pria itu duduk di tanah.


"alah lemah amat dih," kata Wawan melihat temannya itu.


sedang Sukri tak peduli, kini Wawan yang membawa dua tas yang berisi sembako itu.


mereka berjalan menyusuri jalan desa, di salah satu rumah, Ki Cakra meminta Wawan meletakkan satu tas sembako itu.


Ki Cakra mengetuk pintu rumah itu, tak lama seorang tua yang sudah cukup rentan keluar dari rumah.


tapi pria itu hanya melihat tas sembako yang di tinggal di depan rumahnya begitu saja.


sedang ketiga pria itu kembali berjalan, terdengar suara anak kecil yang sedang menangis.


bukannya mencari sumber suara, Wawan dan Sukri malah ketakutan, tapi Ki Cakra mengambil tas berisi sembako itu.


Cakra meletakkan tas itu di depan pintu, setelah mengetuk pintu rumah dia langsung pergi.


setelah melakukan itu, dia dan kedua pengawalnya pulang, tapi saat di jalan pulang.


ada seekot monyet putih berukuran cukup besar, dengan bulu berwarna putih.


"minggat!!" bentak Ki Cakra yang membuat monyet itu kembali menghilang.


keesokan harinya, ustadz sepuh bersiap untuk bertemu dengan ko Cakra memenuhi tantangan yang di berikan.


tapi dia tak datang sendiri, dia di temani oleh ustadz Haris,dan juga kelima orang murid yang menerima tantangan itu.


"ustadz tapi kampung itu hilang," kata Hanafi yang kemarin juga ikut ustadz Rasyid.


"itu tidak hilang, karena kalian tak sopan, itulah kenapa kalian tak bisa melihatnya," kata ustadz Haris yang berjalan masuk kedalam kabur itu.

__ADS_1


diikuti oleh ustadz sepuh dan yang lainnnya, ternyata benar, mereka susah masuk dari gapura desa yang berdiri kokoh di sana.


mereka langsung menuju ke padepokan Hadikusumo, mereka sampai tapi tak bisa langsung menemui Ki Cakra.


karena pria itu belum keluar dari kamar, itu berarti belum bisa di ganggu, setelah selesai pria itu keluar dengan sendirinya.


"Ki ada tamu yang ingin bertemu dengan anda," kata pak Bowo.


dia mengambil topeng tengkorak miliknya dan kini langsung keluar dari rumah utama, bahkan cara berjalannya saja seperti Monster.


saat ku Cakra keluar, ustadz Haris merasa familiar dengan sosok pria itu.


tapi dia menepis perasaan itu karena tak mungkin jika kakaknya menjadi orang jahat.


"akhirnya kalian datang, bagaimana bisa menyerahkan tiga dari murid mu itu, untuk jadi makanan penjaga desa ini, karena berjalan kami tak bisa mengambil timbal dari desa ini," kata Ki Cakra dengan santai.


"kami kesini bukan mau menyerahkan tumbal untuk pelihara mu, aku hanya ingin melihat, siapa kamu sebenarnya, bagaimana bisa bacaan Al-Qur'an mu sangat baik,"tanya ustad sepuh


"kau tak perlu tau, aku tak ingin menghalangi kalian menyebarkan agama Islam di desa ini, tapi murid mu itu tak tau sopan santun, hingga pohon saja tak mengizinkan mereka menebangnya, apa pondok itu kehilangan masa jayanya?"


ustadz Haris menatap tajam ke arah ustad Rasyid, pasalnya pria itu yang membuat masalah tapi yang malu adalah ustad sepuh


"iya itu kesalahan ku, aku teledor mengawasi murid ku," kata ustadz sepuh


"baiklah kalian bisa pulang karena aku hanya mendengar ucapan kalian, dan lebih baik pilih ustadz yang mengedepankan diskusi bukan ajaran sesat," kata Ki Cakra.


"baik saya mengerti, kalau begitu kami pamit,"kata mereka semua.


saat akan meninggalkan padepokan itu, ada beberapa wanita yang sedang memetik bunga dan buah di taman padepokan itu.


ustadz Rasyid kaget melihat para wanita yang begitu cantik, tapi tanpa di duga sebuah batu melayang dan mengenai kepala pria itu.


"jaga pandangan mu, karena semua wanita di rumah ini sudah memiliki pasangan, jadi jangan berani menatapnya,"


ustadz Haris memukul ustad Rasyid,"jangan membuat malu,"

__ADS_1


__ADS_2