Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
ketakutan Shafa


__ADS_3

"silahkan masuk... Abi sedang di ruang rapat," kata Shafa dengan menunduk.


"aduh kamu tak ingin menyapaku adik sepupu, uh jahatnya, atau kamu sudah lupa padaku, tapi itu tak mungkin, bagaimana bisa kamu melupakan satu-satunya kakak sepupu mu," kata Marwah yang langsung memeluk Shafa tanpa peduli perasaan gadis itu.


Shafa tak membalas, dia kembali ingat semua perlakuan buruk Marwah di masa lalu.


meski sudah bertahun-tahun tapi ingatan buruk itu tetap datang dengan sendirinya.


"oh ya aku dengar kamu sudah menikah, apa dengan pria itu, dia ustadz kebanggaan Abi mu pasti, benar kan?" tanya Marwah.


"bukan, ustadz Harun adalah pengurus pondok, dan kenapa mbak Marwah datang tanpa pesan," tanya Shafa yang kini mempersilahkan gadis itu masuk kedalam rumah.


"siapa yang datang Shafa?" tanya umi Kalila dari ruang tengah.


"loh Marwah yang datang, kenapa tidak bilang jika mau datang, apa kamu datang sendiri?" tanya umi Kalila yang langsung memeluk keponakannya itu.


"iya bulek, Marwah datang sendiri, karena ayah dan adek masih berada di Padang, lagi pula aku lama rindu ingin tinggal disini," jawab Marwah.


"owh begitu, tunggu sebentar lagi pasti paklek mu juga pulang, Shafa tolong buatkan minum ya nduk," kata umi Kalila lembut.


"inggeh umi," jawab Shafa


"bulek aku dengar Shafa sudah menikah cukup lama, tapi dia tak menunjukkan yang mana suaminya, ku kira tadi ada ustadz ganteng yang begitu sopan itu suaminya, ternyata bukan hanya pengurus di sini, memang siapa suami Shafa," tanya Marwah dengan penasaran.


"benar Shafa sudah menikah, kamu kenal orangnya, dia adalah mantan suami Lily, sekarang jadi suami Shafa,"


"apa? berarti tua dong, Ais.... kenapa lah Shafa suka dengan mas Cakra yang dulu begitu kaku itu,"


"itu dulu nduk," kata umi Kalila dengan lembut.


ustadz sepuh dan Cakra sudah selesai mengikuti rapat,dan untuk masalah yang terjadi di yayasan.


Cakra akan ikut ambil bagian menyelesaikan semua masalah itu, dan juga untuk keuangan doa bisa menghendel semua untuk sementara waktu.

__ADS_1


"assalamualaikum..." salam ustadz sepuh dan Cakra


"waalaikum salam... Abi sudah pulang, lihat siapa yang datang," kata umi Kalila dengan senang.


"loh Marwah, kamu datang sendirian ke sini?" tanya ustadz sepuh kaget.


"iya paklek, aku di suruh ayah datang setelah ayah tau jika Shafa sudah menikah, ayah berharap aku bisa mengikuti Shafa seperti ini, padahal aku belum mau menikah," kata Marwah


tak sengaja Marwah melihat ada sosok di belakang ustadz sepuh, pria yang tampak tampan dan juga berbadan tegap.


wajah itu tak bisa di kenali oleh Marwah karena setahunya tak ada pria yang memiliki rahang tegas di keluarganya.


"memang kamu sudah punya kekasih?"


"belum, ayah bilang minta tolong paklek untuk mencarikannya," jelas Shafa.


"di pondok hanya ada beberapa orang yang siap menikah, pasti kamu sudah bertemu ustadz Harun,dia salah satunya," kata ustadz sepuh


"terlalu sopan, kalau pria di belakang paklek itu baru sepertinya sesuai dengan kriteria ku," jaga marwah dengan tanpa malu lagi.


"apa? lagi-lagi Shafa, kenapa semua pria yang aku cintai pasti di rebut oleh kamu," kata Marwah tak suka.


"maaf ya nona, aku bukan barang yang bisa kamu miliki meski kamu menyukainya, aku memilih wanita yang aku cintai sendiri, dan Abi sepertinya kami harus pulang, karena kami harus berbelanja untuk acara Minggu depan," pamit Cakra yang tak suka dengan wanita itu.


"baiklah le, hati-hati di jalan, dan Abi tak sabar ingin menerima kabar baik dari kalian,"


"di tunggu saja Abi," jawab Shafa berjalan bersama suaminya.


Marwah tak menyangka jika Cakra yang dulu pria itu terlihat dingin dan kaku, saat dengan Lily.


kini terlihat begitu berbeda saat bersama dengan Shafa, dan pria itu terlihat lebih menggoda saat ini bandingkan dulu .


terlebih badannya juga semakin terbentuk, belum lagi tatapan cinta itu membuat Marwah iri.

__ADS_1


"jangan memandang suami saudara mu seperti itu tak baik," tegur ustadz sepuh.


"maaf paklek, habis Shafa selalu duluan, dan aku rasanya ingin sekali merebut apa yang jadi milik Shafa," lirih Marwah.


umi Kalila takut jika rumah tangga Shafa akan dapat gangguan dari saudaranya sendiri.


tapi mereka tak bisa mengusir keponakannya itu dari pondok.


bagaimana pun sikap dari Marwah, dia juga tetap keturunan dari pendiri pondok pesantren.


Shafa terlihat sedih selama perjalanan pulang, dia takut jika Marwah menggoda suaminya dan merebutnya darinya.


karena dari kecil Marwah selalu melakukan itu dengan dalih dia lebih tua jadi dia yang berhak.


bahkan dulu luka di wajahnya juga karena gadis itu, "sayang kamu kenapa dari tadi diam, apa kamu sakit?"


"aku hanya takut jika mbak Marwah datang, hidupku pasti akan seperti di neraka, saat kecil saja karena dia tak mendapatkan mainan ku, dia melukaiku dengan air keras, bahkan aku pernah di bully habis-habisan karena ustadz Haris kecil selalu main dengan ku, dan sekarang tatapan itu hadir lagi, aku seakan bisa tau jika dia menginginkan mu," terang Shafa.


"tenang sayang, aku hanya mencintaimu," kata Cakra.


"aku tau itu dan aku akan berjuang mempertahankan rumah tangga kita, tapi dia selalu saja bisa menebar kebencian pada semua orang," kata Shafa sedih.


"tenang sayang, apapun yang dia lakukan, tolong selalu percaya padaku, dan jangan ragu mengerti, karena bagiku hanya kamu yang ada di hatiku," kata Cakra yang sampai di rumah.


sore itu Cakra dan Shafa duduk menikmati suasana yang tetap sejuk karena alam sepertinya sedang sangat tidak bersahabat.


bahkan sore itu juga hujan, Shafa duduk di pangkuan suaminya, dan menikmati hujan di ruang tamu.


begitupun dengan semua pasangan suami istri yang saling duduk bersama menikmati waktu luang berdua.


sedang di kamar pondok pesantren Marwah punya tujuan lagi saat ini, "aku selalu bias merebut apa yang seharusnya jadi milikku, sepertinya kali ni juga Shafa, dia seharusnya jadi milikku, bukan menjadi suami gadis kucel dan kampungan seperti mu, karena hanya Marwah yang pantas mendampingi seorang petinggi dan orang sukses sepertinya," kata Marwah.


jadi langkah pertama dia harus mencari orang untuk membantunya membuat Shafa cacat, tak peduli itu dengan luka fisik atau santet jika di perlukan.

__ADS_1


karena kemungkinan besar jika Cakra akan meninggalkan wanita itu jika shafa sudah jelek.


Marwah pun tersenyum karena ide brilian yang dia miliki, dan besok dia akan mulai merencanakan semuanya.


__ADS_2