
Ki Cakra tertawa, "sudah berapa orang yang kamu tiduri? atau ada wanita yang kamu sakiti?"
"emm.... ada Ki, itu adakah anak kepala desa, dia ingin menikah dengan ku, tapi aku menolaknya dan memilih untuk menikahi kekasih ku, karena aku memilih wanita yang aku cintai, tapi masak setelah menikah dia malah tak berguna," kata pria itu pusing.
"aduh aduh kasihannya, manten baru tapi tak bisa enak-enak," kata Ki Cakra yang malah meledek pria itu.
"aduh tolong lah Ki, jangan meledek ku kasihan istri ku," kata pria itu memohon.
Ki Cakra langsung menarik tangan pria itu, dan langsung mengasapi tangan pemuda itu.
terlihat jari manis dan jari tengah di ikat oleh benang hitam dan sebuah kain kafan.
"apa ini Ki, kenapa ada di tangan saya, bagaimana bisa Ki?" kata pria itu bingung
"tenang, ini hanya santet ringan, aku bisa melepaskan dengan mudah," kata Ki Cakra yang langsung membakar benda itu.
kemudian Ki Cakra memberikan air pada pria itu, "minum dan lakukan puasa dan sholat jangan sampai telat sholat,"
"iya Ki terima kasih," pamit pria itu dengan semangat.
"eh tunggu dulu, sebelum nanti belah semangka, ingat baca doa agar terhindar dari gangguan setan," kata Ki Cakra yang membuat pria itu bingung.
dia heran, dia itu mendatangi dukun, tapi kenapa rasanya seperti mendatangi ustadz berkedok dukun.
"inggeh Ki," jawab pria itu yang mencium tangan Ki Cakra dan pergi.
pria itu langsung mengusap tangannya ke bajunya karena jijik, dan pasien pun makin banyak berdatangan.
sedang di desa lama, ustadz Harun yang mengawasi masjid, sudah hampir selesai di bangun.
pasalnya bantuan dari Ki Cakra sangat lancar hingga masjid itu nampak mewah
tak lama seorang pria datang dengan wajah marah dan menetap tajam ke arah masjid megah itu.
"siapa yang berani mendirikan bangunan ini, di tanah milik keluarga ku," teriak pria itu.
ustadz Harun keluar dari kamar khusus marbot masjid nantinya, "siapa anda, tanah ini sudah di wakaf kan jadi tak ada yang salah,"
"siapa kamu berani membantahku," bentak Ki Abraham.
__ADS_1
tiba-tiba seseorang melompat dari langit dan mendarat dengan keras di tanah.
"siapa yang berani mengusik tanah milikku, kamu hanya anak tidak sah dan tak memiliki hak apapun, terlebih ayah mu telah merebut semuanya bahkan berani membunuh keturunan asli keluarga Hadikusumo, jadi sekarang aku musuh mu!!" teriak Ki Cakra yang langsung mengejar pria itu.
melihat kekuatan Ki Cakra, Ki Abraham Lari, pasalnya dia bisa langsung mati di tangan pria itu.
"sialan, ternyata anak pria busuk itu lebih sakti dari yang ku bayangkan," gumamnya.
Ki Cakra melemparkan sebuah mantra ke arah pria itu dan berhasil melukainya.
tapi sayang sebuah mobil lewat dan membawa pria itu pergi dari sana, "sialan dia bisa pergi, awas jangan sampai dia berani datang lagi atau aku akan membunuhnya," kata Ki Cakra.
sedang di dalam mobil pria itu kesakitan, pasalnya punggungnya terluka parah, bukan hanya memar.
tapi luka itu seperti luka cakaran dalam, "bagaimana bisa anda terluka tuan, bukankah Anda adalah dukun terkenal,"
"menurutmu, pria itu bukan lawan biasa yang bisa di sepelekan, terlebih dia begitu sakti jadi aku tak bisa seenaknya karena yang sesungguhnya adalah aku bukan tandingannya," kata pria itu menahan rasa sakit.
dia harus segera ke tempat gurunya, dan Ki Cakra sudah mengirim satu sosok yang akan mengikuti pria itu.
pria itu melangkah ke arah masjid megah itu, dan terlihat beberapa warga yang sedang melakukan aktifitas.
"Monggo Ki, kita belajar agama," kata ustadz Harun.
"bukankah sebuah kerugian saat anda punya ilmu yang banyak, tapi tidak anda gunakan," kata ustadz Harun mencoba membujuk pria itu.
"memang yang kamu ucapkan itu benar, tapi ku tak peduli pada hal seperti itu, jadi jangan menganggu ku dan lakukan saja syiar mu," kata pria itu yang berjalan santai dan kemudian hilang begitu saja.
"dendam bisa menyesatkan orang," gumam ustadz Harun.
rombongan ustadzah datang, mereka akan membantu mengajar para ibu dan anak-anak mengaji.
di rombongan itu ada sosok Shafa yang sudah dari lama menjadi wanita idaman dari ustadz Harun.
tapi setiap lamarannya terus di tolak, jadi sekarang ustadz Harun hanya bisa memohon pada sang pencipta agar bisa menjodohkan mereka.
Shafa membantu mengajar para ibu untuk mengaji, gadis itu terlihat begitu telaten.
pukul lima sore, semuanya selesai dan mereka harus kembali ke pondok pesantren, "ustadz Harun kami pamit dulu, dan jika bisa tolong datanglah saat acara ruqyah massal kali ini, itu permintaan Abi,"
__ADS_1
"baiklah aku mengerti, terima kasih sudah memberitahu tentang permintaan dari ustadz sepuh,"
"tentu, itu adalah amanah dari Abi, kalau begitu kami semua pamit, assalamualaikum..."
"waalaikum salam," jawab pria itu menatap gadis itu pergi.
Ki Cakra sedang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi setelah dia menghilang, terlebih bagaimana bisa keluarga itu retak.
"jadi maksud pakde, sekarang ayah dan paklek berpisah, bagaimana bisa," kata Ki Cakra tak percaya
"ayah mu marah besar saat tau anand memilih diam saat menyaksikan istri mu meregang nyawa, dan dia ingin membunuh anand, sebagai orang tua Aryan melindungi putranya, tapi setelah itu dia mengusir Aryan dan tak mengakuinya, dan setelah itu keluarga ayah mu menetap di Kairo, dan ayah mu baru kembali setelah hilang tiga tahun belakangan, dan ternyata dia melakukan perjanjian dengan khodam keluarga untuk menarik arwah istrimu, dan menetap di Indonesia dan baru menyusul ke negara itu,"
"jadi sekarang mereka semua di Kairo Mesir?"
"iya, karena ustadz Haris memperdalam agama disana, terlebih kamu yang di gadang untuk melanjutkan yayasan pendidikan juga tak ada kabar,"
"baiklah aku sudah tau semuanya, dan Linga ganti nama juga ada sebabnya karena permintaan Nyai Nawang sebab pemuda itu agar lebih bisa mendekatkan diri pada Tuhan bukan,"
"ya kamu benar," jawab ustadz sepuh
mobil rombongan dari Shafa datang, wanita itu bisa melihat sosok Ki Cakra yang sedang bertamu di kediamannya.
dia memilih pergi dan tak menghampiri pria itu, dan sekarang dia hanya akan menyebut nama pria itu dalam sujudnya.
Ki Cakra yang melihat gadis bergamis biru cerah itu, hanya melihatnya sekilas.
meski dia belum memiliki perasaan apapun, tapi dia memang tak membenci Shafa juga.
mengingat semua kenangan indah bersama gadis kecil itu.
Ki Cakra pun pamit pulang, karena malam ini ada tasyakuran yang di adakan di rumahnya
dan sebagai tuan rumah dia tak mungkin tak ada di rumah untuk menyambut semua warga.
hari ini dia menyembelih kambing tiga ekor untuk menyambut semua tamu.
bahkan alunan musik gamelan menjadi hiburan, dan juga pewayangan yang akan di gelar semalam suntuk.
Ki Dwisa juga malih rupa dan bergabung dengan para warga, tapi Ki Cakra mengenali sodok siluman ular itu.
__ADS_1
"kamu mau merubah diri mu sebaik mungkin pun tak akan bisa menutupi aroma ular itu dari tubuh mu, cih..." gerutu Ki Cakra.
"kamu marah, jangan lah seperti itu, karena aku tak mau jika kamu seperti itu, bagaimana pun aku tetap orang yang akan menemani mu, ha-ha-ha," tawa pria itu menggelegar.