Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
tak berubah


__ADS_3

Shafa sedang sholat Dhuha pagi ini, karena Cakra sudah berangkat untuk ke yayasan.


sebenarnya Shafa ingin ikut tapi dia melarang istrinya itu dan meminta wanitanya itu istirahat.


terlebih dia itu ke yayasan sekolah milik keluarga Noviant dan bukan ke yayasan pondok.


sesampainya di sekolah, semua guru menyambut pria itu dengan hangat.


bahkan ada beberapa guru lama yang masih tetap setia mengajar disana.


"selamat datang pak Cakra, ya Allah saya tak menyangka jika anda akan datang kembali ke tempat ini untuk melanjutkan sebagai kepala yayasan, karena sekolah ini butuh pemimpin seperti anda,"


"terima kasih atas sambutannya, tapi kalian berlebihan, karena saya hanya pria biasa tak sampai harus ada penyambutan seperti ini," kata Cakra.


"tapi mau bagaimana pun, anda adalah tetap orang yang paling berjasa," terang pada guru.


mereka semua masuk ke arah lapangan sekolah, dan ternyata semua murid menunggu untuk mendengar sepatah dua patah kata dari ketua yayasan yang baru.


semua murid menyambut antusias kedatangan dari Cakra, bahkan mereka menyambut dengan baik.


akhirnya dia kembali ke sekolahnya dulu, "bangunan disini tak ada yang berubah ya, padahal setahuku dulu ada banyak rencana perluasan sekolah, tapi kenapa mandek?"


"karena terbentur biaya, dan saat kami mengajukan bantuan ke dinas pendidikan kota tak ada balasan atau jawaban," kata kepala sekolah.


"bukankah sekolah punya beberapa aset, seperti sawah yang harusnya di kelola dan kemudian di buat untuk kelancaran proses pembangunan?" tanya Cakra.


kepala sekolah menjawab dengan takut, "sawah itu sudah di jual tahunan, sekitar lima tahun lagi sawah akan kembali sekolah," terang kepala sekolah.


"kenapa bisa begitu, bukankah harusnya tanah milik sekolah harus di gunakan sesuai aturan, aku minta data seluruhnya,"


pria sepuh itu nampak kaget, pasalnya jika sampai Cakra tau mereka semua dalam masalah besar.


tapi mereka juga tak mungkin menutupi seluruh kesalahan terus menerus.


"baiklah pak, aku akan mengambilkannya mas," kata pria itu.


Cakra pun menghubungi istrinya itu, karena sudah bisa di tebak jika dia pasti akan sangat sibuk.


"assalamualaikum mas?"


"waalaikum salam dek, sayang sepertinya mas akan pulang telat, karena harus memeriksa semua dokumen milik sekolah dan yayasan," kata pria itu.


"iya mas, tak apa-apa,"

__ADS_1


"baiklah sayang, kalau begitu mas tutup dulu telponnya,"


Shafa yang mendengar pun langsung bersiap membuat sesuatu untuk suaminya, dan ternyata wawan yang tadi mengantar sosok suaminya pun sudah pulang.


berarti Cakra sendirian di sekolah, dia pun selesai membuat camilan dan makan siang.


dia memilih mengganti bajunya dan bersiap pergi ke sekolah,Shafa bukan tak percaya.


tapi dia tak bisa melihat suaminya itu kesulitan sendiri, karena ia juga bisa membantu untuk menyelesaikan semua urusan yayasan.


mobil miliknya sampai di yayasan sekolah, dan bertepatan dengan istirahat kedua.


dia pun langsung menuju ke ruangan milik suaminya, setelah mengetuk pintu, dia masuk dan di sambut senyuman lembut dari Cakra.


"assalamualaikum mas..."


"waalaikum salam sayang, kamu datang, ada apa!"


"hanya ingin membantu mas, dan membawakan sesuatu untuk mu," kata Shafa.


"tau saja mas lapar, duduklah, terima kasih mau datang,"


Shafa pun mengangguk, mereka pun makan setelah itu Cakra menunjukkan semua yang dia temukan.


melihat itu Shafa tak percaya, bagaimana bisa ada orang jahat yang melakukan itu.


"jadi apa rencana mas, ini sudah sangat merugikan yayasan dan sekolah," kata Shafa


"sebenarnya aku ingin menjebloskannya ke penjara, tapi aku tak ingin dia merasakan enak begitu saja, terlebih uang yayasan juga bukan satu dua juta yang dia ambil,"gumamnya.


"lakukan yang menurut mas benar,"


"tentu sayang," jawab Cakra.


mereka pun langsung mulai mengerjakan dokumen yang menumpuk itu.


pukul dua siang semua baru selesai, dan Cakra meminta anak buahnya untuk membereskan semuanya.


tentu mereka bukan main-main, mereka nanti malam akan bergerak, dan Cakra menyuruh mereka mengambil apa yang seharusnya.


sedang di pondok, Marwah bangun cukup siang, umi Kalila tak menyangka jika gadis itu sangat di manja oleh kakak iparnya Adi.


"kamu baru bangun jam segini nduk, ini sudah jam dua," tegur umi Kalila dengan suara lembut

__ADS_1


"sudah terbiasa di rumah, maaf ya bulek, kalau begitu aku pamit keluar ya karena ingin bertemu seseorang," kata gadis itu.


"kamu mau kemana, orang kamu tak mengenal siapapun disini, jangan keluyuran sendiri Marwah," kata umi Kalila yang takut keponakannya itu tersesat.


"ayolah bulek, aku bukan gadis berusia sepuluh tahun, aku tak akan tersesat, sudah aku pergi dulu," pamit gadis itu yang pergi begitu saja


umi kalila pun hanya bisa mengeleng pelan melihat tingkah Marwah yang tidak ada perubahan sedikit pun.


bahkan saat Adi sendiri yang mengajari dan membimbing putrinya itu.


"apa ada masalah?" tanya ustadz sepuh yang melihat istrinya.


"masalah besar, kita tak tau apa yang ada di pikiran gadis itu, aku takut dia ingin mengambil semua milik Shafa lagi,"


"tebang saja aku percaya dengan Cakra, karena dia itu pria yang selalu menepati janji dan amanah," kata ustadz sepuh


"aku tak meragukan itu Abi, tapi putrimu itu sangat rapuh, aku takut malah Shafa yang akan jatuh kedalam jebakan dari kakak sepupunya itu."


"doakan saja umi, semoga ketakutan kita tak terjadi, karena Abi juga tak mau melihat rumah tangga putri kita berantakan, karena Shafa terlalu besar mencintai suaminya." kata ustadz sepuh.


Marwah mencari rumah dukun Mbah Cipto sejati, itu mengaku sebagai dukun paling sakti di daerah itu.


dia tanpa ragu datang ke tempat praktek pria itu, dan ternyata benar di tempat praktek itu sangat ramai dengan para pasien


beruntung tak ada yang mengenalinya, dan saat di luar Marwah mengenakan pakaian modis.


bukan gamis panjang dan jilbab panjang yang tadi dia kenakan saat keluar dari rumah tantenya itu


dia dapat giliran nomor tujuh, dan menunggu cukup lama karena setidaknya setiap orang yang konsultasi dengan dukun itu butuh dua puluh menit.


akhirnya gilirannya tiba, dia di minta masuk kedalam ruangan yang di sebut ruang praktek.


"ada yang bisa di bantu nona?" tanya dukun itu tersenyum melihat wanita cantik di depannya.


"saya ingin melukai seseorang dari jauh, tidak perlu membuatnya mati, hanya buat wajahnya cacat, dan suaminya itu membencinya," kata Marwah menaruh foto Shafa yang dia ambil di kamar lama gadis itu.


"ada weton pasarannya, dan juga nama lengkap serta persyaratan berat, apa Anda sanggup nona?"


"tentu Mbah, aku sanggup untuk menuruti semua apa yang anda butuhkan," kata Marwah.


"baiklah, mahar sebesar satu juta, dan minta wanita itu minum air ini dan pastikan dia sedang haid karena jika dia sedang tak dalam kondisi kotor akan sulit, telebih dia sepertinya gadis yang menjaga ibadahnya," pesan dukun itu.


"baiklah mbah, aku akan menghubungi Mbah jika dia sedang halangan," jawab Marwah.

__ADS_1


__ADS_2