
Ibra melihat Shafa yang telihat tak biasa, ya gadis itu nampak kecewa, "woles mbak, jalan mu masih panjang untuk bisa menjadi istrinya, nikmati saja,"
"tutup mulutmu dek, kenapa kamu begitu menyebalkan, dan banyak bicara," kesal Shafa.
"aku cuma tanya, kenapa begitu kesal sih, sudah berdo'a saja, sebut namanya dalam setiap sujud mu, seperti yang di ajari Abi," kata Ibra tertawa.
mereka menuju ke arah pondok, sedang Ki Cakra terlihat sudah sangat sehat sekarang.
"sepertinya aku harus melakukan semedi lagi, karena aneh jika seorang dengan ilmu tinggi, setiap satu hari dalam sebulan bisa selemah ini," gumamnya.
"memang Ki Cakra kenapa?" tanya Edi.
"tak ada, kalian istirahat saja, aku juga akan istirahat," kata pria itu
semua anak buah Ki Cakra pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
sedang pria itu memilih untuk melakukan semedi untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
saat baru memejamkan matanya, dia bisa mendengar suara tawa dari beberapa orang.
tapi dia hanya melihat kegelapan tak ada siapapun di sana, tapi sebuah cahaya membuatnya silau.
mereka terdengar sangat bahagia, dia makin memfokuskan pikirannya agar tak menganggunya yang sedang berusaha berlatih.
dia seperti di tarik ke sebuah tempat yang jauh, dia juga tak tau apa tempat itu.
"ada apa ini, dan aku dimana," gumamnya.
dia berada di sebuah taman yang begitu indah, dia melihat sepertinya ada sebuah rumah di tengah kebun bunga.
dia mendekati tempat itu dan ingin mengetuknya, tapi ternyata seseorang membukakan pintu untuknya.
"ayo masuk," ajak seorang anak kecil.
dia melihat sosok yang begitu dia rindukan, sedang tersenyum kearahnya.
"kenapa mas? heran melihat ku?" tanya sosok itu.
"tidak, hanya tak terkejut saja, ada apa mencariku?" tanya Ki Cakra dingin.
__ADS_1
"sepertinya kamu masih marah, aku hanya ingin berpamitan padamu, ini pertemuan terakhir kita, aku akan segera pergi, apa kamu tak ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya wanita itu.
"tidak ada, tapi aku ingin menikmati hidup dengan banyak wanita, jadi kamu tak usah menemui ku lagi," kata Ki Cakra.
"baiklah, aku mengerti, kalau begitu nikmati kesenangan mu," kata Lily tersenyum ke arah suaminya.
"kamu tak marah dan kembali untuk ku?" tanya Ki Cakra dengan sangat berharap.
"itu tidak mungkin, dunia kita sudah berbeda, dan aku tak bisa menemui mu lagi, terlebih kita sudah berbeda alam, tolong hidup dengan baik dan teruskan impian mu untuk terus berbuat baik, dan ada seseorang yang terus berdoa untuk bisa bersamamu," kata Lily tersenyum.
"tapi aku hanya ingin bersamamu," mohon Ki Cakra yang menyentuh sosok di depannya.
"aku sudah tenang bersama mereka di sana, aku menunggu mu, sekarang kembalilah hidup dengan baik, menikah dan punya anak," kata Lily tersenyum.
"tidak, aku tak ingin pergi," kata Ki Cakra yang tiba-tiba di tarik seseorang dan di lempar ke tengah bara api.
awalnya dia kesakitan,bahkan api panas itu sudah mulai membakar tubuhnya.
"itu tempat yang pantas bagimu, jadi nikmatilah," suara bariton terdengar menggelegar.
tapi yang aneh dia tak merasakan panas sama sekali, "sebenarnya ini apa?" marah pria itu.
tiba-tiba dia mendengar suara lirih dari seseorang, dia mengenali suara itu dengan baik.
suara itu seperti angin yang menyejukkan, Ki Cakra membuka matanya dan melihat jika sudah pagi.
dia tau arti mimpi itu, tapi dia masih belum bisa untuk kembali dan bertobat.
selama dia belum bisa membunuh para musuhnya, terlebih dua orang yang sudah membuat anak dan istrinya meninggal dunia.
"Ki mau mandi bunga atau mau langsung buka praktek?" tanya Sukri saat temannya yang lain sudah berangkat bekerja.
"tidak, hari ini kita akan jalan-jalan keliling desa untuk melihat kondisi para warga," kata Ki Cakra.
saat Ki Cakra berjalan, dia melihat ada beberapa warga yang sedang kebingungan.
pasalnya mereka akan panen singkong tapi tanah begitu tandus, Ki Cakra menghampiri para pria itu.
"ada apa bapak-bapak, saya mau beli singkong loh, kenapa belum panen?"
__ADS_1
"gak bisa Ki, kami harus menunggu air dulu, biar mudah, karena sangat sulit untuk panen," kata pemilik kebun.
Ki Cakra menutup mata dan mulai membaca mantra, dua kali dia menghentakkan kakinya di tanah.
tiba-tiba tanah retak dan munprul, alhasil semua orang tak percaya.
"sekarang silahkan panen, insyaallah sudah sangat mudah," kata Ki Cakra.
"Allahu Akbar," kaget semua orang yang senang.
Ki Cakra memesan lima puluh kilogram singkong pada petani itu, dan menyuruhnya mengirim ke pondok pesantren Miftahul Jannah.
itu adalah camilan yang di sukai oleh ustadz sepuh, "semoga nanti ustadz sepuh ingat dengan ku," gumamnya.
Shafa sedang sholat Dhuha, dan dalam setiap doanya, dia terus menyebut dari nama yaitu Nana Aditama Cakra Hadikusumo.
setelah sholat, sebuah mobil pick up datang mengantar singkong ke pondok, ustadz Rasyid yang menemui para pengantar singkong itu.
"ada apa,tidak ada yang memesan singkong ini, bawa pergi," kata ustadz Rasyid.
"ada apa Rasyid, kenapa kamu mengusir mereka," kata ustadz sepuh yang keluar karena mendengar keributan.
"ini adalah singkong yang di kirim oleh Ki Cakra, katanya ini adalah camilan kesukaan dari ustadz sepuh," kata pengantar itu.
"ternyata bocah itu, ya sudah bawa masuk, dan jangan membuat keributan, dan untuk mu ustadz Rasyid, tolong jangan berulah, itu adalah hadiah dari keponakan ku, jadi berhenti mencampuri," kata ustadz sepuh.
"tapi dia itu penganut ilmu hitam, dan pondok ini pantang makan barang haram," kata pria itu dengan berani.
"sepertinya kamu sudah mendahului kuasa Allah, untuk haram tidaknya sebuah perbuatan itu bukan kewajiban mu untuk menilai, karena aku tau benar siapa keponakan ku, dan sepertinya kamu harus ke Subang untuk memperdalam ilmu,"
"tidak ustadz sepuh, anda tak boleh melakukan itu, karena aku adalah salah satu pengurus di sini, dan aku juga adalah kandidat terbaik untuk menjadi suami Shafa, di banding ustadz Harun yang miskin itu,"
"aku menolak hal itu, karena aku tak ingin memiliki suami yang sombong, tolong jangan mengatakan hal lagi, karena aku tak ingin menikah dengan siapapun, kecuali pria itu pilihan ku," kata Shafa memancing kemarahan dari pria itu.
"lancang sekali," bentak ustadz Rasyid
tak terduga dia ingin menyerang Shafa dan ustadz sepuh, para santri datang meringkus ustadz Rasyid.
"bawa dia ke pondok pesantren milik ku di Subang, dan jangan biarkan dia lepas," perintah ustadz sepuh.
__ADS_1
"baik ustadz sepuh," jawab para santri.
Shafa meminta para pria itu membawa singkong itu ke dapur, dan dia akan membuat camilan kesukaan dari Adit dan ustadz sepuh.