Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
ternyata dia


__ADS_3

Cakra mentransfer uang seratus juta rupiah pada rekening ustadz sepuh, "sudah aku transfer ya Abi, itu bisa di gunakan untuk membangun kolam ikan,"


"ini mah judulnya sekalian bisa mengisi dan kasih makan anak-anak beberapa bulan loh,"


"ya sudah terserah Abi saja, itu sudah aku berikan pokoknya, oh ya tadi aku dan Shafa datang bawa sayur bening, ayo bi kita makan siang dulu," kata Cakra tertawa.


"kalian itu sama, membantu orang dengan alasan membeli sesuatu, karena aku juga sudah tau jika di desa ada beberapa wabah yang menyerang,"


"ya begitulah Abi, jadi kami membantu tanpa bilang, sudah Abi nanti aku yang membereskannya," kata Cakra.


mereka berdua sampai di rumah, ternyata semua sudah di tata rapi di meja oleh Shafa.


"assalamualaikum..."


"waalaikum salam Abi, dan mas Cakra, ayo kita makan dulu yuk," ajak Shafa.


"baiklah, kapan lagi bisa makan masakan putri cantik ku ini, Cakra kapan kalian akan memberikan cucu untuk Abi?"


"masih dalam proses, kalau Abi mau cepet jangan ada gangguan lagi, ayolah kapan kami bisa bikin kalau dikit-dikit ada santri yang datang," kesal Cakra.


"hei hanya tiga kali,"


"meski begitu, Abi kan tau kalau malam kadang ada saja yang harus aku urus,"


"baiklah baiklah maafkan aku, kemarin yang terakhir," kata ustadz sepuh.


setelah makan siang, mereka pun duduk sambil berbincang di teras, tenyata santri putra sedang berlatih pencak silat dan taekwondo.


Cakra pun seakan mengingat bagaimana dulu dia di gembleng habis-habisan oleh tiga saudara itu


terutama ustadz sepuh dan ayah Arkan, hingga dia berubah menjadi pria yang kuat membela yang lemah.


"aku dengar jika di desa mu muncul pengusung jenazah ghaib, dan Mbah rante?"


"iya Abi, aku di larang ikut campur, sudah dua hari sejak kemunculannya,"


"kalau begitu besok akan ada yang mati mengenaskan, sesuai dengan apa yang dia perbuat selama hidupnya," kata ustadz sepuh.

__ADS_1


"tapi aku tak bisa menebaknya sama sekali," kata cakra menghela nafas.


"sudah tak usah di pikirkan nanti kamu juga tau le," jawab ustadz sepuh.


akhirnya Shafa dan Cakra pulang dari pesantren, tapi baru juga mobil berhenti di depan rumah


Wawan datang dengan tergopoh-gopoh, "assalamualaikum bos Cakra, tolong ketiwasan, ada yang membutuhkan bantuan," panik pria itu.


"iya siapa, dan kenapa kamu begitu panik begini?"


"itu bos, pak Tukiman," kata pria itu.


mendengar nama pria itu di sebut, Cakra kaget, "kenapa masih diam, ayo pergi," kata Cakra.


mereka berdua berangkat mengunakan motor agar bisa segera sampai, Shafa menunggu kabar saja di rumah.


motor yang di kendarai oleh Wawan dan Cakra sampai di rumah pria itu, ternyata pria itu terkena gigitan ular ghaib.


"aduh, bapak ini habis main dari mana," kata Cakra yang minta air hangat.


"tadi bapak sedang membersihkan ladang mas, terus tiba-tiba di gigit ular berwarna merah dengan tanda u di kepalanya, bahkan katak saja sampai mati sebanyak itu," kata anak pak Tukiman.


perlahan kaki yang awalnya membiru, tiba-tiba seperti normal kembali, meski warnanya tak bisa menghilang.


Cakra memuntahkan racun itu ke sebuah wadah, dan beruntung pria itu bisa di selamatkan.


Cakra juga mengikat luka itu dengan seksama setelah mengusapkan obat tradisional.


"ganti perbannya tiga kali sehari,sebelum itu olesi obat ini di sekitar luka, dan ingat lain kali kalau mau membersihkan apapun permisi dulu," tegur pria itu.


"inggeh mas," jawab pak Tukiman yang sudah mulai sehat perlahan.


jika orang normal melakukan apa yang di lakukan Cakra, sudah pasti dia akan mati.


tapi sepertinya itu tidak terjadi pada Cakra yang nampak tetap baik-baik saja.


tubuh Cakra memang sudah terbiasa dengan racun ular merah, setelah pria itu nampak baik.

__ADS_1


dia ingin pamit pulang karena menghabiskan sore ini dengan istrinya.


tapi baru juga ingin pergi dari rumah pak Tukiman, seorang ibu yang mengetahui bagaimana Cakra yang mengobati langsung mendatangi pria itu.


"apa anda bisa membantuku?".


"iya Bu ada apa?" tanya Cakra yang melihat wanita itu.


"suami saya sedang menderita penyakit aneh, tolong bantu dia mas," kata wanita itu memohon.


"jangan mau mas Cakra, dia itu seorang pria dengan pesugihan, berapa orang yang dia sakiti demi menjadi kaya," kata salah seorang warga.


"apa itu benar Bu?" tanya Cakra.


"tidak mas, tolong suami saya," mohon wanita itu.


Cakra pun mengangguk, dia berjalan dengan bersama wanita itu dan Wawan.


sesampainya di rumah itu, Cakra merasakan ada aura aneh yang begitu kuat terpancar.


dia pun masuk kedalam rumah dan benar aura yang dia rasakan adalah kekuatan gelap.


dia hanya menghela nafas karena wanita tadi membohongi dirinya, tapi itu tak jadi masalah.


Cakra langsung menuju ke area tempat tidur, ternyata seorang pria terbaring seperti mayat hidup dan mengeluarkan aroma busuk.


bahkan pria itu hidup segan mati tak mau, Cakra duduk untuk melihat apa mengambil tangan pria itu.


ternyata pria itu silih memilih rumah, dia langsung bangkit dan melihat kearah sisi istri pria itu


"bagaimana mas, apa suami saya bisa sembuh"ibu buat pengajian untuk membantu bapak lepas dari kesengsaraan ini,"


"tak bisa mas, saya mohon lakukan sesuatu,"


"itu pilihan terbaik, atau lebih baik bunuh saja, toh hidupnya akan terus seperti ini,"kata Cakra.


wanita itu diam tak menyangka dengan apa yang dia dengar, jadi pilihan satu-satunya adalah mengakhiri semuanya dengan membunuhnya.

__ADS_1


karena jika dia memanggil para warga untuk pengajian maka semua harta yang dia miliki bisa habis tak bersisa


__ADS_2