Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
maafkan aku...


__ADS_3

Shafa sudah mengobati tangan suaminya yang terluka, dia sendiri bingung kenapa bisa suaminya itu begitu ceroboh.


"bagaimana mas bisa terluka, pasti ini sangat sakit," kata shafa.


"maafkan aku, aku tak mengira jika nantinya anak kita harus berurusan dengan semua khodam milik keluarga ku, padahal aku ingin dia hidup normal," gumamnya.


"sudah mas, jangan sedih lihat Abi, meski dulu dia seperti mas, tapi akhirnya beliau tetap bisa mengurus yang lain, jadi mas jangan sekhawatir itu," jawab shafa.


"terima kasih sayang," kata Cakra memeluk istrinya.


dia tak mengira jika Shafa punya pemikiran seterbuka itu, sedang di tempat lain Marwah sedang berontak.


pasalnya dia sedang di kurung di sebuah kamar yang gelap, "lepaskan aku, kenapa aku di perlakukan seperti ini," teriaknya.


umi Kalila melihat sosok keponakannya itu dari jauh, "lepaskan aku, Jangan lupa jika aku adalah cucu pertama pendiri yayasan ini, kamu hanya orang lain!" teriaknya.


umi Kalila tak menyangka jika keponakannya begitu kasar, "apa selama ini tak ada yang di ajarkan oleh mas Adi, kenapa putrinya makin kasar seperti ini," gumam umi Kalila.


"bukan mas Adi tak mengajari anak itu, tapi mas Adi bilang jika dia memang tak sanggup lagi mengurus putrinya itu, karena keras kepalanya dan kebencian yang mendalam, terlebih sudah di tanamkan dari kecil," kata ustadz sepuh.


"apa seburuk itu,"


"itulah keburukan dari dendam," kata ustadz sepuh yang merangkul istrinya itu.


"semoga kita di jauhkan dari dendam itu ya Abi,"


"tentu umi, tentu..."


Shafa sedang mengerjakan beberapa laporan, saat Cakra baru selesai mandi dan melihat istrinya itu sangat sibuk.


dia pun datang dan langsung tidur di pangkuan istrinya itu, "ada apa mas ku sayang,"


"entahlah aku ingin sekali bermanja-manja dengan mu sayang, dan apa kabar anak ayah ini?" kata Cakra yang mencium perut Shafa.

__ADS_1


"aduh ayah ganteng, itu anaknya kenapa di cium begitu, ajak bicara dong, atau kalau boleh sering-sering di ajak mengaji ya," kata Shafa.


"tentu, nanti setelah sholat subuh, aku akan membaca Al-Qur'an bersama mu untuk membuat bayi kita mengenal agama sejak di dalam kandungan ya sayang,"


"tentu mas, apapun untuk mu," kata Shafa.


saat kedua pasangan itu sedang bercanda dan tertawa bersama, tiba-tiba Yuna datang.


"aduh maaf ganggu ya pak bos, tapi katanya mas Edi meminta pak bos ke ladang karena ada sedikit masalah pak bos," kata wanita itu dengan suara yang cukup lirih.


"baiklah aku akan kesana, dan sayang boleh buatkan aku udang bakar nanti, karena aku menginginkannya," bisik cakra.


"kamu tak menginginkan ku, sedihnya..." lirih Shafa mencubit pipi Cakra.


"apa, tentu aku sangat menginginkan mu, tapi sekarang kita harus pelan-pelan sayang, ingat dia sedang ada di perut mu," bidik Cakra yang mengecup pipi dan kening istrinya itu.


"aku mencintaimu mas, tolong tetap bersama ku," kata Shafa yang sangat kehilangan suaminya.


"pasti, kita akan bersama dalam waktu yang lama," terang Cakra.


dia langsung menuju ke arah sawah miliknya, sesampainya di sawah ternyata ada banyak orang yang sedang berkerumun.


"ada apa ini!!" teriak Cakra yang membuat para warga sedikit mundur.


"kami ingin memberikan pelajaran pria tua ini, dia berani-beraninya membuat wabah pada tanaman kami, dan membuat sawahnya yang panen jagung dengan baik, sedang kaki mengalami kehancuran," kata salah satu warga


"tak hanya sawah pakde hakim, seluruh sawah milikku juga panen dengan baik, tak hanya itu ada sawah pak Soleh dan sawah pak Gatot, apa kalian tak tanya, tapi kenapa malah ingin menyerang pria tak berdaya ini, yang bahkan sawahnya hanya tiga ratus bata, kalian semua mikir tidak!" bentak Cakra


"tapi karena dia itu orang miskin, kenapa bisa kalau yang lain kami tak terkejut karena semua juragan besar," saur orang yang lain.


"itu jawaban dari ucapan mu, daripada untuk membayar dan membeli obat menghancurkan sawah orang lain, kenapa tidak di buat makan saja, beliau itu petani yang tak seperti kalian dari orang kaya," jawab Cakra membuat semua orang diam.


"pak bos, kami baru tahu jika yang membuat sawah mereka gagal adalah wabah tikus-tikus yang setiap malam datang ratusan dari salah satu gunungan di tengah sawah," kata Asep.

__ADS_1


"ternyata ada yang bersekutu dengan penunggu putukan, mau jujur atau aku buat kalian mengalami hal yang menyeramkan," kata Cakra menatap dua orang itu.


dia menyadari salah satu orang yang melakukannya, karena tak mungkin tikus itu datang dengan sendirinya.


Cakra tersenyum saja karena tak ada yang ingin mengakui, "baiklah Edi, kita lihat tempat itu, karena aku ingin lihat dukun mana yang menjadi pelakunya,"


"memang kamu siapa? berani menantang dan mengatakan hal aneh seperti itu, kamu itu hanya seorang bocah," kata pak Soleh.


"tentu saja aku memang seorang bocah, tapi bocah ini bukan orang yang hanya suka bermain, tapi aku lebih suka membunuh orang busuk seperti kalian, sialan..." kata Cakra yang tersenyum berjalan pergi.


dia mengeluarkan seruling miliknya, dia dan dua anak buahnya sampai di putukan, "ah ternyata kamu yang berani menerima sajen dan menyakiti semua orang Ki,"


sosok penunggu itu kaget melihat ada Cakra datang membawa seruling sakti miliknya.


"mau menunjukkan siapa yang menyuruh mu, atau aku akan menghancurkan tempat ini," kata Cakra yang duduk santai di atas batu yang di sakralkan itu.


"dasar tak tau sopan santun, beraninya kamu duduk disana," marah pak Soleh.


"anda lupa ya pak, hanya para orang khusus yang bisa duduk di tempat ini, apa tak tau," kata Cakra tersenyum.


dia mulai memainkan seruling milikinya, angin bertiup sangat kencang,bahkan pepohonan saja bergerak tak beraturan.


"maafkan kami mas Cakra... dia yang menyuruhku untuk melakukan itu karena dia ingin membuat warga gagal panen dan menjual dengan harga murah," kata Ki item kesakitan.


"siapa dukun itu?"


dia adalah pria yang kemarin ingin melukai istrimu, dia terkenal sebagai dukun sakti di desa tetangga.


"baiklah, datang kesana dan bilang padanya, sebelum aku turun tangan, jangan pernah ganggu desa ini," kata Cakra yan menendang sajen di putukan itu hingga hancur.


semua orang kaget melihat Cakra, "kalian seperti orang yang tak percaya tuhan, dan aku akan membantu kalian untuk menolong semua sawah yang rusak, jadi lain kali jangan mengunakan kekerasan, tapi gunakan otak kalian, sialan..." maki Cakra.


semua orang pun diam, Edi membagikan bambu kuning yang sudah di doakan.

__ADS_1


"taruh bambu kuning itu di tengah sawah kalian, dan jangan lupa taburkan garam itu juga, dan setiap sawah harus memakai pupuk yang di berikan oleh Asep, mengerti.."


__ADS_2