
Cakra memeluk tubuh istrinya, ternyata jasad bocah itu di temukan dalam kondisi yang sangat buruk.
Shafa tak tega melihatnya, bahkan dia bisa tau apa yang di lakukan oleh kedua orang tua itu.
tak lama polisi datang dan meringkus kedua orang tua itu, Shafa memberi keterangan pada Nino.
dan dia mengucapkan selamat karena saat keduanya menikah, tak ada yang di undang satupun.
"maafkan kami om, tapi Abi berjanji akan melakukan resepsi tapi belum tau kapan, karena kami juga masih sangat sibuk," kata Cakra.
"baiklah le, kalau begitu om pergi untuk melakukan penyelidikan, dan terima kasih atas semua bantuannya," kata pria itu.
Cakra dan Shafa pun akan pulang bersama Sukri, "mas beli sarapan nasi pecel di Mak tum ya, aku mau makan di sana," mohon Shafa
"baiklah sayang, sekarang kita makan di warung Mak tum ya, aku juga sudah lama tak makan di tempat itu," kata Cakra.
Sukri pun tak bisa berkata-kata, karena ini adalah tugasnya, mereka berhenti di warung dan sarapan bersama.
setelah itu mereka pun pulang, sesampainya di rumah Cakra tak melepaskan istrinya itu.
karena dari tadi mereka terus di ganggu saat ingin menikmati waktu bermesraan.
bahkan Cakra memperingatkan pada Sukri untuk tidak ada yang menganggunya lagi.
pasalnya Cakra tak bisa lagi menunggu lagi, sedang Shafa yang mendengar pun merasa geli sendiri.
karena suaminya itu memang pernah bilang jika dia tipe pria yang tak bisa menahan diri untuk keinginannya.
keduanya selesai mandi, Shafa memakai baju piyama yang sangat minim di depan Cakra yang sedang membaca buku, karena dia selesai mandi terlebih dahulu.
"mas ... apa kita sudah bisa, dan aku seperti tak memakai baju mas," kata Shafa yang mengejutkan Cakra pria itu bahkan sampai melongo di buatnya.
pasalnya kulit putih bersih yang begitu indah, dan juga kontras dengan rambut hitam panjang milik gadis itu.
"kamu begitu cantik sayang," puji Cakra
dia menurunkan lagi suhu dari AC di kamarnya, keduanya membaca doa terlebih dahulu.
__ADS_1
setelah itu mereka baru juga berciuman, sebuah ketukan pintu terdengar, otomatis Shafa menutup tubuhnya dengan selimut.
"sudah kukatakan untuk tidak menganggu, aku paling benci para pria pembangkang itu," kesal Cakra emosi
"mas tolong jangan marah, lihat sebentar saja, aku akan menunggu mu," kata Shafa lembut.
"baiklah, sekali ini, jika tak ada hal penting, aku akan membunuh mereka," kesal Cakra yang mengambil kaos oblong miliknya dan berjalan keluar.
sedang Shafa memilih menonton tv di kamar, karena tak mungkin dia keluar tanpa izin suaminya.
"ada apa lagi Gopur, sudah ku katakan jangan menggangguku, atau kalian semua tau akibatnya," marah Cakra.
"tapi itu ada urusan dari pondok ustadz sepuh bos," kata pria itu takut.
dia tak mengira jika Cakra Semarah itu saat mereka mengetik pintu, Cakra keluar untuk melihat kedua orang itu.
"ada apa, dan kenapa ayah mertuaku menyuruh kalian kesini?"
"kami hanya di minta menyampaikan ini, maaf jika menganggu, karena kata ustadz sepuh secepatnya buat cucu untuk beliau," kata kedua orang itu yang takut sampai menunduk.
"terima kasih, ini untuk kalian berdua, dan bilang pada Abi, jika ingin cucu, jangan terus menganggu karena itu sangat menyebalkan, sudah kembali," kata Cakra kesal.
Gopur juga pergi, dan rumah pun sepi Cakra mengunci semua rumah agar tak ada yang menganggu lagi.
dia meletakkan hadiah dari ustadz sepuh itu, dia langsung memeluk tubuh istrinya itu.
Cakra langsung mencumbu istrinya itu, "mas... pelan ..."
keduanya pun menikmati waktu bersama, Cakra tak mengira jika dia akan memiliki para istri yang sangat hebat seperti ini.
Shafa sudah tak bisa bertahan lagi, "maaf ya sayang," bisik pria itu saat selesai.
Cakra duduk menikmati tayangan di tv, Shafa memeluk suaminya itu, "mas tolong setelah ini jangan meninggalkan aku ya, karena aku tak bisa berpisah jauh darimu," kata Shafa.
"kamu ini bilang apa sih sayang, aku tak akan meninggalkan mu meski apapun yang terjadi," jawab Cakra mencium kening istrinya itu
Shafa pun mengecup bibir Cakra, dan pria itu menarik istrinya tapi dia malah melihat bukti kesucian Shafa.
__ADS_1
Cakra duduk menikmati suasana sore hari, terlihat enam anak buahnya baru pulang dari pekerjaan mereka.
"loh pak bos, sedang apa tumben amat duduk manis sore-sore gini," tanya Wawan.
"memang gak boleh ya," kata Cakra dengan tengilnya.
"kamu mau musuh bos mah gak ada habisnya, sudah masuk dulu, oh ya bos nanti ada pak lurah mau datang karena mau minta tolong katanya," kata Edi.
"baiklah, aku akan menunggunya, sayang tolong bawakan camilannya dong," panggil Cakra pada istrinya itu.
Shafa keluar dengan berjalan cukup pelan dan malu-malu saat keluar dari rumah, semua sudah tau kenapa pria itu tak marah lagi.
benar saja tak lama beberapa orang datang dengan pakaian rapi, "sayang minta seseorang membawakan minuman, dan kamu jangan keluar apapun yang terjadi," pesan Cakra.
"baik mas, saya permisi," kata Shafa yang langsung pamit masuk kedalam rumah.
"assalamualaikum mas Cakra, apa kabarnya, maaf baru bisa menjengguk, bagaimana kabarnya anda sudah lama tak terlihat,"
"waalaikum salam, kabar saya baik, apa yang sebenarnya terjadi, tak mungkin orang yang begitu sibuk di desa ini datang untuk menyapaku," kata Malik yang tersenyum mengetahui maksud pria itu.
"mbak Ani dan mbak Asri tolong buatkan Lina minuman dan bawakan camilan untuk tamu di depan, tapi saat keluar, tolong jangan menatap mata para tamu, mengerti mbak," pesan Shafa.
"baik kami mengerti Bu bos," jawab kedua wanita itu.
keduanya pun menuruti perintah dari Shafa, mereka keluar membawa minuman dan camilan.
tapi keduanya tak berani melihat para tamu, Cakra tersenyum saja melihat keheranan dari para tamunya.
"tolong jangan mengunakan kekuatan yang di miliki oleh pengawal mu pada mereka, jika kalian tak ingin mati di tangan para anak buah ku," kata Cakra tertawa.
"bagaimana kamu tau, padahal kami belum melakukan apapun," kata pria itu heran.
"apa kamu meremehkan ku karena aku sudah melepaskan semua khodam ku, tapi kamu jangan lupa bagaimana pun mereka sudah lebur bersama ku," kata pria itu tersenyum.
"aku tak percaya dengan hal itu," kata pak lurah.
Cakra membaca mantra dan tersenyum melihat pria itu, tiba-tiba pria itu keluar keringat tanpa henti.
__ADS_1
dia merasa begitu kepanasan saat ini, ternyata di sekeliling pria itu muncul bola api yang mengelilingi pria itu.
bahkan bola api itu mengelilingi dengan sangat cepat, "masih belum percaya, jika tak percaya, bagaimana jika Mbah Sukro menghilangkan para bola api itu, tak mungkin kan mau melihat bos Anda mati terpanggang seperti daging asap?" kata Cakra tersenyum.