
malam ini Mela sedang duduk sambil melihat langit malam, di temani ada tujuh orang yang duduk bersama dengannya.
"mbak Mela, kenapa kok ngelamun gitu, sedih di tinggal Ki Cakra yang sedang di kelurahan untuk rapat?" tanya Anna.
"tidak kok, lagian kenapa sepi, orang banyak orang gini, tapi kecut ya gak ada cemilan," kata Mela tertawa
"ini ada sukun goreng panas baru matang," Ani yang menjadi wanita milik Gopur.
"wah enak nih, manis gak tuh sukunnya?"
"manis loh mbak, coba incip deh, di jamin sempurna, ada singkong tapi masih di belakang sama Nita," kata Ani
"oke, tapi ini sangat enak kok,emm... wah terbaik," kata Mela dengan senang hati.
bahkan para teman Mela yang selama ini menemani makhluk itu dulu, merasa senang melihat kebersamaan itu.
"eh sundel, kamu kenapa terus melihat si Kun Kun sih, masih takut dia di sakiti lagi?" tanya sosok genderuwo yang duduk di sebelahnya.
"kamu tak tau saja dulu pertama melihatnya, aku merasa ada yang janggal meski dia itu makhluk halus tapi berbeda dengan kita yang suka menganggu manusia, dia hanya datang untuk menyerap aura saja, setelah itu dia akan duduk diam di pohon seperti menunggu sesuatu," kata sundel bolong itu.
"iya ya sundel, dia dulu itu satu-satunya makhluk paling aneh, tapi beruntung sekarang dia sudah bahagia," jawab genderuwo itu.
"iya tapi berhenti memanggilku dengan panggilan sundel doang, memang aku wanita apaan, dasar genderuwo sialan!!" maki makhluk itu melempar belatung yang dia ambil dari luka di punggungnya ke arah genderuwo itu.
mendapatkan serangan seperti itu, genderuwo itu auto takut dan terjatuh dari pohon.
bugh....
"apa itu?" kaget Wawan dan Sukri yang sedang berjaga.
"gak tau gok, gak ada apa-apa kok," kata pria itu menyorotkan senter ke bawah pohon mangga dan nangka.
sedang di kelurahan semua sedang sibuk dan berdebat, Ki Cakra tetap tenang melihat semuanya.
pasalnya pak lurah di desa itu mengizinkan para santri dari pondok Miftahul Jannah untuk mendirikan bangunan musholla.
tapi para warga menolak, karena mereka merasa dengan adanya musholla itu semua orang merasa kesulitan.
"kami tak mau ada bangunan itu lagi, karena kemarin saat ada bangunan itu, panen kami gagal, sungai juga terjadi banjir terus menerus, banyak warga yang sakit, tapi saat bangunan itu hancur kami kembali ke kehidupan normal," kata seorang warga.
"apa yang anda katakan, itu musyrik namanya, karena semua rezeki itu sudah di atur oleh Allah," kata ustadz Harun yang kini datang menggantikan ustad Rasyid.
"baiklah, aku akan memberikan pertanyaan, saat kamu bisa menjawab semua pertanyaan ku, aku akan membantumu membangun masjid bukan mushola lagi," kata Ki Cakra yang bangun dari kursinya.
__ADS_1
"tapi ki-"
semua orang diam melihat gerakan tangan pria itu, "silahkan pak, insyaallah saya bisa menjawab pertanyaan anda sesuai pemahaman saya, yang kami di pelajari selama ini di pondok,"
Ki Cakra dan ustadz Harun mulai beradu argumen, ustadz Harun sedikit tersentak kaget saat beberapa pertanyaan di ikuti hadis dan ayat Al-Qur'an, dan dia di minta
untuk menjelaskan dengan baik.
Ki Cakra hanya tersenyum saja, "besok mulailah bangun masjid di tanah yang aku wakaf kan untuk masjid di desa ini,dan jika boleh berikan nama masjid itu Al- Kareem," kata Ki Cakra.
"Alhamdulillah, terima kasih pak," kata ustadz Harun senang.
Ki Cakra langsung pergi setelah mengatakan itu, tapi dia berbalik dan melihat semua orang.
"bagi yang ingin belajar agama silahkan, tak ada yang akan melarang kalian, karena itu kebebasan, aku juga tak akan menganggu, tapi jika ada yang ingin menganggu dsn menyakiti para santri itu, urusan kalian dengan ku," kata pria itu yang langsung memutuskannya pulang.
seekor ular merah keluar merayap dari lengan pria itu dan melingkar di tangannya.
"kamu ingin tobat?" tanya ular itu dengan suara batin.
"kalau kamu mau musnah, aku akan melakukannya, tapi sayangnya aku belum kepikiran untuk itu, karena dendam ku belum selesai sepenuhnya, masih ada banyak orang yang harus aku singkirkan," kata Ki Cakra dingin.
"kenapa? kamu bukankah dulu punya Tuhan mu, kenapa kamu malah merangkul ilmu hitam iblis ini," kata Ki Dwisa.
selama perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba mereka di hadang sebuah sosok wanita yang berdiri di depan mereka.
"Ki Cakra itu perempuan kan atau?" kata Edi yang sedikit merinding. sedang pak Bowo yang tau sosok itu mundur kebelakang.
"kenapa anda mundur pak Bowo, bukankah dia datang untuk mencari mu?"
"tolong saya Ki, saya tau jika saya salah telah membohonginya, tapi saya tak bisa kehilangan suami," kata pria itu.
"dasar pria rakus, kamu tak memberikan aku sesajen sebagai syarat pelet itu, kamu membuatku marah Bowo," marah sosok wanita dengan wajah hancur.
"jangan menganggunya, aku bisa memberimu dua kambing sebagai tebusan atas kelalaiannya,"
"aku tak butuh tumbal kambing, aku boleh memintamu sebagai gantinya," kata sosok itu mendekati Ki Cakra.
tapi sosok itu langsung mundur saat melihat ada tiga sosok khodam yang menjaga pria itu.
"maafkan saya Ki, saya tak akan menganggu dia lagi, tolong jangan sakiti saya!!"
makhluk itu pun pergi, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke arah rumah.
__ADS_1
sesampainya di padepokan, Ki Cakra tersenyum melihat Mela yang sedang duduk menunggunya dengan setia.
"ini sudah malam, kenapa semua tidak ada yang tidur?"
"kalau mereka menemaniku sambil kami bermain congklak, tapi karena Ki Cakra sudah pulang, aku akan masuk kedalam bersama mu tuan ku," kata wanita itu
"baiklah, malam ini semuanya tidur, tak perlu ada yang jaga, biar yang jaga semua makhluk yang sudah aku tahlukkan," kata pria itu berjalan bersama Mela.
"hore!!" kata semua orang.
sesampainya di kamar ki Cakra sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
dia menarik Mela untuk duduk di depannya, "ada apa?"
"apa kamu akan meninggalkan aku seperti yang lain lagi?"
"tentu saja tidak mungkin, aku akan bersamamu sampai kamu yang membuang ku," kata Mela dengan yakin.
"itu tak akan pernah terjadi, karena aku tak akan melakukan hal itu karena kamu adalah orang yang aku sangat inginkan,"
"baiklah ki,"
di pondok pesantren Miftahul Jannah, ustadz Harun sedang menjelaskan semua pada ustadz sepuh.
tanpa sadar Shafa menjatuhkan semua gelas yang di pegangnya saat mendengar cerita itu
"mas Adit...." lirihnya.
"apa Shafa?" kaget umi Kalila.
"iya umi, kemarin lalu aku tak sengaja bertabrakan dengannya di minimarket terdekat, dan penampilannya sangat asing, bahkan aku sempat tak mengenalinya, tapi saat dengar nama masjid itu, itu adalah masjid impian mas Adit," kata Shafa yang terduduk di lantai.
"Shafa kamu kenapa?" tanya umi Kalila.
pasalnya gadis itu tiba-tiba terjatuh pingsan, "Abi cepat bawa Shafa ke rumah sakit Abi!!" teriak umi Kalila.
semua orang panik, pasalnya setelah sekian lama, kondisi Shafa yang tiba-tiba drop.
sedang di tempat Ki Cakra, Mela yang sedang merias diri di depan cermin.
tiba-tiba muntah darah, dan itu membuat Ki Cakra kaget, "kamu kenapa Mela?"
wanita itu tak menjawab tapi terus muntah darah tanpa henti, Ki Cakra pun mentransfer tenaga dalamnya untuk membuat wanita itu normal.
__ADS_1
beruntung perlahan Mela sudah mulai tenang dan kemudian jatuh pingsan, "sebenarnya apa yang terjadi,"