
Kunak merasa aneh,karena dia bisa melihat seorang pria terus melihat ke arahnya.
tapi pria itu kemudian pergi bersama rombongan yang datang bersama dengan dirinya.
ya itu adalah rombongan yang di kirim oleh pondok pesantren Miftahul Jannah untuk mengenalkan agama pada seluruh orang.
Kunak langsung menuju ke arah kamar Ki Cakra, pria itu sedang berganti baju.
"eleh eleh.... kenapa badan ku begitu penuh luka Ki Cakra, lihatlah bahkan lukisan di punggung mu ini terlihat begitu hidup Ki," kata Kunak tertawa menyentuh gambar ular merah di punggung Ki Cakra.
"tentu saja terlihat hidup, karena itu memang makhluk hidup, kamu ingat Ki Dwisa, itu dia," kata Ki Cakra melempar baju yang di pegang sambil menyeringai.
"apa kamu tak malu, saat aku melihat mu dan menyentuh mu,"
"tentu saja tidak, aku bahkan bisa menyentuh ku juga," kata Ki Cakra yang langsung mencekik leher Kunak dengan erat.
"silahkan saja, aku sudah mati, dan kamu tak akan bisa membunuh ku karena selama ada dendam di hatiku, kamu tak bisa membunuh ku," kata makhluk itu menantang pria di depannya itu.
Ki Cakra melepaskan cengkraman tangannya, Kunak duduk di ranjang dan tertawa, karena Ki Cakra tak bisa melakukan apapun.
tapi Kunak tak sadar jika Ki Cakra mengambil sesuatu, "karena kamu terus mengikuti ku, lebih baik kamu harus bisa di lihat orang bukan," gumam Ki Cakra.
"apa yang sedang kamu katakan, ha-ha-ha aku tak mengerti - AAAA!!!" teriak Kunak yang kesakitan
karena Ki Cakra sudah memaku ubun-ubun kuntilanak itu dengan paku emas yang sudah dia mantrai.
perlahan-lahan kuntilanak merah yang selama ini mengikuti Ki Cakra berubah menjadi manusia.
tapi Ki Cakra terkejut melihat wajah asli kuntilanak yang selama ini mengikutinya.
kuntilanak itu pun sudah menjadi manusia sekarang, dia membuka mata dan melihat pria di depannya.
"kenapa menjadikan ku manusia," tanya kuntilanak merah itu.
"karena aku ingin kamu di samping ku, dan menjadi pelayan pribadi ku," kata Ki Cakra yang terpaku melihat sosok itu.
"baik Ki Cakra, tapi aku tak punya nama?"
"ku panggil kamu Mela, dan sekarang kamu akan di kenal sebagai wanita milikku, jadi kamu tidak boleh membuat ku kecewa mengerti," kata Ki Cakra mengusap pipi kuntilanak yang kini sudah menjadi manusia seutuhnya.
Mela mengangguk saja, Ki Cakra mengambil baju miliknya dan memberikannya pada wanita itu.
__ADS_1
"kamu tetaplah di sini, aku akan membelikan baju untuk mu," kata pria itu.
"baiklah, tapi boleh aku minta makan, aku sudah lama tak merasakan makanan manusia," jawab Mela yang di angguki Ki Cakra.
pria itu mengambil makanan, dan makan bersama Mela di kamar, setelah itu dia pun pergi bersama pak Bowo.
sedang Mela memilih tiduran setelah kepergian dari pria yang telah dia ikuti.
Ki Bahurekso dan Ki Adjisaka datang saat ki Cakra sudah pergi, "kenapa kamu malah jadi manusia, sebenarnya apa yang di lakukan oleh Ki Ageng,"
"apa dia kesepian, dan ingin melakukannya dengan ku, itulah dia bilang pelayan pribadinya," kata Mela dengan nada malu-malu.
pletak....
Ki Bahurekso menyentil dahi wanita itu, "jadi manusia, kenapa otak mu ikut kongslet, tapi tak apa-apa juga, setidaknya ki Ageng tak jajan," jawab Ki Bahurekso tertawa.
"memang kenapa, bukannya kalau dukun itu punya banyak istri ya, ya buat menyusui peliharaannya seperti tuyul dan lainnya, karena aku pernah melihat di suatu desa seperti itu loh," kata Mela.
"sudah apapun yang di lakukan oleh Ki Ageng padamu, ikuti saja toh itu sudah jadi tugas mu yang harus mengikuti pria yang menjadikan mu manusia," kata Ki Bahurekso yang kemudian pergi begitupun Ki Adjisaka.
di pasar, pak Bowo bingung melihat Ki Cakra membeli semua kebutuhan wanita.
"maaf Ki Cakra, kenapa membeli semua keperluan ini?" tanya pria itu penasaran.
"baik Ki Ageng," jawab pak Bowo.
dia tak berani untuk bertanya lagi, karena jika ada wanita pasti akan ketahuan nanti.
setelah membeli banyak baju dan semua kebutuhan wanita, mereka berdua pulang.
Wahyu yang membawa mobil pun kaget melihat semua belanjaan dari Ki Cakra.
"sekarang kita mau kemana lagi Ki Cakra?"
"bawa aku ke tempat penjual sembako, dan psk Bowo tolong belanja semua kebutuhan rumah tangga, dan tolong isi tiga kulkas yang ada di dapur dengan daging merah yang cukup banyak," perintah Ki Cakra.
"baik Ki, mas Wahyu nanti ikut saya belanja daging dan semua yang di minta Ki Cakra,"
"baik pak Bowo," jawab Wahyu.
mereka tak jadi pulang, dan meninggalkan Ki Cakra di dalam mobil yang sedang duduk santai.
__ADS_1
"aku akan menikmati hidupku sekarang, tak peduli dengan omongan orang, dan jika ada yang berani mengusik ku, maka aku akan membunuhnya," gumam Ki Cakra.
setelah membeli daging yang di perintahkan, mereka langsung pulang.
sesampainya di padepokan, Ki Cakra membawa semua barang yang di beli untuk Mela.
"selamat datang Ki Cakra,"
"Hem..." jawab Ki Cakra sekilas.
dia langsung menuju ke dalam rumah, begitupun Wahyu dan pak Bowo.
mereka memotong daging dan menyisihkan Semuanya di kulkas khusus.
setelah semua kulkas penuh, saat ingin keluar dari bangunan rumah utama.
tapi mereka malah mendengar suara ******* seorang wanita, "pak kamu denger gak, atau hanya pendengaran ku saja?"
"aku juga denger sih, tapi sudahlah ayo kita keluar, jika tidak nanti Ki Cakra marah," tarik pak Bowo.
mereka pun keluar, sedang Ki Cakra merasa kekuatannya sedang full, dan dia tersenyum melihat seorang wanita tertidur di ranjang dengan lemas.
"setelah kamu bisa bangun, kamu mandi dan gunakan baju yang ada di kresek itu ya, dan rapikan, mengerti," kata Ki Cakra.
"baik Ki," jawab Mela yang merasa tak berdaya.
Ki Cakra tersenyum dan keluar dari kamar, dan menuju ke pendopo tempat semua anak buahnya berkumpul.
pak Bowo dan Wahyu merasa bingung, mau tanya tapi takut karena pria itu bisa marah.
"ada apa? kalian ingin bertanya suara siapa tadi," kata Ki Cakra tersenyum.
"iya Ki, maaf kami tadi mendengar suara ******* wanita di kamar ki Cakra," kata pak Bowo sedikit takut menyingung pria itu.
"itu adalah wanita ku, jadi kalian akan sering mendengarnya, tentu kalian juga boleh memiliki wanita sendiri, dan cari untuk menjadi teman wanitaku, dan aku akan memberikan ilmu pelet tapi hanya untuk satu wanita, jika kalian gunakan untuk dua wanita, ilmu tak akan bisa di gunakan," kata Ki Cakra
"baik Ki," jawab mereka semua.
"oh ya kalian bisa mengunakan deretan rumah di belakang, agar tak pergi kemana-mana, karna kalian akan menjadi orang sibuk sebentar lagi,"
"baik kami mengerti," jawab mereka semua.
__ADS_1
mau bagaimana pun, sekuat apapun Ki cakra tetaplah seorang pria yang butuh pelampiasan dan dia menemukan wanita yang tepat.
karena saat bersama wanita itu, dia menemukan jika kekuatannya melonjak tinggi.