
Ki Cakra sedang ngaso, dia baru selesai melayani semua pasien yang datang untuk berobat atau sekedar minta pertolongan.
tapi pria itu tak bisa membantu jika ada yang ingin minta tolong seperti pesugihan dan memelet seseorang.
sebuah mobil berwarna putih datang, dia tersenyum melihatnya karena mengenali mobil itu.
ternyata benar, itu mobil yang biasa di pakai oleh Shafa untuk berkegiatan di luar.
"assalamualaikum mas..." sapa gadis itu dengan lembut sambil membawa baskom.
"waalaikum salam dek.. memang di pondok gak ada orang ya, kenapa selalu kamu yang datang mengantar sesuatu, atau jangan-jangan kamu ingin bertemu dengan ku ya," kata Ki Cakra.
"sudah tau tuh masih tanya saja, memang gak boleh ya," kesal Shafa yang duduk.
menaruh singkong yang sudah di goreng di depan pria itu, dan langsung masuk kedalam rumah.
"hei kamu belum izin nona," kata Ki Cakra.
"mas ku ganteng, izin ke belakang mau menaruh singkong ini ke freezer ya, dan ada singkong gula merah kesukaan mu, nanti tinggal memanaskan saja," kata shafa dengan sedikit kesal.
"baiklah masuk saja, toh ini juga sudah seperti rumah mu bukan," kata Ki Cakra
"terima kasih mas Cakra," kata Shafa.
tak lama gadis itu kembali sambil membawa kopi untuk pria itu yang sedang makan singkong goreng sambil menikmati suasana sore.
"terima kasih, tapi kenapa kamu malah membuatkan aku kopi, seharusnya kamu juga buat sesuatu untuk mu bukan?"
"tidak aku minum air putih saja cukup kok, mas tau aku sudah menolak lima pria yang melamar ku," kata Shafa tiba-tiba.
"eh kenapa?"
"karena aku menyukai seseorang tapi sayangnya pria itu tak peka, di tambah lagi, sepertinya aku memang kurang baik untuknya hingga dia seperti tak melihatku,"
"ha-ha-ha seperti orangnya buta ya," kata Ki Cakra
"sepertinya, untung dia ganteng, sudahlah aku harus mengajar mengaji, aku pamit dulu ya mas, assalamualaikum.."
"waalaikum salam," jawab Ki Cakra yang melihat gadis itu pergi.
tapi saat melihat sosok Shafa semakin menjauh, tiba-tiba sebuah ucapan membuat Shafa terkejut.
__ADS_1
"Shafa, tunggulah sedikit lagi,apa kamu bisa," kata Ki Cakra.
"aku akan menunggu mu sampai kapan pun," kata gadis itu tersenyum dan pergi menjauh
mobil putih itu meninggalkan rumah Ki Cakra, "ah besok ganti nama di, jangan pengobatan alternatif Ki Cakra,"
"terus di ganti apa?" bingung Edi yang baru pulang dari tempat kolam-kolam ikan milik Ki Cakra.
"pengobatan alternatif, ustadz Cakra, karena sebentar lagi dia akan jadi menantu ustadz sepuh sepertinya," kata Sukri.
"terus kita bagaimana, berarti ilmu kebal kita juga ilang dong," kata Edi kaget.
"tentu saja tidak, karena itu sudah menyatu dengan kalian, dan untuk kalian berhenti mengatakan omong kosong, jika aku benar-benar menikah dengan putri ustadz sepuh pun aku tak akan membuka pengobatan dan juga akan hidup seperti orang biasa," kata Ki Cakra.
dia sudah lelah dari kecil terus menerus berurusan dengan makhluk, jadi dia ingin istirahat dan menikmati hidup bersama orang yang dia cintai nantinya.
"Ki boleh minta singkongnya gak, sepertinya enak?" tanya Edi.
"silahkan," kata Ki Cakra.
"wih... singkong dari calon istri Ki Cakra mah the best banget, lumer meleleh di mulut," kata Sukri.
malam hari, beberapa pria sedang melakukan pesta miras di dekat makam desa di sana.
pasalnya mereka tak tau takut sama sekali,bahkan salah satu dari mereka tak sengaja mengencingi salah satu pohon beringin di sana.
salah satu penunggu di pohon beringin itu pun marah, "dasar manusia sampah, kenapa dia berani mengotori rumah ku,"
penghuni pohon itu pun hanya melihat saja,dan akan membuat pembalasan nanti.
karena mereka sedang mabuk jadi tak berguna untuk menganggu orang mabuk yang seperti orang gila.
tak butuh waktu lama, genderuwo itu tak tahan lagi, dia turun dengan sosok yang begitu mengerikan.
"ada apa?" tanya pria itu pada sosok genderuwo di sampingnya.
"wong edan... kalian semua mengotori tempat ku," geram sosok tinggi besar itu.
"berisik tau gak, mending ikut minum nih, tapi kamu kok item gede begitu sih," kata pria mabuk itu dengan lancang.
"sialan, mati Kabeh," kata genderuwo itu menjulurkan sulur yang ada di pohon beringin tempatnya.
__ADS_1
dan mengikat pada leher keempat pemuda itu, kemudian mengantung mereka di pohon beringin itu hingga meregang nyawa.
Ki Cakra di rumah yang tau hanya tertawa saja, "salah sendiri melakukan hal tak sopan, besok pasti akan heboh," gumamnya.
dia memilih tidur dengan nyenyak malam ini, karena besok tugasnya akan berat.
benar saja, saat para warga ingin ke sawah untuk bekerja, mereka kaget melihat ada empat tubuh tergantung di pohon beringin.
semua warga heboh, tak ada yang bisa menurunkan keempat pemuda itu.
bahkan orang tua dari keempatnya sudah sangat histeris, ustadz sepuh bahkan di panggil.
pria itu hanya menghela nafas, "ini gak ada yang panggil Ki Cakra gitu, karena sepertinya hanya pria itu yang bisa, tugas saya biasanya ruqyah bukan urusan sama menunggu beginian," kata ustadz sepuh tersenyum.
"tak usah di panggil pakde, aku juga sudah datang, weleh-weleh... ternyata di gantung hidup-hidup sama Ki Wowo ya, turunkan atau aku bakar pohon ini, bersama dengan mu," ancam pria itu.
tapi sosok genderuwo itu tak menampakkan diri, tapi malah semakin erat melilit tubuh tak bernyawa itu.
"baiklah-baiklah, aku menyerah, kamu mau apa, biar aku bilang pada keempat orang tua pemuda ini," kata Ki Cakra menghela nafas berat.
pohon beringin itu bergerak padahal tak ada angin, "ya elah pohon tua banyak tingkah, mana orang tua dari keempat pemuda ini, kemarilah," panggil Ki Cakra.
"ada apa Ki?" tanya mereka yang sedang terluka melihat kematian anak-anak mereka.
"karena anak kalian semalam pesta miras di sekitaran sini, dan mereka membuat kotor, penunggu pohon beringin ini minta tempat ini di bersihkan dengan bunga tujuh rupa," kata Ki Cakra.
tiba-tiba pohon itu kembali bergerak tak terima, "sudah itu cukup, mereka bukan ingin menyembahmu, kamu pilih melepaskan atau aku yang akan bertindak," marah Ki Cakra yang mulai menunjukkan suling miliknya.
melihat itu pohon beringin itu perlahan melepaskan keempat mayat itu.
Ki Cakra meminta semua orang menyiram area di sekitar dengan air sungai yang mengalir.
sebagian warga membawa mayat itu untuk di mandikan, dan di perlakukan selayaknya.
pemakaman ternyata selesai pada malam hari, dan Ki Cakra meminta beberapa orang menjaga di sekitaran makam desa.
"sebenarnya kenapa ki harus di jaga segala?" tanya seorang pria.
"karena mereka mati penasaran, takutnya ada yang akan melakukan hal buruk, seperti membongkar makan atau lainnya," kata Ki Cakra mengingatkan.
"baik kalau begitu ki kami mengerti," jawab warga.
__ADS_1