
Nino dan Husna mau tak mau harus pergi, Karena Ki Cakra sudah menunjukkan ketidaksukaannya, terlebih saat Husna membahas tentang Mela.
"apa kamu tak merasa mengenali pria itu sayang?"
"tidak, memang kenapa mas, apa kamu mengenalnya?" tanya Husna bingung.
"sudahlah, sekarang fokus dengan kandungan mu," kata Nino menghela nafas.
tak butuh waktu lama mobil mereka keluar dari desa tempat tinggal dari Ki Cakra.
sedang pria itu tadi, menghampiri Mela yang sedang sibuk memasak bersama wanita di rumah itu.
mereka sangat senang karena tak mengira akan makan besar seperti ini.
"apa masih belum matang?"
"tentu saja belum sayang, karena semua harus sabar karena perlu waktu," jawab Mela memeluk tubuh pria itu
tanpa mereka sadari, pembangunan masjid yang di dirikan tanah yang di wakaf kan oleh Ki Cakra hampir selesai dalam pembangunan.
siang itu ustadz Harun sibuk bersama anak santri menyelesaikan semua bangunan.
dan tak terduga ada Sukri yang juga datang mengantarkan beberapa semen dan juga keramik yang di atas namakan dua orang.
saat menerima bantuan itu, ustadz Harun tak merasa aneh, karena itu bukan dari uang yang salah.
"Edi, apa Sukri sudah mengirimkannya keperluan pembangunan masjid itu?"
"sedang di laksanakan Ki," jawab pria yang sedang memutar kambing guling itu.
"Ki Cakra itu aneh, bagaimana bisa Ki Cakra menyumbang untuk masjid yang bisa menghalangi dan membuat mu kehilangan kekuatan," kata pak Bowo.
"kenapa, itu uang ku, kenapa kamu terus ikut campur, ingat Bowo jangan membuatku marah, dan ingat batasan mu," kata Ki Cakra tak suka.
pria itu langsung diam, dia tak mengira Ki Cakra bisa semarah ini, terlebih dia tak mengira jika pria itu melakukan apa yang dia inginkan.
Sukri datang bersama beberapa orang yang sudah mengirimkan bahan-bahan itu.
"apa sudah di terima?"
__ADS_1
"sudah Ki, dan ustadz Harun menerimanya dengan sangat senang, kebetulan bahan bangunan sedang hampir habis," kata Sukri.
"baguslah kalau begitu, dan ingat lusa kirimkan bantuan lagi, dan jika ada yang menghalangi mu, bunuh saja aku mengizinkannya," kata ku Cakra.
pak Bowo merasa kesal, bagaimana bisa, Ki Cakra bisa sesuka hati sendiri, padahal ilmunya adalah ilmu hitam.
sedang di pondok pesantren, Shafa mendapatkan pesan dari ustadz Harun dan langsung menyampaikan kepada Abi-nya.
ustadz sepuh tak mengira jika pria itu tetap ingin berbuat baik meski dirinya sudah tersesat.
malam hari semua orang makan bersama, setelah itu Mela duduk di pendopo bersama para wanita.
dia merasa seseorang sedang mengendap-endap di belakangnya.
dia berbalik dan hampir melukai Ki Cakra, "aku kira siapa Ki," kesal Mela.
"maaf deh, aku cuma ingin mengejutkan dirimu, tapi sepertinya kamu begitu waspada hingga aku tak bisa mengejutkan mu,"
"ya bukan begitu Ki, habis aku selalu waspada dari dulu,"
"baiklah-baiklah aku percaya, malam ini mau ikut aku ke hutan atau ke gunung?"
"mau ngapain, bukankah ini malam yang penting, kenapa malah kita ke hutan yang jauh dari rumah," tanya Mela.
"tentu mau selama bersama dengan mu Ki, apa aku perlu menyiapkan sesuatu?" tanya Mela.
"tentu saja, ayo kita siapkan," kata Ki Cakra.
mereka berdua masuk kedalam rumah dan mulai menata baju dan keperluan lainnya.
mereka berdua pergi ke tempat yang ingin di tuju, tapi yang tak tau jika kedua sedang menyelidiki apa yang sedang terjadi.
"kenapa mas melakukan ini, bukankah kita harus percaya pada semua anak buah mu bukan, tapi ini?" bingung Mela.
"sudah sayang, kamu akan tau nanti, jadi tolong tetap selalu bersama ku," kata Ki Cakra mencium tangan Mela.
"tentu Ki," jawab Mela tersenyum.
mereka benar-benar berangkat tapi tidak ke hutan atau ke pegunungan, melainkan ke sebuah goa.
__ADS_1
mereka menunggu malam untuk mulai melakukan ngrogoh sukmo, sedang Mela menjadi sosok awalnya.
mereka terbang menuju ke padepokan, semua penjaga ghaib memberi hormat pada Ki Cakra.
terlihat semua anak buah dari Ki Cakra berkumpul dan membahas sesuatu.
mereka berdua pun mendekat, dan mendengarkan apa yang sedang di dongengkan oleh pak Bowo yang mengaku sebagai orang kepercayaan dari keluarga Hadikusomo.
"kalian tau Ki Cakra itu sebenarnya bukan murni keturunan dari keluarga Hadikusumo, karena pria itu di besarkan bukan di kalangan kampung dan bukan di kawasan yang seharusnya, terlebih dia sebenarnya itu bisa menguasai agama yang sedang di ajarkan di desa ini," kata pak Bowo.
"apa itu benar?" tanya Wahyu.
"itu benar, kalian tau dia itu adalah Monster yang menghancurkan keluarganya sendiri demi melindungi istrinya sendiri, dan apa kalian tau akulah yang membunuh istrinya secara perlahan, ha-ha-ha," kata pak Bowo.
mendengar itu Ki Cakra hampir lepas kendali, tapi mela mengenggam tangan pria itu agar tenang.
"apa pak, kenapa kamu begitu berani, padahal Ki Cakra adalah orang sakti," kata Gopur tak percaya.
"memang kau kira aku tak sakti, aku sebenarnya yang harusnya mewarisi keluarga ini, tapi karena pria brengsek itu aku malah harus jadi bawahannya, dan bocah itu terus bertingkah," kesal pak Bowo.
"tapi pak Bowo tak boleh seperti itu, bagaimana pun kita sudah bersumpah mati dengan menjaminkan jiwa kita tanpa akan mengkhianatinya, terlebih jika bukan orang sakti, Mana mungkin bisa menjadikan seorang kuntilanak merah itu jadi wanitanya," kata Sukri.
"itu hanya kebohongannya, karena yang sebenarnya wanita itu hanya kuntilanak biasa yang berwujud buruk rupa," kata pak Bowo.
ke-enam orang itu tak percaya, pasalnya mereka tau benar bagaimana Cakra.
memang salah jika dia seorang dukun tapi ingin membantu dan berbagi dengan semua orang.
"aku akan membunuhnya," gumam Ki Cakra tak bisa tahan lagi.
"anda terlalu sombong pak Bowo, bukankah Anda sendiri tak berguna, bukankah kapan hari anda ketakutan karena seorang makhluk yang jau hianati dan tak memberikan tumbal, dan kamu memohon seperti anjing demi Ki Cakra yang membantu mu, ku harap kamu tak menjelekkan Ki Cakra, kamu itu tak tau diri pak, atau kamu akan di hajar massa karena berani membuat seorang gadis muda menjadi istrimu, yang notabene gadis itu adalah putri juragan ternama dari desa tetangga," kata Wawan membungkam mulut pria itu.
"djangkrik, cocot mu meneng Cok, awak mu rak ngerti opo-opo," marah pak Bowo tak terima
"baiklah, kalau begitu kami akan melawan mu yang berani mencoba menghasut kami untuk memusuhi Ki Cakra, padahal kamu sendiri itu cuma jongos dari keluarga ini," marah Sukri.
"aku akan melawan mu, aku tak takut, karena aku yang sesungguhnya adalah seorang sakti, ha-ha-ha!!" tawa pria itu
tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menerjang, tapi anehnya yang tak bisa tahan cuma pak Bowo.
__ADS_1
bahkan pria itu sampai terpental dan di gulung angin kencang itu dan terpental ke tembok dengan sangat keras.
Ki Cakra dan Mela akhirnya kembali ke goa dan memutuskan untuk kembali ke padepokan untuk menyelesaikan semuanya.