
pria itu langsung kembali ke tubuh miliknya, Mela juga melakukan hal yang sama.
"tolong tenang sayang, kita pulang tapi kendalikan dirimu, jika tidak bisa hancur seluruh desa," kata Mela mengingatkan pria tercintanya itu
"baiklah aku akan mencoba menahan amarah ku," kata Ki Cakra.
mereka pun mulai melakukan perpindahan tempat, saat masuk kedalam padepokan.
suasana padepokan terlihat berantakan, "Nyai Asih keluarlah, silahkan ambil nyawa pria yang menghianati mu, dan bawa dia sebagai tumbal mu," kata Ki Cakra
semua orang kaget melihat Ki Cakra yang datang ke padepokan, "Ki Cakra, bukankah Ki Cakra sedang melakukan semedi bersama nyai Mela?" tanya Wahyu.
"itu urusan ku," kata Ki Cakra dingin.
pak Bowo yang sedang di bantu Asep dan Edi untuk bangun setelah terhempas.
keduanya kaget saat tiba-tiba Ki Cakra mencekik pria itu, "aku bertanya padamu, kenapa kamu berani menyantet istriku hingga membuat istri dan putra ku meninggal dunia!!"
"bukan menyantetnya, tapi mengirimkan orang yang memiliki dendam besar pada keluargamu, dan itu sangat menyenangkan asal kamu tau, melihat mu terluka dan kehilangan segalanya, karena itu pantas karena kamu juga melakukan itu," kata pak Bowo.
"kamu buta ternyata terlalu mempercayai Nirwan sebagai ketua padepokan, asal kamu tau jika aku harus kehilangan kedua orang tua ku dengan sadis karena orang-orang busuk itu, jadi tak salah aku membalasnya, jadi sekarang kamu harus bertemu Nyai Asih," kata Ki Cakra tersenyum
Susi datang dengan tombak di tangannya, tapi tiba-tiba sebuah jari berkuku panjang menembus perut wanita itu di depan semua orang.
Mela menunjukkan sosok aslinya, "kamu harus melihat apa itu terluka, hi-hi-hi-hi," kata kuntilanak merah itu yang mencabik-cabik tubuh Susi di depan semua orang.
semua orang mundur ketakutan, pasalnya mereka baru kali ini melihat kuntilanak merah dengan wujud menyeramkan.
tiba-tiba suasana padepokan sangat mencekam, terdengar suara gamelan yang lirih.
dari jauh kegelapan malam seorang wanita datang sambil berjalan tanpa menginjak tanah.
wanita yang awalnya datang dengan penampilan sosok wanita Jawa yang anggun.
tiba-tiba dia berubah wujud menjadi mengetikan dengan penampilan acak-acakan.
"kenapa sekarang kamu ingin memberikannya, apa dia sudah tak berguna?" tanya wanita itu.
"ya dia tak berguna, jadikan dia abdi setia mu sampai akhir dunia ini, karena dia berani membunuh anak dan istriku,"marah Ki Cakra.
__ADS_1
"tapi sebenarnya ada seseorang yang membantunya untuk melakukan itu,dia tak menyukai saat kalian menikah, dan ada orang yang dari jauh senang melihat kehancuran mu," kata wanita itu.
"jika kamu tau katakan dan jangan membuatku bertanya-tanya?" kata Ki Cakra marah.
"tapi sebelum bisa menyentuh mereka, kamu harus melepaskan semua dendam mu,karena itu Nyai Nawang sendiri yang akan datang memberitahu dirimu, tapi lihatlah sekarang saja kamu sudah tak di akui oleh wanita itu, ha-ha-ha," kata nyai Asih yang pergi.
"wanita sialan!!" meski Cakra yang kemarahannya memuncak.
dia membuat badai di desa itu, ustadz Harun dan beberapa santri yang sengaja tinggal pun kaget.
mereka segera berkumpul setelah mengambil air wudhu dan mulai membaca doa meminta pertolongan.
Ki Cakra bahkan sudah membuat air sungai tiba-tiba meluap dan badai terjadi di desa itu.
Mela tak bisa mendekati sosok pria itu, tapi tiba-tiba terdengar suara krincingan.
Ki Cakra terduduk setelah suara itu muncul di kepalanya, dan perlahan suara lantunan ayat suci Al-Qur'an membuatnya pingsan.
semua pun panik, "cepat tolong," kata Mela.
mereka pun bergegas membawa pria itu masuk, Mela mencoba membantu Ki Cakra.
"kamu sudah tak terikat dengannya Mela," kata Ki Adjisaka mengejutkan Mela.
"tapi kenapa, bukankah kalian tak bisa lepas tanpa dia melepaskan dendamnya, kenapa sekarang kalian bisa lepas!!" maki Mela.
"karena dia baru saja melepaskan dendamnya, terlebih saat dia mulai menyadari jika ada seseorang yang selama ini menunggunya dan selalu mendoakannya," jawab Ki Bahurekso.
"kalian bicara apa," kata Mela yang tak bisa mengerti.
"dia baru saja menemukan gadis itu nela, tugas kita selesai, sekarang biarkan dia berjalan sendiri, karena kini dia harus menyelesaikan semua masalahnya sendirian," kata Ki Bahurekso.
"tidak, aku tak bisa meninggalkan dia, bagaimana pun aku tak mau jauh darinya!"
"ingat kamu siapa Mela, Ki Dwisa yang akan melindunginya saat ini, karena kekuatan kami sudah melebur padanya, dan kamu harus menemui seseorang," kata Ki Bahurekso
tanpa Mela duga, Ki Adjisaka melepaskan paku dari ubun-ubun kepalanya, dan membacakan mantra agar tak ada yang bisa menancapkan paku lagi.
"sekarang temui pria yang bisa menjawab semua pertanyaan mu, kamu tinggal ikuti hati mu dan nanti kamu tau pria itu siapa,"
__ADS_1
Mela masih belum bisa meninggalkan pria yang masih belum sadarkan diri itu, tapi dia merasa harus tau yang sebenarnya.
tentang siapa dirinya dan kenapa dia menjadi sosok mengerikan seperti ini.
sedang di tempat Ki Cakra berdiri saat ini, ada sebuah taman yang indah.
dia melihat ada dua anak yang sedang bermain di sana, mereka tiba-tiba terlihat sedih.
dia ingin menghampiri keduanya, tapi kemudian ada sosok Mela yang berada di kegelapan sambil menangis dengan wujudnya penuh dendam.
kedua anak itu terus menangis melihat sosok Mela, "umi..."
Ki Cakra pun mengerti hal itu, dia tanpa sadar merengkuh arwah istrinya dengan dendam.
dan membuat istrinya menjadi arwah penasaran, Ki Cakra melihat ke arah tangannya yang terikat dengan sebuah benang merah.
"apa aku harus melepaskan mu ke tempat seharusnya, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku menjadi seperti ini, menyeret semua orang dalam kesengsaraan...."
dia melepaskan benang yang mengikat kelingkingnya, dan tiba-tiba batasan itu pecah.
dia melihat sosok wanita muda nan cantik yang begitu dia cintai berlari menghampiri kedua anak itu dan bisa bergabung bersama.
melihat itu hati Ki Cakra terketuk, ketiganya menoleh pada pria itu.
"kembalilah ayah, seseorang sudah menunggu mu,"
tiba-tiba sesuatu memukul Ki Cakra dengan sangat keras membuat pria itu terpental pergi.
dia kembali ke tubuhnya dan membuatnya tersadar sudah di kerumini oleh keenam orang setianya.
"aku kenapa?" tanya pria itu bingung.
"Ki Cakra kami kira sudah mati, karena detak jantung Ki Cakra sudah tak berdetak lagi," kata Sukri.
"dimana Mela?" tanya Ki Cakra.
"dia pergi dengan sosok kuntilanak merah dengan marah, kami tak tau dia pergi, tapi dia hanya meminta kami menjaga Ki Cakra," kata Wahyu.
"tidak boleh ..."
__ADS_1