Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
menemukan suamiku


__ADS_3

Shafa sangat sedih, pasalnya sudah sebulan ini suaminya tidak kunjung pulang, Cakra tak bisa di ketemukan dimana pun.


"ibu kenapa?" tanya Nita yang melihat sosok Shafa yang terus duduk diam memandangi foto pernikahan Cakra dan Lily.


"tidak ada apa-apa, maaf aku hanya sedih saja, apa ada yang ingin di laporkan," tanya wanita itu dengan sedih.


"hanya laporan pemasukkan seperti biasa saja," jawab wanita itu.


"terima kasih," kata Shafa.


dia bangkit dari kursinya, tapi hampir jatuh tersungkur, "ibu baik-baik saja,"


beruntung Nita menahan tubuh wanita itu. "aku hanya merindukan mas Cakra, tapi aku tak papa,"


Nita dan semua wanita di rumah mewah itu sedih melihat Shafa, pasalnya sebulan ini wanita itu tinggal sendiri di rumah.


dan setiap malam pasti akan terdengar suara lirih seseorang menangis.


Shafa masuk kedalam kamar tamu, dan menaruh semua laporan keuangan itu.


"mbak Lily bilang sudah mengikhlaskannya untuk aku menjaganya, tapi sekarang aku kehilangan mas Cakra, maafkan aku...."


pencarian untuk Cakra terus di lakukan, bahkan ustadz sepuh juga tak bisa melacak keberadaan menantunya itu.


tapi sebisa mungkin dia harus terus mencari Cakra, bagaimana pun dia tak mau kehilangan orang yang begitu di cintai oleh putrinya itu.


Shafa sedang membersihkan kamar utama rumah itu, dia membersihkan semua barang Lily karena tadi Arkan menelponnya,


keluarga itu akan segera pulang ke Indonesia, dan berharap semua barang Lily tak ada di rumah Cakra lagi.


terlebih sekarang Cakra dan Shafa sudah menikah, jadi dengan itu Shafa mau tak mau mengikuti permintaan dari orang tua lily.


tapi saat bersih-bersih dia melihat sebuah kotak kayu yang ada di meja rias


dia ingat jika itu adalah lambang keluarga Hadikusumo dilihat dari ukiran berbentuk ular naga merah.


dia pun perlahan membuka kotak itu dan disana berisikan sebuah surat dan juga peta.


setelah membaca semua kertas-kertas lama itu, dia langsung bergegas pergi.


"ibu mau kemana?" tanya Gopur melihat Shafa berlari seperti orang gila.


bahkan wanita itu langsung keluar dengan mobil miliknya menuju ke suatu tempat yang mungkin akan jadi harapan terakhirnya.


Gopur memanggil Edi dan Wawan, kini ketiganya mengejar wanita itu dengan mengikuti mobil putih itu.

__ADS_1


"ku harap aku bisa menemukan mu mas, jika perlu aku akan menukarkan hidup ku dengan nyawa mu, ku mohon bertahanlah," kata Shafa yang sampai di reruntuhan bangunan padepokan Hadikusumo.


dia berlari menerobos semua pagar yang menutup tempat itu, dia kini berlari ke arah kolam yang ada di belakang rumah.


"ibu bos jangan melakukan hal aneh," panggil Edi yang melihat wanita itu di samping kolam.


"maaf, tapi aku harus menyelamatkannya," kata Shafa yang langsung melompat ke dalam kolam itu.


ketiga pria itu lari, tapi mereka melihat ada yang aneh dengan kolam itu.


seharusnya jika kolam biasa akan meninggalkan bekas gelombang air saat seseorang melompat kedalam air.


tapi kolam itu tetap tenang dan tak terjadi hal itu, bahkan mereka ingat jika Cakra pernah mengingatkan untuk tak masuk ke kolam itu.


karena kolam itu bisa membunuh mereka, "ibu bos," bingung Gopur.


"Wawan cepat telpon ustadz sepuh, cepat!!" teriak Edi yang melihat hal ganjil itu.


Shafa terus berenang menuju dasar kolam itu, "ya Allah jika memang kami berjodoh, tolong bawa aku untuk bisa bersamanya, karena aku tak bisa menjalani semua sendiri." batin Shafa.


tiba-tiba dia melihat sesuatu yang membuatnya panik, itu adalah seekor ular besar berwarna putih yang menabraknya.


"tidak... aku ingin bertemu suamiku, aku tak bisa mati seperti ini, aku harus bertemu mas Cakra..."


"bagaimana ini bisa terjadi, kenapa dia bisa melompat ke kolam angker itu?"


"kami juga tak tau, tapi kami hanya dengar jika semuanya demi pak bos Cakra," jawab Edi.


"semuanya mulai dzikir, kita minta pertolongan pada Allah," perintah ustadz sepuh.


mereka semua langsung mengambil posisi bersila dan mulai membaca dzikir.


seorang wanita setengah baya menolong Shafa, "dia siapa? kenapa dia terdampar di danau ular?"


"sudah dua kali ini, kemarin lalu pria ini, sekarang wanita cantik ini," kata seorang wanita tua itu.


tiba-tiba Shafa terbatuk dan mulai sadar, "siapa... aku dimana?" gumamnya.


"kamu di kampung menyan, desa Lantik, kamu tadi kami temukan mengapung di danau ular, ku kira kamu itu mayat nduk,"


"tidak.... aku harus menemukan suamiku," kata Shafa yang panik.


dia ingin bangkit tapi tubuhnya masih lemas, "tidak... suamiku belum di temukan.." tangis Shafa.


"tenang nduk, kamu masih sangat lemah, kalian mengalami kecelakaan atau bagaimana?" tanya wanita itu memeluk Shafa.

__ADS_1


"Shafa..." suara pria yang sudah satu bulan tak sadarkan diri.


mendengar itu, Shafa menoleh dan melihat sebuah kaki di balik tirai, "mas Cakra..." kata Shafa yang berusahalah bangun dengan tenaganya.


"ibu bantu," kata wanita yang sudah menolongnya.


pria itu membuka matanya, dia ingat jika saat itu dia menghancurkan mustika merah itu menjadi debu.


melihat sosok Cakra yang terbaring lemah di sebuah ranjang, "mas Cakra..."


"Shafa..."


wanita itu langsung mengenggam tangan pria itu dengan erat, "terimakasih ya Allah akhirnya aku menemukan suamiku..." tangis Shafa menjadi.


Cakra berusaha bangun tapi tubuhnya tak bisa bergerak, "kamu kenapa disini?"


"aku mencari mas Cakra, aku melompat ke kolam di padepokan Hadikusumo dan akhirnya aku menemukan mas, terima kasih Bu, sebulan ini kami semua terus mencari suamiku ini,"


akhirnya Shafa meminjam ponsel dan menghubungi pondok dan sang Abi.


ustadz sepuh kaget pasalnya keduanya bisa muncul di desa terpencil yang sangat jauh dari rumah itu.


seorang paranormal di desa itu melihat Cakra yang tak bisa bergerak.


"saya tak mengerti, karena menurut mata batin saya anda sehat, tapi kenapa tak bisa bergerak," kata pria itu.


"apa, berarti aku akan jadi pria cacat," gumam Cakra kaget


"tidak mas, mas pasti bisa sembuh, kita akan berobat dan melakukan apapun untu kesembuhan mas," kata Shafa mengenggam tangan pria itu.


"tidak dek, jangan membuang masa depan mu dengan pria tak berguna seperti ku,"


"aku tak akan melakukan itu, karena aku istrimu dan aku akan merawat mu, meski kamu harus seperti ini seumur hidup mu,"


Cakra merasa sedih, bagaimana bisa dia harus membuat seorang gadis muda tersiksa bersamanya yang kemungkinan mendapatkan karna karena kejahatannya.


rombongan ustadz sepuh sampai di desa itu setelah satu hari perjalanan.


dia melihat kondisi dari Cakra, dia hanya tersenyum dan menguap kepala putrinya.


"ini ujian untuk suamimu nduk, apa kamu mau terus bersama dengannya atau memilih meninggalkannya," tanya ustadz sepuh.


"aku akan menemaninya Abi, dan izinkan aku mengundurkan diri dari semua kegiatan di pondok untuk fokus mengurus Suamiku,"


"baiklah, jika itu pilihan mu, Abi akan mendukung mu, dan pernikahan kalian sudah secara hukum dan agama," kata ustadz sepuh.

__ADS_1


__ADS_2