Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
jangan takut


__ADS_3

setelah masalah yang di hadapi selesai, para warga pun bubar, sedang ustadz sepuh masih mengajak menantunya itu duduk bersama.


"ada apa Abi?"


"entahlah, mereka ini mau bagaimana lagi, kepercayaan pada hal klenik sangat sulit di hilangkan, padahal mereka semua mengaku sebagai orang yang beragama," gumam pria itu.


"jika Abi menyerah, bukankah itu sebuah kemunduran, kita tentu tau benar jika kepercayaan seperti ini sudah mendarah daging, terlebih ini tanah Jawa Abi, jadi tolong tetap berjuang," kata Cakra tersenyum.


"ya kamu benar, mungkin sesaat Abi hanya lupa dan lelah, sudah sebaiknya sekarang kita istirahat, karena nanti jam dua, kita akan melakukan sholat malam," kata ustadz sepuh.


"baik," jawab pria itu.


mereka berjalan berdua menuju ke dalam rumah, dan berpisah masuk kedalam kamar masing-masing.


terlihat Shafa sedang membaca buku di atas ranjang, dan gadis itu tetap mengenakan jilbab kaos dan juga daster panjang.


dia langsung bangkit saat melihat Cakra, "sudah istirahat saja, kamu pasti lelah, aku juga tak akan mengganggumu,"


"tapi mas ..."


"jangan takut, meski aku menikahimu, tapi kalau boleh jujur, aku masih belum sepenuhnya bisa menyentuh mu, karena saat mendekati mu , aku terus melihat sosoknya,"


Shafa hanya tersenyum, "maaf ya, seharusnya aku tak terluka dulu, biar mas tidak terus melihat dan mengingatnya, dan membuat hati mas terluka,"


"itu bukan kesalahan mu, itu hanya kecelakaan yang di rencanakan oleh orang kejam," kata Cakra yang memilih tidur di lantai.


malam ini tak terjadi apapun, Shafa merebahkan dirinya di ranjang, tapi hatinya merasa sakit.


bukan karena hal mengerikan yang tejadi padanya, tapi karena pernikahan yang sepertinya harus terus dia perjuangkan.


dia tau, menjadi yang kedua akan selalu menyakitkan, apalagi saat orang yang kita cintai tak bisa melupakan masa lalunya.


"ya Allah, memang kami berjodoh, tolong satukan dan tumbuhkan cinta di antara kami," doanya dalam hati.


saat dia mulai terlelap, Cakra membuka mata dan menangkap sesuatu yang datang.


"tak ku kira, dia berani mengirimkan kamu untuk melukai istriku," suara batin pria itu mencekik jin

__ADS_1


"aku hanya menjalankan perintah karena dia berani memberikan aku tumbal nyawa, terlebih nyawa wanita itu bisa buat ku kuat," kata makhluk itu.


"mati ..." lirih Cakra mulai membaca mantra untuk menghancurkan jin.


pasalnya jin yang dia hadapi itu bisa membaca Al-Qur'an, itulah kenapa dia bisa masuk kedalam pondok pesantren itu.


akhirnya makhluk itu musnah di tangan Cakra, dia pun membacakan sesuatu di ubun-ubun kepala Shafa.


dan kemudian mencium kening gadis itu, "setelah ini tak akan ada yang bisa menyentuh mu selama aku bersama mu,"


pria itu tak jadi istirahat, dia pun memilih keluar rumah dan menuju ke mobil miliknya.


dia mengambil ikat kepala yang dia tinggalkan di dalam mobil, dia langsung berjalan menuju rumah Ki Abraham.


dalam lima langkah Cakra sudah sampai di rumah bergaya Jawa klasik kental dengan suasana mistis terasa.


para penjaga kaget melihat seorang pria berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam.


"siapa itu," tanya para penjaga yang melihat sosok Cakra.


"aku adalah maut untuk kalian semua," kata Cakra dingin.


tapi mereka bukan tandingan pria itu, dengan mudah Cakra melumpuhkan semua orang.


semua mati dengan mengenaskan tergorok di leher. setelah dia bermandikan darah para pria penjaga rumah.


dia berjalan masuk kedalam rumah itu dengan mendobrak pintu rumah, mendengar keributan Ki Abraham yang sedang istirahat pun kaget.


dia bergegas bangun dan dia melihat sosok Cakra berdiri dengan tatapan marah.


"kamu berani ingin menyentuh istriku lagi, sepertinya aku benar-benar harus menghapus semua musuhku," kata Cakra mengeluarkan seruling miliknya yang berubah menjadi pisau kembar.


"aku hanya ingin mengancam mu agar tak menganggu ku, terlebih kamu tak pantas," kata Ki Abraham yang tiba-tiba kepalanya jatuh ke lantai dan mengelinding.


istri dan dua anak pria itu pun menyaksikan pembantaian Ki Abraham.


"tolong pembunuh!!" teriak wanita itu.

__ADS_1


pisau pun di lempar oleh Cakra kearah wanita itu, dan tepat mengenai jantung hingga membuatnya mati seketika.


dua bocah itu melihat dan menyaksikan betapa kejamnya sosok Cakra yang sesungguhnya.


"dia menghabisi kedua anak ku tanpa belas kasihan, aku pun tak akan kasihan pada anak-anaknya," kata Cakra yang sudah terlanjur marah.


"tidak Cakra, kamu sudah berjanji untuk berubah," kata Ki Dwisa yang muncul untuk mencegah pria itu


karena dendam yang dia miliki sudah terbayar, dan bukan tanggungan dari dua bocah itu harus ikut mati.


karena mereka juga tak mengerti apa yang telah di lakukan oleh orang tua mereka.


Cakra mendekat mengambil pisau miliknya, "kau memintaku berhenti," kata Cakra pada Ki Dwisa.


"iya, dendam mu sudah terbayar, sekarang kembali pada istrimu,"


tapi tanpa di duga Cakra juga menghabisi dua bocah itu tanpa belas kasihan.


"sudah ku katakan, nyawa di bayar nyawa, dia membunuh anakku, maka aku akan membunuh semua keturunannya," kata pria itu yang kemudian pergi begitu saja.


saat dia berjalan ke luar rumah tiba-tiba Cakra menghilang tanpa jejak, Ki Dwisa kaget dan juga meninggalkan tempat itu.


keesokan harinya semua orang heboh saat melihat rumah Ki Abraham menjadi tempat pembantaian.


bahkan semua anak buah dan keluarga dukun sakti itu di temukan di dalam rumah.


dan kondisi mereka semua sangat mengenaskan, darah menggenang dan mulai mengering.


garis polisi di pasang untuk menjauhkan warga dari tempat kejadian perkara.


terlebih di rumah itu tak di temukan CCTV jadi tak ada yang tau siapa orang yang membunuh keluarga dukun santet itu.


Shafa dan ustadz sepuh bingung karena Cakra hilang dari pondok, semua sedang mencari pria itu.


tapi dia seperti hilang tanpa jejak, Shafa pun sedih mengingat kedekatan mereka beberapa kali ini.


bagaimana bisa pria itu kini hilang begitu saja tanpa pesan, dan tanpa tanda-tanda sedikitpun.

__ADS_1


dari CCTV pondok pun dari tempat parkiran mobil, pria itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


__ADS_2