Ilmu Hitam Pembawa Dendam

Ilmu Hitam Pembawa Dendam
bertemu ustadz sepuh


__ADS_3

Mela sudah masuk kedalam pondok pesantren Miftahul Jannah milik keluarga ustadz Hasan.


sosoknya yang begitu seram membuat kaget semua santri, pasalnya dari dulu tak pernah ada orang yang bisa masuk kedalam pondok itu dengan wujud seperti itu.


tapi seorang gadis bercadar menghampiri sosok kuntilanak merah yang sangat seram itu.


"assalamualaikum.... Abi sudah menunggu mu, silahkan ikut saya," kata Shafa dengan lembut.


sosok itu yang awalnya sangat seram tiba-tiba mengubah wujudnya menjadi lebih sedikit lebih baik.


terlihat seorang pria sedang duduk di sebuah ruangan sepi dan sedikit penerangan dengan lampu lima Watt.


sedang Shafa meminta semua kembali berdoa untuk ketenangan dari seseorang.


di bantu beberapa ustadz memimpin doa, bacaan Al-Qur'an terus mengalir untuk nama dari orang yang sudah meninggal itu.


"kamu ingin lepas dan meninggalkan semuanya, karena seharusnya kamu sudah tak boleh di sini," kata ustadz Faraz yang meneteskan air mata melihat sosok di depannya.


"memang aku bisa pergi, tapi aku merasa jika ada yang menahan ku," kata Mela yang melihat tangannya.


"tentu aku bisa membantumu, tapi apa kamu tak ingin tau kenapa kamu ada di sini? dan siapa yang membuat mu tetap berada di alam dunia yang seharusnya kamu sudah menyebrang," kata ustadz Faraz.


"siapa mereka?"


"dia adalah suami dan ayah mu,"


"aku tak kenal mereka?" kata Mela yang memang kehilangan ingatannya setelah kematiannya.


Shafa melepaskan sarung tangan miliknya, dan kemudian menyentuh arwah itu.


tiba-tiba Mela melihat semua ingatan masa lalunya, dia menangis saat ingat Semuanya.


bahkan kebahagiaannya bersama dengan Adit yang tak lama itu sudah membuatnya cukup bahagia.


"terima kasih sudah memberi aku kehidupan," lirih Shafa.


"apa maksudnya? aku sudah mati bagaimana aku memberikan kamu kehidupan," kata Mela melihat sosok Shafa.

__ADS_1


gadis itu membuka cadarnya, dan betapa terkejutnya dia melihat sosok Shafa.


"kenapa wajahnya sama dengan ku?" tanya Mela menunjuk Shafa.


"dia mendapatkan donor dari wajah, mata dan jantung mu, karena di saat kamu meninggal dunia, Shafa mengalami kecelakaan besar, seseorang ingin membunuhnya karena dia adalah gadis yang tertulis untuk Aditama," kata ustadz Faraz.


"aku tau itu, karena Mbah Putri Nawang sudah pernah bilang, jika aku akan berjodoh dengan mas Adit sebentar, tapi setelah itu akan ada gadis yang bisa mengantikan ku," kata Mela tersenyum.


"dia masih berkeliaran dan belum di ketemukan, dia adalah musuh Adit atau sekarang ini kita memanggilnya Ki Cakra, karena dia yang memilih jalan gelap itu," terang ustadz Faraz.


"tapi bagaimana bisa, aku ingin meninggalkan semuanya, bisakah tolong bantu aku,"


"ayah mu sudah kembali ke rumah, dan hanya satu orang, jika dia sudah bisa merelakan diri mu, kamu akan bisa bertemu dengan kedua anak mu," kata ustadz Faraz.


"kalau begitu aku akan menemuinya," kata Mela yang tak sabar.


"tak usah dia sudah di depan, kita temui pria itu," kata ustadz Faraz


umi Kalila tersenyum melihat pria brewok yang datang dengan pakaian hitam dan ikat kepala khas dukun.


"assalamualaikum nak Cakra, apa yang anda inginkan, hingga melukai para santri yang tak bersalah," suara wanita itu terdengar sangat lembut.


"tidak usah berteriak le, aku di sini dan kamu mencari mereka bukan," kata ustadz sepuh.


Ki Cakra berlari ingin memeluk Mela tapi dia tembus tak bisa menyentuh wanita itu lagi.


"apa yang telah kalian lakukan?"


"sudah waktunya mbak kembali ke tempat yang seharusnya, dan Ki Cakra harus ikhlas, bukankah Anda tak mau melihat wanita yang anda cintai itu terus terluka dan tersiksa bukan?" kata Shafa.


"apa maksud mu, dan siapa kamu?" tanya Ki Cakra menatap tajam wanita bercadar di depannya itu.


"dia adalah orang yang seharusnya berjalan bersama mu, tapi sayangnya kamu tersesat terlalu dalam,hingga kamu tak menyadari semua orang terluka karena mu, tolong biarkan aku pergi dan tolong kembalilah ke jalan yang benar," mohon sosok Mela.


"tidak, aku belum selesai membalas dendam," kata Ki Cakra yang tak ingin di tinggalkan oleh wanitanya lagi.


"kamu egois mas, aku harus pergi karena yang sebenarnya kamu sudah bisa ikhlas aku pergi, tapi tolong pikirkan tentang dirimu," kata Mela yang perlahan memudar.

__ADS_1


doa terus berkumandang untuk membantu wanita itu menyebrang dengan baik.


Ki Cakra terjatuh ke tanah, cintanya sudah lenyap, dia kini sendirian di dunia kejam ini.


"Abraham dan Anand, dua nama itu kan yang kamu cari, Abraham adalah orang yang ingin membunuh mu karena kamu mewarisi semua kekayaan keluarga Hadikusumo, karena dia anak dari saudara tiri ayah kandung mu, dia mencoba membunuh Shafa, gadis bercadar yang berdiri di depan mu," kata ustadz sepuh.


"aku tak pernah tau itu? apa kamu tak bohong?" tanya Ki Cakra tak percaya.


"buat apa aku membohongimu, putriku meregang nyawa dengan sebuah pisau yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak, dia mendapatkan donor tepat saat kritis, karena luka wajah dan mata, dia juga mendapatkan donor dari orang yang sama, atas izin ayah wanita itu kami melakukan transplantasi, karena suaminya sibuk membalas dendam," kata ustadz sepuh.


"apa?" kaget Ki Cakra melihat wanita yang berdiri di depannya itu.


"itulah kenapa kemarin lalu, Mela muntah darah karena kondisimu menurun?"


"aku tak tau, tapi aku selalu mencoba menjaga diri mulai saat itu," jawab gadis itu dengan lembut.


"kalian sangat lancang, dan untuk Anand apa yang di lakukan pria itu, kenapa dia menjadi salah satu nama yang kamu sebut pak tua?" tanya Ki Cakra bangkit dan menantang ustadz sepuh.


"aku tak perlu menjawab mu pun kamu harusnya sudah tau,jika pria itu sudah menyukai Lily dari kalian kecil, jadi itu pilihan terbaik, saat membiarkan wanita itu meregang nyawa tanpa memberikan pertolongan, dan sebenarnya racun yang di berikan itu bukan racun kuat, hanya saja karena dia terlambat mendapatkan pertolongan, beruntung racun itu masih belum menjalar, hingga beberapa organ bisa menjadi donor," kata ustadz sepuh.


mendengar ucapan itu Ki Cakra mencengkram kuat leher pria itu, "aku akan membunuh mu!!"


Shafa yang tak mau melihat ayahnya terluka mengambil sebuah cambuk yang di tinggalkan oleh keluarga Arkan.


dia mengayunkan cambuk itu ke tubuh Ki Cakra, dan membuat pria itu langsung terduduk kesakitan.


"maaf... kamu tak boleh menyakiti Abi, karena kamu sudah terlalu lancang," kata Shafa yang meneteskan air mata.


Ki Cakra menoleh pada gadis itu, saat ingin bangkit, dia tak sanggup karena bekas luka cambuk itu sangat sakit.


tiba-tiba sepuluh orang santri mengelilinginya dan mulai membaca ayat-ayat yang di gunakan untuk melakukan ruqyah.


alhasil pria itu pun di ruqyah, Ki Cakra terus berteriak keras karena tubuhnya terasa terbakar.


bahkan dari tubuh pria itu mengeluarkan asap, perlahan pria itu muntah darah.


doa tak henti di panjatkan, bahkan semalam suntuk mereka tak putus membaca Alqur'an untuk meminta kesembuhan untuk pria itu.

__ADS_1


Ki Adjisaka dan Ki Bahurekso juga sudah melebur, kini tinggal Ki Dwisa yang tetap menjadi khodam pria itu.


tubuh Ki Cakra pun di guyur dengan air rendaman daun kelor dan garam, serta rempah yang lain.


__ADS_2