
siang itu, Ki Cakra baru pulang bersama Siti dan Mela, semua anak buah pria itu kaget, karena Ki Cakra tak pernah membawa wanita selain Mela.
ketiganya turun mobil tapi tiba-tiba sosok Siti menghilang tanpa jejak. membuat semua orang bingung.
tak ada yang berani tanya, terlebih Mela yang merangkul pria itu, tapi saat mereka akan masuk kedalam rumah.
rombongan dari warga datang untuk mengatakan sesuatu, "Ki Cakra tolong kami, tikar mayor itu belum mau pergi," kata para bapak itu
"baiklah aku bantu," kata Ki Cakra.
"tidak, Ki Cakra belum sepenuhnya sehat, ingat tadi habis ngapain," marah Mela.
"tapi itu tak akan seburuk itu hingga membuatku mati,karena tak ada seorang pun yang bisa membuatku mati," kata Ki Cakra.
"aku tak peduli, karena aku tak suka!" bentak Mela.
"kalian pulanglah, nanti malam aku akan datang," perintah Ki Cakra.
"kaki tunggu Ki," kata mereka sebelum pergi.
sedang Mela melihat Ki Cakra dengan sedih, "kamu keterlaluan Ki, kamu jahat,"
wanita itu berlari pergi menuju ke dalam rumah, entahlah kenapa hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan pria itu.
terlebih pria itu berjanji tanpa memperhatikan kondisinya dan juga fisiknya.
Ki Cakra masuk kedalam rumah, "kamu marah, padahal aku sudah berjanji dan tak mungkin bisa aku batalkan,"
"peduli setan, pergi sana aku tak akan melarang mu, mau kamu mati atau apapun itu, terserah dirimu," kesal wanita itu.
"kamu yakin? aku bisa mati saat melakukan pertolongan itu," kata Ki Cakra memancing Mela.
"berhentilah berbohong, kamu bilang jika kamu tak mungkin bisa mati," kata Mela.
Ki Cakra tersenyum dan langsung memberikan sebuah kecupan di kening wanita itu.
"maafkan aku, jika malam ini aku tak pulang, maka aku binasa di tempat itu, karena ternyata tikar itu bekas dukun sakti yang kemungkinan sudah hidup lama, dan saat insyaf malah di bunuh dengan kejam," kata Ki Cakra.
Mela terkejut tak percaya, "apa maksudmu Ki?"
pria itu langsung mengunci dirinya di ruang praktek, tiba-tiba Mela merasa sangat mengantuk dan dia pun tertidur.
__ADS_1
Ki Cakra membuka matanya, dan mengambil semua pusaka miliknya.
pria itu pergi bersama ketiga orang kepercayaannya dan tak lupa membawa kelengkapan semua sesajen.
mereka berangkat menuju desa yang sudah mendapatkan teror selama beberapa hari ini.
sesampainya di desa itu, suasana sudah menjelang malam untuk mulai penghancuran tikar mayit itu.
Ki Cakra duduk di pinggir sungai yang sudah menjadi sungai angker itu.
semua warga melihat dari jauh, mereka tak mengira jika harus Ki Cakra yang turun tangan sendiri untuk membereskan.
pria itu mulai membaca mantra dan perlahan tikar itu datang atas panggilan Ki Cakra.
"kenapa masih belum bisa tenang,bukankah otak dari ide bakar massa itu sudah mati, mau apa lagi?" tanya Ki Cakra.
"aku ingin membunuh semua orang membakar ku hidup-hidup, bukan hanya sekedar pemilik ide itu," kata sosok yang duduk di tikar itu.
"tak mungkin, itu berarti kamu ingin menghabisi seluruh warga desa dan menjadikan Desa ini menjadi desa hantu, apa itu keinginan mu," kata Ki Cakra.
"tapi apa salahnya seorang dukun yang sedang bertaubat apa tak boleh, hanya karna seorang anak mati karena terkena penyakit aneh, mereka menyalahkan aku, apa salah dukun bertobat!!" teriak pria itu marah.
Ki Cakra tak punya pilihan lain langsung menyerang pria itu tanpa ampun.
sosok itu langsung menyatu dengan tubuh Ki Cakra, dan mereka menyerang arwah dukun itu.
tanpa di ketahui Ki Cakra, di rumah Mela sadar dan dia kaget karena tertidur.
"sialan, dia melakukan sirep padaku, awas kamu Ki," marah Mela yang langsung bersiap pergi.
tapi dia di hadang oleh Edi dan Asep, "maaf Nyai, anda tak boleh keluar dari padepokan,"
"tapi kalian lupa jika aku bukan wanita biasa," kata Mela menyeringai.
dia akan mencabut paku di kepalanya, tapi sosok genderuwo itu datang dan langsung memeluknya dan membawanya pergi.
ternyata ada sosok sundel bolong temannya, "bawa aku ke tempat Ki Cakra," pinta Mela.
"baiklah..."
mereka pun sampai di desa itu, Mela pun di hampiri semua anak buahnya yang berasal dari alam ghaib.
__ADS_1
dia bergegas menghampiri pria yang sudah bersamanya selama beberapa bulan itu.
tikar mayit itu melilit Ki Cakra dan pria itu akan di bawa ke dalam sungai.
Mela melompat terbang dan mengambil keris pusaka milik Ki Cakra.
"binoso!!" teriaknya menyayat tikar itu.
tiba-tiba Ki Cakra terjatuh dari sungai tapi beruntung sundel bolong itu menangkap pria itu.
"hi-hi-hi-hi," suara tawa itu terus terdengar.
"ternyata kamu, makhluk penguasa hutan larangan, kenapa kamu membela pria itu, bukankah kamu tak mau terikat dengan manusia," kata makhluk tikar mayit itu
"terserah diriku," jawab Mela menantang makhluk itu.
Ki Cakra mengunakan tenaga terakhirnya untuk membakar sosok itu, tikar mayit pun terbakar dengan cepat dan musnah.
Mela masih berdiri di sebrang sungai dan menatap kecewa ke arah Ki Cakra.
"maaf...." lirih pria itu yang langsung pingsan
"Ki Cakra!!" teriak Mela yang bergegas menghampiri pria itu.
saat warga berkerumun Mela marah, "minggir semuanya atau kalian semua mati di tangan ku," ancam Mela
tapi warga seakan tak mendengarkan wanita itu, "singkirkan mereka!" perintah Mela pada semua anak buahnya.
tiba-tiba seluruh hutan itu di penuhi makhluk dengan berbagai bentuk, Mela menghampiri Ki Cakra, dan tak merasakan detak jantung pria itu.
Ki Bahurekso tak bisa keluar karena jika dia keluar maka Ki Cakra bisa dalam bahaya
nela menyentuh perutnya, "maafkan aku..."
dia membaca mantra dan kemudian memindahkan sebuah biji bercahaya ke dalam mulut Ki Cakra.
Ki Bahurekso keluar dan membantu Mela, "kamu mengorbankan calon bayi kalian,"
"demi ayahnya, aku tak perduli," terang Mela yang menangis sedih.
tak lama Ki Cakra sadar, dia merasakan ada yang baru dalam dirinya.
__ADS_1
Ki Cakra melihat Ki Bahurekso, dan Mela yang nampak sedih."maafkan aku Mela .."
"aku membencimu..." lirih Mela yang pergi.