
para warga sudah heboh melihat ada tiga mayat yang begitu sangat buruk.
itu adalah pak Soleh dan dua anak buahnya, mereka mati dengan luka gigitan di sekujur tubuhnya.
"ya Tuhan... ternyata selama ini yang melakukan hal buruk ini adalah pak Soleh, padahal dia selalu bersikap seperti orang baik, tapi nyatanya dia itu orang jahat ya," kata pak RT.
"sudah pak RT, tak usah mengatakan hal seperti itu, lebih baik urus ketiga jenazah, karena kasihan jika di jadikan tontonan seperti ini," kata Cakra mengingatkan.
keluarga pak Soleh pun begitu histeris melihat kondisi pria itu,bahkan istrinya bingung karena dia sedang hamil tua.
tapi suaminya malah mati dengan begitu mengenaskan, "dasar pria biadab, kenapa kamu membunuh suamiku, kamu bahkan tak buta dan bisa melihat dan tau jika aku sedang hamil tua, bisa-bisanya kamu melakukan ini pada suamiku," kata wanita itu saat melihat sosok Cakra.
"apa anda yakin sedang hamil, aku lihat itu bukan bayi, melainkan hanya sebuah telur kosong tanpa isi," kata Cakra yang membuat wanita itu kaget.
"sialan, kenapa kamu begitu tak tau malu, kenapa kamu begitu busuk, aku bersumpah, atas nama anakku, jika putra mu akan mati dengan sangat menyedihkan, seperti Suamiku, ini sumpahku!" kata wanita itu dengan marah.
"sayangnya kamu tak bisa mengutuk diriku," kata Cakra.
ustadz Haris datang dan membaca ayat kursi, tiba-tiba wanita itu berteriak kesakitan.
"berhenti membaca ayat busuk itu, hentikan!!!" teriak wanita itu yang sudah berubah.
bahkan bola mata wanita itu sudah menjadi putih semua, ustadz Haris terus membaca ayat suci Al-Qur'an, dan akhirnya wanita itu muntah lima telur busuk.
semua keluarga pak Soleh kaget, karena tiba-tiba perut wanita itu kempes begitu saja.
"Allahuakbar!!" teriak semua orang.
wanita itu pun tergletak tak bergerak, ustadz Haris mengakhiri bacaannya.
"dia hamil ghaib, dan sebenarnya dia itu menjadi tumbal dari keserakahan suaminya yang ingin punya banyak harta, dan selama merasa hamil, nyawa dan sumber hidupnya telah di hisap habis oleh jin yang melakukan perjanjian dengan suaminya," terang ustadz Haris
"karena ustadz Haris sudah datang, Monggo di lanjutkan untuk membantu menyucikan warga yang meninggal dunia ini, karena saya sibuk," kata Cakra yang langsung pergi dari tempat itu.
"loh mas, kok gitu, kamu juga harus bantu,mas!!" panggil ustadz Haris yang tak mau melakukannya sendiri.
__ADS_1
"sudah kamu sudah Segede gaban begitu, pasti bisa ya dek, semangat!!" teriak Cakra tertawa.
ustadz Haris tak menyangka akan berurusan dengan tingkah kakaknya yang begitu menyebalkan itu.
Cakra memilih ke tempat dua anak buah dari pak Soleh, karena mereka itu adalah orang tak punya.
dia memberikan uang. santunan yang cukup besar pada keluarga itu, dan tak lupa juga memberikan bantuan sembako.
bahkan Cakra yang menanggung semua biaya untuk pemakaman kedua pria itu.
bukan karena dia merasa menjadi pahlawan, melainkan karena mereka mereka orang tak mampu, terlebih masih punya anak-anak yang masih kecil.
bahkan Cakra berjanji akan menyekolahkan anak-anak itu hingga SMA agar memiliki masa depan yang baik.
sore hari, pemakaman tiga jenazah itu akhirnya selesai, semua orang tak menyangka Cakra yang memilih menjamin hidup para anak yatim itu.
padahal keluarga orang yang membuat keempat bocah itu jadi yatim tak peduli sedikit pun.
dan yang tak di duga oleh warga adalah, para saudara pak Soleh malah saling sikut untuk mendapatkan warisan pria itu.
dia pun pulang, dan memilih bersih-bersih dulu sebelum masuk kedalam rumah.
Shafa tersenyum menyambut suaminya itu, "assalamualaikum sayang, kamu sedang apa?"
"waalaikum salam mas, aku sedang memeriksa pekerjaan yang di laporkan dari restoran milik mu, dan mencatat pemasukan yang di dapat dari penggilingan beras," jawab Shafa
"Ya Allah sayang, tolong jaga kesehatan mu, karena aku tak ingin melihat mu jatuh sakit," kata Cakra duduk dan memeluk istrinya itu.
"aku tau mas, tapi jika itu bisa membuat mu sedikit beristirahat aku tak masalah, karena kamu terlalu sibuk belakangan ini, hingga tak bisa tidur dengan nyaman, ingat mas, tubuh mu juga pasti butuh istirahat," kata Shafa
"iya sayang, mulai malam ini aku akan menjagamu, karena kamu adalah istri yang begitu aku cintai,"
"iya mas, terima kasih," jawab Shafa.
hari berganti bulan, acara tujuh bulanan Shafa juga semakin dekat, dan semua keluarga sudah datang untuk mengikuti pengajian itu.
__ADS_1
sedang Marwah juga di lepaskan hari ini, tapi kondisi wanita ini sedikit berbeda dari sebelumnya.
bukan karena amarahnya yang meledak-ledak, tapi terlihat seperti orang yang linglung, dengan pandangan mata kosong.
satu bulan lalu, Adi dan putranya datang untuk melihat kondisi Marwah, tapi yang membuat pria itu syok adalah tingkah dari Marwah yang begitu arogan.
bahkan gadis itu terus mengumpat semua orang,bahkan saat Adi datang melihatnya.
"dasar ayah tak berguna, seandainya kamu tak meninggalkan pondok ini, kita tak akan jadi gelandangan, kenapa mama bodoh menikah dengan mu!!" teriaknya sambil berontak.
adik dari Marwah pun langsung menampar kakaknya itu, "tutup mulutmu mbak, kamu sepertinya tak berubah, kamu tau benar apa yang terjadi, ini bukan salah ayah, dan kenapa kamu tak pernah melihat bagaimana ayah mengorbankan seluruh miliknya untuk membahagiakan mu, tapi kamu begitu buta,"kata pria itu.
"tutup mulutmu adik sialan," Naki Marwah.
"kamu yang tutup mulutmu, mulai sekarang kamu bukan keluarga kami, bagiku dan ayah kamu sudah mati, mbak Marwah ku sudah mati dari kecil, kamu itu cuma aib, tau itu hah!!" marah pemuda itu yang mengajak Adi kembali ke rumah mereka setelah menyapa seluruh keluarga.
bahkan Arkan memberikan modal pada putra saudaranya itu untuk membuat usaha baru dan menjalani hidup mereka lebih baik.
dan untuk Marwah, gadis itu setiap satu Minggu sekali di ruqyah oleh para murid dari pondok pesantren.
inilah hasilnya, meski seperti orang linglung, tapi Marwah sudah sedikit mau melakukan sholat dan mengaji meski harus memulainya dari awal.
pengajian akbar untuk tasyakuran atas tujuh bulan kehamilan yang di jalani oleh Shafa.
semua jamaah dari Miftahul Jannah mendoakan kesehatan dari ibu dan bayi, dan keluarga dari Cakra agar tetap sakinah mawadah warahmah.
setelah acara pengajian, di adakan juga adat Jawa tingkepan, bagaimana pun keluarga dari Cakra penganut adat Jawa yang masih kental.
bahkan acara di atur oleh saudara jauh dari Cakra, yaitu Keluarga Kusumo yang juga kapan hari di bantu oleh pria itu.
malam itu di adakan ruwatan untuk cakra dan seluruh keluarganya, serta meminta keselamatan untuk calon jabang bayi.
Shafa pun tak menolak dan matang, asal acara itu tak menyimpang dari ajaran agama yang mereka anut.
bahkan Shafa berkenalan dengan para saudara suaminya itu, yang ternyata sangat baik dan begitu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
__ADS_1