
tak terasa usia kandungan Shafa sudah mencapai usia delapan bulan akhir.
dan perkiraan kelahiran semakin dekat, membuat wanita itu kini harus terus mendapatkan pengawasan.
"Bu bos membutuhkan apa?" tanya Nita.
"tidak ada mbak, kalian bisa istirahat, aku hanya sedang ingin santai di sini," kata Shafa yang sedang duduk di sofa di depan tv.
bahkan dia sudah memakai sofa khusus, "tapi kaki bengkak Bu bos bikin khawatir, apa yakin anda baik-baik saja?" tanya Asri.
"iya mbak, sebentar lagi mas Cakra juga pulang," kata Shafa yang tersenyum pada orang-orang yang membantunya di rumah.
benar saja tak lama Cakra datang bersama dua anak buahnya yang memang tadi dari yayasan dan penggilingan beras.
"assalamualaikum sayang, ada apa?"
"waalaikum salam mas, aku sedang santai tapi mereka seakan tak mau meninggalkan aku, mereka takut jika aku mengalami sesuatu yang mengerikan,"
"sudah kalian bisa pergi, aku sudah pulang ke rumah jadi tak perlu khawatir lagi," kata Cakra.
"baik bos," jawab keduanya yang langsung pamit
Shafa pun melepaskan cadar yang dia kenakan, Cakra tersenyum melihat istrinya itu.
"ada apa mas? kenapa melihatku seperti itu?"
"habis kamu begitu cantik, dan pipi mu sudah mulai tembem, tapi aku suka karena kamu begitu membal sekarang," kata Cakra.
"apa maksud mu mas, memang aku itu apa coba, bola huh ..."
pria itu tertawa mendengar jawaban dari Shafa, "sudah mas mau mandi, mau ikut sayang?"
"maaf mas tidak dulu, aku sekarang makin mudah lelah, jadi sekarang aku tak mau ikut mas, jadi sudah mandi dulu sana," kata wanita itu.
ustadz Haris sedang berada di sebuah desa karena tadi dia di panggil oleh salah satu warga di desa itu.
dia di panggil untuk melakukan ruqyah, kebetulan ustadz Haris tak datang sendiri, dia datang bersama ustadz Harun serta beberapa orang.
__ADS_1
mobil uang mereka kendarai mulai masuk desa, dan ustadz Haris sudah melihat begitu banyak arwah dan juga suasana desa yang sangat aneh.
tiba-tiba seorang warga lari ke arah mobil dan tertabrak, "ada apa mas, anda tidak kenapa-kenapa?" tanya ustadz Haris.
"jangan ke desa ini, dan tolong bawa aku lari dari desa ini,aku mohon...", kata orang yang berpenampilan kotor itu.
"bagaimana ustadz?" tanya ustadz Haris.
"kita mundur dulu, sepertinya kita juga terlalu percaya dengan pria kemarin, ayo bawa dia dan kita obati dulu," kata ustadz Harun.
mereka memutuskan untuk kembali pulang ke pondok pesantren Miftahul Jannah milik ustadz sepuh.
ustadz Haris memberikan bajunya pada orang tadi, "maaf ustadz, saya wanita, jadi bisakah memberikan saya pakaian yang pantas," kata gadis itu.
"innalilahi.... kenapa tak bilang!!" kaget ustadz Haris yang tadi tak sengaja merangkul gadis itu saat membantunya.
"baiklah,kamu bisa ikut Ilya untuk bersih-bersih," kata ustadz Haris.
kedua wanita itu pun pergi meninggalkan ruang pendopo yang sering di jadikan para orang tua berkunjung untuk melihat anak mereka.
ustadz sepuh datang bersama ayah Arkan, "bukankah kalian gadis ke desa sebelah, kenapa sudah pulang?"
tak lama beberapa santri wanita datang, "assalamu'alaikum ustadz, ini gadis yang tadi saya bantu membersihkan diri," kata Ilya.
"waalaikum salam, baiklah nona, silahkan duduk di sini,dan tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,"
"saya mau minta maaf dulu ya ustadz, sebenarnya saya adalah seorang wanita uang akrab di tumbalkan ke penjaga desa itu, daya tak mengerti bagaimana bisa terjadi saya bisa lepas saat mereka sedang melakukan persembahan dengan gadis sebelum diriku," jawab gadis itu.
"baiklah, sebelum itu, siapa nama mu nduk?" tanya ayah Arkan penasaran, karena dia merasa ada yang tak umum dari gadis itu.
"nama saya Rahayu Ayuningtyas, saya adalah putri kepala desa yang sebelumnya, semua keluarga saya di bunuh dengan kejam, darah mereka di jadikan persembahan untuk para iblis yang di anut oleh warga desa," jawab Rahayu dengan tangis yang tersedu-sedu
"tapi bagaimana kamu bisa lolos?"
"karena mereka butuh sepuluh darah perawan untuk membangkitkan arwah itu agar bisa Malih rupo menjadi manusia seperti kita, dan anda berempat akan di jadikan tumbal sebagai pengabdi setia sesuai keinginan arwah itu," jawab Rahayu.
"tapi kenapa cara bicaramu begitu lancar, tidak seperti orang yang habis mengalami kejadian buruk," kata ustadz Haris curiga.
__ADS_1
tapi ayah Arkan memukul wanita itu dengan bambu kuning dan membuat gadis itu pingsan
"ya elah, baru juga di ganti, kamu curiga Mulu nih jadi orang, sudah aku ngambek," kata Ki sesnag yang pergi dari tempat itu.
ustadz Haris kaget melihat sosok itu, "pantes ternyata ada penyokong, maaf deh, tapi kita bisa biarkan dia istirahat dulu ya," kata pria itu merasa malu.
sedang di rumah Shafa, sore itu dia merasa jika perutnya terasa begitu sakit, entah kenapa dia juga tak mengerti.
Cakra sedang mengaji sambil mengusap perut istrinya itu, tapi tanpa di duga sebuah gerakan keras membuat Shafa kesakitan.
"kenapa sayang?"
"sepertinya dia mau keluar mas, rasanya sangat sakit..."
mendengar itu Cakra langsung membantu istrinya itu bangkit dan menggendong wanita itu untuk menuju ke tempat bersalin.
sesampainya di tempat Bu bidan, tiba-tiba suasana malam itu terdengar suara hewan saling bersahutan membentuk suara nada.
Gopur menelpon keluarga keduanya agar segera datang ke tempat Bu bidan.
Cakra mengenggam tangan Shafa, "yang kuat sayang,"
"sakit!! huh!!!! emm!!" kata Shafa mengejan untuk membantu putranya itu lahir.
tak lama suara tangisan bayi terdengar begitu keras, Cakra tak percaya dengan semuanya.
"terima kasih sudah berjuang melahirkan putra kita sayang," kata Cakra mengecup kening istrinya itu.
"iya mas,"
Cakra mengadzani putranya yang baru lahir itu, di bahu putranya ada sebuah tanda bulan sabit.
dan itu sudah seperti tanda untuk keluarga Hadikusumo. setelah di adzani bayi laki-laki itu pun langsung mendapatkan ASI, dan
bayi itu langsung tenang.
dan rombongan keluarga datang ke klinik dan terlihat bahagia saat jika menantu mereka melahirkan,
__ADS_1
"siapa namanya?"
"Gabriel Aditama Cakra Hadikusumo," jawab Cakra.